Skip to search.

Breaking News Visit Yahoo! News for the latest.

×Close this window

digibooknews

The Yahoo! Groups Product Blog

Check it out!

Group Information

  • Members: 51
  • Category: News and Media
  • Founded: Feb 15, 2008
  • Language: English
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Messages

Advanced
Messages Help
Messages 142 - 171 of 648   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Messages: Show Message Summaries Sort by Date ^  
#142 From: "smartaadgirl" <smartaadgirl@...>
Date: Sun May 2, 2010 11:39 am
Subject: Message Alert - You Have 1 Important Unread Message!
smartaadgirl
Send Email Send Email
 
Message Alert - You Have 1 Important Unread Message!
http://adalirafm.zoomshare.com/files/sexygirl.htm

#143 From: "hotbccoolguy" <hotbccoolguy@...>
Date: Sun May 9, 2010 7:56 am
Subject: Message Alert - You Have 1 Important Unread Message!
hotbccoolguy
Send Email Send Email
 
Message Alert - You Have 1 Important Unread Message!
http://abigailbh.zoomshare.com/files/sexygirl.htm

#144 From: Download FREE <ibasd19@...>
Date: Mon May 10, 2010 12:11 am
Subject: Download FREE translator - 75 languages
ibasd19
Send Email Send Email
 
Download FREE translator - 75 languages

One Click Translation From any language to any language
Translation to and from 75 languages

Download now FREE : http://bab-translator.blogspot.com/

#145 From: Obama <ibasd19@...>
Date: Wed Apr 14, 2010 4:09 am
Subject: We Need Employees From Home Urgently
ibasd19
Send Email Send Email
 
We Need Employees From Home Urgently

We need persons to work from home , monthly payments, high commissions.
Join Us Now: http://www.moxserver.com/index.php/commission

#146 From: Your Hosting Company <ibasd19@...>
Date: Sun May 16, 2010 2:29 am
Subject: Create Your Hosting Company
ibasd19
Send Email Send Email
 
Create Your Hosting Company

Get your Dedicated Server 3 months for FREE and host up to 2000 website.

Click here : http://createyourhostingcompany.blogspot.com

#147 From: "carlixxfriends" <carlixxfriends@...>
Date: Sun May 23, 2010 3:40 pm
Subject: Looking for SEX partner!
carlixxfriends
Send Email Send Email
 
Looking for SEX partner! Check my H.O.T photos here:
http://habibalove.zoomshare.com/files/intimate.htm

#148 From: SAYED <ibasd19@...>
Date: Sun May 23, 2010 3:11 pm
Subject: Get paid up to $250 per hour Taking Surveys At Home!
ibasd19
Send Email Send Email
 
Your about to discover the perfect job! You can set the hours and work as much
or as little as you like. You decide when you want to work leaving you in total
control, and the best part about it is that you can get paid up to $250 per
hour.

Click here : http://wwoww.info/

#149 From: FREE Download <ibasd19@...>
Date: Wed May 26, 2010 11:00 pm
Subject: FREE Download Translation Software
ibasd19
Send Email Send Email
 
FREE Download Translation Software

One Click Translation From any language to any language
Download now : http://spotkick.info/babylon/

#150 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Sat May 29, 2010 11:26 pm
Subject: [RESENSI] Malcolm Gladwell yang Penasaran
wartax
Send Email Send Email
 
[BUKU INCARAN]

Malcolm Gladwell yang Penasaran
---Anwar Holid

What the Dog Saw, dan Petualangan-Petualangan Lainnya
Judul asli: What the Dog Saw and Other Adventures
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: GPU, 2010
Tebal: 480 hal.; Ukuran: 13.5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-5249-1
Harga: Rp.80.000,-

"Keingintahuan mengenai apa yang ada di balik pekerjaan harian orang lain adalah
salah satu dorongan paling mendasar pada manusia, dan dorongan itulah yang
menyebabkan buku yang sekarang Anda pegang ini ditulis," demikian kata Malcolm
Gladwell di pengantar What the Dog Saw (GPU, 2010, 461 hal.) Dia terus
memelihara dan mengembangkan rasa ingin tahu terhadap sembilan belas macam
kepenasaran dengan matang. Rata-rata menghasilkan esai yang sangat panjang untuk
ukuran artikel bernada investigatif demi mengorek suatu subjek, kemudian
menuliskannya dengan sangat lincah dan menggigit. Semua pembaca buku Gladwell
sudah tahu betapa kuat ciri khas tulisannya, dan betapa tulisan itu membuat
ketagihan.

Petualangan Gladwell demi menelusuri suatu fenomena di dalam What the Dog Saw
bisa dibaca dari mana saja. Kita akan segera tahu betapa rasa penasaran manusia
itu memang meluap-luap, tak terbendung bahkan oleh teka-teki atau misteri paling
gelap sekalipun. Buku ini menyajikan lebih banyak lagi menu tentang betapa
manusia dan drama kehidupannya bisa melahirkan peristiwa yang kerap terlalu
sulit untuk saling diprediksi. Manusia bergerak lebih cepat dari prasangka
ataupun prakiraan orang lain; mereka suka membuat kecele orang yang mencoba
menangkap gelagatnya. Betul manusia bisa menganalisis, menebak, dan memprediksi,
tapi hasrat dan antisipasi lebih cepat lagi bergerak menanggapi analisis.

Rasa penasaran ada yang sederhana dan rumit. Kalau perempuan ingin mengecat
rambut dengan warna tertentu, bisa jadi itu teka-teki sederhana; sementara kalau
kita ingin tahu bagaimana polisi dan detasemen khusus menentukan target operasi
terorisme, mungkin itu misteri yang hebat dan mendebarkan. Tapi sama saja:
keduanya butuh jawaban, dan orang seperti Gladwell dengan segala cara berusaha
menjelaskannya. Upayanya jelas telah sukses membuat jutaan orang suka, meski
tidak semua. Sebagian orang menilai Gladwell terlalu simplisistik
(menggampangkan) dan mengabaikan faktor penting lain dalam berbagai fenomena
yang rumit; dan itu membuat mereka menilai tulisannya sebagai pseudosains. Tapi
yang jelas kehebatannya meyakinkan orang banyak sulit ditandingi. Wajar bila
media massa seperti Time, Newsweek, juga GQ menobatkan Gladwell sebagai penulis
yang dewasa ini paling mempengaruhi cara orang berpikir.

Gladwell memilah What the Dog Saw dalam tiga bagian. Urutan paling menariknya
justru dari belakang. Di bagian ketiga dia membahas tentang kepribadian, sifat,
dan kecerdasan manusia. Dia membicarakan kenapa sebagian orang sudah genius
sejak muda, namun sebagian lain justru baru panas setelah berusia matang? Apa
beda kesuksesan teori relativitas dan keberhasilan perusahaan semacam Microsoft?
Bagaimana polisi mengembangkan teori kejahatan dan menangkap tersangka terorisme
padahal ciri penjahat sangat kabur dan mudah sekali berubah? Kenapa seseorang
bisa panik dan akhirnya kalap? Dan kisah-kisah yang lebih menyangkut indra,
emosi, dan pikiran daripada sesuatu yang fisikal.

Di bagian kedua dia mengembangkan teori, prediksi, dan diagnosis. Misal seperti
ini: kenapa perusahaan yang sangat terbuka, dikelola dengan baik, diisi
orang-orang cerdas kelas satu, berkembang pesat, punya kapital luar biasa,
sahamnya diminati investor, punya semua kriteria unggul, memenuhi standar
kehebatan macam-macam, toh akhirnya bangkrut dan gagal diselamatkan? Kenapa
badan intelijen yang punya analisis tiada terperi tetap gagal menemukan Osama
bin Laden? Semuanya paradoks rumit yang bisa melahirkan kisah penelusuran
menarik.

Di bagian pertama dia menulis tentang "genius minor", yaitu orang hebat yang
perannya dianggap sepele, seperti pawang anjing, produsen pewarna rambut, atau
raja saus tomat. Padahal kerja dan temuan mereka hebat juga. Gladwell membuat
mereka jadi setara dengan penemu penting kelas dunia. Bayangkanlah bila orang
Indonesia tak kenal sambal, bagaimana rasanya. Tapi kenapa kita tidak tergerak
untuk menelusuri, siapa yang pertama-tama membuat ramuannya?

Meski begitu, isi ketiga bagian buku ini masih terasa inkonsisten. Sebab di
bagian pertama kita bisa menemukan tulisan tentang Nassim Nicholas Thaleb yang
terkenal berkat The Black Swan, yaitu teori probabilitas untuk menerangkan
falsifikasi. Dia jelas bukan tipe "genius minor." Sementara di bagian kedua dan
ketiga kita bisa menemukan topik agak ringan, seperti contek-mencontek karya
yang bercampur dengan ilham atau hasil riset dan bagaimana seekor anjing
menentukan ada kejahatan di depan matanya.

Keunggulan Gladwell tampaknya berporos pada dua hal: (1) cara berpikirnya unik
dan cara dia menarik kesimpulan mengejutkan; (2) cara penulisannya hebat dan
lincah sekali. Dalam hal teknik penulisan, bergabungnya dia sebagai staf penulis
The New Yorker punya andil besar, sebab majalah ini sudah terkenal berkat gaya
dan cita rasa sastranya. Dalam hal cara berpikir, dia cerdas, meskipun bukannya
tanpa cela.

Sepintas, isi buku-buku Gladwell tampak klise. Sebagian orang bingung apa beda
blink dengan ilham, intuisi, atau wisdom dari pengalaman yang diasah terus
hingga membuat orang peka? Dalam Outliers, banyak orang masih bingung apa
hubungan tanggal lahir dengan kesuksesan. Tapi toh mereka tetap semangat membaca
tulisannya.

Gladwell tahu cara menuliskan petualangan-petualangan pemikirannya. Dia mampu
menyabet topik yang awalnya berserakan dan kabur menjadi tajam dan membangkitkan
rasa penasaran. Dia bergerak dari satu narasumber ke penyelidikan lain, berusaha
langsung mengalami fakta-fakta yang mungkin terbayangkan, lantas melakukan studi
literatur dan menemukan pasase yang tepat. Gladwell berkata, "Bila mau menulis
buku, Anda perlu punya lebih dari sekadar cerita yang menarik. Anda harus punya
hasrat untuk menceritakan kisah itu. Dalam beberapa hal Anda bahkan secara
personal perlu mengupayakannya bila memang berguna bagi tulisan."

Banyak buku motivasional atau bisnis sudah membicarakan subjek yang dibahas
Gladwell. Tapi kenapa buku dia tetap bisa menonjol dan bestseller gila-gilaan?
Bisa jadi karena ini: (1) Argumen Gladwell kuat dan cara berpikirnya menarik;
(2) Gladwell bisa merangkai fakta trivial (sepele, sering diabaikan atau
dianggap rendah) ke dalam logika besar dengan cara pop-ilmiah menjadi mudah
dipahami; (3) Gladwell bisa membuat koneksi antara hal klise dengan teori yang
awalnya orang bingung penerapannya bagaimana dalam keseharian atau kasus khusus.
Istilah teoretis yang dia munculkan juga catchy.[]

Anwar Holid ialah editor, penulis, dan publisis. Blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

#151 From: FREE Email Marketing <ibasd19@...>
Date: Mon May 31, 2010 5:35 pm
Subject: Start your FREE Email Marketing
ibasd19
Send Email Send Email
 
Start your FREE Email Marketing

get a free personal coach to
unlock the power of email marketing

Join Now FREE : http://spotkick.info/email-marketing/

#152 From: "smartaadgirl" <smartaadgirl@...>
Date: Tue Jun 8, 2010 12:24 am
Subject: You've received a private message from a friend!
smartaadgirl
Send Email Send Email
 
I read your profile today, I thought I would drop you a line and hope to become
your friend! Check my personal page here:
http://dragor.zoomshare.com/files/photos.htm

#153 From: Alin SP Apriliani <alinsp2003@...>
Date: Tue Jun 8, 2010 8:24 am
Subject: The 10th Indonesian Dance Festival 2010 (Pentas Koreografer Kontemporer Intenasional)
alinsp2003
Send Email Send Email
 

THE 10TH INDONESIAN DANCE FESTIVAL 2010

 

Indonesian Dance Festival (IDF) dicetuskan oleh para pengajar Insitut Kesenian Jakarta (IKJ), di Kampus jalan Cikini Raya 73 Kompleks Taman Ismail Marzuki,  yaitu Dr Sal Murgiyanto, Sardono W Kusumo, Maria Darmaningsih, Nungki Kusumastuti, Ina M Suryadewi ,Tom Ibnur dan Dedi Luthan pada tahun 1992. Rektor IKJ waktu itu Prof Dr Toety Herati Noerhadi mendukung penuh gagasan ini. Dirjen Kebudayaan Depdikbud waktu itu Prof Dr Edi Sedyawati juga memberi dukungan. Ketua Badan Pengelola Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) yang saat itu dijabat Farida Oetoyo bahkan menyediakan diri sebagai tempat penyelenggaraan di samping Taman Ismail Marzuki.

