Skip to search.

Breaking News Visit Yahoo! News for the latest.

×Close this window

digibooknews

The Yahoo! Groups Product Blog

Check it out!

Group Information

  • Members: 51
  • Category: News and Media
  • Founded: Feb 15, 2008
  • Language: English
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Messages

Advanced
Messages Help
Messages 3 - 32 of 648   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Messages: Show Message Summaries Sort by Date ^  
#3 From: Alin SP <alinsp2003@...>
Date: Sun Jun 29, 2008 3:11 pm
Subject: BEDAH BUKU NOVEL LANANG. PDS HB Jassin 30 Juni 2008
alinsp2003
Send Email Send Email
 

Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Mengundang Anda Hadir pada Acara:

 

Bedah Buku Novel

“LANANG”

 

Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006

Karya Yonathan Rahardjo

Penerbit Pustaka Alvabet 2008

 

PEMBICARA UTAMA:

Prof.Dr.Ignatius Bambang Sugiharto

(Guru Besar Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung,

Juri Lomba Novel DKJ 2006)

 

PEMBANDING:

Chris Poerba

(Peneliti, Pemerhati Konsep Hegemoni, Penerima Selo Soemardjan Award 2004/ Riset, Juara I National Geographic Indonesia 2007/ Paper)

 

Sahlul Fuad

(Peneliti, Pemerhati Konsep Resistensi)

 

MODERATOR:

Endo Senggono

(Kepala Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin)

 

 

Lafalisasi Cuplikan Novel Lanang:

  1. Badri A.Q.T

 

 

Senin, 30 Juni 2008

Pk.15.00 – selesai

Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Taman Ismail Marzuki

Jl.Cikini Raya 73  Jakarta Pusat

 

 

 

Konfirmasi:

Endo Senggono, 08170787724

Alin SP Apriliani 0818819944, 081317969944

 

 

 

 

 

 

CUPLIKAN MAKALAH PARA PEMBICARA

 

Ignatius Bambang Sugiharto:

 

 

Tema lain yang sangat menonjol tentu adalah  ihwal bisnis dunia kesehatan dan industri obat. Novel ini mengeksplorasi dengan rinci, dan seringkali sangat teknis, kait-mengait  berbagai instansi dalam jaringan penipuan yang teramat massif, termasuk permainan politik dengan pemerintah.  Demikian banyak siasat dilematis ditampilkan. Bagaimana misalnya  zat-zat transgenik tertentu bisa memacu produktivitas  namun sekaligus menimbulkan kemungkinan penyakit. Dan itu justru disengaja, sebab kemudian perusahaan  akan menjual obat penangkalnya. Semua hanya demi mata-rantai pemasaran belaka.

Tak kalah menariknya adalah perpaduan antara wacana bio-teknologi dengan perspektif  spiritual religius nyaris klenik.  Zat yang menjadi penyebab  wabah misalnya, dilukiskan sebagai  semacam gas dari persilangan antara gen kebodohan dan  gen kemalasan. Gas ini  perilakunya bagai roh , yang mencari tubuh-tubuh yang batinnya kosong, sekaligus bisa keluar-masuk tubuh bagai energi cahaya. Atau sewaktu Lanang membuat percampuran kimiawi demi menghadirkan  burung babi hutan, ternyata percampuran itu menimbulkan reaksi karena dibarengi ritual doa, dan hasilnya pun menjadi sembilan ‘biji utama’ berwarna merah muda, yaitu biji ‘kasih’, biji ‘sukacita’, dst.seperti yang termaktub dalam Kitab Suci kristiani. Ini imajinasi brilian yang teramat ganjil dan tak terduga.   Namun salah satu bagian terbaik dari novel ini adalah saat melukiskan konflik-konflik keagamaan. Di sana segala bentuk kemunafikan  dan kerapuhan nafsu badani ditelanjangi;  baik dalam konteks Lanang, Rajikun, Putri maupun Dewi.  Yang menarik adalah bahwa segala keyakinan suci dilukiskan berdampingan tanpa beban dengan  perilaku-perilaku  bejat. Dan itu memang fenomena-fenomena menakjubkan yang  lazim terjadi di negeri ini.

 

... Di tangan sutradara yang piawai novel ini niscaya dapat diangkat  menjadi  film sci-fi terobosan yang menawan dan berbobot, mengingat belum ada film sci-fi cukup berarti yang dihasilkan oleh negeri ini.

 

 

Chris Poerba

 

... Keseluruhan substansi Novel Lanang jelas merupakan sebuah narasi besar mengenai hegemoni korporasi asing (industri farmasi global) yang telah tertanam dalam keseharian hidup Dengan bantuan sekumpulan prostitusi intelektual Sebuah upaya dari korporasi asing dalam membuat sistem dan mekanisme ketergantungan dengan bantuan prostitusi intelektual

 

Sahlul Fuad

 

...

Secara kontekstual dengan kondisi bangsa ini di bidang kedokteran hewan dan peternakan, setelah membaca Novel Lanang kita dapat merasakan kaitannya dengan kondisi peneliti atau dokter/dokter hewan, atau politik kesehatan Indonesia saat ini. Dalam kasus flu burung kita menjumpai penelitian yang tidak tuntas, banyak yang tidak terdeteksi dan ahli-ahli yang asbun (asal bunyi/ asal omong), dan pemerintah yang plin-plan.

 

Bila kita memahami hal ini, akan dapat terasakan, pesan yang disampaikan penulis betul-betul menggetarkan. Sangat mengerikan bila ternyata kualitas peneliti dan dokter hewan di Indonesia ada yang seperti Lanang, baik sebagai ilmuwan atau pribadi, yang membuat hegemoni dari berbagai pihak dapat terjadi padanya secara menggurita, termasuk dari negeri asing.

 

Dalam konteks tema ini, bila Novel Lanang adalah sebuah fiksi, untuk menyandingkan dengan buku non fiksi kita dapat menyandingkannya dengan Buku “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”, tulisan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).

 

Dalam buku ini Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. Fadilah mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.

 

...

Selama ini, semua upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengontrol NAMRU tidak pernah dipublikasikan, sehingga rakyat Indonesia tidak tahu apa-apa. Barulah setelah Menkes menggebrak, keberadaan NAMRU terungkap ke masyarakat luas pada awal 2008. Ketika terbit akhir April 2008 dan diluncurkan Mei 2008, kabarindo.commengatakan, “Novel ini ditulis dengan gaya thriller, plot cerita novel ini sungguh menegangkan. Karakter tokoh-tokoh pun rumit dan penuh intrik. Dengan pendekatan konspirasi, karya ini menjadi bacaan kritis bagi yang tertarik pada isu-isu social, psikologi, bioteknologi, dan politik kesehatan. Anda tentu masih ingat dengan polemic Namru 2 dan isu virus Flu Burung khan? Sepertinya penulis novel masih terperangkap dengan isyu-isyu tersebut.”

 

Benarkah Novel Lanang terperangkap isu-isu seperti kata kabarindo.com itu? Untuk kasus flu burung, kelihatannya memang iya, dan diakui pengarangnya memang terilhami kasus ini. Namun untuk kasus Namru, sudah tentu Novel Lanang mendahului terbongkarnya kasus Namru. Sebab Novel Lanang sudah menjadipeserta Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006, dan diumumkan menjadi pemenang pada awal 2007. Sedangkan tadi sudah jelas, terbongkarnya kasus Namru adalah pada awal tahun 2008.

...

Tak berlebihan bila saya katakan Lanang itu semacam buku primbon untuk menguak misteri indonesia. Mungkin ini semacam ramalan Jayabaya. Lanang itu sastra. Sesastra puisi. Sepuisi indonesia. Seindonesia yang misteri. Membaca lanang memang beda dengan logika.

 

 

 



#4 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Mon Aug 4, 2008 6:54 pm
Subject: [esai] Apa Balasan Kalau Aku Mencoblos Kamu?
wartax
Send Email Send Email
 
[halaman ganjil]

Apa Balasan Kalau Aku Mencoblos Kamu?
-------------------------------------
--Anwar Holid


Pemilu walikota & wakil walikota Bandung Agustus 2008 tinggal lima hari lagi.
Aku berhari-hari mulai mikir-mikir, siapa kira-kira yang pantas aku kasih suara,
atau sebenarnya baik-baik saja kalau aku abstain. Aku nyaris nggak punya
kepentingan politik, kecuali sejumlah sinisme dan keraguan.

Tetanggaku ada yang jadi anggota tim sukses 'HADI', dan pernah suatu pagi aku
saksikan dia menyobek poster 'DADA-AYI.' Aku ketawa. Barangkali dalam pikirannya
dia nyangka tak ada yang menyaksikan perbuatannya. Sobek-menyobek atau
timpa-menimpa poster ketiga kandidat itu biasa sekali. Sehari spanduk dipasang
di pinggir jalan, besoknya lenyap, atau langsung bertambah kandidat lain, kalau
tidak cacat. Entah matanya jadi sobek, atau poster itu tercabik-cabik. Yang
paling mencolok memang billboard 'Coblos Dadanya' yang dipasang di mana-mana,
termasuk untuk sementara menutupi iklan rokok, karena jelas mustahil dirusak
pihak lain kecuali punya alat canggih untuk naik dan merusakkan sekali tindakan.
Pernah suatu malam aku lihat sepasang pemuda-pemudi berjilbab bekerja sama
memasang poster 'TRENDI' di dinding-dinding kota. Aku senyum, "Segitunya mereka
mau berkorban. Mereka dapat apa sih?" Di kejauhan, mobil mereka di parkir,
bagian belakangnya ditempeli poster
  'TRENDI.' Bila di tingkat pendukung saja saling cakar begitu, entah bagaimana
ketegangan di tingkat pusat.

"Tim sukses itu dibayar nggak sih?" kata Ubing waktu kami di dapur menyiapkan
sarapan.
"Tergantung. Kalau duit si kandidat besar, ya dibayar. Malah ada kala orang rela
mengorbankan sesuatu untuk kandidat. Apalagi kalau dia setuju dengan ide
kandidat."
"Ah, tapi mana mungkin tidak dibayar?"
"Ya juga sih. Biaya kampanye itu besar sekali soalnya."

Aku sendiri dari awal bertanya-tanya, aku bakal dapat apa kalau nanti mencoblos
salah satu kandidat itu? Aku merasa suaraku tidak segitunya penting atau
menentukan kemenangan salah satu kandidat, jadi biasa saja. Kecuali kalau nanti
salah satu kandidat butuh satu suara untuk meraih kemenangan, mungkin baru
ketika itu aku mikir-mikir akan mencoblos. Ah, kamu terlalu tinggi hati, Wartax!
Tapi apa salahnya pasang harga setinggi mungkin untuk sebuah suara? Katanya
suara rakyat memang menentukan. Dengan Tuhan saja aku berdagang dengan harga
yang sangat tinggu; apalagi dengan politikus yang menjanjikan kesejahteraan dan
semacamnya.

Kubu 'DADA-AYI' mengeluarkan slogan "membangun dengan pengalaman" yang buat aku
kedengaran sumbang. "Dengan pengalaman" mereka, Bandung pernah mengalami masalah
sampah paling buruk sepanjang aku tinggal di kota ini. Sekarang pun, sampah
merupakan masalah akut yang mengkhawatirkan, apalagi jika hujan deras. Tobat
dah. Aku kuatir lama-lama Bandung banjir bila musim hujan, seperti Jakarta.
"Dengan pengalaman" sebagai ketua umum Persib, H. Dada Rosada gagal
mempersembahkan tropi Liga Indonesia, bahkan di putaran kedua nasib Persib
mengenaskan. Kalau di Liga Inggris, ketua seperti itu sudah dicopot jauh-jauh
hari. Nasib Persib juga buruk di Liga Super Indonesia; sementara ketua umumnya
sibuk kampanye dan minta dukungan bobotoh. Absurd. "Coblos Dadanya" ingin sekali
aku ganti jadi "coblos hatinya" biar mereka tahu bahwa sebagian pengalaman
kepemimpinan itu ternyata buruk. Aku malu dengan golongan orang yang memasang
spanduk mau memilih mereka lagi karena
  "berpengalaman." Pengalaman mengajarkan saat Dada Rosada jadi walikota terjadi
penyerbuan oleh sekelompok orang intoleran ke toko buku Ultimus ketika sedang
ada diskusi ilmiah di sana, dan mereka menangkapi orang yang berbeda pendapat.
Jelas pengalaman seperti itu jangan sampai terjadi lagi.

Karena belum jadi ketua umum Persib, pasangan 'TRENDI' mencoba mengambil hati
dengan menempel jadwal Persib di Liga Super Indonesia, sambil mengenakan seragam
Persib. Menurutku, ini juga langkah lucu. Jadi benar dugaanku dulu, para
kandidat itu pengen sekalian jadi ketua Persib begitu terpilih jadi wali & wakil
walikota. Padahal barangkali alangkah baiknya urusan pemerintahan itu dipisahkan
dengan urusan sepakbola. Kalau enggak nanti runyam. Terbukti dengan PSSI
sekarang. Kenapa kandidat yang tak pernah berhubungan dengan sepak bola itu
berusaha meraih simpati warga yang peduli Persib? Untuk apa ya?

Apa mereka kurang yakin dengan jalur yang mereka tempuh selama ini, sampai perlu
mengambil hati para bobotoh? Apa ketua umum Manchester United itu walikota
Manchester? Rasanya bukan deh. Apa slogan "perubahan" yang mereka canangkan
bakal bisa mengubah Persib jadi kampiun Liga Indonesia? Slogan "perubahan"
pasangan ini sebenarnya menantang; tapi kalau aku lihat sungai-sungai di Bandung
jadi timbuhan sampah, sementara air kering di waktu musim kemarau... aku sulit
sekali diyakinkan perubahan apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan. Apa aku
bisa berharap bahwa jaminan sosialku lebih baik, misalnya dengan memperoleh
pengobatan kelas satu kalau aku sekeluarga sakit, bila aku mencoblos suara buat
mereka?

Pasangan 'HADI' mengedepankan independensi untuk meyakinkan warga Bandung agar
memilih mereka. Menarik sebenarnya ide itu, di tengah dukung-mendukung
antarormas dan partai pada tiap pasangan menjelang pilkada seperti ini, yaitu
biar warga tidak terkesan terpecah-pecah. Kata kubu HADI, mereka siap melayani
publik. Benarkah seperti itu? Kalau begitu, nanti warga nggak perlu repot ke
sana-sini atau bayar ini-itu buat bikin KTP, atau ketika mau pindah dan ke luar
kota, nggak perlu bayar iuran atau ditarik retribusi... karena kami adalah warga
negara yang berhak dilayani. Kalau dipikir, tawaran mereka cukup menarik:
bayaran dari coblosan untuk mereka ialah layanan publik yang baik. Bisakah itu
dijamin? Aku sulit memastikan.

Aku mengira-ngira, karena kang Dada Rosada sekarang pemangku jabatan kepala
pemerintahan kota Bandung, dia bisa mengerahkan segala kekuatan untuk kampanye
agar terpilih lagi. Dia menggunakan kedudukannya sebagai ketua BNK (Badan
Narkoba Kota?), ketua Persib, agar bisa tampil ke publik. Sementara itu sejumlah
partai dan ormas mendukungnya; spanduk-spanduk bertebaran di mulut gang siap
mencoblos dia lagi, termasuk anjuran dari anggota caleg. Yang repot ialah
anggota atau simpatisan partai PKS dan PAN. Di tingkat provinsi, mereka
berkongsi untuk memenangkan 'HADE'; tapi di tingkat kota mereka pecah kongsi,
PAN ternyata mendukung DADA-AYI. Di sejumlah poster sampai ada peringatan jangan
sampai salah pilih, bahwa dukungan mereka lain dengan yang diusung PKS. Tentulah
kedua kandidat lain punya puluhan cara untuk mendapatkan dukungan dari berbagai
kalangan. Jumat lalu aku baca sebagian kaukus umat Islam ramai-ramai mendukung
TRENDI.

Pada siapa umat Muslim Bandung bakal mencoblos? Dilihat dari reputasi, Abu
Syauqi, pasangan Taufikurahman, jelas bisa menarik banyak simpati dan namanya
sudah cukup terkenal. Kinerja dia dengan Rumah Zakat Indonesia bagus. Program
Abu Syauqi ini membumi dan populer. Sudah sejak lama Abu Syauqi bikin 'ambulans
gratis', 'sekolah gratis', 'rumah sakit gratis', 'kirim kornet qurban ke pelosok
dan pesantren', dan sebagainya. Spanduk Rumah Zakat kayaknya mudah ditemui. Aku
berani bilang, Abu Syauqi lebih konkret. Di beberapa poster, 'TRENDI'
digambarkan persis seperti poster film 'I am Legend' yang hendak menyelamatkan
kota dari serbuan malapetaka. Tapi seperti yang aku bilang dulu, nama Abu Syauqi
berkonotasi tertentu bagi pemilih sekular/non-Muslim, dan memungkinkan mereka
enggan memilihnya.

Ternyata untuk mencoblos pun aku banyak menuntut. Aku rewel dengan janji-janji
mereka. Aku ragu dengan niat mereka. Tapi mungkin abstain pun bukan langkah
populer. Idealnya aku memberikan suara kepada kandidat yang memberi penawaran
paling bagus untuk aku, karena aku akan memberikan kepercayaanku yang paling
berharga sebagai warga kota. Aku mempertaruhkan ketenangan, kesuksesan,
kenyamanan, dan lain-lain untuk tinggal di sini. Semoga di hari terakhir aku
akhirnya bisa memutuskan akan mencoblos siapa. Kalau tidak, aku lebih
memprioritaskan urusan pribadi dan mencoba menyelesaikan pekerjaan yang sudah
semestinya aku tuntaskan. Politik bisa jadi masalah hati & keyakinan, sejauh apa
pun seseorang bisa merasa terwakili oleh politisi, bahkan ketika dirinya boleh
jadi sulit menggugat bila kandidatnya mengkhinati kepercayaannya.[]


Anwar Holid, penduduk Bandung, tinggal di gang Panorama II no. 26 B; KTP no.
1050050909733005. Ngeblog @ http://halamanganjil.blogspot.com. Menulis Barack
Hussein Obama (Mizania, 2007), biografi populer kandidat calon presiden AS dari
Partai Demokrat.

Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:

http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.digibookgallery.com
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#5 From: Alin SP <alinsp2003@...>
Date: Tue Aug 26, 2008 4:35 pm
Subject: Indonesian Dance Festival Kembali akan Digelar !!!
alinsp2003
Send Email Send Email
 

Pertunjukan Utama dan Emerging Choreographers

27 - 31Oktober 2008

Menampilkan karya-karya penata tari dan kelompok tari internasional yang sudah mantap prestasinya dan pendatang baru terpilih yang giat mencari identitas diri dan berbakat. Para koreografer yang akan tampil dalam Pertunjukan Utama :

·         Jerome Bel (France) & Pichet Klunchun(Thailand) ; karya kolaborasi

·         MK (Italy)

·         Cynthia Lee (Taiwan/USA) & Ery Mefri  (Padang/Indonesia) ; karya kolaborasi

·         Hartati (Jakarta/Indonesia)

·         Kadek Yulia (Solo/Indonesia & Ronarong Kampha (Thailand) ; karya kolaborasi

·         Retno Sulistyorini (Solo/Indonesia)

·         Dek Geh (Denpasar/Indonesia)

·         Megumi Kamimura (Japan)

·         Natsuko Tezuka (Japan)      

·         Yukio Suzuki (Japan)

·         Rachael Lincoln & Leslie Seiters (USA) ; karya kolaborasi

·         KYTV / Kill YourTV (Singapura)

·         Penampilan khusus disutradarai oleh: Garin Nugroho, koreografer: Martinus  Miroto & Eko Suprianto

   

Lokakarya Koreografi  (Pendidikan & Pelatihan)

14 - 26 Oktober,

di P4TK Seni Budaya, Yogyakarta

Pe l a t i h a n  dan p e n d i d i k a n koreografi difokuskan untuk meningkatkan kualitas dan kreativitas (tulisan yang benarnya kreativitas) penata tari muda. Para pengajar adalah dosen-dosen terpilih dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), perguruan tinggi seni

Indonesia lainnya dan dari luar negeri seperti Tang Fu Kuen (Singapura), Daisuke Muto (Jepang) dan Nanette Louise Hassall (Australia). Materi yang akan diajarkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan komposisi dan koreografi tari, antara lain ; body contact, repertoire  serta manajemen produksi. Lokakarya Koreografi ini akan berlangsung  selama 14 hari.  

 

 

Diskusi   & Lecture Demonstration

29 - 31 Oktober 2008

 

Dialog berbagi pengalaman, pengetahuan dan wawasan dalam seni pertunjukan; Kreativitas,Teknis dan Management. Diskusi kritik tari bersamaTang Fu Kuen (Singapura) dan Daisuke Muto (Jepang). Lecture Demonstration  dan presentasi film tari oleh Min Tanaka (Jepang), koreografer dan penari Butoh terkenal.

 

 

 

Master Classes

28 - 31 Oktober, 2008

 

Pelatihan singkat teknik tari atau koreografi diberikan oleh koreografer yang tampil dalam pertunjukan utama ataupun yang datang khusus untuk meninjau dan

mengamati pertunjukkan. Master Classes ini  diikuti oleh semua penata tari pemula dan

senior, melalui seleksi.

 

Klas Spesial :  “Hip – hop Dance”  oleh Jecko Siompo

 

Festival ini terselenggara bekerjasama dengan Fakultas Seni Pertunjukan - Institut Kesenian Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pusat Kesenian Jakarta -Taman Ismail Marzuki, Dewan KesenianJakarta dan P4TK  Seni  Budaya Yogyakarta

 

 

 

Secretariat :

Fakultas Seni Pertunjukan

Institut Kesenian Jakarta

Jln. Cikini Raya No. 73

Jakarta Pusat 10330

Telp. Fax : +62-21- 319 03 916

Email : idf08@...

Contact person : Eri & Rini

www.indonesiandancefestival.com

 



#6 From: Alin SP <alinsp2003@...>
Date: Fri Aug 29, 2008 9:16 am
Subject: PESTA PERKUSI 2008
alinsp2003
Send Email Send Email
 

PESTA PERKUSI 2008

 

Berangkat dari kecintaan dan kepedulian terhadap budaya   Indonesia, Payon restauran membentuk sebuah wadah belajar bagi anak- anak muda yang tertarik untuk mengenal dan mempelajari kesenian musik tradisional Indonesia, dalam hal ini, perkusi.

Pada dasarnya, Payon ingin memberikan sebuah tempat yang positif, untuk anak-anak muda belajar mengenal, menyukai dan mencintai budayanya sendiri, apapun bentuknya. Dengan harapan klasik yang jujur, agar budaya kita dapat terus bisa bernafas dan hidup.

Berawal dari ide sederhana untuk merayakan 17 Agustus, yang membawa komunitas Payon menjadi ingin lebih banyak tahu, lebih kenal, dan dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan teman-teman  seniman , komunitas dan musisi perkusi yang ada di Jakarta, untuk kemudian dapat sama-sama berpartisipasi merayakan dan berkumpul pada sebuah pertemuan perkusi.

Pembicaraan komunitas Payon dengan beberapa komunitas seniman perkusi Jakarta, menghasilkan sebuah ide acara “PESTA PERKUSI”.Pesta Perkusi adalah sebuah acara berkumpulnya seniman-seniman dan musisi berbasis seni musik tabuhan indonesia di Jakarta, tanpa batasan usia, status dan bentuk, yang bergerak dibawah kesamaan semangat, untuk terus berusaha menjaga, mempertahankan, dan melestarikan budaya ini, dengan menampilkan pertunjukan terbaik dari tiap-tiap komunitas seniman perkusi sebagai bentuk apresiasi.

Tema PESTA PERKUSI 2008 adalah “Proyeksi Perkusi : Menggali tradisi, Lintas generasi”. Pesta ini, memberikan gambaran yang lebih  besar, dan lebih jelas, kepada semua lintasan generasi mengenai eksistensi seniman-seniman perkusi  di Jakarta, yang mengerti bahwa kesenian musik perkusi adalah salah satu bentuk tradisi dan kebudayaan, yang sudah ada sejak kemarin, masih ada hari ini dan masih harus ada besok.

 Visi & Misi Pesta Perkusi 2008 adalah menghidupkan “GAUNG” keberadaan komunitas - komunitas seniman perkusi di Jakarta, yang selama ini berusaha menjaga, dan  melestarikan budaya musik tradisional Indonesia agar dapat  terus diapresiasi, dicintai dan bergerak maju mengikuti perubahan jaman, tanpa kehilangan karakter budaya Indonesia itu sendiri, sehingga dapat terdengar lebih keras melintasi seluruh lapisan generasi serta menjadikan acara Pesta Perkusi sebagai acara rutin tahunan di Jakarta, yang diharapkan dapat menjadi sebuah wadah berkumpulnya komunitas seniman perkusi Jabodetabek, untuk terus mengangkat dan memajukan eksistensi kebudayaan Indonesia, dan menjadikan acara Pesta  Perkusi ini sebagai tanda lahirnya “ Komunitas Perkusi Jakarta “.