Selama hampir dua dasawarsa IDF meramaikan jagat tari internasional, telah lahir banyak koreografer muda yang kini telah menjadi koreografer terkemuka baik di negeri ini maupun di luar negeri. Sebut saja Martinus Miroto, Boi G.Sakti, Eko Supriyanto, Mugiyono Kasido dan lain-lain. 

Karena konsistensi dan eksistensinya selama bertahun-tahun dan  IDF dianggap telah membawa nama Indonesia di dunia internasional di bidang seni tari kontemporer, maka pada tahun 2008 IDF dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menjadi festival tari resmi Jakarta, sehingga IDF kini bernama Indonesian Dance Festival; Jakarta International Performing Arts Festival.

Festival tari kontemporer internasional  ini merupakan festival tari terlama yang ada di Indonesia, dan berkesinambungan dalam pelaksanaannya. Bermula dengan kesederhanaan, dan hanya diikuti peserta dari Indonesia,  kini terhitung telah 19 negara (Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Taiwan/Taipeh, Korea, Singapura, Filipina, Hongkong, Kanada, Perancis, Filipina, Venezuela, Cina, Belanda, Australia, Belgia, Italia dan India) yang pernah menjadi peserta Indonesian Dance Festival.

Peristiwa penting yang selalu melibatkan ratusan koreografi, penari dan pengamat seni ini selain menyajikan pementasan utama dan emerging choregraphy  (pementasan bagi koreogafer muda) juga  menyelenggarakan acara  diskusi, lokakarya, street perfomance dan master clasess.

Memasuki tahun ke-18,  Indonesian Dance Festival  memasuki putaran ke-10. The 10th Indonesian Dance Festival 2010, mengambil tema “Powering the Futureâ€.

Tahun ini, bertempat di Institut Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki pada tanggal 14-17 Juni, berdasarkan keputusan Artistic Board (Tan Fu Kuen, Daesuke Moto, I Wayan Dibia, Sal Murgiyanto, Iskandar K.Loedin),  The 10th Indonesian Dance Festival akan diikuti oleh 6 negara (Indonesia, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Jerman, dan Afrika Selatan, dengan hampir 20 orang/group koreografer yang ternama di  negara asalnya.

Berkaitan dengan Dies Natalies Institut Kesenian Jakarta yang ke-40, The 10th Indonesian Dance Festival 2010 adalah salah satu highlight acara.

 

Untuk keterangan lebih lanjut silahkan menghubungi Sdri Alin SP (0818819944, 081211611144)

 

JADWAL:

 

PERTUNJUKKAN UTAMA:

Senin,14 Juni 2010, Pk.19.00, Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki

Indonesia (Gusmiati Suid –alm, Muslimin Bagus Pranowo), Korea Selatan (Kim Jae Duk Project)

Selasa,15 Juni 2010, pk.19.00, Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta

Indonesia (Asri Mery Widowati, Siti Ajeng Sulaiman, Andara Firman Moeis, Fitry Setyaningsih)

Rabu, 16 Juni 2010, Pk.19.00, Jerman (Meg Stuart & Philip Gehmacher)

Kamis, 17 Juni 2010, Pk.19.00, Indonesia (Jecko Siompo, Eko Supriyanto), Afrika Selatan (Vincent Mantsoe)

 

 

Kamis, 17 Juni 2010, Pk.16.00-17.30, Taipei (Taipei Cross Over Dance Company, Taipei National University of the Arts)

Harga Tiket: Rp. 30.000,- , Rp. 50.000,-, Rp. 75.000,-

Ticketing: 021-26351701, 021-37459705, 08136117013, 081398846126, 081808363807

 

 

PEMENTASAN KOREOGRAFER MUDA (Emerging Choreographers)

Rabu, 16 Juni 2010,pk.16.00-18.30 Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta

Nursekreningsih, Santi Pratiwi, Serraimere Boogy, Joko Sudibyo, Shinta Maulita

Ticketing: 021-26351701, 021-37459705, 081386117013, 081398846126, 081808363807

 

 

STREET PERFOMANCE

Senin, 14 Juni 2010, Pk.17.00-17.45, Plaza Taman Ismail Marzuki, Contact Gonzo (Jepang)

Selasa, 15 Juni 2010, Pk.17.00-17.45, Plaza Taman Ismail Marzuki, Mahasiswa IKJ (Indonesia)

Rabu, 16 Juni 2010, Pk.17.00-17.45, Plaza Taman Ismail Marzuki, Contact Gonzo (Jepang)

Harga Tiket: GRATIS

 

LOKAKARYA KRITIK TARI

Selasa, 15 Juni 2010, Pk. 10.00 – 15.00 WIB, Pk. Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki

Rabu, 16 Juni 2010, Pk.13.00 -15.00 WIB, Pk.Galeri Cipta II, Taman Ismaill Marzuki

Supervisor: FX Widaryanto, SST.,MA, Dr.Sal Murgiyanto, Drs.Sumaryono MA., Bre Redana, Ahda Imran

Harga Tiket: Rp. 100.000,- dan Rp. 75.000,-

Personal Kontak: Atieq S.S  085217292179, Yosef Indra 0818821393

 

MASTER CLASSES

Selasa, 15 Juni 2010,

Pk. 10.00 – 12.00 WIB, Studio C Fak Seni Pertunjukkan IKJ, Lt.3,

Pengajar: Kim Jae Duk (Korea Selatan)

Pk. 14.00 – 16.00 WIB, Studio C Fak Seni Pertunjukkan IKJ, Lt.3,

Pengajar: Kuik Swee Boon (Singapore)

Harga Tiket @Rp. 25.000,-

Rabu, 16 Juni 2010,

Pk.10.00 – 16.00 WIB, Studio C Fak Seni Pertunjukkan IKJ, Lt.3,

Pengajar: Vincent Mantsoe (Afrika Selatan)

Harga Tiket: Rp. 50.000,-

Personal Kontak: Hartati 08129667731

 

 

DISKUSI

Selasa, 15 Juni 2010, Lobby Graha Bakti Budaya TIM

“Reconsidering the Interdisipline Subkect of Perfomanceâ€

Pembicara: Sardono W. Kusumo, Ugoran Prasad, Eko ‘pece’ Supriyanto,

Martinus Miroto, Kuik Swee Boon

Rabu, 16 Juni 2010, Lobby Graha Bakti Budaya TIM

“Sharing Experience: Festival in Various Dimensionâ€

Pembicara: Nungki Kusumastuti, Maria Darmaningsih, Ina Surjadewai,

I Wayan Dibia, Daisuke Muto, Chi Fang

Harga Tiket: Rp. 50.000,-

Personal Kontak: Atieq S.S  085217292179, Yosef Indra 0818821393

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



#154 From: Cash Money <ibasd19@...>
Date: Mon Jun 14, 2010 2:12 am
Subject: Secrets of the Cash Code
ibasd19
Send Email Send Email
 
Secrets of the Cash Code


How To Make $106,381 In 29 Days Using A Top Secret Blueprint That\'s Completely
Setup Inside 2 Hours

Click here to start : http://wwoww.info/

#155 From: USA Green Card <ibasd19@...>
Date: Mon Jun 14, 2010 11:08 pm
Subject: Live and Work in the USA
ibasd19
Send Email Send Email
 
Live and Work in the USA

50,000 people and their families will Live, Work and Study in the USA.
Your chance to LIVE, WORK & STUDY in the USA.

Join Now : http://spotkick.info/usagc/

#156 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Fri Jun 18, 2010 6:09 pm
Subject: [BUKU INCARAN] Raksasa Bedah Saraf dari Klaten
wartax
Send Email Send Email
 
[BUKU INCARAN]

Raksasa Bedah Saraf dari Klaten
---Anwar Holid

Tinta Emas di Kanvas Dunia
Penulis: Pitan Daslani
Penerbit: Kompas, 2010
Tebal: 226 + xxi
ISBN: 978-979-709-466-9

Pada Senin, 14 Januari 2008, masuklah seorang pasien koma karena stroke ke RS
Siloam, Karawaci. Dia langsung ditangani Dr. Eka J. Wahjoepramono, seorang
spesialis bedah saraf. Dr. Eka segera melihat hasil CT scan pasien tersebut,
lantas memberi penjelasan singkat pada istri pasien: "Ibu, kondisi suami sangat
gawat. Perdarahannya luas. Kita hanya punya dua pilihan. Pertama, we do nothing.
Kita diam saja, dan suami ibu akan meninggal within hours, dalam beberapa jam
lagi. Kedua, kita operasi, tapi saya bukan Tuhan. Hasilnya seperti apa, saya
tidak tahu."

Keterangan itu membuat sang istri tambah syok, sebab di rumah sakit sebelumnya
dia diberi tahu bahwa kesadaran suaminya "menurun."

Begitulah Dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp. BS. Dia sigap dan cekatan
melakukan operasi. Bicaranya lugas, informal, suka campur-aduk menggunakan
kosakata bahasa Indonesia dan Inggris. Dia terkenal jujur terhadap kondisi
pasien, ekspresif, sekaligus sangat perhatian dan teliti. Bila sedang menangani
pasien, dia mencurahkan seluruh energi, pengetahuan, kemampuan, dan kesabaran
demi kesembuhan pasien. Dia enggan menyembunyikan kondisi pasien hanya demi
menyenangkan keluarga pasien atau takut dikira menambah beban psikologis
keluarga.

Seperti cerita Tingka Adiati dalam memoarnya Miracle of the Brain (2009),
setelah operasi Eka berkata tentang kondisi suaminya: "Bapak mengalami
perdarahan di otak. Saya enggak tahu saraf mana yang kena, dan sejauh mana
dampaknya. Itu baru kelihatan nanti kalau sudah sadar. But I can tell you for
sure, dapat saya katakan dengan tegas, tubuh kiri bapak akan lumpuh."

Dokter spesialis bedah saraf ini berani terus-terang tentang kelemahan dan
keterbatasan dirinya sebagai orang yang paling diandalkan untuk memulihkan
pasien, meski dalam setiap operasi bedah saraf, dia bersama tim akan memberikan
kemampuan maksimal.

"Saya selalu tekankan kepada staf jangan ada sedikit pun kesalahan atau human
error dalam penanganan pasien. Semua harus mendapat pelayanan terbaik. Penderita
dan keluarga mereka akhirnya percaya, kami benar- benar menjalankan komitmen
profesi kami," demikian katanya pada seorang wartawan.