Pada hari Jumat tanggal 29 Agustus 2008 pukul 14.00 WIB akan diadakan parade perkusi dengan menggunakan bajaj di seputar wilayah Kemang, Prapanca, Wijaya. Acara Pesta Perkusi  ini sendiri akan diadakan pada hari Sabtu pada tanggal 30 Agustus 2008 mulai pukul 14.00 – 23.00 WIB di Payon Restoran Jl.Kemang Raya No.17, Jakarta Selatan. Para pengisi acaranya adalah KunoKini, Duo Percussion, Sirkus perkusi, Sanggar Roda, Lampu Percussion, Die J Percussion, Payon Percussion,Tetabuhan Lorong, Sanggar Akar, SLB-C Wimar Asih Gamelan Grup, Cakranada Ethnic Music Grup.



#7 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Fri Aug 29, 2008 11:01 pm
Subject: [OOT] Kaya dan Pintar
wartax
Send Email Send Email
 
PERHATIAN: Maaf, tulisan saya kali ini memuat kata-kata kasar. Jangan
tersinggung.

[HALAMAN GANJIL]

Kaya dan Pintar
---------------
--Anwar Holid


Pada Jumat, 29 Agustus 2008, aku naik angkot sampai persis di depan Gedung
Sate/Gasibu. Ternyata di jalan raya itu sedang ada pawai panjang kampanye donor
darah 'Triboplastic' yang diadakan anak-anak SMU 3 Bandung. Mereka pawai
menggunakan jajaran mobil dan motor. Dari pinggir jendela angkot yang aku naiki
terlihat barisan mobil-mobil mewah yang mereka gunakan, baik sedan, city van
(Kijang dan semacamnya), mobil kecil (Jazz dan sejenisnya), beragam jeep, sampai
Land Rover. Rupanya ular pawai ini dibagi tiga jajar. Jajaran pertama rangkaian
mobil, di tengah jajaran motor, di belakang mobil lagi. SMU ini sulit dibantah
merupakan SMU paling favorit di Bandung selain SMU swasta terkemuka seperti St.
Angela.

Anak-anak remaja ini dengan penuh semangat, menebar senyum, dan ceria
membagi-bagikan selebaran pada siapapun yang lewat. "Jangan lupa datang ya,"
kata mereka, baik ke penumpang angkot dan pengendara lain. Tapi karena saking
panjang, pawai mereka rupanya mengganggu orang lain yang malas dengan kemacetan
atau sedang terburu-buru. Di belakang suara klakson bersahut-sahutan, aku pikir
bagian dari keriaan. Rupanya itu bagian dari kemarahan. Seorang ibu berjilbab,
berkaca mata hitam, pengendara mobil lain, memaki-maki pawai itu, persis di
bagian motor yang dikendarai seorang siswi. Dia sedikit kesulitan segera
memindahkan motornya masuk ke jajaran. Memang lajur kiri jalan itu bagian 'belok
kiri jalan terus.' Angkot yang aku naiki ada di lajur ketiga jalan, jadi aku
lihat kejadian itu.

"Nyingkah siah!" teriak ibu itu. Anak-anak jadi ribut. Si gadis kerepotan, tapi
segera bisa masuk barisan. Anak-anak lain jadi merasa solider, dan akhirnya
membalas teriakan dengan makian yang sama kasar. Terdengar mereka bilang
bertanya-tanya, "Ngomong naon sih?" sambil menyahut-nyahut dengan berbagai
alternatif, sampai yang terdengar jelas ialah teriakan, "Kanjut meureun..." Tapi
segera angkotku jalan terus, mengantarkan beberapa meter ke depan. Jadi aku
terhindar melihat insiden itu lebih jauh. Di angkot, aku akhirnya gagal
meneruskan baca buku Muhammad, Rasul Zaman Kita (Tariq Ramadhan) terbitan
Serambi. Aku ingin mengulas buku ini persis karena mau puasa Ramadhan, tapi
ternyata masih gagal.

Di dalam angkot itu aku jadinya membatin dan terus memperhatikan pawai itu.
Mereka masih remaja, sudah kaya-kaya, dengan sosialita yang boleh jadi kelas
menengah atas---entah high class atau high maintenance. MObil mereka
keren-keren, dalam mobil itu mereka memencet-mencet HP, merokok, bersendau
gurau, menikmati masa remaja, dengan tampilan terpelihara, tapi otak mereka juga
pintar dan berwawasan luas. Merekalah yang bakal paling banyak mengisi sekolah
tinggi favorit di Bandung, baik itu ITB, Unpad, Unpar, dan lain sebagainya.
Dalam hati aku bilang, "Wah... mereka itu sudah kaya-kaya, pintar-pintar
lagi..."

Insiden si ibu memaki juga tetap terkenang. Kejadian ini mengingatkan aku pada
peristiwa lama, ketika di Padalarang bus jurusan Jakarta yang tumpangi memepet
sedan mulus, berisi sekeluarga, terdiri dari anak (sopir) dan ayah-ibunya. Yang
menurutku keterlaluan, si pemilik sedan ini memaki-maki jauh lebih kasar pada
sopir dan kondektur bus, biar menyingkir lebih dulu dan menyelesaikan masalah,
padahal mobil mereka kedua-duanya jadi nggak bisa gerak. Anak dan bapak itu
menyemburkan kata-kata anjing, goblog, setan, dan sebagainya kepada sopir dan
kondektur, membuat keadaan jadi runyam, sok kuasa, dan bikin kepalaku jadi
mendidih. Akhirnya aku jadi ikut teriak, "Hei, tolong kamu tenang dulu!
Parkirkan dulu mobil kamu dengan baik!" Yang lebih istimewa lagi, menurutku,
ialah tampilan keluarga ini. Si ayah mengenakan baju koko, berkopiah haji, si
ibu berjilbab, berkaca mata hitam, si anak juga berkaca mata, mengenakan baju
koko putih perlente, dan di kaca spion
  dalam mobil, sebuah tasbeh sudah berhenti bergoyang-goyang. Aku betul-betul
jadi gagal bersabar menghadapi pemandangan itu, menggumpalkan makian dalam hati,
"Anjing, anjing, kamu penampilan saja kayak begitu, dalamnya berisi setan!
Amarah dan ego kamu luar biasa besar dan sulit ditenangkan. Najis!" Karena
pindah bus, aku jadi melewatkan insiden itu.

Di jalan Sulanjana, yang dilalui angkotku, aku ketemu lagi dengan pawai
anak-anak SMU 3. Mereka tentu menyebar ke berbagai penjuru kota. Batinku mulai
kembali ke anak-anak itu, ke sekolah dan pendidikan. "Ada nggak ya anak miskin
di antara mereka? Yang nggak bisa ikut pawai karena terlalu miskin, dan jadinya
manyun atau sedih di kelas atau di rumah?" Boleh jadi sedih banget nggak bisa
ikut ramai-ramain dengan kawan sebaya mereka, menikmati kemewahan dan kesenangan
yang tersedia untuk mereka nikmati. Batinku berucap, beruntung sekali mereka
itu, bisa memanfaatkan kekayaan orangtua biar pintar-pintar dan punya sosialita
kelas utama. Apa karena kaya, mereka jadi berkesempatan jadi pintar. Untuk jadi
pintar memang mahal. Boleh jadi mereka harus banyak beli buku, belajar tambahan
lagi di bimbingan belajar, atau les privat, punya ini-itu untuk menunjang
kepintaran dan kecerdasan. Memang aku yakin jelas masih ada beberapa anak miskin
yang sekolah SMU 3 atau
  sekolah favorit lain, tapi biaya pendidikan memang mahal.

Apa yang bisa dilakukan agar anak pintar dan masuk sekolah favorit? kataku.
Harus sekolah dengan baik, belajar dengan giat, disiplin, sekolah dengan
fasilitas dan standar bagus, meski biayanya mahal. Aduh, kasihan sekali orang
miskin, batinku lebih pada diri sendiri. "Orang miskin dilarang sekolah!" begitu
tegas Eko Prasetyo, kritikus sosial dari Jogja, mengkritik betapa mahal biaya
sekolah. Aku jadi kecut sendiri terhadap masa depan Ilalang, anakku, persis
karena aku merasa sering kekurangan dan penghasilan terlalu cepat habis untuk
biaya sehari-hari. Awal ajaran baru ini, aku belum melunasi sepeser pun buku
wajib yang diambil Ilalang. (Mungkin baru bisa bulan depan.) Apa orang harus
kaya dulu, baru bisa menikmati sekolah yang bisa membuat murid-muridnya pintar.
Aku langsung ingat Alexander the Great, calon kaisar Yunani dari Macedonia,
salah satu murid Aristoteles. Adakah di antara murid lain Aristoteles itu
misalnya anak tukang gorengan atau tukang
  becak? Aku ragu sekali tentang hal itu. Yang punya kesempatan belajar dengan
dia aku berani berprasangka pastilah anak-anak orang kaya atau keturunan
kalangan raja. Rasanya pendidikan bakal tambah sulit teraih bila seseorang
miskin.

Aku sering merasa bahwa aku masih miskin dan penghasilan kerap kurang untuk
persiapan masa depan dengan baik, karena terlalu cepat habis untuk biaya
sekarang. Aku khawatir, karena miskin, jadi sulit membiayai anak-anak, dan boleh
jadi mereka jadi bodoh atau nggak pintar, dan tetap miskin. Memang aku tidak
terlalu miskin dibandingkan orang yang lebih miskin, juga tidak terlalu pintar
dibandingkan orang yang lebih bodoh. Di sisi lain, aku masih bersemangat dengan
optimisme, tekad, dan harapan baik masa depan. Tapi bayang-bayang bahwa peluang
orang kaya begitu besar untuk jadi pintar dibandingkan peluang orang miskin jadi
pintar, membuat aku gelisah di dalam angkot. Kepalaku menerawang ke mana-mana,
salah satunya ingat saudara serumah yang dulu sekolah di SMU 3. Dia membuat aku
kagum karena pintar. Aku jadi ingat waktu masih kelas 6 SD, jadi adik
PAS-Salman, punya beberapa teman yang jauh lebih kaya dan pernah diajak ke
rumahnya yang mewah di awal
  Tamansari, penuh komik, majalah, dan mainan mengasyikkan.

Angkot yang aku naiki melintasi jalan Tamansari, tempat kampus ITB mengambil
cukup besar porsi bagian dari wilayah itu. Sekarang di sepanjang pinggir kampus
ini dikelilingi mobil parkir bertebaran, belum lagi di lapangan parkir dalam
yang luas dan di pingir Sabuga. Pemandangan ini lain sekali dibandingkan
tahun-tahun 94-an ketika aku cukup aktif di masjid Salman, salah satu blok di
ujung kampus itu. Keadaan sekarang membuat aku cukup yakin bahwa yang masuk ITB
memang banyak sekali dari kalangan orang kaya. Lihatlah mobilnya, lihatlah
penampilan mereka, hiasan yang mereka kenakan, perhatikan cara masuk dan
membiayai kuliahnya. Aku lantas terkenang teman-teman setia dari satu generasi
yang kuliah di sana, baik dari kalangan orang miskin atau kaya, bahkan akhirnya
beberapa dari mereka DO (aku sendiri juga DO dari Unpad.) Dari teman yang miskin
aku dapat cerita, waktu itu salah satu harapan utama keluarga mereka
menguliahkan anaknya di ITB ialah agar setelah
  lulus bisa menopang kehidupan keluarga di masa depan, termasuk adik-adik mereka
dan generasi berikutnya. Aku tahu betapa muram dan depresif ketika mereka
terpaksa DO, salah satunya karena terlalu miskin untuk membiayai kuliah. Ironik
dan bikin air mata meleleh. Tapi mereka juga cerdas dan pintar, berwawasan luas,
visioner optimistik di masa depan, siap menghadapi kenyataan kehidupan---dengan
segala kekhasan dan keunggulannya. Biar miskin, mereka toh tetap menaruh ilmu
pengetahuan dan hasrat belajar dalam jajaran paling depan. Bukankah itu menarik?
Tentu saja ada dari anak-anak miskin itu yang akhirnya jadi sarjana, dan mampu
membiayai keluarga. Tentu saja sarjana dari keluarga kaya biasanya setelah itu
punya karir gemilang dan tambah makmur dengan cukup segera. Yang mengagumkan,
mereka tetaplah sederhana, bermoral mulia, dan suka menolong teman-temannya yang
tergolong lebih miskin seperti aku ini.

Kalau optimistik, berusaha, cukup punya tekad, bukan kekayaan yang membuat orang
pintar, melainkan semangat mencari pengetahuan ditambah kesempatan. Tapi
bagaimana mendapat pengetahuan tanpa ditunjang biaya? Cukup sulit, kecuali kita
punya lingkungan yang baik, menyediakan fasilitas cukup baik, pinjam dari
berbagai sumber dan sebagainya---termasuk mendapat sedekah, menerima kebaikan
orang lain, atau beasiswa. Untuk kursus main djembe di Jendela Ide, Ilalang
ternyata mendapat sebagian beasiswa dari mereka, dan itu membuat aku merasa
mendapat keberuntungan dan kebaikan luar biasa. Tanpa sedih, mengecilkan hati
dan perasaan, hanya Ilalang yang naik angkot kalau berangkat ke Jendela Ide.
Buat aku kondisi itu suka menggetarkan.

Sebuah kebetulan aneh terjadi, pas di depan perpustakaan ITB, dekat pintu masuk
Sabuga, Indra Purnama, kawan mudaku sesama dari SKAU, nyegat angkotku. Aku
senang dan semangat sekali. Begitu masuk, kami salaman dan ngobrol ini-itu
dengan semangat, bertukar kabar, sampai ke soal kesungkanan bersilaturahim bila
nggak ada perlu, artinya cuma basa-basi biar tetap akrab. Aku cerita soal
barusan yang aku lihat dan alami. "Indra dulu di SMU tiga kan?" tanyaku
meyakinkan. Akhirnya topiknya kembali ke pendidikan, kekayaan, kemiskinan, dan
kepintaran. Ya, Indra alumni SMU 3 dan sarjana ITB, buktinya dia tetap naik
angkot untuk pulang ke subang. Kami ketawa. "Wah, sekarang mereka begitu ya?
Biasanya kan yang suka pawai anak SMU lima. Tapi nggak semuanya begitu kok,"
kata dia tertawa menanggapi anak-anak barusan. Lantas dia cerita tentang masa
kecilnya, yang harus pisah dari orangtua demi sekolah di Bandung, sejak SMP.
Mungkin dia dari keluarga sederhana.

Pada dasarnya aku yakin dengan rezeki dari Allah, tapi harus aku akui suka panik
dan gelisah bila benar-benar kehabisan, dan belum waktunya dapat lagi. Aku
tidaklah begitu miskin sampai putus asa. Aku bekerja dan optimistik, dan cukup
mudah untuk minta tolong atau mendapat kesempatan. Aku punya kemampuan, meski
kadang-kadang tidak dimaksimalkan. Aku bersemangat terhadap banyak hal, termasuk
ilmu pengetahuan dan belajar, juga terbuka. Sebagian tetanggaku jauh lebih
miskin. Anak-anak tetanggaku mengonggok dan bergerombol sia-sia, suka mengumpat,
persis di depan rumahku, berkata kasar, merokok, sehabis tamat SMU tapi gagal
kuliah, entah karena miskin atau bodoh. Sebagian dari mereka menganggur, yang
lain kerja jadi tukang goreng ayam atau ojek. Ada kawan sepantarku hanya tamat
SMP, sekarang kerja serabutan jadi kuli bangunan. Aku khawatir pengaruh buruk
pemuda-pemuda itu menular ke keluargaku, terutama ke Ilalang dan Shanti. Salah
satu anak kecil, mungkin
  baru berumur 3-4 tahun sudah tertular jadi sangat bengal, suka memukul, dan
mengumpat sebentar-sebentar mengeluarkan kata "anjing maneh, anjing maneh..."
Saking bengal dan kasar, anak ini pernah menendang Ilalang waktu sujud shalat
dan memelorotkan sarung imam masjid waktu shalat.

Aku memikirkan masa depan anak-anakku, berdoa dan berusaha agar lebih baik,
mendapat kesempatan belajar dalam sekolah dan kehidupan, sekalipun kami
sederhana. Semoga kurang kaya dan kurang pintar kami bisa disiasati dengan
berbagai cara yang baik. Di sisi lain aku terus memupuk semangat agar cukup
pintar untuk menghadapi berbagai kesulitan dan selamat sampai tujuan.[]5:43
30/08/08

Anwar Holid, cukup kaya meskipun kekurangan, cukup pintar meski kurang
pengetahuan.

Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://www.digibookgallery.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#8 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Mon Sep 1, 2008 6:56 pm
Subject: [RESENSI BUKU] Lepas dari Sergapan Klise
wartax
Send Email Send Email
 
[RESENSI BUKU]

Lepas dari Sergapan Klise
-------------------------
--Anwar Holid


Ketika Cinta Tak Mau Pergi
Penulis:  Nadhira Khalid
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House, 2008
Halaman: 306 hlm.
ISBN: 979-3651-97-2


STEVEN Taylor Goldberry, penulis The Writer's Book of Wisdom, menyatakan: sebuah
buku yang punya kerangka cerita sangat menarik bisa sukses meski ia ditulis
dengan buruk, plotnya jelek, dan karakternya mudah ditertawakan. Ujung-ujungnya,
kata dia, isi tulisan lebih penting dibandingkan keterampilan. Kadang-kadang
subjek sebuah cerita bisa saja klise, karena memang nyaris tiada yang baru di
dunia ini; tapi bila formulanya bikin pembaca terpana, berharaplah bahwa ia
bakal sukses jadi cerita. Kunci dari ramuan itu, menurut Harriet Smart, terletak
pada pertanyaan: "Bagaimana seandainya." Misal dalam Notting Hill: "Bagaimana
seandainya bintang Hollywood jatuh cinta pada pemilik toko buku bekas?"

Ketika Cinta Tak Mau Pergi, novel debut Nadhira Khalid melahirkan pertanyaan:
Bagaimana seandainya seorang pemuda miskin jatuh cinta pada seorang gadis paling
cantik dan kaya dari desa sebelah yang secara turun-temurun bermusuhan dengan
desanya? Boleh jadi pembaca langsung terbayang Romeo & Juliet atau San Pek-Eng
Tay. Situasainya klise sekali. Tapi Nadhira mengolah dengan lebih kompleks;
alih-alih melahirkan tragedi percintaan semata, dia menghadirkan konflik kelas,
pertarungan sosial, dan persoalan ekonomi-politik yang ruwet. Dengan seting di
Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara, Wawan Eko Yulianto menyatakan novel ini
"mengintip lebih jauh pada masyarakat Sasak."

Masyarakat Sasak berjumlah lebih dari 3 juta orang, secara tradisional telah
beragama Islam, namun kepercayaan terhadap mistik, sihir, dan mantra masih
pekat. Meski menghormati guru ngaji, mereka percaya dukun punya kekuatan untuk
menyembuhkan segala sesuatu, termasuk bisa dimintai guna-guna. Nadhira bercerita
tentang Lombok tahun 1970-an. Kisah dimulai dari desa Presak Bat dan Presak
Timuq, tempat orang Sasak waktu itu masih tradisional, miskin, bodoh, diabaikan
pemerintahan, tanpa fasilitas umum, sementara aparat setempat korup dan suka
suap. Karena bodoh, penduduk tak tahu bahwa negeri mereka mengandung batu apung
dan tambang lain yang bisa diolah sebagai sumber kesejahteraan. Yang mengetahui
ialah perusahaan tambang di Jakarta. Menggunakan kaki tangan lokal dan aparat
korup yang suka jatah preman, perusahaan berhasil mengadu domba warga dua desa
yang awalnya rukun tenteram, meski serba kekurangan. Warga berhasil dihasut
bahwa tetangga mereka kerap
  mencuri satu sama lain, akibatnya tawuran antardesa pun pecah bertahun-tahun,
membuat mereka bermusuhan dan terus saling curiga.

Yang celaka dari permusuhan itu ialah Sahnim dan Kertiaji. Dulu waktu kecil
mereka main bareng dan rasa suka mereka tumbuh sejak masa cinta monyet. Sahnim
tinggal di Presak Bat, sedangkan Kertiaji di Presak Timuq. Si gadis anak orang
paling kaya desa itu, juga paling cantik; sementara si jejaka anak bangsawan
yang sudah miskin dan kehilangan kekuasaan. Meski saling cinta, Kertiaji diusir
ketika hendak melamar Sahnim. Lebih parah, niatnya hendak meminang Sahnim malah
menimbulkan perang desa. Kerusuhan membuatnya nekat menculik gadis itu,
sekaligus hendak kawin lari. Tapi sayang, upaya itu gagal karena Sahnim berhasil
direbut kembali oleh ayahnya. Ayah Sahnim ingin dia menikah dengan lelaki kaya
kalau bukan dari keluarga terhormat. Harapan itu tertambat pada Japa, musuh
utama Kertiaji, pemuda perlente anak seorang anggota DPRD.

Perlu Eksplorasi

Kasih tak sampai itu menyita hampir seluruh buku, bahkan ketika Kertiaji
sekeluarga transmigrasi ke Sumbawa hendak memulai hidup baru karena ingin lepas
dari kemiskinan. Cintanya pada Sahnim, kenangan, dan kegagalan menyunting gadis
itu membuatnya tak betah ada di pulau seberang. Dia memutuskan kembali.
Menyesal, Sahnim kini sudah jadi istri Japa, meski dia didapat lewat guna-guna.
Japa, di luar motif mengawini Sahnim, ternyata mau mencuri surat tanah
berhektar-hektar milik mertuanya, yang nanti akan dia dagangkan pada ayahnya.
Begitulah mereka berkolusi membebaskan tanah penduduk dua desa itu untuk
perusahaan di Jakarta; sebagian dengan memalsukan surat tanah, sebagian dengan
mengusir penduduk lewat program transmigrasi.

Sayang persoalan seserius itu tertimbun terus di balik drama Kertiaji merebut
kembali Sahnim. Padahal gambaran kemelaratan di desa-desa kepulauan,
keterbelakangan penduduk, ditambah ancaman malaria dan kejahatan sosial
terencana, amat potensial diolah menjadi isu berjangkauan nasional. Intensitas
penulis tampak bukan ke sana. Itu membuat persoalan kapitalisme jahat di sana
jadi sekadar tempelan yang kehilangan ujung-pangkal di akhir buku, meski
ketegangannya sudah ditonjolkan di awal. Agaknya penulis kesulitan menjalin
koherensi satu cerita dengan cerita lain sebagai alur yang utuh, berurutan, dan
mempertahankan daya pikat. Memang butuh kemampuan dan persiapan lebih agar
cerita terus mampu membetot kepenasaran pembaca.

Kasih tak sampai antara Sahnim dan Kertiaji bukan tipe kisah cinta yang mudah
menguras air mata, melainkan pertanyaan, "Kualitas apa yang membuat sepasang
kekasih ini terasa begitu tergila-gila dan setia?" Apalagi Kertiaji juga bukan
pria dengan karakter jagoan; dia mudah ragu dan lari dari tekanan yang
menghadang. Karakternya bahkan kalah kuat dibandingkan adiknya, Ratmaji.
Ratmajilah yang kerap menasihati dan memberi dorongan moral setiap kali Kertiaji
bingung mau apa, dia pun amat setia sebagai saudara.

Mungkin, passion (pergolakan emosi) yang terasa kurang dalam novel ini. Soalnya
Nadhira sudah berhasil menghadirkan detil seting, suasana sosial etnik Sasak,
termasuk gesekan antara nilai Islam dan keyakinan setempat. Drama malapetaka
sosial itu menanti eksplorasi penulis lebih lanjut di masa depan.