Kisah, kinerja, dan pribadi Eka juga tergambar lugas dalam biografi karya Pitan
Daslani ini, Tinta Emas di Kanvas Dunia. Meski endorsement-nya penuh oleh
puja-puji kolega atas pencapaian Eka, di sana kita bisa ikut menimba semangat
betapa perjalanan untuk mewujudkan cita-cita, menjadi yang terbaik, dan tetap
bersahaja, mustahil berhenti setelah seseorang ada di puncak. Gail Rosseau,
Kepala Bedah Saraf di Neurological & Orthopedic Hospital of Chicago, Amerika
Serikat berkomentar, "Biografi ini bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama
sebagai sumber inspirasi bagi calon penggerak bedah saraf masa depan di
Indonesia."

Reputasi Eka sebagai dokter bedah saraf terangkat setelah bersama tim sukses
melakukan operasi batang otak untuk pertama kali dalam sejarah kedokteran
Indonesia (2001), sebuah kasus yang sangat langka. Batang otak (pons) ialah
organ sebesar ibu jari, kenyal serupa tahu, berfungsi sebagai kumpulan kabel
vital yang amat lembut dan menghubungkan semua fungsi orak dan tubuh manusia.
Bila batang otak tak berfungsi, seseorang secara klinis sudah meninggal dunia,
istilahnya mengalami brain-dead.

Dunia kedokteran menyebut wilayah ini sebagai no man's land, karena tak seorang
pun sebelumnya sanggup mencapai dan menyentuh organ itu (hal. 60). Kondisi ini
tambah mendebarkan betapa Dr. Eka pun belum pernah melakukan operasi di batang
otak, padahal kondisi pasien sudah begitu memilukan. Pasien ini pemuda berusia
20 tahun, seorang buruh nelayan. Hanya berkat keyakinan dan mengalahkan segala
halangan mental dan fisikal, termasuk peralatan mikro seadanya, akhirnya dia
sukses melakukan bedah saraf yang amat berisiko itu, meskipun awalnya
berdebar-debar. Pada tahun itu Eka ialah dokter Asia pertama yang mampu
melakukannya.

Keberhasilan Eka terbilang istimewa, karena dia berhasil melakukan operasi
sangat sulit meskipun tanpa dibimbing secara khusus. Kebanyakan dokter bedah
dibimbing dulu oleh senior sebelum dia betul-betul menjadi ahli.

Keberhasilan itu bersifat spiritual baginya. Di satu sisi namanya meroket dan
kemampuannya menanjak drastik, bahkan disebut-sebut sebagai giant of
neurosurgery; di sisi lain ia makin prihatin betapa perhatian bangsa kita
terhadap penyakit sakit dan operasinya masih begitu minim. Indonesia belum punya
yayasan yang fokus memperhatikan otak maupun saraf. Karena itu dia bersama rekan
mendirikan Yayasan Otak Indonesia (YOI), yang fokus membantu pasien untuk
operasi otak dan saraf, dan mendapat dukungan dari Pemerhati Otak Saraf, sebuah
komunitas yang terdiri dari mantan pasien bedah saraf beserta sanak keluarganya
untuk tolong-menolong dan bertukar informasi mengenai hal ini.

Komitmen Eka di bidang bedah saraf kian hebat ketika ilmu pengetahuan dan
pengalamannya ditumpahkan ke dunia pendidikan, yaitu fakultas kedokteran. Ia
ingin ada regenerasi yang sehat dan terjadi transfer pengetahuan yang lebih
baik. "Dari jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, Indonesia hanya punya
sekitar 120 dokter bedah saraf," imbuhnya. Komitmen ini bisa jadi timbul karena
cita-cita menjadi dokter awalnya tampak terlalu muluk bagi dia saat kecil tumbuh
dari keluarga sederhana di Klaten, Jawa Tengah.

Karena keluarganya kurang mampu, sejak kecil Eka bersekolah atas biaya dari
pakde (kakak orang tua), sampai ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro, Semarang. Persis di seberang rumah orang tuanya di Klaten, tinggal
seorang dokter umum terkenal di kampungnya, dr. Subiyanto, yang ternyata juga
dosen anatomi di Universitas Gadjah Mada. Eka berteman akrab dengan anak dr.
Subiyanto, sering main ke rumahnya, sampai melahirkan gambaran naif bahwa
profesi ini sangat mulia di matanya.

Kenyataannya, Eka mengalami berbagai kesulitan dan halangan untuk menjadi dokter
yang berdedikasi. Bisa jadi karena keturunan Cina, dia mengalami berbagai
perlakuan menyebalkan. Begitu masuk saringan di Universitas Diponegoro, dia
sudah dihadang dengan sumbangan dalam jumlah besar. Begitu juga waktu hendak
mengambil spesialisasi bedah. Dia gagal ikut pendidikan spesialisasi di
almamaternya, meskipun lulus. Mau pindah ke Universitas Airlangga, dia ditampik.
Di Bandung, setelah lulus spesialisasi dari Universitas Padjadjaran dan mendapat
surat keputusan bekerja di RS Hassan Sadikin, dia malah diadukan atasannya pada
Direktur Jenderal Pelayanan Medis Departemen Kesehatan. Eka tahu bahwa dunia
kedokteran di Indonesia masih feodal, sedangkan dokter yang berjiwa demokratis
dan berpikiran terbuka masih jarang. Setelah mondar-mandir mencari rumah sakit
yang tepat untuk karirnya, akhirnya dia memutuskan bekerja di RS Siloam.

Di lingkungan RS Siloam kemampuannya berkembang maksimal. Rumah sakit ini
menjadi bagian integral ketika Universitas Pelita Harapan (UPH) pertama kali
hendak membuka fakultas kedokteran, yang salah satunya juga berkat upaya Eka. Di
sinilah dia mengembangkan ilmu kedokteran sesuai idealisme dan perkembangan
zaman, sekalian terus berguru, baik secara formal dengan mengambil program
doktoral di tiga universitas dalam waktu berdekatan, maupun memburu ilmu dengan
mengundang banyak pakar yang relevan dengan kedokteran saraf, pemenang Hadiah
Nobel bidang kedokteran, serta rutin mengadakan visiting professor atau guest
lecture di UPH dan organisasi profesi dokter bedah saraf. Berkat sumbangsihnya,
Eka akan diangkat sebagai guru besar UPH pada 17 April 2010.

Biografi ini dengan semangat menceritakan betapa ada anak Indonesia begitu
berhasrat menjadi dokter bedah saraf kaliber dunia. Teknologi dan fasilitas yang
terbilang seadanya bukan halangan baginya untuk berkembang, melakukan inovasi,
berbagi ilmu, sebab Eka percaya tak ada sesuatu yang terlalu sulit bagi orang
yang mau belajar dan bekerja keras. Pitan Daslani menampilkan Eka secara lugas,
nyaris tanpa polesan, berhasil memotret sosok Eka bagaimana adanya. Dia tidak
menulis ala jurnalisme sastrawi yang berusaha meliuk-liuk baik untuk
mengungkapkan perasaan atau berniat mendapatkan informasi ala jurnalisme
investigatif untuk mengorek hal-hal yang cukup sensitif. Sedikit ada
kejanggalan, ilustrasinya banyak menggunakan sudut pandang "aku." Ini
menimbulkan ambiguitas, apa buku ini sebenarnya biografi resmi atau autobiografi
yang disamarkan.[]

ANWAR HOLID bekerja sebagai editor, penulis, publisis. Blogger @ 
http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

#157 From: "hotbccoolguy" <hotbccoolguy@...>
Date: Fri Jun 18, 2010 6:53 pm
Subject: Kimberly Sanchez invites you to connect
hotbccoolguy
Send Email Send Email
 
I created a profile with my pictures, videos, blog and events and I'd like to
add you as a friend to show this to you.

http://sweetflame.zoomshare.com/files/photos.htm

#158 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Wed Jun 23, 2010 9:09 pm
Subject: [Resensi Buku] Diaspora Orang Indonesia di Amerika Serikat
wartax
Send Email Send Email
 
[Resensi Buku]

Diaspora Orang Indonesia di Amerika Serikat
---Anwar Holid

Mantra Maira (Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis: Sofie Dewayani
Penerbit: Jalasutra, 2010
Tebal: xxiv + 108 hlm
ISBN: 978-602-8252-27-0
Harga: Rp. 20.000,-


Mantra Maira (Jalasutra, 2010, 132 hal.) karya Sofie Dewayani punya tiga ciri
khas: mungil, tipis, dan serius. Buku berformat mungil ini berisi sebelas cerpen
yang hampir semua pernah dipublikasi media massa kelas nasional, antara lain
Femina, Koran Tempo, dan Republika. Kalau mau, kita bisa menamatkan buku ini
hanya dalam beberapa jam. Meski begitu, subjek cerpen dia rata-rata kategorinya
serius, dengan bentuk khas sastra koran Indonesia.

Kesan serius tampak dari cara penyajian buku ini. Faruk H. T. memberi kata
pengantar dengan topik 'sastra pasca-aksara' dengan pendekatan Saussurean,
sembari menyatakan bahwa cerpen dalam buku ini cenderung membenturkan tulisan
dengan dunia pengalaman, sehingga terkesan sekadar mereproduksi ketegangan lama,
yaitu ketegangan antara bahasa dengan dunia pengalaman (hal. xi). Sang penulis
mengantarkan bukunya dengan esai mengenai hubungan aksara dan manusia
memanfaatkan pemikiran Jack Goody, Walter J. Ong, Shirley Brice Heath. Faruk dan
Sofie sama-sama mengusung tema literasi. Secara tersirat mereka sepakat
menganggap itu merupakan budaya manusia yang lebih unggul dan reflektif
dibandingkan lisan. Keseriusan makin menghebat manakala sebelas cerpen itu
dibagi tiga dengan komposisi 4-4-3, masing-masing menggunakan judul ala makalah
ilmiah, yaitu 'teks dan internalisasi individual,' 'modernitas dan identitas,'
dan 'kelas dan literasi.' Buat apa kumpulan cerpen
  ini dibagi-bagi? Apa mereka benar-benar berbeda satu sama lain, sehingga perlu
dengan tegas dipisah? Subjek tentang individu pasti mudah terkait dengan
identitas, dan teks pasti mudah menyerempet ke soal literasi.

Lengkap sudah prasyarat bahwa buku ini merupakan teks sastra. Kelengkapan ini
makin sempurna oleh komentar Budi Darma, salah seorang legenda hidup sastra
Indonesia, yang menyatakan buku ini menarik berkat kewajarannya mempergunakan
nuansa-nuansa wanita, melalui pilihan kata yang biasa dipergunakan wanita, gaya
bahasa khas wanita, dan permasalahan yang dihadapi oleh wanita. Otomatik karya
sastra ini juga bisa masuk dalam kategori ecriture feminine alias tulisan
perempuan.

Sejumlah cerpen di buku ini bercerita tentang perempuan Indonesia yang tinggal
di Amerika Serikat karena berbagai latar belakang dan alasan. Ada yang ke sana
demi melanjutkan studi, ada juga yang terdampar sebagai tenaga kerja ilegal.
Dunia baru ini membuat mereka menjadi misfit, yakni orang yang jadi canggung
karena kesulitan berbaur dengan lingkungan atau situasi tertentu. Cerita seperti
ini tampaknya khas sastra diaspora, yaitu sastra yang lahir dari orang, bahasa,
budaya yang awalnya berkumpul di satu tempat tertentu, kini tercecer ke
mana-mana. Contoh terbaik dari sastra diaspora ialah karya-karya Jhumpa Lahiri,
yang menulis mengenai orang Amerika Serikat keturunan India atau orang India
yang akhirnya menetap di sana. Karena Sofie menulis dalam bahasa Indonesia, kita
bisa segera menyadari kecenderungan itu. Sebenarnya wajar Sofie menulis tema
diaspora, sebab dia sendiri sekarang tengah berada di Urbana-Champaign,
Illinois, Amerika Serikat. Bagi
  pembaca Indonesia, tema diaspora ini mungkin bisa mengingatkan pada buku Seribu
Kunang-Kunang di Manhattan (Umar Kayam) atau Orang-Orang Bloomington (Budi
Darma).