DALAM konteks industri buku, karena diterbitkan Forum Lingkar Pena (FLP) yang
selama ini diakui sukses membangun genre fiksi Islam ke tingkat maksimal,
pilihan tema persoalan sosial seperti ini menandai peralihan orientasi yang
segar dan patut dipuji. Ketika Cinta Tak Mau Pergi bisa lepas dari sergapan
klise tipikal fiksi Islam. Novel ini menandai FLP yang berpandangan lebih luas,
terbuka, mau menjelajah subjek baru, berhenti memperlihatkan unsur Islam secara
permukaan dan naif. Alih-alih mengadopsi bahasa atau budaya Arab secara
berlebihan sebagaimana sering terjadi, penulis malah memasukkan banyak unsur
bahasa dan budaya setempat, termasuk kesulitan lidah melafalkan 'f' sebagaimana
terjadi pada orang Sunda. Ini memperlihatkan upaya FLP merebut pangsa pembaca
umum yang selama ini ditinggalkan dan memiliki resistensi tertentu terhadap
produk mereka.[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com

KONTAK: wartax@... | (022) 2037348 | Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Awalnya resensi ini dipublikasi Kompas, Minggu, 31 Agustus 2008 dan
http://cetak.kompas.com/buku


Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://www.digibookgallery.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#9 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Sun Sep 7, 2008 7:39 pm
Subject: Bagus Takwin: AKU BAHAGIA KARENA TELAH MENULIS BUKU
wartax
Send Email Send Email
 
Wawancara dengan Bagus Takwin

AKU BAHAGIA KARENA TELAH MENULIS BUKU
-------------------------------------
--Oleh: Anwar Holid

PENGANTAR: Wawancara ini sebenarnya sudah berlangsung lama, kira-kira akhir
2005. Awalnya mau saya olah sebagai artikel untuk Matabaca, tetapi karena
terbengkalai terus, akhirnya saya biarkan apa adanya---hanya sedikit disunting
agar keterbacaannya lebih baik. Semoga bermanfaat.

/*/

T: Kira-kira berapa jumlah koleksi buku kamu?
J: Kalau dikira-kira, secara kasar kuhitung jumlah koleksi bukuku ada sekitar
6500 judul. Tentu saja banyak yang belum aku baca. Belakangan ini kecepatan
bacaku jauh lebih rendah dari kecepatanku membeli buku. Jenis bukunya beragam,
kebanyakan sastra (novel, kumpulan cerpen dan puisi), filsafat dan psikologi.
Sejarah, agama dan sosiologi cukup banyak. Ada beberapa biografi, biologi,
antropologi, statistik, matematika, fisika dan buku travelling. Aku masih punya
belasan komik, kebanyakan Calvin and Hobbes.

T: Siapa penulis favorit kamu? (misal karena cara menulis, kemampuan menafsirkan
atau menalar.)
J: Dari penulis fiksi, aku suka Gabriel García Márquez, Ben Okri, Italo Calvino,
dan Milan Kundera karena mereka memberi wawasan yang luas tentang pengolahan
kata, cerita dan ide, termasuk bagaiman mengolah pikiran dengan bahan realitas
dan imajinasi. Mereka pun lincah menalar secara metaforik dan mampu menafsirkan
berbagai gejala di sekitarnya menjadi keindahan dalam tulisan.

J: Bagi kamu pribadi, apa secara finansial dunia kepenulisan cukup menjanjikan
dan bisa diandalkan?
J: Kalau sekarang, menulis hanya memberi sedikit penghasilan finansial.
Sebenarnya kalau di-manage dengan baik dan sungguh-sungguh, dunia kepenulisan di
Indonesia sudah bisa menjamin nafkah hidup pantas secara sederhana. Untuk jadi
kaya belum bisa.

T. Apa buku favorit kamu? (paling sering dibaca, sering dikutip, sangat
inspiratif bagi proses kepenulisan)
J: Sulit menjawab ini karena tak pernah kupastikan dalam kegiatan membacaku. Aku
sempat lama suka membaca ulang Catatan Pinggir Goenawan Mohamad jilid 1-5.
Kumpulan esai itu seperti jendela informasi bagiku, terutama informasi tentang
buku dan pemikiran tokoh-tokoh dunia. Belakangan sudah jarang baca Caping,
paling baca di Tempo setiap minggu.

Kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono Hujan Bulan Juni dan Kumpulan Puisi Goenawan
Mohamad terbitan Metafor masih sering kubaca setiap kali ada waktu. Beberapa
kali mereka kukutip dalam tulisanku, terutama Sapardi.

Aku beberapa kali membaca Little Prince dari Antoine de Saint-Exupéry.

Yang jelas-jelas paling banyak kubaca dan sering kukutip secara tulisan maupun
lisan adalah buku Ernst Cassirer, An Essay on Man, sebab selain bagus dan aku
suka, buku itu juga kupakai buat mengajar. Bagiku Cassirer sangat inspiratif
baik dari gagasan maupun teknik menulis serta cara memaparkan dan memanfaatkan
informasi.

Sekarang aku juga suka buku From Text to Action dari Paul Ricouer, kuulang-ulang
baca karena inspiratif dalam mempertemukan dua pendekatan dalam peroleh
pengetahuan. Aku mau coba terapkan itu di psikologi.

T: Buku apa yang paling susah dipahami, namun sangat menantang? Kenapa demikian?
J: Sekarang aku sedang berusaha memahami buku Edmund Husserl berjudul Ideas,
General Introduction to Pure Phenomenology yang menurutku susah (sebenarnya juga
buku filsuf-filsuf fenomelogi lainnya.) Dulu aku pernah baca asal lewat kecuali
bagian-bagian yang kubutuhkan untuk membuat tesis. Sekarang aku ingin memahami
secara komprehensif sebab aku perlu pemahaman mendalam tentang fenomenologi yang
akar pemikirannya ada di buku ini.

Saat ini pendekatan fenomenologi, terutama tentang intentionality, banyak
digunakan membahas banyak gejala kemanusiaan, baik individual maupun kelompok.
Beberapa pemikir kontemporer juga mencoba mensintesiskan pemikiran fenomenologi
dengan pemikiran-pemikiran lain, seperti Giddens dengan 'Third Way'-nya,
Bourdieu dengan habitus dan field, lalu para ahli kesadaran (consciousness) yang
mencoba mempertemukan fenomenologi dengan berbagai pendekatan dalam ilmu
kognitif. Buku Ideas menantang sekaligus juga bermanfaat untuk dipahami meski
sulitnya minta ampun.

Sebelumnya aku pernah setengah mati baca De Anima dari Aristoteles.

Sebenarnya buku-buku sastra klasik juga sulit dan menantang untuk dibaca. Homer,
Shakespeare, dan karya-karya sastrawan-sastrawan Rusia menuntut ketabahan dan
kejelian yang tinggi untuk membacanya. Kalau sudah ketemu 'enaknya', asyik
sekali membaca semua itu, tetapi sebelumnya butuh daya konsentrasi tinggi.

T: Apa komentar kamu tentang menulis fiksi dan nonfiksi? Kenapa kamu tetap
berada di dua ranah kepenulisan itu?
J: Menulis fiksi membebaskanku untuk menuangkan pengalaman, termasuk khayalan
dan mimpi-mimpiku. Tantangannya adalah membuat cerita atau pemaparan menarik,
unik atau paling tidak memuaskan ekspresiku, melepas ketegangan yang ada di hati
dan pikiran.

Sementara menulis nonfiksi membutuhkan sistematika berpikir yang ketat dan
teratur. Aku perlu membuat alur dan kerangka terlebih dahulu, menyiapkan
bahan-bahan yang mungkin dibutuhkan dan mencoba mencari relevansi praktis dan
teoritis dari tulisanku. Disiplin berpikir literal (logika dan metodologi) lebih
dituntut dalam menulis nonfiksi. Sedangkan fleksibilitas dan disiplin metaforik
(perumpamaan yang bernas dan imaji yang menyentuh pembaca) lebih dituntut dalam
menulis fiksi. Sebenarnya aku belum bisa optimal dalam keduanya (masih bisa
dibilang jelek dalam keduanya. Aku akan belajar terus, latihan menulis terus
(syukur-syukur hasil latihannya diterbitkan seperti yang lalu-lalu).

Aku menulis keduanya karena keduanya kuminati dan proses pembuatannya
mengaktifkan kedua belahan otakku serta membantuku peka dalam memahami diri dan
sekitarku. Keduanya membantuku menjelaskan dunia secara enklaren (penjelasan dan
penemuan hukum umum) maupun verstehen (pemahaman terhadap gejala-gejala khusus,
terutama gejala humaniora)

T: Bagi kamu pribadi, apa secara finansial dunia kepenulisan cukup menjanjikan
dan bisa diandalkan?
J: Kalau sekarang, menulis hanya memberi sedikit penghasilan finansial.
Sebenarnya kalau di-manage dengan baik dan sungguh-sungguh, dunia kepenulisan di
Indonesia sudah bisa menjamin nafkah hidup pantas secara sederhana. Untuk jadi
kaya belum bisa.

T: Persiapan apa yang paling penting dalam menulis?
J: Kalau dari pengalamanku sih secara umum banyak baca. Lalu, secara khusus
penting untuk meningkatkan sensitivitas. Dari segi teknis, sangat penting
tersedia rokok dan kopi serta air putih supaya tetap bisa menulis sambil
mendapat kenikmatan kopi dan rokok serta terus minum air agar ginjal tidak
rusak. (Kalau kebelet ke kamar mandi, jangan ditahan-tahan, kalau ditahan malah
nanti ganggu mood.)

T: Bagaimana kebiasaan membaca dan menulis kamu? Berapa jam kamu alokasikan
waktu untuk menulis?
J: Sekarang, kebiasaan menulis dan membacaku tidak tetap. Tetapi dalam satu hari
pasti ada yang aku baca dan tulis. Kira-kira paling tidak 2 s/d 3 jam aku
membaca dan menulis materi-materi yang bukan jadi pekerjaan wajibku. (Sebenarnya
aku bisa sampai 6 jam membaca bahan pelajaran dan materi tambahan bagi mata
kuliah yang aku ajar, lalu menulis beberapa catatan yang penting; aku mengajar
setiap hari dari Senin sampai Jumat.) Biasanya sebelum tidur aku sempatkan
membaca buku, jika ada yang menarik aku tulis, membuat catatan atau ide-ide yang
terlintas.

T: Apa yang menurutmu kurang dalam dunia perbukuan Indonesia sekarang?
J: Di Indonesia tidak ada reviewer buku yang memadai. Informasi tentang buku
baik kurang sehingga sulit bagi aku menemukan buku-buku baru yang baik tanpa
membeli atau meminjam lebih dahulu. Aku tahu satu buku bagus atau tidak setelah
membacanya. Kita juga kekurangan kritikus buku. Kritikusnya pada snob, sok
tinggi padahal kebanyakan malas membaca dan egois. Tak ada lagi H.B. Jassin yang
rendah hati dan mau membimbing penulis muda. Kritikus sekarang kebanyakan
penikmat yang dipenjara oleh seleranya. Pemahaman dan wawasan mereka kurang.
Teori-teori yang mereka pakai kuno. Analisisnya linear atau bergaya 'tukang
periksa'. Beberapa hanya senang menanggapi tulisan teman sendiri seideologi atau
sepermainan.

Saat ini juga belum saya temukan sastrawan baru yang karyanya mengagumkan di
Indonesia; belum banyak kritikus yang tajam. Saya menemukan Melani Budianta
saja. Yang lainnya entah di mana.

Kebiasaan dan sifat apresiatif belum terbentuk di sini. Selain itu, kurang
banyak penerbit yang berani mencoba menjajaki penulis-penulis baru dengan
membiayai riset mereka. Kebanyakan penerbit hanya mau enaknya, menerima yang
sudah jadi. Nama lebih dipentingkan daripada kualitas karya. Kebanyakan penerbit
malas. Banyak lagi sih, kupikir, kekurangan kita. Tetapi kemajuan yang kita
capai beberapa tahun ini juga patut dipuji. Dunia perbukuan kita sudah bangkit
dan melangkah maju. Mudah-mudahan kekurangan yang aku sebut tadi bisa dibenahi.

10. Bibliografi lengkap kamu apa saja?
Aku tuliskan yang buku sendiri saja ya dan ada dengan beberapa teman. (Ada
beberapa tulisan dalam kumpulan yang diterbitkan Kompas, termasuk 16 tulisan
tentang analisis kepribadian Capres dan Cawapres; juga dalam kumpulan Bentara;
tapi aku tak terlalu ingat.

1. Pecahan Jakarta; Kumpulan cerpen bersama Kristi Purwandari; Konsepsi, 1999,
Jakarta.
2. Fuad Hassan di Antara Hitam-Putih; editor/penyunting; Konsepsi, 1999,
Jakarta.
3. Soeharto; Ramuan Kecerdasan dan Masa Kecil yang Liat; hasil penelitian
bersama Niniek L. Karim dan Hamdi Muluk; Komunitas Bambu, 2001, Jakarta.
4. Filsafat Timur; Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur; Jalasutra, 2002 dan
2003, Yogyakarta.
4. Bermain-main dengan Cinta; Jalasutra, 2002 dan 2003, Yogyakarta.
5. Akademos; Jalasutra, 2002 dan 2003, Yogyakarta.
6. Akar-akar Ideologi; Jalasutra, 2002, Yogyakarta.
7. Patogonos; Esei yang mengisahkan hidup sepasang manusia; Kutu Buku, 2005,
Jakarta.
8. Ruwita, Novel; Penerbit Qolibri, 2005, Jakarta.
9. Rhapsody Ingatan, Kumpulan Cerpen, Qolibri, 2005, Jakarta.
10. Kesadaran Plural - Sintesis Kehendak Bebas dan Rasionalitas; Jalasutra,
2005, Yogyakarta.

T: Apa yang dulu memotivasi kamu menulis dan menyelesaikan buku?
J: Ingin punya karya yang bisa dibanggakan dan bertahan lama. Awalnya karena aku
kagum kepada para penulis yang karyanya memukau aku. Aku pikir, asyik juga ya
punya karya tulis yang dibaca dan disenangi orang. Kupikir itu akan
membahagiakanku. Ternyata sekarang aku merasa bahagia setiap ada yang
mengomentari atau menulis e-mail dan bilang menikmati bukuku. Aku merasa bahagia
karena telah menulis buku.

Ada juga harapan kecil yang terus kukumandangkan ketika bicara santai (sedikit
bercanda) dengan teman-teman, aku ingin dapat Nobel Sastra, kemungkinan dari
tulisan filsafatku.

Biasanya kutambah juga, "Gue ingin dapat Nobel biar bisa menolak hadiah itu, ha
ha ha!" Tapi dalam hatiku ternyata keinginan itu ada juga meski tampak tidak
realistik.

T: Buku apa yang paling berkesan yang pernah kamu tulis?
J: Bermain-main dengan Cinta dan Patogonos.

T: Suasana seperti apa yang paling kondusif untuk menulis?
J: Ketika teman-teman pulang dan mereka menyisakan kegembiraan, renungan dan
perhatiannya kepadaku. Apa yang mereka berikan padaku mendorongkan menuliskan
sesuatu. Kalau dilihat dari waktu, pagi hari sekitar jam 6 s/d 11 paling kondusi
bagiku untuk menulis. Oleh karena itu, aku sering telat berangkat ke kantor.

T: Sebagai penulis, apa yang paling kamu harapkan dari penerbit?
J: Penerbit menyebarluaskan dan mempromosikan buku-bukuku. Mencarikan penanggap
yang serius dan menyelenggarakan diskusi dengan isi bukuku sebagai topiknya.
Penerbit juga mestinya menjaga kesejahteraan penulisnya serta mendorong,
mendukung, memfasilitas (materi, mental, dan kultural) para penulisnya untuk
berkembang.

T: Punya pengalaman menarik selama menulis? Misalnya writer's block?
J: Setelah bisa menulis satu cerpen dan esai, rasanya tidak pernah. Kalau pun
terhenti atau tidak bisa menulis tidak kuanggap sebagai block tetapi kuanggap
sudah tiba waktunya berhenti, istirahat dan jalan-jalan atau nonton film. Aku
tidak ngoyo menulis dan sering mengabaikan dead-line (biasanya penerbitku
mengerti ini) jadi tidak merasa terhambat jika tidak lancar menulis. Aku punya
banyak sekali kegiatan yang menyenangkan sehingga jika terhambat mengerjakan
yang satu, aku pindah ke kekgiatan lain. Hidup seperti itu menyenangkan bagiku.

Semoga jawabanku membantu menjelaskan. Selamat menulis.[]

Bagus Takwin ngeblog di http://bagustakwin.multiply.com


Anwar Holid, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com

KONTAK: wartax@... | (022) 2037348 - 08156140621 | Panorama II No. 26 B,
Bandung 40141




Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://www.digibookgallery.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#10 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Thu Sep 11, 2008 11:40 pm
Subject: Kepentingan Penerbit, Keinginan Peresensi
wartax
Send Email Send Email
 
[SELISIK]

Kepentingan Penerbit, Keinginan Peresensi
-----------------------------------------
--Anwar Holid



HUBUNGAN peresensi dengan penerbit ternyata cukup kompleks. Ini terjadi karena
dalam diri peresensi terkandung beberapa aspek pembacaan dan kepenulisan, antara
lain menyatu sekaligus sebagai pembeli (konsumen), pencinta (penikmat) buku, dan
kritikus buku. Sementara kepentingan penerbit biasanya lebih langsung dan jelas,
ialah harapan agar terbitannya diterima khalayak (pasar), diapresiasi dengan
baik, dan cukup pantas untuk dibanggakan.

Mencari pola kerja sama yang pas dan fleksibel antara penerbit dan peresensi
merupakan tema pertemuan peresensi Penerbit Matahati, yang diadakan di
perpustakaan Bale Pustaka, Bandung, 28 Agustus 2008. Di awal berdiri, Matahati
boleh jadi paling dikenal karena menerbitkan tetralogi Kisah Klan Otori (Lian
Hearn.) Mereka kini menerbitkan fiksi dan nonfiksi, mulai dari genre fiksi
fantastik sampai buku manajemen motivasi diri dan wawasan dunia medis. Hadirin
hampir semua sekaligus merupakan blogger, dengan rentang kecenderungan antara
sebagai desainer dan komikus, penulis buku dan cerpen, jurnalis, dan pendidik
Buku dan tulisan sudah mengurat dalam diri mereka.

Mayoritas peresensi mengaku idealnya ingin meresensi buku yang benar-benar
mereka sukai; artinya meresensi itu pada dasarnya sulit bila dipaksakan.
Peresensi bahkan bisa suka rela dan senang akan meresensi buku yang mengesankan
serta mampu menimbulkan impuls atau hasrat menulis. Biasanya, resensi yang lahir
dari kondisi ideal itu akan persuasif, berhasil meyakinkan orang lain---terutama
kawan dekat dan komunitas---bahwa pilihan dan penilaiannya tepat, dan secara
alamiah merupakan tulisan yang bagus. Efeknya bisa luar biasa, antara lain
menjadi word of mouth berbentuk tulisan yang sangat mempengaruhi keputusan beli
pembaca. Rekomendasi kawan dekat ternyata bisa jauh lebih tepercaya dibandingkan
endorsement pesohor (selebritas) sekalipun.

Boleh jadi pada kondisi seperti itulah kepentingan penerbit dan keinginan
peresensi bertemu dan bernegosiasi. Penerbit berkepentingan agar produknya
segera dikenal publik, diserap pasar, segera mendapat publikasi seluas mungkin,
dan jadi topik pembicaraan kalangan yang disasar.

Minat terhadap jenis buku tertentu sangat berpengaruh terhadap kemauan peresensi
dan mood menulis sebenarnya bisa dibentuk atau dilatih. Meski harus diakui
peresensi pun bisa gagal menulis karena kurang disiplin dan profesional. Di sisi
lain peresensi yang berdedikasi kerap butuh waktu untuk secara bersamaan
menikmati dan menemukan inti buku, sebelum memutuskan mengulas dan menyatakan
kepada publik apa buku tersebut pantas direkomendasikan atau malah dikomentari
dengan pedas saking banyak hal yang bisa dikecam. Apa pun hasilnya, minimal
peresensi menceritakan hasil pembacaannya. Itulah yang paling penting, bahwa
sebuah buku sudah diselami, dijelajahi, masuk dalam ingatan, untuk suatu saat
muncul lagi, baik dalam obrolan, berinteraksi dengan pembaca lain, atau ketika
menulis.

"Keinginan menulis resensi bisa muncul begitu saja," kata Hermawan Aksan. "Ada
dua jenis buku yang bisa membuat keinginan meresensi saya timbul, yaitu buku
yang sangat bagus dan buku yang sangat jelek. Tentu saya berharap penerbit
memproduksi buku yang bagus."

Di zaman Internet ini, peresensi yang terbiasa posting di blog (book blogger),
milis, dan situs jaringan komunitas interaktif makin menemukan kekuatan daya
tular. Situasinya kian hari tambah menantang dan menarik. Sebagian penulis lebih
memilih media ini karena faktor kemudahan, kebebasan, informalitas, juga
kemerdekaan dan sifat demokratisnya. Sudah terbukti bahwa media baru ini secara
umum bisa meningkatkan publisitas buku, mempengaruhi penjualan dan reputasi,
meski data resmi mengenai pengaruhnya sulit dipastikan. Sifat interaktivitas
media ini memungkinkan orang langsung berkomentar, berbagi, merespons, menambah,
dan mengaitkan dengan buku lain maupun subjek lain (misalnya film, musik,
politik.) Di sinilah peresensi mendapat "surga", mereka bertemu dengan sesama
pencinta buku.

Karakter penulisan blog yang berbeda dengan karakter media massa konvensional
membuat sejumlah blogger yang mau meresensi dan menulis sesuai kriteria media
tersebut merasa kerap kesulitan menembus ketentuan redaksi. Pada satu sisi, ini
kerap dianggap sebagai kekurangan resensi di blog dan masih membuat penerbit
pikir-pikir untuk melibatkan mereka dalam publisitas buku. Tapi bayangkan sebuah
resensi yang dikirim ke milis dengan ribuan anggota atau bisa memicu respons
antusias banyak orang di sebuah blog, tentu situasi seperti itu menggembirakan
penerbit dan penulis bersangkutan.

Sudah terbukti tulisan di blog dan milis bisa menguatkan daya pikat buku dan
menaikkan reputasi peresensi. Perhatian penerbit pada peresensi berkisar antara
secara rutin mengirim buku baru dan sesuai favorit, memberi honor tambahan untuk
resensi yang ditulis, dipublikasi, maupun disebar ke milis, sampai mengikat
kontrak untuk jadi publisis penerbit atau judul tertentu. Mungkin menarik juga
menimbang memberi insentif untuk online khusus demi mengirim resensi yang
diinginkan penerbit.

Poinnya ialah apa pun bentuknya, penghargaan itu penting. Penerbit menghargai
peresensi dengan pantas, pembaca merespons, sedangkan peresensi menghargai
penerbit dan pembaca dengan resensi yang bagus dan informatif. Interaksi intens
antara penerbit dan peresensi kerap merupakan kunci pengikat emosi kedua belah
pihak.[]

Pertama kali dimuat di Republika, Minggu, 7 September 2008.

ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.
Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com



Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://www.digibookgallery.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#11 From: Alin SP <alinsp2003@...>
Date: Sun Sep 21, 2008 10:49 am
Subject: Jadwal 9th Indonesian Dance Festival 2008 (Don't Miss It !!)
alinsp2003
Send Email Send Email
 

----------------------------(Mohon Berkenan Memforward)-------------------------------------

Schedulle of The 9th Indonesian Dance Festival 2008 (October 27th-31th 2008)

The Next Generation : Appreciating Diversity”

 

 

Choreography Workshop (Education & Training)

October 14th - 26th  2008 / P4TK Seni Budaya, Yogyakarta

 

Main Performances

28th Oct / Tuesday / Graha Bhakti Budaya (GBB)  TIM

8.00 - 10.00 PM

Opening Ceremony   

Retno Sulistyorini                                                  (Solo / Indonesia )

Garin Nugroho, M Miroto & Eko Suprianto      ( Indonesia )

 

29th Oct / Wednesday / Teater Luwes IKJ

8.00 - 10.30 PM

MK                                                                            ( Italy )  

Natsuko Tezuka                                                      ( Japan )

Megumi Kamimura                                                 ( Japan )                                   

Yukio Suzuki                                                            ( Japan)

                                                                                   

 

30th Oct / Thursday / Teater Kecil TIM

8.00 - 10.30 PM

Rachael Lincoln & Leslie Seiters                       ( USA )

Jerome Bel &  Pichet Klunchun                         ( France  - Thailand )

 

31th Oct / Friday / Graha Bhakti Budaya (GBB)  TIM

8.00 - 10.30 PM

Dek Geh                                                                  (Singaraja-Bali / Indonesia )

NI Kadek Yulia                                                      (Solo  / Indonesia )

Hartati                                                                     ( Jakarta / Indonesia )

Ery Mefri  -  Cynthia Lee                                      ( Padang / Indonesia - Taiwan / USA )

Closing Ceremony

 

Dance Installation

28th - 29th Oct /  Galeri Cipta 3  TIM

4.00 - 6.00 PM

KYTV (Kill Your TV)                                              ( Singapore )

 

 

Discussion   & Lecture Demonstration / Lobby GBB TIM

October 29th - 31st, 2008

Lecture Demonstration by Min Tanaka              ( Japan )

Discussion of Dance Issues :

Dance Critic & Sharing Experiences

 

Master Classes / FSP - IKJ

October 28th - 31st , 2008

Jacko Siompo                                                           ( Indonesia )

Pichet Klunchun                                                      ( Thailand )

Cynthia Lee                                                              (Taiwan/USA)

Rachael Lincoln                                                       ( USA )

 

 

Emerging Choreographers / Teater Kecil TIM

October 27th, 2008 / 3.30 - 5.30 PM

 

 

 

 

Sekretariat The 9th IDF 2008

Fakultas Seni Pertunjukan_IKJ

Jln. Cikini Raya no. 73

Jakarta Pusat.