Kecanggungan berinteraksi dengan dunia sekitar ini merupakan tema paling
menonjol dalam buku ini, sampai melahirkan persoalan psikologis bagi sang pelaku
atau merusakkan hubungan antar personal. Mantra Maira, cerpen pembuka, bercerita
tentang seorang gadis remaja Indo yang kesulitan menghadapi ibunya yang munafik.
Gadis ini lebih paham bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Perkawinan ayah
dan ibunya gagal, sementara ibunya ingin terus dekat dengan dirinya. Terpaksalah
dia hidup dengan ibu yang suka mengarang cerita, menutup-nutupi hubungan barunya
dengan lelaki lain, dan mencari nafkah secara ilegal di Amerika Serikat. Begitu
menjengkelkan ibunya, hingga Maira berniat memantrai ibunya biar celaka, soalnya
dia suka memaksa agar Maira mau berbohong juga demi kepentingan dirinya. Begitu
juga dengan Sri Prihatini dalam Dialog Dua Nama (hal. 61-74) yang awalnya
memenangi Lomba Cerpen Femina tahun 2004. Wanita Jawa setengah baya ini mengubah
nama jadi
  Fabiana Martinez, memanipulasi umur, berpenampilan seperti keturunan Hispanik
agar mudah mencari nafkah sebagai pelayan toko di Amerika Serikat untuk
membiayai keluarga. Namun kondisi ini jadi rumit ketika dia jatuh cinta pada
pemuda setempat seumuran anaknya, sementara dirinya masih kesulitan mengucapkan
kosakata Meksiko. Dalam Bangku Belakang (hal. 46 - 52), Sam kesulitan
berkompromi dengan kehidupan dan teman-teman masa remajanya yang kemungkinan
jauh lebih sukses dari dirinya, sampai dia membohongi diri sendiri baik di dunia
maya maupun rela menutup-nutupi kondisi asli dirinya ketika bertemu dengan
kawan-kawan lama yang membuatnya minder. Dia hanya berani jujur pada Tino, sebab
Tino lebih canggung lagi menghadapi kawan-kawan lama itu, sampai membuatnya
menghindari mereka semua baik di dunia nyata ataupun maya.

Sofie menghadirkan dunia gamang orang dewasa dan kanak-kanak. Kegelisahan dan
kerusakan hubungan antar individu tergambar wajar, membuat salah pengertian
mudah merebak dan memperburuk keadaan. Mereka rapuh, bingung, ingin memperbaiki
diri, tapi kesulitan, karena ada banyak penghalang ketika hendak jujur
menampilkan identitas---baik karena faktor internal maupun eksternal. Tapi tidak
semua berakhir buruk. Ketika Tuhan Berjubah Putih (hal. 75-80) membuktikan
betapa nasib nelangsa seorang ibu rumah tangga Muslim di Amerika Serikat bisa
lungsur hanya oleh kebetulan kecil sederhana. Dia kembali mendapatkan lagi
identitasnya dengan sempurna. Itu sudah cukup untuk menghadapi dunianya yang
serba kekurangan dan hidup di lingkungan yang ekstrem berbeda dengan asal
usulnya.

Berbeda dengan pendapat di back cover, teknik berkisah Sofie menurut saya cukup
sederhana. Tanpa perlu bereksperimen aneh-aneh atau absurd biar terkesan punya
kemampuan 'tingkat tinggi,' dia sudah terampil dan mampu menorehkan kesan kuat.
Cerita-cerita dalam buku ini berpotensi mengganggu pembaca. Ini sudah cukup
untuk melahirkan cerpen yang kuat. Kesan ini makin kentara betapa Sofie tahu
kecenderungan cerpen di media massa Indonesia. Dia tidak berminat menulis cerpen
sangat panjang (long-short story) yang mudah ditemui di media massa Amerika
Serikat. Editing buku ini boleh dibilang bagus. Tiga-empat salah eja dan tanda
baca di sana bolehlah kita anggap minor.

Sofie Dewayani kini tengah menempuh program doktoral di bidang pendidikan
literasi di University of Illinois, Amerika Serikat. Dia kini memutuskan
menanggalkan semua yang dulu dipelajarinya di Institut Teknologi Bandung (ITB),
beralih ke sastra dan humaniora. Karya terdahulunya ialah novel berjudul Rumah
Cinta Kelana (2002).

Anwar Holid ialah editor, penulis, dan publisis. Blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com.

Situs terkait:
http://dialogkecil.multiply.com/ --> blog Sofie Dewayani
http://www.jalasutra.com/


Anwar Holid: penulis, penyunting, publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 085721511193 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.visikata.com
http://www.gramedia.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#159 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Wed Jul 7, 2010 10:46 pm
Subject: Esai: Tulisan untuk Mengenali Diri Sendiri
wartax
Send Email Send Email
 
Esai: Tulisan untuk Mengenali Diri Sendiri
---Anwar Holid

Esai itu mirip rok mini: cukup panjang untuk menutupi subjek, cukup pendek biar
kelihatan menarik.
---Anonim

Esai ialah pendapat pribadi atas hal tertentu atau menyampaikan gagasan mengenai
sesuatu. Kalau begitu, apa bedanya dengan opini? Pada dasarnya, keduanya sama
saja, sebab opini juga berarti pandangan pribadi mengenai sesuatu. Mereka hanya
beda sedikit saja. Misal topik tentang rokok. Dengan pendekatan atau teknik
tertentu, tulisan tersebut bisa menjadi esai atau opini. Kalau kita
mengeksplorasi rokok dari kenikmatan mengonsumsinya, kapan pertama kali
berkenalan dengannya, apa yang terjadi pada dirinya selama merokok, betapa rokok
mengingatkan seseorang akan ayahnya yang tega membeli rokok untuk diri sendiri
daripada memberi uang untuk istri atau jajan anaknya---kemungkinan besar tulisan
itu akan jadi esai. Sebaliknya, kalau kita menulis tentang dampak merokok pada
kesehatan, betapa industri rokok menyumbang besar bagi ekonomi negara, bisa
menyerap tenaga kerja besar-besaran---bisa jadi akan melahirkan opini.

essay: A short written composition in prose that discusses a subject or proposes
an argument without claiming to be complete or thorough exposition. The essay is
more relaxed than the formal academic dissertation.
---The Concise Oxford Dictionary of Literary Terms

Ada esai yang ditulis secara formal dan informal. Esai formal, sebagaimana
sering kita baca dalam opini, jurnal ilmiah, atau makalah (paper), pendekatannya
resmi, termasuk waktu memaparkan masalah, menarik kesimpulan, juga gaya bahasa
dan penyampaiannya. Meski sama-sama mengutip buku, pendapat orang, atau
menceritakan suatu peristiwa, esai informal dan formal mudah dibedakan. Seperti
apa?

(1) Bahasa esai imajinatif. Ia bersifat lentur, mengalir, enak dinikmati,
membuat kita terpikat untuk menuntaskan, menikmati pemaparan penulis. Bahasa
imajinatif bisa muncul berkat pilihan kata yang tepat dan kaya, ungkapannya
segar, maupun pernyataan yang mampu membuat pikiran orang mengembara.

Istilah "mengalir" dipengaruhi oleh kepaduan (koherensi) antarparagraf, karena
ia memuluskan pembacaan, tidak loncat-loncat---lebih buruk lagi bila membuat
pembaca merasa tersandung-sandung atau terperangkap. Inkoherensi antarparagraf
berpotensi membingungkan karena pembaca butuh jangkar untuk mengaitkan informasi
agar menjadi satu pemahaman utuh. Memang mungkin saja komposisi sebuah tulisan
kompleks; namun selama keterkaitannya terjaga, tulisan itu tetap berpeluang enak
dinikmati.

essay: Short nonfiction prose piece: a short analytical, descriptive, or
interpretive piece of literary or journalistic prose dealing with a particular
topic, especially from a personal and unsystematic viewpoint.
---Encarta® World English Dictionary

(2) Esai menonjolkan pendapat pribadi. Semua definisi mengaitkan esai dengan
pandangan pribadi. Ciri ini kerap membuat esai dipandang sebelah mata, yaitu
khawatir bahwa pandangan pribadi yang subjektif itu pasti berat sebelah dan
ujung-ujungnya dicap tidak ilmiah. Padahal pendapat pribadi mengutamakan
kedalaman keterlibatan orang terhadap subjek yang dijelajahinya, sejauh mana ia
mau menggali persoalan sampai ke intinya. Karena sungguh-sungguh terlibat,
harapannya orang bisa berpendapat secara jernih, jujur. Di sinilah nilai penting
esai: ia merupakan upaya seseorang menemukan kebenaran. Kebenaran yang mana?
Minimal kebenaran bagi penulisnya dan subjek yang hendak dia paparkan.

Esai menunjukkan bahwa pendapat pribadi juga sah untuk menerangkan sesuatu.
Pendapat penulis, orang yang dikutip, juga subjek tulisan bisa menjadi pijakan
pendapat, karena integritas dan keunggulan seseorang bisa dipertanggungjawabkan.
Orang punya pertimbangan rasional untuk mengajukan pendapat. Sayang sebagian
orang suka kurang percaya diri untuk mengajukan pendapat (anggapan) sendiri,
akibatnya ia lebih suka mengutip pendapat orang lain yang dianggap lebih
otoritatif atau valid untuk menopang pendapatnya.

Dari segi isi, esai lebih merupakan upaya untuk memahami persoalan atau fenomena
daripada menerangkan. Orang boleh jujur menyatakan pikiran terdalam, penolakan,
kebingungan, bahkan paling liar sekalipun, juga meraba-raba suatu fenomena akan
bermuara ke mana. Esai memberi ruang renung yang spekulatif. Di buku Sastra
Indonesia dalam Enam Pertanyaan (2004), Ignas Kleden merenungi makna sastra
Indonesia setelah membaca dan menginterpretasi sejumlah karya sastrawan
Indonesia. A. Sudiarja dalam Bayang-Bayang (2003) merenungi manfaat filsafat
bagi kebajikan manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

essay: A moderately brief prose discussion of a restricted topic.
---A Handbook to Literature

Esai itu fleksibel. Kita bisa menulis hal sepele seperti fanatisme pada pulpen
tertentu hingga masalah berat bagaimana nasib budaya baca di tengah gempuran
budaya tonton. Esais bisa membahas panjang-lebar subjek tertentu---misal
mengenai kesakitan dan kondisi manusia dalam Illness as Metaphor (1978) karya
Susan Sontag---sampai esai personal seperti dilakukan Haris Fauzi dengan
Kenisah. V. S. Naipaul menulis esai panjang untuk membicarakan India, negeri
leluhurnya, sementara Budiarto Shambazy terlatih menulis fenomena kasak-kusuk
politisi secara atraktif, disertai komentar berani dan tajam.

Ciri penting esai ialah gairah seseorang menelusuri subjek yang ingin
dikejarnya. Gairah ini biasanya melahirkan kedalaman (intensitas), membuat
penulis melahap sebanyak mungkin bahan bacaan sebagai bahan renungan dan
interpretasi yang ujungnya akan melahirkan suatu sikap atau ketetapan hati.
Bacaan tidak melulu berfungsi sebagai bahan kutipan, tetapi sebagai vitamin yang
akan membuat wawasan atau pikiran seseorang berkembang. Tentu saja wawasan juga
bisa muncul dari pengamatan maupun kejelian terhadap kehidupan sehari-hari atau
fenomena yang menarik hati penulis. Pengamatan inilah yang kerap melahirkan
penyataan jenial (bersifat ramah dan bertujuan baik).