Tel/Fax: 021-319 03 916

Email: idf08@...i

            info@...

Web: www.indonesiandancefestival.com



#12 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Thu Oct 2, 2008 10:52 pm
Subject: Selamat Lebaran 1429 H dari Anwar Holid
wartax
Send Email Send Email
 
Salam takzim,

Begitu menjelang Lebaran (Idul Fitri), teringatlah saya pada kebaikan dan
keramahan Anda semua pada saya sekeluarga. Kehidupan membuat kita berhubungan,
berteman, bekerja sama, atau saling membantu dalam berbagai aspek. Betapa Anda
semua begitu berarti untuk saya.

Sering saya merasa betapa kebaikan yang saya terima tiada terkira, berbalikan
dengan wanprestasi yang pernah saya lakukan, keburukan yang saya ikut andil di
dalamnya, juga kekecewaan karena tindakan saya. Saya tahu, manusia kerap sulit
menghadapi masalah dan kesulitan; tapi kehidupan mengajari kita dengan kebaikan,
maaf, maklum, juga kasih sayang.

Dengan hati tulus, di hari raya Idul Fitri 1429 H/2008 M ini, maafkanlah
kesalahan saya sekeluarga.

Semoga kita semua diberkahi anugerah sesuai kehendak-Nya dan tetap diberi
kekuatan dan rasa tabah bila harus menerima musibah.

Wasalam,


Anwar Holid, Septina Ferniati
dan keluarga

Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#13 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Fri Oct 3, 2008 10:10 pm
Subject: Betapa sulit saya memahami puisi Nirwan Dewanto
wartax
Send Email Send Email
 
Betapa sulit saya memahami puisi Nirwan Dewanto
-----------------------------------------------
Oleh: Anwar Holid


Jantung Lebah Ratu (Himpunan Puisi)
Penulis: Nirwan Dewanto
Penerbit: GPU, 2008
Tebal: 94 hal.
ISBN: 978-979-22-3666-8



Seorang kawan menghadiahi Jantung Lebah Ratu, buku puisi karya Nirwan Dewanto
(ND). Tentu saya senang. Dulu, persis saat buku itu terbit kira-kira pada bulan
Mei, saya sangat antusias kapan kira-kira bisa baca, bahkan kalau bisa
memilikinya. Rumah Buku, perpustakaan favorit saya, sebenarnya segera mengoleksi
himpunan puisi tersebut, tapi entah kenapa saya tak sempat juga meminjamnya.
Ternyata buku itu sedang dipinjam anggota lain ketika saya ingin membacanya.
Seorang teman sealma mater ND yang saya tahu langsung beli buku itu saya tanya,
seperti apa sih puisi-puisi dia? Dia menjawab samar, "Yah, begitulah. Khas
Nirwan, agak-agak susah dipahami dan berbau filsafat." Sementara waktu kawan
yang menghadiahi buku itu saya tanya kenapa memberikan buku itu, dia menjawab
tanpa pretensi, "Hm... susah ya. Mungkin puisinya bukan selera saya. Kurang
nikmat bacanya."

Nirwan Dewanto merupakan penulis dengan reputasi terkemuka di Indonesia. Dia
menulis esai budaya dengan beragam subjek, termasuk kritik buku, menjadi salah
satu eksponen posmodern paling awal di Indonesia, ikut mendirikan jurnal Kalam
(yang merayakan posmodern secara besar-besaran), bergabung dengan Teater Utan
Kayu (TUK), dan sudah menulis puisi sejak lama. Boleh dibantah, peristiwa yang
membuat namanya melambung ialah ketika dia jadi salah satu pembicara kunci di
Kongres Kebudayaan 1991; dia membawakan makalah berjudul Kebudayaan Indonesia:
Pandangan 1991. Esai ini pula yang jadi andalan pada buku pertamanya, Senjakala
Kebudayaan (Bentang, 1996)---sebuah buku yang kini sudah turun dari rak toko
umum dan hanya bisa ditemui kembali di perpustakaan seperti Rumah Buku.

Namun harus disebut pula reputasi dia kadang-kadang membuat orang lain jengkel
atau penasaran. Sebagai kritikus sastra, pilihannya kadang-kadang digugat, yang
paling terkenal boleh jadi "Siapa Takut, Nirwan Dewanto?" oleh Richard Oh dan
"Yth Tuan Nirwan" oleh Damhuri Muhammad---isinya kira-kira debat seputar kritik
dan standardisasi penilaian karya sastra. Saya sendiri menganggap reputasi ND di
Indonesia mirip dengan Michiko Kakutani di AS---kritikus buku The New York
Times. Michiko dijuluki "kritikus yang paling ditakuti sedunia." Keberanian
Michiko memuji atau mengecam buku membuat posisinya sering ekstrem. Sebagian
penulis jengkel sekali pada Kakutani. Saya juga tahu satu-dua penyair jengkel
sekali pada ND dan bahkan ada yang menggunakannya sebagai bahan olok-olok dalam
puisi ciptaan mereka.

Saya lebih bisa mencerap beberapa esai ND daripada puisinya. Meski begitu, saya
selalu kelelahan bila baca tulisan dia di Kalam, misalnya, meski kecenderungan
itu hilang bila saya baca kolom atau resensinya. Saya merasa standar dia
terhadap sastra atau buku tinggi sekali, dan itu mungkin membuat posisinya jadi
terasa adi luhung. Lagi pula, tampaknya, puisinya pun lebih jarang dipublikasi
media massa daripada esainya; dan bila kebetulan bertemu puisinya, saya lebih
banyak bingung daripada bisa asyik menikmatinya. Bagi saya, dalam selintas baca,
puisinya sulit dipahami dan kurang nikmat dibaca. Ini lain sekali bila saya
bertemu dengan puisi Joko Pinurbo, misalnya. Kadang-kadang, sebagian puisi Joko
Pinurbo mengambang dan sulit dipahami karena makna dan kosakatanya ambigu; tapi
saya masih bisa merasakan samar-samar nuansa keindahan di sana. Dalam puisi ND
yang sukar, saya bahkan langsung merasa gagal meraba sebenarnya apa yang dia
ungkapkan.

Di dalam "Puisi dan Beberapa Masalahnya" (1993), Saini K.M. sudah memuji bakat
dan kemampuan Nirwan Dewanto. Waktu kuliah di ITB, Nirwan Dewanto merupakan
salah satu penyair muda yang puisinya mendapat perhatian Saini K.M. di Pertemuan
Kecil Pikiran Rakyat. Kata Saini: "Nirwan Dewanto, dalam bentuk kesamar-samaran,
memperlihatkan kemungkinan yang dapat diharapkan di masa depan. Dia tidak saja
peka terhadap kehidupan batinnya, melainkan juga terhadap dunia (lahiriah) di
luar dirinya. Sajaknya menyajikan renungan yang cenderung falsafi." Puisi Nirwan
Dewanto yang dimaksud Saini berjudul "Agustus."

-*-

Jadi, kegirangan saya menerima buku puisi yang didesain dengan elok dan mencolok
ini segera berubah jadi semacam bencana dan kejengkelan karena setelah
membolak-balik ke sana-kemari, saya tak jua menemukan puisi yang enak atau bisa
dipahami. Saya nyaris putus asa dan merutuk, karena tak kunjung ngerti, maksud
dia menulis puisi itu apa? Hampir tak ada nikmat-nikmatnya. Jauh lebih nikmat
bila saya baca puisi amatir kawan-kawan lama. Memang satu-dua puisinya ada yang
cukup saya pahami atau cukup bisa saya rasakan keindahannya; tapi secara
keseluruhan, bukunya merupakan himpunan puisi yang sukar.

Begitu baca puisi pembuka, Perenang Buta, saya seperti ditubruk oleh moncong
pesawat terbang. Blas, buta sama sekali apa maksudnya. Betapa sulit saya
mengira-ngira dia mau menulis tentang subjek apa. Seolah-olah ada batu karang
yang begitu besar dan saya harus bisa mengangkatnya agar mampu beranjak dari
sana dan segala sesuatu mengalir. Saya memaksakan lanjut ke puisi kedua, sama
saja nasibnya. Rasanya ada yang mampat, "nggak bunyi." Seterusnya, sampai
akhirnya saya kacau, mencari dari halaman sana-sini, berusaha menemukan puisi
yang kira-kira bisa pahami atau nikmati.

Betapa susah menemukan frasa pada puisi-puisi yang bisa dengan mudah saya pahami
sebagai sesama pengguna bahasa Indonesia. ND jauh lebih semangat menggunakan
kokakata yang terasa asing, jarang digunakan dalam ungkapan sehari-hari,
misalnya campuhan, zuhrah, bubu---bahkan tak terdaftar dalam Tesaurus Bahasa
Indonesia karya Eko Endarmoko. Tiga frasa yang membagi himpunan puisi ini pun
asing sekali, yaitu Biru Kidal, Kuning Silam, dan Merah Suam; bahkan makna
tersirat ketiganya pun sulit sekali diraba apa maksudnya.

ND tampak sengaja cenderung memilih cara ungkap yang sulit dipahami dan
berbelit-belit, misal:
Ia seperti hendak kembali
ke arah teluk, di mana putih layar
pastilah iri pada bola matanya.

Atau:
Lihat, betapa durinya melimpah ke luar mimpi, seperti hujan pagi.

Dengan cara seperti itu, mau bicara apa ND dengan puisi-puisinya?

ND menempuh cara yang sama sekali tidak populer dalam menulis puisi. Dia sengaja
menggunakan bahasa adi luhung dan menyembunyikan makna serapat mungkin, malah
seolah-olah ingin menaruh setinggi mungkin dari jangkauan penafsiran para
pembaca. Ada kesan dia ingin menyimpan puisi-puisi itu sebagai rahasia yang
sulit dipecahkan maknanya baik oleh para pembaca awam maupun kritikus ahli. Dia
sengaja menyulitkan pembaca. Hasan Aspahani, seorang penyair produktif, berusaha
memahami puisi-puisi ND dalam rangkaian esai cukup panjang: Tiga Belas Cara Saya
Membaca Sajak Nirwan. Hasilnya, dia bahkan berhenti pada cara kesepuluh.
Paragraf terakhir di esai kesepuluhnya, Hasan menulis: "Bagi pembaca yang suka
kerumitan mungkin mengasyikkanlah menebak-nebak apa maunya sajak itu. Bagi saya,
tidak. Ini sajak melelahkan. Dan saya kesal karena perburuan saya sepertinya
sia-sia. Tapi, bukankah Nirwan sudah mewanti-wanti agar pembaca jangan berburu
lambang dalam sajaknya?"

Via email, Saut Situmorang, penyair asal Yogyakarta yang baru-baru ini
menerbitkan buku puisi Otobiografi, mengomentari buku Nirwan begini: "Dia
memilih mana yang kira-kira akan membuat pembacanya tahu kalau dia baru saja
habis baca sajak-sajak orang lain."

Karena saya langsung kesulitan membaca buku puisi itu, seorang teman yang
sama-sama pernah jadi ketua Grup Apresiasi Sastra (GAS) ITB seperti ND,
menanggapi: "Komentar kamu mirip orang yang ngomel pada lukisan Picasso tentang
wanita cantik. Kotak-kotak nggak karuan kok dibilang wanita cantik?! Enakan
melihat karya Basuki Abdullah... begitu ya. Saya rasa Nirwan mencoba menggunakan
metafora baru, dengan latar belakang bacaannya tentang negeri Amerika Latin,
sejarah bangsa-bangsa, dan seterusnya. Mungkin terasa asing buat imajinasi kita.
Tapi ya nikmati saja kalau ada metaforanya yang enak atau kata-kata yang unik."