Esai yang baik biasanya mampu membangkitkan gairah berpikir yang lebih hebat
kepada pembaca---bisa jadi awalnya mengawang-awang, namun lama-lama menguat,
terpatri, dan mewujud menjadi khazanah batin. Ini memang bersifat batiniah dan
abstrak, sebab bacaan yang hebat seringnya menyirami kehausan jiwa baik pada
pengetahuan dan kebajikan.

essay: An analytic, interpretative, or critical literary composition usually
much shorter and less systematic and formal than a dissertation or thesis and
usually dealing with its subject from a limited and often personal point of
view. Choosing the name essai to emphasize that his compositions were attempts
or endeavors, a groping toward the expression of his personal thoughts and
experiences, Montaigne used the essay as a means of self-discovery.
---Merriam-Webster's Encyclopedia of Literature

Setelah membahas bentuk dan sifatnya, kita bisa menyimpulkan bahwa pada dasarnya
esai itu tulisan alamiah seseorang mengenai hal tertentu. Esai hanya berbeda
sedikit dengan berita. Dalam berita wartawan justru harus memberi tahu peristiwa
atau hal-hal di luar dirinya kepada publik. Esai sebaliknya, penulis
mengemukakan pandangan, komentar, keyakinan, dalam dirinya kepada publik.
Montaigne, penulis Prancis yang pertama kali menggunakan kata "essai" dalam
buku-bukunya pada tahun 1572 memaksudkan esai sebagai upaya untuk menemukan
(mengenali) diri sendiri.

Karena itu saran agar orang lancar menulis esai ialah dengan membiasakan menulis
sesering mungkin, ditambah belajar dari tulisan maupun bacaan hebat karya orang
lain---kalau mau ditambah buku tentang penulisan. Dilihat dari hasil akhir, esai
memamerkan ciri khas penulis. Tentu butuh jam terbang agar seseorang mengenal
karakter tulisan sendiri---dan sebaliknya, pembaca langsung tahu bahwa sebuah
esai merupakan karya penulis tertentu. Untuk mencapai kaliber seperti itu,
penulis butuh daya tahan, produktivitas, pembelajaran, dan tentu saja: penemuan
diri sendiri.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Contoh esainya ada di
http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

#160 From: "carlixxfriends" <carlixxfriends@...>
Date: Wed Jul 7, 2010 11:29 pm
Subject: Do u think this picture is funny?
carlixxfriends
Send Email Send Email
 
LOL, I found a very funny picture and wanna know your opinion. Do u think this
picture is funny? Check the funny picture here:
http://gadixies.zoomshare.com/files/funny.htm

#161 From: "smartaadgirl" <smartaadgirl@...>
Date: Thu Jul 15, 2010 9:22 pm
Subject: i found a very interesting Flash Game!
smartaadgirl
Send Email Send Email
 
haha! I i found a very interesting Flash Game today, so I wanna share it with
you.  You can play online here:

http://fraggers.webs.com/flashgame.htm

#162 From: "missrightgt" <missrightgt@...>
Date: Mon Jul 19, 2010 3:05 am
Subject: Great news - HotLady has sent you a private photo!
missrightgt
Send Email Send Email
 
Great news - HotLady has sent you a private photo! Click here to Check it out!

#163 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Tue Jul 20, 2010 7:20 pm
Subject: [resensi] Bertaruh Nyawa untuk Menerbitkan Memoar
wartax
Send Email Send Email
 
[BUKU INCARAN]

Bertaruh Nyawa untuk Menerbitkan Memoar
---Anwar Holid

The Ghost Writer (Sang Penulis Bayangan)
Penulis: Robert Harris
Penerjemah: Siska Yuanita
Penerbit: GPU, 2010
Tebal: 320 halaman; format: 15 x 23 cm
ISBN: 978-979-22-5562-1
Harga: Rp.50.000,- (Soft Cover)

The Ghost Writer perlahan-lahan tamat juga di sela-sela deadline kerja penulisan
yang sempat bikin aku blank, karena harus menjelajahi subjek sulit. Tadinya aku
pesimis bisa menamatkan novel ini karena perasaan bersalah lebih baik memburu
target kerja dan berusaha keras terserap ke dalam tugas, tapi rupanya
kadang-kadang aku tenggelam sebentar ke dalam novel ini. Novel ini aku baca
dengan rasa gelisah karena kerja belum selesai, sementara deadline tambah dekat,
dan seorang klien menghentikan kerja sama---entah untuk sampai kapan. Buku ini
aku bawa-bawa ke Jakarta, sesekali aku baca di tengah angkot atau mobil dinas
yang membawaku ke para narasumber yang mau diwawancarai, hendak aku serap
pengalaman dan ilmunya.

Pada dasarnya The Ghost Writer bercerita tentang dua orang. Orang pertama itu
ialah penulis bayangan (ghost writer) yang disewa untuk merevisi dan menulis
ulang memoar mantan perdana menteri Inggris bernama Adam Lang. Orang kedua ialah
Adam Lang sendiri. Ketika itu Adam Lang tengah diajukan ke Mahkamah
Internasional oleh mantan menteri luarnya yang kini bekerja di PBB. Menteri luar
negeri ini dulu dipecat Lang dari kabinetnya; dia seorang politisi senior,
berpengaruh, dan integritasnya tampak terjaga.

Lang dituntut atas kejahatan perang. Dia diduga memberi perintah penangkapan dan
penginterogasian empat warga negara Inggris keturunan Pakistan atas desakan CIA,
yang lantas dibawa paksa ke penjara Guantanamo. Lang juga diduga memerintahkan
sebuah operasi rahasia yang dilaksanakan tanpa persetujuan parlemen. Meski
dicintai warga negara Inggris dan politik luar negerinya berhasil, Lang tampak
terlalu menjadi kolaborator Amerika Serikat dengan mendukung semua kebijakan
perang melawan terorisme. Tuduhan kejahatan inilah yang membuatnya nyaris
digelandang ke pengadilan internasional di Amsterdam. Beruntung dia tengah
berada di Martha's Vineyard, sebuah pulau kecil di Massachusetts, Amerika
Serikat, yang terkenal sebagai tempat liburan orang Amerika Serikat kala musim
panas. Amerika Serikat tidak ikut mengakui pengadilan internasional. Jadi selama
ada di sana, untuk sementara Lang aman. Sayangnya dia di sana kala musim dingin,
di pulau terpencil pula; jadi
  suasananya benar-benar sepi, sebab hanya berisi segelintir penduduk setempat
yang berprofesi sebagai nelayan, dan sehari-hari diterpa hujan deras dan badai.
Istrinya terang-terangan bilang sebenarnya Adam Lang sudah bernasib seperti
Napoleon Bonaparte yang diasingkan di pulau Elba. Sebenarnya, niat awal Lang ada
di sana ialah menyelesaikan memoar politik pasca dirinya selesai menjadi perdana
menteri. Memoar ini bukan saja bernilai jutaan dolar karena sudah terikat
kontrak dengan penerbit raksasa, namun juga merupakan satu-satunya cara dirinya
membela diri dan berpeluang menimbulkan pengakuan kontroversial. Sayangnya,
sekretaris setianya, seorang staf politikus tiada tara, ghost writer pertama
yang sudah menulis draft awal memoar itu, ditemukan tewas ketika hendak
menyerahkan manuskrip ke penerbit. Maka disewalah ghost writer kedua, narator
dalam novel ini.

Ghost writer kedua ini seorang oportunis. Dia satu almamater dengan Adam Lang,
hanya beberapa tahun di bawahnya, apolitis, hidup melajang, dan tampak egois.
Meski terbilang sukses berkarir sebagai ghost writer dan tahu posisinya dalam
industri buku, dia berharap bisa meningkatkan karir karena selama ini kliennya
rata-rata orang "kelas dua", misalnya rockstar uzur dan karirnya sudah tenggelam
tapi tetap merasa jadi mesiah, atau pemain sepak bola kasar yang merasa
ucapan-ucapannya sekelas dengan Shakespeare. Mungkin dengan mendapat klien
mantan perdana menteri, karirnya jadi melesat luar biasa.

Memang benar. Begitu sepakat mengerjakan proyek itu dan mendapat panjer (uang
muka) besar, suatu hari dia dihajar orang asing yang hendak merebut manuskrip
memoar sang mantan perdana menteri. Tapi halangan itu tak menyurutkan niatnya.
Ketika benar-benar mulai mengerjakan proyek bersama Adam Lang, harapannya tampak
semakin nyata. Sebagai pribadi, Adam Lang sangat mempesona. Dia seorang
komunikator andal, pandai meyakinkan, sekaligus tegas dalam mengambil keputusan.
Tapi dalam jalinan politik, kita sulit memastikan sebenarnya seperti apa
pengaruh kebijakan-kebijakannya. Apa keputusannya membuat Inggris makin
signifikan berperan di dunia internasional, kondisi ekonomi dan isu-isu keadilan
bertambah baik atau terpuruk. Kita tahu bahwa sebagian dari politik ialah
kompromi, baik dengan partai, kolaborator, bahkan dengan kekuatan musuh
sekalipun.

Sikap apolitis sang ghost writer pada satu sisi menyulitkannya bekerja dan
menyelami ada apa sesungguhnya di dalam dan luar politik Inggris, namun di sisi
lain membuatnya bebas sekaligus tega berpendapat apa pun tentang Adam Lang.
Karena berjarak sangat jauh dengan politik dan tetek bengeknya, sang ghost
writer sebenarnya tepat mengerjakan order ini. Dengan kemampuannya, dia mampu
mengubah naskah memoar Adam Lang sebagai politisi dan kering tanpa drama menjadi
manusia utuh yang patut mendapat simpati. Dia jadi tahu sisi pribadi Lang yang
mungkin kurang disadari publik, misal betapa Adam selalu minta input dari
siapapun sebelum mengambil keputusan, atau ternyata kehidupan rumah tangga
mereka sudah runtuh. Tapi demi nama baik dan citra internasional, mereka belum
bisa cerai, meskipun sudah pisah ranjang. Fakta ini makin seksi karena hidup
Adam diatur oleh sekretaris perempuan gesit sebagai bagian dari protokoler resmi
dan aturan partai. Kita rasanya
  mendapat suguhan plot sempurna: politik, kekuasaan, perempuan, dan konspirasi.
Robert Harris mengolahnya menjadi kepenasaran yang amat berisiko, terutama bagi
sang narator. Tentu dia ingin menguak siapa sesungguhnya Lang, bagaimana
lingkaran kekuasaan memainkan peran melalui lembaga studi di universitas maupun
korporasi multinasional, tindakan politik yang mengerikan, sampai mendapati
tanda-tanda di luar prakiraannya sendiri. The Ghost Writer sampai ujung setia
pada peran ganda itu: Di satu sisi, buku ini memberi gambaran hebat bagaimana
seorang penulis bekerja, baik menggunakan nurani, insting, maupun
profesionalitasnya. Di lain sisi ia menuturkan kehidupan sang perdana menteri
sejak awal menapaki karir politik hingga caranya merebut kekuasaan.

"Dalam banyak level, The Ghostwriter adalah novel yang hebat," demikian pendapat
USA Today. Menurut mereka, Harris membuat novel ini sarat godaan, kekuasaan, dan
manipulasi. Bahkan Roman Polanski tak tahan untuk mengadaptasinya menjadi film.
Sementara itu nyaris seluruh resensi di media massa internasional lain tergoda
untuk mengaitkan novel ini dengan kejadian nyata politik di Inggris. Robert
Harris tampak mau menampilkan suasana lebih muram lagi, mulai dari musim dingin,
London yang jadi mirip Jakarta karena kerap ada dalam situasi bahaya baik oleh
teror bom atau demonstrasi, sampai kehidupan pribadi sang ghost writer yang
kelihatan kekurangan cinta dan simpati.[]

Anwar Holid pernah menjadi penulis bayangan. Buku barunya ialah Keep Your Hand
Moving (GPU, 2010). Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung
40141.

Link terkait:
http://www.gramedia.com
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Ghost_(novel)
http://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Harris_(novelist)

#164 From: Get Better Grades <ibasd19@...>
Date: Tue Jul 20, 2010 11:12 am
Subject: Learn How To Study Smarter And Get Better Grades With Less Effort
ibasd19
Send Email Send Email
 
Discover the "speed study" secrets you'll NEVER be taught in school that will
cut your study time in half and get better results..

Click here : http://wwowwstore.info/

#165 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Wed Jul 21, 2010 5:13 am
Subject: (esai) Kami Ingin Menjadi Pemakmur Bumi
wartax
Send Email Send Email
 
Kami Ingin Menjadi Pemakmur Bumi
---Anwar Holid

Film itu durasinya 13 menit. Ia membuatku tertegun, mengebor mata sampai
bergetar, akhirnya memaksa butiran beningnya menetes. Ia menohok persis sesuatu
yang rasanya kerap aku alami atau renungi, terutama saat dilanda depresi oleh
nasib. Kemiskinan, juga rasa tiada berdaya karena gagal memenuhi kebutuhan hidup
paling sederhana sekalipun, cuma kadar yang mereka alami lebih ekstrem.

Tadinya, kawan yang memberi video ini bilang, "Bisa enggak kamu bikin proposal
dari film ini?" Proposal? tanyaku. Aku hanya bisa bikin proposal penerbitan
buku, bukan untuk mempersuasi perusahaan atau orang-orang kaya-dermawan untuk
berbuat sesuatu atau bederma menolong sesama. Tapi aku bilang, "Aku kenal
satu-dua orang yang terbiasa mengurus bakti sosial atau hibah untuk masyarakat.
Bisa juga mendekatkan orang yang mau melaksanakan CSR atau aktivitas seperti
bisnis sosial." CSR dan bisnis sosial adalah jargon kapitalisme yang sangat
sulit aku pahami, meskipun aku tahu kini banyak perusahaan mempraktikannya.
Bahkan CSR telah menjadi standar di setiap company profile; sementara bisnis
sosial sukses dijalankan oleh orang seperti Muhammad Yunus dengan Grameen Bank,
juga Ashoka Foundation. Sempat kerja sama dengan 1 - 2 BUMN membuat aku tahu
bahwa mereka menyediakan dana CSR sangat besar. Aku bahkan pernah dengar ada
BUMN yang bingung mau berbuat apa lagi
  saking begitu besar dana CSR yang mereka miliki.

Film itu memperingatkan aku agar jangan berhati kerdil. Dulu kala mahasiswa aku
pernah bekerja bakti bersama kawan-kawan dengan 1 - 2 hari tinggal bersama
keluarga miskin di masyarakat desa pinggiran Bandung, di balik-balik perbukitan
yang indah dan permai. Untuk mendapat ilmu, pernah juga aku hidup beberapa hari
di pesantren yang jorok di kota lain. Sementara sekarang aku justru
kadang-kadang nelangsa memperjuangkan nasib sendiri, berusaha memahami betapa
hidup itu ada-ada saja kejadiannya. Seperti kemarin aku menerima sms kawan,
bunyinya: 'mengapa ya uang selalu mempermainkan hidup kita? di kala banyak uang
kita senang dan tenang, sebaliknya ketika enggak ada, kita sedih dan panik.' Aku
jawab: 'aku juga bingung soal uang. kemarin kepikiran mau nulis status begini:
mana yang lebih mengerikan: kehilangan uang atau kehilangan tuhan? tapi urung
aku lakukan karena merasa malu.' Bukan berarti kepedulian sosialku jadi rendah
atau hilang; sebaliknya, aku
  merasa status sosialku masih rapuh, maka lebih baik memperbaiki nasib sendiri.
Sebagian orang mungkin tak perlu kita kasihani, sebab mereka berjuang keras
untuk diri sendiri.

Nah, bagaimana kalau kita tidak tinggal 1-2 hari bersama orang miskin dan
kekurangan, melainkan ikut bergumul dengan lumpur, di medan lokasi yang berat,
transportasi dan aksesibilitas seadanya, sanitasi buruk, kekurangan gizi,
tingkat pendidikan rendah, dan sebagian masyarakatnya tertinggal begitu jauh
dari peradaban yang Anda miliki? Kalau mau, Anda bisa cabut dari sana, atau
sesekali pelesir ke kota terdekat untuk mendapatkan udara segar.

Tersebutlah kecamatan Peundeuy, di kabupaten Garut, jaraknya kira-kira 150 km
dari Bandung ke arah selatan. Di peta biasa provinsi Jawa Barat, kecamatan ini
bahkan tidak tercantum. Namanya kalah oleh Pameungpeuk, yang terkenal karena
punya pantai. Mungkin Pameungpeuk dan Peundeuy tidak sejalur, tapi dalam peta
wilayah yang lebih detail, ia berada sebelum Pameungpeuk. Kecamatan ini berada
di antara perbukitan dan sawah-sawah yang mungkin menawarkan pemandangan asri
serta menakjubkan, rata-rata wilayahnya berada pada 100 - 1000 m di atas
permukaan laut, dengan derajat kemiringan mayoritas di atas 40 persen. Tapi
bagaimana kita percaya bahwa di tempat seperti itu kemiskinan dan ketertinggalan
begitu nyata terwujud? Di sana masih ada jembatan gantung dari bambu,
rumah-rumah berbilik bambu yang sudah bolong-bolong, hanya punya satu sekolah
SMP dan SMU, dengan gedung semi permanen dan tembok sebagian besar sudah
mengelupas. Tingkat drop out anak-anak SD di
  sini tinggi sekali, dan dilihat dari film itu, bangunan SD-nya amat
mengenaskan. Kalau Bill Gates atau beberapa kawanku drop out dari universitas,
mungkin masih bisa jadi cerita menarik; tapi apa yang bisa kita harapkan dari
anak yang drop out SD? Mereka bakal jadi pengusaha kelereng? Tidak. Setelah
putus sekolah, kebanyakan dari mereka kawin pada usia dini, merantau ke kota
besar seperti Bandung dan Jakarta untuk menjadi pembantu rumah tangga, buruh
serabutan, maupun penjual asongan butong (seribu sekantong). Kondisi ini
mengingatkan aku pada film Not One Less. Terdiri dari enam kelurahan dengan luas
sekitar 5.679 ha, Peundeuy berada sekitar 65 km dari ibukota kabupaten
Garut---yang terkenal oleh industri dodol dan kerajinan lainnya.

Sejumlah sarjana dari beberapa perguruan tinggi terkemuka Indonesia dan berbagai
disiplin ilmu ternyata sudah berada di Peundeuy sekitar delapan tahun terakhir
ini, hidup bersama masyarakat setempat, bergabung dalam wadah pengabdian bernama
Pasanggrahan Baranang Siang (PBS). Tentu saja tanpa publikasi apa pun. Aksi
mereka hanya diketahui sesama kawan dekat, sampai aku melihat video itu. Video
mereka pun tidak tersebar mirip virus seperti halnya video zina orang-orang
terkemuka. Bagaimana mereka bisa "menemukan" Peundeuy sebagai pilihan tempat
berkarya daripada bergabung dengan sesama kawan satu strata sosial untuk bekerja
normal di perusahaan besar, menjadi wirausahawan, atau mencari klien ke
sana-kemari seperti aku? Apa mereka punya pengalaman serupa dengan Greg
Mortenson dalam Three Cups of Tea atau John Wood dalam Leaving Microsoft to
Change the World? Di Peundeuy, mereka ikut bertani, memelihara ternak, memberi
penyuluhan soal gizi dan kesehatan,
  cara mengurus keuangan keluarga dan mengelola rumah tangga, membagi ilmu
pengetahuan, menggali potensi alam lebih besar lagi di wilayah itu, dan tak
lupa: ikut mengajar anak-anak di SD sampai SMA. Kini mereka berhasil mendirikan
sebuah SMP Terbuka-Terpadu secara gratis untuk anak-anak setempat. Kurikulumnya
dirancang alamiah, berbasis karakteristik lokal, memperhatikan tantangan wilayah
tempat tinggalnya, dan materi sains serta riset terpadu. Kabar terakhir yang aku
dengar, untuk pertama kalinya pada tahun ini (2010) ada siswa SMA dari kecamatan
ini yang lulus saringan masuk perguruan tinggi.

"PBS didirikan sebagai bentuk keprihatinan sekaligus tanggung jawab kami untuk
membantu pemerintah untuk mencari solusi alternatif bagi pembangunan khususnya
di daerah tertinggal. Kami ingin menjadi pemakmur bumi. Misi kami ialah menggali
khazanah nusantara, merajut sejarah bangsa, dan bersatu membangun negeri,"
demikian papar Dani Daud Setiana, alumni Teknik Industri ITB yang menjadi kepala
PBS. Dari riset bertahun-tahun, mereka menyimpulkan perlunya peran serta sangat
banyak dari para sarjana agar turun ke daerah, terutama untuk membantu
pemerintah daerah merumuskan dan mengetahui masalah sesungguhnya yang terjadi di
daerah tertinggal.

Selain memperhatikan pendidikan, Daud dan rekan-rekan ikut memberi pelayanan
kesehatan, dan mengembangkan ekonomi berbasis swabahu wilayah---yaitu ekonomi
yang dibangun dengan mengoptimalkan aspek agro-ekologis, teknologi dan faktor
produksi, nilai ekonomis, dan sosial budaya setempat. Mereka juga sangat
berharap agar pemerintah menjadikan Program Darma Bakti Sarjana sebagai program
nasional.

Buat orang-orang Islam yang terlalu obsesif ingin berjihad di Jalur Gaza atau
menyelamatkan Palestina, mungkin karya PBS di Peundeuy bisa membuat kita malu.
Penduduk Peundeuy seratus persen Muslim! Enggak usah jauh-jauh kalau mau beramal
bakti. Cukup dengan berbuat sesuatu yang positif untuk masyarakat setempat.
Kalau kekurangan lahan dakwah, bergabunglah dengan PBS. Yah, mungkin jihad itu
enggak bakal diliput media massa, tapi nilainya insya allah setara dengan
mempertaruhkan nyawa di hadapan tentara Israel. Sementara buat mereka yang punya
program CSR, Anda bisa bangun jembatan dan memperbaiki jalan yang hancur di
sini, mendirikan bangunan sekolah baru, membuat MCK agar sanitasi berfungsi
wajar, atau bederma untuk meningkatkan gizi dan ilmu pengetahuan. Orang-orang
yang butuh bantuan nyata ada di wilayah kita sendiri. Ia tidak jauh-jauh ada di
Timur Tengah atau Afrika. Ia ada di sekitar rumah kita sendiri. Kawan-kawan yang
suka travelling, silakan
  jadikan kecamatan ini sebagai tujuan baru. Siapa tahu mendapat pengalaman
spiritual di sini.

Tiga belas menit menyaksikan film Peundeuy dan aksi para pegiat PBS membuatku
teringat pada puisi "Orang-Orang Miskin" karya Rendra. Di situ dia menulis
begini:

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.[]

Untuk tindakan lebih lanjut, silakan hubungi Dani Daud Setiana di 08122128092.


Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Buku barunya ialah Keep Your Hand
Moving (GPU, 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung
40141.

#166 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Thu Jul 22, 2010 9:31 pm
Subject: [PUBLISITAS] Perjalanan yang Penuh Muatan
wartax
Send Email Send Email
 
[PUBLISITAS]

Perjalanan yang Penuh Muatan
---Anwar Holid

BANDUNG - Apa perjalanan bisa mengubah seseorang? Apa yang sebenarnya berubah
dalam dirinya? Apa setiap perjalanan selalu menggetarkan? Rasa penasaran sejenis
ini muncul dari para hadirin di acara publisitas buku Jingga (GPU, 2010) karya
Marina S. Kusumawardhani di Potluck Coffee Bar & Library, Bandung pada Kamis, 22
Juli 2010. Jingga merupakan buku keduanya setelah Keliling Eropa 6 Bulan Hanya
1000 Dolar (GPU, 2008) yang sangat sukses, padahal sebenarnya perjalanan ke
kedua negara kita itu dia lakukan lebih awal, yaitu ketika masih jadi mahasiswa
Institut Teknologi Bandung, antara tahun 2003 - 2004. Perjalanan ke India dan
Thailand itu dia sebut sebagai perjalanan untuk mencari "surga di
bumi"---tampaknya lebih menjadi renungan spiritual daripada sekadar pergi ke
tempat eksotik yang dianggap memiliki daya tarik mistik.

Obrolan yang dihadiri puluhan backpacker, kawan sealma mater, juga teman-teman
cybernya itu berlangsung sederhana, tanpa basa-basi. Ini merupakan diskusi kedua
setelah launching di Kinokuniya, Jakarta, awal Juli lalu. Marina mengaku buku
itu lahir dari upaya penemuan diri, pencarian makna, dan perpisahan. Dorongan
lebih kuat lagi muncul setelah dua kawannya meninggal karena "krisis
eksistensial." Mengapa India dan Thailand? Jawaban sederhananya waktu itu dia
terinspirasi oleh perjalanan band Kula Shaker ke India. Band dari Inggris ini
pernah sempat melahirkan hit "Govinda" yang meleburkan unsur musik India dan
alternative rock. Marina lebih dari sekadar histeria terhadap band ini,
melainkan berusaha menemukan arti dari lirik-lirik mereka.

"Imajinasiku ketika pergi ke kedua negara itu ialah dominan jingga," katanya.
Mulai dari pakaian para bhiksu, sinar matahari, suasana alamnya. Itulah yang
menyatukan kedua negara tersebut. Tapi ternyata, di ujungnya perjalanan itu
semua bergantung pada suasana batin pelakunya sendiri. Kata dia, "Mau seindah
apa pun, yang fisikal itu akhirnya memudar." Jadi ada sesuatu yang lebih dalam
dari perjalanan, misalnya belajar soal adaptasi, keterbukaan, serta menelusuri
jalan kebahagiaan. Dia mengisahkan ketika berada di Kashmir, sebuah wilayah
konflik di bagian utara India yang berbatasan dengan Afghanistan dan Cina. Waktu
itu di sana sedang kuat-kuatnya solidaritas agama, terutama Hindu dan Islam,
padahal itulah salah satu sumber konflik. Dia merenung, kalau begitu apa arti
agama? Kenapa pada tahap tertentu ia malah menjadi sumber kehancuran, apakah ia
cuma topeng dan identitas yang bisa memisahkan golongan manusia? Atau ia menjadi
jalan manusia untuk mencapai
  Tuhan? Marina berpendapat bahwa umat beragama itu pada dasarnya sedang berjalan
menuju Tuhan. "Cuma persoalannya, apa perjalanan itu sampai ke sana atau tidak,"
demikian tandasnya. Mungkin itu sebabnya Wimar Witoelar berkomentar bahwa Jingga
"menjadi santapan mental yang jauh lebih luas." Bagi Wimar, buku ini memberi
kenikmatan membaca sekaligus menambah perlengkapan orang mengarungi kehidupan
multibudaya---yang rentan hilang dalam masyarakat karena fanatisme golongan,
daerah, suku, dan agama.

Yang membuat para backpacker bertanya-tanya dengan nada takjub ialah pengalaman
Marina tentang budget dan menemukan muatan dari perjalanan tersebut. Karena tahu
setiap perjalanan butuh biaya, sebagian backpacker mengaku sudah berusaha sangat
hemat, tapi menurut mereka yang dilakukan Marina ternyata super-duper hemat. Apa
dia mengorbankan kenyamanan atau kemewahan lebih dari segala-galanya? Menurut
Marina, itu tergantung definisi masing-masing orang terhadap yang dijalani atau
dinilainya. Dia bahkan baru kenal istilah "backpacker" ketika berada di Thailand
dan sadar ternyata membentuk komunitas pertemanan yang amat besar di dunia ini.

"Perjalanan itu semakin spontan, semakin terbuka pada banyak hal, akan semakin
bagus dan seru," katanya. Marina juga berpendapat perjalanan ke suatu tempat itu
jauh sangat bermakna dan nyaman bila kita kenal dengan orang setempat, apalagi
bila membuahkan pertemanan yang langgeng. Sekadar jalan-jalan ke suatu kota dan
berpotret-potret di sebuah landmark akan membuat capek dan membosankan.
Perjalanan yang hebat idealnya melahirkan pengalaman dan pengetahuan bagi
pelakunya.

Berdasarkan nilai dan budayanya, Marina yakin bahwa orang Indonesia itu jauh
lebih adaptif dan terbuka pada budaya dan orang luar. Kita cenderung melihat
orang lain sebagai teman, berbeda dengan orang barat yang biasanya mula-mula
membedakan orang dalam tiga kategori, yaitu orang asing (stranger), teman
(friend), dan rekan kerja (colleague).[]

Silakan kenalan dengan Marina di Facebook:
http://www.facebook.com/jedimarina

Link detail buku:
http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=KFAQ0535&kat=3

_________________________________________
Anwar Holid bekerja sebagai penulis, editor, & publisis. Buku barunya ialah Keep
Your Hand Moving (GPU, 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung
40141.

#167 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Sun Jul 25, 2010 11:59 pm
Subject: [PENERBITAN] Kami Memburu Naskah Potensial yang Bisa Dijual
wartax
Send Email Send Email
 
[PENERBITAN]

Kami Memburu Naskah Potensial yang Bisa Dijual
---Anwar Holid

Kalau diberi kesempatan, naskah seperti apa yang akan kamu terbitkan?
Jawabannya: aku mau  menerbitkan semua buku yang aku inginkan.

Mimpi! Kenyataan tak semudah itu. Penerbit merupakan lembaga bisnis yang
bertaruh dengan uang. Ia berhitung untung-rugi. Setiap penerbit punya selera dan
ketentuan sendiri. Jujur, penerbit manapun lebih suka menerbitkan naskah yang
sudah dijamin biaya produksinya---misal oleh penulis sendiri, pemodal, atau
pihak lain yang berkepentingan---daripada harus menerbitkan naskah yang pasarnya
belum jelas, butuh energi, dan biaya besar untuk balik modal. Kecenderungan ini
terbukti dari banyaknya naskah pesanan, padahal editor sudah kerap memberi tahu
bahwa naskahnya tidak layak dan teknik penulisannya payah. Tapi karena penerbit
pasti mendapat untung tanpa perlu susah-susah menjualnya, naskah itu tetap harus
terbit, bahkan kerap dirayakan dengan gegap gempita.

Buku yang terbit kadang-kadang tak ada hubungannya dengan naskah baik atau
buruk. Sering penerbit hanya butuh naskah laku, yang langsung bisa meyakinkan
bakal mendatangkan uang, menghasilkan bonus, terjual ratusan ribu kopi, dan
memasarkannya dengan semangat. Mau naskah sebagus apa pun, semulia apa pun,
kalau dinilai tak mendatangkan untung tak bakal diterbitkan. Kalau terpaksa
diterbitkan, entah oleh penerbit profesional atau self-publishing, hasilnya sama
saja: buku itu menumpuk bertahun-tahun, sebelum akhirnya akan dikilo ke tempat
loak. Naskah bagus bisa berbeda dengan naskah laku, dan itu merupakan misteri
bagi semua pemain industri perbukuan, meski penerbit terus berusaha
menaklukannya.

Banyak buku yang dilecehkan sebagian pembaca ternyata laris di pasar, jadi
bestseller, dicetak puluhan kali, mendatangkan untung miliaran rupiah bagi
penerbit dan penulis. Penerbit kerap lebih tertarik dengan naskah yang punya
potensi jadi bestseller daripada naskah yang dianggap baik. Untuk mendapat
naskah bestseller penerbit bahkan berani menyewa penulis dan membayar kontan.
Orang boleh saja menghina-hina sebuah buku rendah mutunya, kosong isinya,
ditulis biasa saja, bahkan mungkin merupakan pseudosains utak-gatik-gatuk, tapi
kalau buku itu laku, silakan gigit jari orang yang menghina-hina itu. Setiap
buku laris pasti bakal ada susulannya; penerbit lain sangat ingin mendapat
naskah sejenis itu. Penerbit selalu mencari momen bestseller, bagaimanapun
caranya.

Kalau begitu, naskah seperti apa yang bisa terbit? Jawabannya jelas naskah yang
bakal laku bila jadi buku. Jawaban ini bisa sangat beragam bentuknya, sebab
penerbit punya pernyataan bisnis masing-masing---bahkan bisa tak malu-malu
mengkhianati pernyataan itu. Contoh: ada penerbit yang berafiliasi dengan Islam
malah menerbitkan buku tentang seorang Yahudi yang dianggap menghancurkan dunia
Islam. Kenapa penerbit ini mau menerbitkannya? Karena dia ingin memetik
keuntungan dari buku itu.

Naskah yang bisa menarik perhatian penerbit biasanya punya ciri sebagai berikut:
1/ Ditulis dengan rapi. Ini syarat mutlak. Selera editor biasanya langsung rusak
bila melihat naskah yang terlalu banyak salah eja. Bila seleranya rusak, dia
akan lebih kesulitan lagi menemukan permata dalam naskah itu. Wah, bukankah
memperbaiki dan memoles kesalahan naskah itu tugas editor? Benar. Tapi penulis
harus menolong diri sendiri dulu. Penulis dilarang membebankan persoalan
elementer ini pada editor. Di sinilah pentingnya penulis harus berusaha mengetik
secara disiplin dan akurat, kalau bisa tanpa kesalahan satu pun.

2/ Subjek (isi) tulisan itu jelas. Penulis mestinya mengusung ide tertentu yang
fokus. Ia mau bicara apa? Bagaimana cara dia menyampaikan pemikiran? Kalau
bertele-tele, banyak menyertakan hal irelevan, malah membuat kabur persoalan,
editor bisa langsung menolak naskah itu atau mencorat-coretnya. Kalau cara
penyampaiannya kurang greget, sementara ide ceritanya biasa, naskah itu akan
mudah diabaikan. Sebaliknya, meski ide ceritanya biasa, namun disampaikan secara
unik, atraktif, dengan sudut pandang menarik, kemungkinan besar naskah itu masih
tetap bisa memikat. Isi naskah merupakan perhatian utama editor, sebab pada
dasarnya itulah yang akan ia kemas menjadi buku yang bisa dijual, bisa
ditawarkan kepada calon pembaca.

Jonathan Karp, seorang editor berpengalaman di Amerika Serikat, menyatakan:
"Kami akan mati-matian berusaha menerbitkan buku yang luar biasa, karya penulis
yang memiliki perspektif unik, otoritasnya diakui, dan mampu menarik perhatian
orang. Karya yang bisa menjelaskan mengenai budaya kita. Ia mesti bisa
menerangi, menginspirasi, memancing emosi pembaca, sekaligus menghibur.
Pendapat, otoritas, maupun subjek buku itu harus tunggal, istimewa, luar biasa."

Noor H. Dee, editor di LPPH, berpendapat bahwa sebuah naskah pantas diterbitkan
bila memiliki nilai kebaruan dan keunikan. Pembaca juga harus bisa mendapatkan
manfaat dari naskah tersebut. "Saya lebih memilih naskah yang sedang hip
(digemari) di pasaran, sebab trend pasar juga jadi pertimbangan saya," demikian
ujarnya.

3/ Punya nilai lebih atau keunggulan yang bisa ditonjolkan. Ini berguna bila
subjek bahasan penulis serupa dengan penulis lain, atau topik itu sudah dibahas
banyak buku lain. Apa yang ditawarkan naskah ini, misalnya apa rahasia yang
belum terungkap penulis lain, temuan baru, efektivitas, bahkan hal-hal sepele
yang mungkin bisa diunggulkan sebagai nilai jual.

Contoh kasus: Isi Outliers (Malcolm Gladwell) kalau dilihat-lihat sangat klise,
berisi pandangan manusia tentang kesuksesan. Buku motivasional atau how-to sudah
membicarakannya dari banyak sisi. Tapi kenapa Outliers tetap bisa menonjol
secara luar biasa dan jadi bestseller gila-gilaan? Bisa jadi karena dua hal: (1)
teknik penulisannya hebat dan lincah sekali. (2) cara berpikir Gladwell unik dan
cara dia menarik kesimpulan mengejutkan.

Carol Meyer dalam The Writer's Survival Manual menyebut ada tujuh faktor yang
sering jadi pertimbangan editor dalam meloloskan naskah, yaitu:
1/ Apa naskah ini cocok dengan buku-buku terbitan sebelumnya? Apa penerbit
pernah sukses dengan buku seperti ini? Kalau tidak, apa ada celah baru yang
masuk akal untuk menerbitkan naskah ini? Bagaimana menjualnya?

2/ Apa subjek buku itu akan bisa dia edit dengan nyaman? Kalau harus outsource,
apa biayanya terjangkau?

3/ Apa editor punya waktu untuk mengeditnya?

4/ Apa naskah itu ditulis dengan baik?

5/ Bagaimana kompetisi naskah sejenis di pasar?

6/ Apa subjek naskah itu sedang populer, membuka subjek baru, atau punya
kemungkinan melahirkan trend baru?

7/ Apa penerbit sanggup membiayai ongkos produksinya?

****

Tak ada yang suci di dunia penerbitan. Sebuah naskah bisa terbit karena belasan
alasan dan kondisinya macam-macam. Apalagi naskah apa pun bisa dipoles dan
direvisi. Bahkan kerap terjadi naskah yang sebenarnya belum layak pun bisa
dipaksa terbit bila ada pihak yang menginginkan atau mau membiayainya. Ingatlah
buku-buku buruk yang pernah kita baca. Standarnya ialah asal naskah itu memenuhi
syarat tertentu, masuk kategori cukup (tidak memalukan bila diterbitkan), bisa
diupayakan, ada sesuatu yang ingin dikejar, maka naskah itu niscaya bakal
terbit.

Sederhananya, bila editor menilai bahwa naskah yang dibacanya sudah cukup bagus,
cukup yakin bahwa naskah itu punya nilai jual, ia akan meloloskan dan
mengusulkan untuk diterbitkan. Kalau naskah disiapkan dengan baik, itu sudah
cukup untuk menjadi bahan buku yang memadai. Perkara bestseller, siapa yang
tahu. Banyak buku bestseller kualitas isinya biasa saja. Ada buku yang isinya
bermutu tapi tak laku. Secara umum, Dari dulu buku bestseller itu tipikalnya
sama: penulisannya populer, isinya mudah dipahami, cukup "ringan" waktu dibaca,
menggugah (inspirasional), memberi wawasan yang segar, simpel, berorientasi
pasar, bisa memenuhi selera umum seluas mungkin.

Kalau Anda mau menulis buku yang berpeluang jadi bestseller, menulislah secara
populer dan informal. Pelajarilah cara menulis yang efektif-efisien. Belajarlah
dari buku laris, bergurulah pada penulis, instruktur menulis, atau penerbit yang
tergila-gila pada buku bestseller.

Salah satu faktor bestseller ialah karena buku itu ditulis oleh seorang ahli di
bidang tertentu dan dia mampu menggunakan keahlian atau wawasannya sebagai basis
untuk meyakinkan pembaca, bukan untuk pamer pengetahuan atau justru
menonjol-nonjolkan betapa tinggi ilmunya. Alasan ini mungkin masih kabur.
Konkretnya: carilah naskah karya seorang ahli di bidang tertentu, ditulis secara
populer, banyak memiliki insight, dan segar, mungkin ia bakal mudah jadi buku
bestseller.

Fakta ada banyak naskah yang awalnya ditolak puluhan editor, gagal diterbitkan
penerbit tertentu, namun begitu diterima dan diterbitkan pihak lain ternyata
mendapat pengakuan hebat di mana-mana, dikritik habis-habisan, atau akhirnya
jadi bestseller mestinya membuka mata dan menyemangati penulis bahwa naskah yang
baik itu pasti layak diterbitkan dan punya nilai jual. Karena itu teruslah
menulis dan berkarya.

Keep your hand moving.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Buku barunya yang
akan terbit ialah Keep Your Hand Moving (GPU, Juli 2010). Blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

#168 From: "hotbccoolguy" <hotbccoolguy@...>
Date: Mon Jul 26, 2010 2:01 pm
Subject: Sexy biker babes are waiting to meet you!
hotbccoolguy
Send Email Send Email
 
Sexy biker babes are waiting to meet you! Check their HOT profiles here:
http://carletta.zoomshare.com/files/chicks.htm

#169 From: Money online <ibasd19@...>
Date: Tue Jul 27, 2010 11:23 am
Subject: WANTED People To Work From Home
ibasd19
Send Email Send Email
 
Must Have Computer

We Are Looking For Qualified People Who Are Willing To Fill Out

Surveys Online. You Will Be Compensated For Your Time.

Pay Ranges From $10 to $25 Per Hour.

You Can Recieve A Paycheck By the End of The Week

Click here : http://wwowwonline.info/

#170 From: Free Hosting <ibasd19@...>
Date: Wed Jul 28, 2010 7:53 pm
Subject: 1 year Free Hosting ,150 GB space and 2 domains
ibasd19
Send Email Send Email
 
1 year free hosting
150 GB space
2 domain names
Monthly Transfer Unlimited
Host External Domains : 50 domain

Sign Up Now FREE : http://wwowwblog.info

#171 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Wed Aug 4, 2010 9:02 pm
Subject: [esai] Harapan Atas Terbitnya Keep Your Hand Moving
wartax
Send Email Send Email
 
Harapan Atas Terbitnya Keep Your Hand Moving
---Anwar Holid

Seorang kawan yang tahu bahwa bukuku akan diterbitkan GPU suatu hari bertanya,
'Degdegan enggak anak barunya mau lahir?'
'Enggak sih, cuma aku berharap banget jangan sampai melakukan kesalahan fatal di
buku itu.'
'Memang kenapa?'
'Aku kan rewel sama editan buku-buku yang aku baca. Kalau bukuku sendiri banyak
salah eja misalnya, tentu menyedihkan. Bisa malu sendiri aku. Apalagi ini buku
tentang penulisan.'
'Ha ha ha... mengkritik memang mudah ya?'
'Enggak juga sih. Yang penting kan ada dasarnya. Cuma akan konyol kalau aku
melakukan kesalahan serupa. Takut blunder.'
'Terus apa yang kamu lakukan?'
'Aku sudah bilang ke editor yang ngurus bukuku agar mengusahakan jangan sampai
ada kesalahan. Supaya hati-hati. Aku juga begitu. Kami sudah ngobrol dan saling
berusaha. Apalagi naskah ini juga sudah dibaca sama orang lain. Jadi ada
pembanding.'
'Apa harapan kamu setelah buku itu terbit?'
'Aku berharap minimal tiga hal: (1) penjualan buku itu laris; (2) bermanfaat
bagi banyak orang; (3) dikritik habis-habisan. Karena itu aku lagi usul ke
bagian promosi GPU agar bisa mengadakan publisitas untuk buku itu. Syukur kalau
bisa beberapa kali.'
'Semoga dikabulkan. Enggak semua orang bisa mendapatkannya.'
'Benar.'

Buku ini berjudul KEEP YOUR HAND MOVING, diterbitkan GPU pada akhir Juli 2010.

Waktu terakhir kali memeriksa cetak coba buku itu, muncul salah eja mengagetkan,
misal ada tulisan 'berkecupan', padahal di naskah asli aku menulis
'berkecukupan.' Bagaimana bisa muncul kesalahan seperti itu?

Kawan lain bertanya, 'Apa ini buku tentang motivasi menulis?'

Sebenarnya ini bukan buku murni tentang cara menulis setahap demi setahap. Yang
lebih aku tekankan pertama-tama ialah mempersuasi orang untuk menulis sebebas
mungkin, abaikan dulu soal tetek-bengek bahasa. Aku ingin bilang 'ayo menulis
secara bebas dan rasa senang, terus kita perbaiki perlahan-lahan lewat disiplin,
biar luwes.' Baru nanti di ujung buku aku sebut pentingnya standar bahasa, EYD,
menulis secara rapi, dan berusaha jangan sampai melakukan kesalahan elementer
yang bisa menodai kredibilitas penulis. Menulis dengan baik dan  rapi itu
menguatkan kepercayaan orang lain. Aku lebih suka bilang ini buku tentang
berbagi soal penulisan.

Komentar dia, 'Siapa tahu kalau disebut sebagai buku "panduan" maka lebih jelas
dan tegas.'

Sang editor menimpali: 'Ada fakta bahwa subjudul yang simpel dan komunikatif
biasanya justru akan membuat sebuah buku lebih laku. Toh, judul utamanya sudah
cukup "stylish." Tak ada salahnya dengan kata "panduan."'

Maka editor memilihkan subjudul 'Panduan Menulis, Mengedit, dan Memolesnya'
untuk buku tersebut.

Keep Your Hand Moving intinya mengajak orang menulis sesuai maksud, ekspresif,
dan rapi. Mula-mula buku ini berusaha membangkitkan saraf dan kebiasaan menulis,
berani mewujudkan ide jadi tulisan yang utuh, enak dibaca, layak
publikasi---baik untuk ditawarkan ke media massa atau penerbit maupun disebar ke
publik lewat berbagai cara. Banyak orang suka menulis, tapi caranya kerap
sembarangan, mengabaikan aturan umum, sementara mereka buta standar yang
berlaku, padahal ingin tulisan itu dibaca massa. Maka sering terjadi
miskomunikasi. Di sini pentingnya menguasai norma bahasa, karena ia menyetarakan
cara berpikir. Dengan itulah penulis dan pembaca jadi 'nyambung.'

Penulis juga perlu mampu menilai, menganalisis, dan mengedit karya sendiri,
melenturkan tulisan atau menggayakan cara bertutur agar lebih hebat dan
bertenaga. Ujungnya menyemangati untuk mau belajar dari karya orang lain,
pantang menyerah, dan terus menciptakan karya terbaik.

Materi naskah buku ini awalnya berasal dari dua workshop penulisan yang di sana
aku jadi gurunya, ditambah tulisan ketika aku diundang jadi instruktur atau
bahan diskusi di workshop lain. Setelah aku coba utuhkan isinya, proposal
bukunya aku ajukan ke GPU. Aku memohon endorsement kepada delapan orang untuk
buku ini; lima di antaranya bersedia memberi, yaitu Hernowo, Ignatius Haryanto,
Arvan Pradiansyah, Adenita, dan Akmal Nasery Basral.

Semoga Keep Your Hand Moving bisa menjadi bacaan berharga bagi mereka yang
bermaksud ingin mengungkapkan gagasan, melampiaskan perasaan, dan sama-sama
berusaha meningkatkan kualitas tulisan. Beberapa bulan lalu ada kawan lamaku
kirim email begini: 'Aku ingin belajar nulis, euy. Harus bagaimana ya?' Buku ini
semoga bisa menjawab pertanyaan sejenis itu.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Messages 142 - 171 of 648   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help