Ajakan yang persuasif sebenarnya. Dalam sajak, kita berharap mendapat inti makna
yang lebih sensitif dibandingkan membaca prosa atau berita. Boleh jadi karena
ada proses internalisasi di sana. Para penyair memiliki ruang yang lebih sempit
untuk menaruh kata-katanya demi membangun makna. Dibandingkan esais sekalipun,
pilihannya kurang leluasa. Dia harus lebih hati-hati memutuskan kata yang
dipilih. Tapi bila hasilnya menyulitkan sebagian pembaca, apa yang sebaiknya
dilakukan?

Mari kita mulai dari orang yang mula-mula mengomentari buku puisi Nirwan.
Melanie Budianta, seorang ilmuwan sastra, berpendapat bahwa puisi Nirwan
merupakan sehamparan momen estetika. Menurut Melanie, buku Nirwan ini berusaha
memperluas potensi kata, sensasi imajinasi dan nuansa makna.

Berbeda dengan penyair yang kerap mengejar imajinasi batin, menerangkan
idealisme, atau membangun suasana, Nirwan banyak bicara tentang binatang,
tetumbuhan, juga benda-benda mati. Pilihan subjek ini tampak ajaib sekaligus
menantang. Di dunia binatang, dia bicara tentang kunang-kunang, ubur-ubur,
cumi-cumi, harimau, semut, ular, lembu, kucing persia, anjing, burung hantu,
keledai; di dunia tetumbuhan dia menulis tentang apel, semangka, putri malu,
nenas, makanan, kopi, mawah, garam; tentang benda mati dia bicara tentang
peniti, kain, kancing, akuarium, gerabah, patung, bubu, biola, selendang,
bayonet, lonceng. Subjek itu sangat aneh bila dibandingkan penyair yang gemar
bicara cinta atau romantisme. Tapi bukan pula Nirwan anti membicarakan
perasaannya, sebab dia menyisakan ruang untuk menulis tentang puisinya (Semu)
juga tentang musim gugur dalam dua belas rangkaian haiku yang imajinatif (Dua
Belas Kilas Musim Gugur.)

Pemikir Islam Ulul Abshar-Abdalla, menyatakan bahwa Nirwan berusaha membiarkan
benda-benda dan peristiwa mengalir lewat dirinya, menjadi sebentang sajak yang
mirip cangkang telur putih dan kabur. Dengan begitu, boleh jadi sajak Nirwan
sebenarnya rapuh karena sudah berusaha menetaskan kata sebagai makna.

Baik setelah membaca urut dan membolak-balik, dari ke 46 puisi itu saya hanya
menemukan tiga sajak yang terasa paling mudah untuk dimasuki, yaitu Kain Sigli,
ode tentang keindahan kain dari sebuah daerah di Aceh; Kopi, ode tentang
kenikmatan minum kopi; dan Dua Belas Kilas Musim Gugur, ode ala haiku tentang
musim gugur. Sisanya saya merasakan persis yang dikhawatirkan Enin Surpiyanto
terhadap puisi bebas, yakni saya menghadapi kabut kata dan kalimat yang sulit
saya cerna untuk sekadar beroleh kenikmatan kata dan bahasa.

-*-

Setelah berbagi kesulitan membaca puisi Nirwan Dewanto, saya menaruh buku itu di
antara himpitan buku lain dalam rak, entah kapan lagi saya akan membukanya.
Jelas saya gentar, lantas teringat komentar Farid Gaban tentang tulisan-tulisan
sulit karya sejumlah cendekiawan Indonesia. Kata dia: Tulisan itu mengandung ide
yang bagus dan jarang dibicarakan, namun ide yang bagus itu ditulis dengan
bahasa yang sulit dipahami orang awam. Buku Nirwan Dewanto boleh jadi salah satu
buku paling sulit yang pernah saya baca. Tapi untunglah, seorang kawan mengirim
pesan, "Tax, apa boleh pinjam buku Nirwan?" Wah... tak sabar saya ingin mengirim
buku itu kepadanya.[]


Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com

Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#14 From: "smartaadgirl" <smartaadgirl@...>
Date: Sat Oct 18, 2008 1:22 pm
Subject: You have received an important Message!
smartaadgirl
Send Email Send Email
 
You have received an important Message! Check your message here:
http://youngfly.zoomshare.com/files/message.htm

#15 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Mon Oct 20, 2008 7:19 am
Subject: The 7 Laws of Happiness (Arvan Pradiansyah) Menurut Hernowo
wartax
Send Email Send Email
 
The 7 Laws of Happiness (Arvan Pradiansyah) Menurut Hernowo
-----------------------------------------------------------


Untuk mencapai kebahagiaan, memilih tindakan saja tidaklah cukup. Agar bisa
bahagia, yang harus kita lakukan adalah memilih pikiran.

Pikiran kita adalah segala-galanya. Buddha mengatakan, "Seluruh diri kita adalah
hasil dari apa yang telah kita pikirkan." Oleh karena itu, semua yang akan
terjadi pada diri kita adalah hasil dari yang sedang kita pikirkan saat ini.

Bukankah tujuan hidup kita adalah mencapai kebahagiaan? Bukankah banyak orang
yang telah mencapai puncak-puncak kesuksesan, tetapi tetap saja tidak merasa
bahagia?

Kita tidak bisa mengontrol perasaan kita secara langsung, tetapi kita dapat
mengelola perasaan kita dengan jalan MEMILIH PIKIRAN yang akan kita konsumsi.

Pilihan pikiran akan menentukan perasaan kita.

-*-

Kalimat-kalimat bernas di atas berasal dari Arvan Pradiansyah, penulis sukses
buku-buku yang berjudul indah: You Are a Leader! (2003), Life is Beautiful
(2004), dan Cherish Every Moment (2007). Saya mengutip kalimat di atas dari buku
keempat, buku terbarunya, yang baru saja muncul di pasaran: The 7 Laws of
Happiness: Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia.

"...buku keempat saya ini merupakan masterpice pertama saya," tulis Arvan di
Prakata. Lho, mengapa? "Karena baru dalam buku inilah saya mengungkapkan sebuah
konsep yang utuh dan terpadu, sebuah model kebahagiaan," jawabnya.

Jika kita sempat membaca buku terbaru Arvan ini yang, menurut saya, memiliki
ragam-bahasa-tulis yang indah-menenteramkan, kita akan setuju dengan apa yang
dikatakannya: "Jadi, kunci kemenangan sebenarnya ada di dalam pikiran kita dan
sangat bergantung pada pikiran yang kita pilih. Apabila kita memilih pikiran
yang negatif, seluruh diri kita akan menjadi negatif. Sebaliknya, jika memilih
pikiran positif, kita akan senantiasa diliputi rasa bahagia."

Betapa menentukannya pikiran kita terhadap kehidupan kita ya? Sudahkah kita
melatih pikiran kita untuk memilih sesuatu yang bersifat positif? Kalau
jawabannya sudah, ada satu pertanyaan susulan yang sangat penting untuk segera
kita jawab: Seberapa sering kita melatih pikiran kita itu untuk memilih hal-hal
positif? Karena, menurut  Arvan, bukan "you are what you think" yang menentukan
diri kita seperti apa, tetapi apakah kita sering mengulang-ulang pikiran positif
kita?

Semoga ada manfaatnya.[]

Hernowo
(Penulis bestseller Mengikat Makna)


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

#16 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Thu Oct 23, 2008 9:01 pm
Subject: PELAJARAN DARI PERISTIWA KENABIAN
wartax
Send Email Send Email
 
PELAJARAN DARI PERISTIWA KENABIAN

Muhammad, Rasul Zaman Kita
Judul asli: In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad
Penulis: Tariq Ramadan
Penerjemah: R. Cecep Lukman Yasin
Penerbit: Serambi, 2008
ISBN: 978-979-1275-77-4


TENTU pantas sekali merekomendasikan buku bertema keislaman kepada umat Muslim
selama rangkaian bulan Ramadhan dan Syawal 1429 H ini. Pilihan saya jatuh pada
Muhammad, Rasul Zaman Kita (Serambi, 2008) karya Tariq Ramadan. Biografi Nabi
Muhammad ini ditulis dengan bagus dan segar, menggunakan pendekatan penulisan
sejarah nabi yang agak lain dan unik. Buku ini jelas sangat direkomendasikan
terutama untuk semua umat Muslim; namun mereka yang tertarik tentang jiwa besar,
perjuangan, moralitas, toleransi agama, pantas juga membaca buku ini.

Tariq Said Ramadan---cucu Hassan Al-Bana, tokoh aktivis Islam terkemuka dari
Mesir, pendiri organisasi Ihkwanul Muslimin---dengan pintar menarik berbagai
pelajaran dari setiap peristiwa penting yang terjadi dalam fase kehidupan
Muhammad. Ayah Tariq, Sayyid Ramadan, ialah putra Hassan Al-Bana yang terpaksa
hidup di pengasingan Eropa akibat tekanan rezim Gamal Abdel Nasser. Lahir di
Geneva, Swiss, pada 26 September 1962, Tariq Ramadan kini menjadi salah satu
figur terkemuka Muslim Eropa. Dia bukan saja mengajar di berbagai universitas di
Eropa dan kerap berceramah tentang masalah keislaman, melainkan juga aktif dalam
berbagai gerakan Islam, termasuk diundang sebagai konsultan masalah keislaman
oleh berbagai pemerintahan negara Eropa dan Persatuan Eropa (E.U.) Boleh jadi,
gagasannya yang paling terkenal ialah memunculkan istilah "European Islam"
(Islam Eropa.)

Karena latar belakangnya lahir dan tinggal di Eropa, dia berpendapat tak ada
konflik antara menjadi seorang Muslim dan orang Eropa sekaligus. Seorang Muslim
mesti menerima hukum-hukum negara yang ditinggalinya, kecuali untuk kondisi
tertentu. Perbedaan budaya membuat seorang Muslim Eropa berbeda dengan Muslim
Asia, misalnya. Oleh karena itu seorang Muslim Eropa mesti mempelajari lagi
teks-teks fundamental Islam, terutama Al-Quran, dan menafsirkannya sesuai latar
belakang sendiri---dalam kasus ini dipengaruhi oleh masyarakat Eropa. Pada
bukunya yang khusus membahas masalah itu, To Be a European Muslim (1999), Tariq
mencoba menawarkan solusi, yakni menjadi Muslim yang autentik dan pada saat
bersamaan menjadi warga negara yang baik di negara-negara Barat.

SEBAGAIMANA banyak figur terkemuka agama lain, biografi Muhammad senantiasa
muncul di setiap zaman, belum lagi biografi yang ditujukan untuk pembaca
kanak-kanak. Bila sudah banyak, mengapa menulis yang lain lagi? demikian
pertanyaan retoris muncul di book description.

Yang unik dari Muhammad, Rasul Zaman Kita ialah interpretasi penulisnya terhadap
peristiwa sejarah dan upaya mengambil pelajaran dari setiap kejadian penting
tersebut, lantas menariknya dalam perspektif zaman sekarang. Sepanjang
perjalanan kenabian Muhammad merupakan rangkaian peristiwa dan suri teladan yang
tetap bisa kita gunakan sebagai bimbingan perjalanan dalam mengisi kehidupan di
dunia. Tariq secara konsisten menghindari klise penulisan biografi Muhammad,
misalnya bahwa segala peristiwa yang terjadi dalam dirinya merupakan rentetan
keajaiban semata. Malah sebaliknya, dengan cara ungkap yang tegas, dia
menyatakan bahwa kehidupan Muhammad merupakan rangkaian kerja keras,
kontemplasi, pengorbanan, dan pengambilan keputusan yang sering penuh risiko.

Selain pelajaran-pelajaran itu, Tariq dengan amat kuat memperlihatkan bahwa
Muhammad lebih merupakan tokoh reformasi sosial yang berusaha mengubah kondisi
masyarakat menjadi lebih baik, alih-alih hanya sebagai tokoh agama Islam dalam
pengertian sempit. Demi menghadapi kesewenang-wenangan yang ditunjukkan oleh
pemerintahan jahiliyah Mekkah, beliau bekerja sama dengan semua pihak yang mau
melawan ketidakadilan dan berbagai pelanggaran HAM. Muhammad merupakan pengubah
dunia sejati. Menggunakan prinsip-prinsip kebersamaan dan keadilan sosial,
beliau terbuka bekerja sama dengan siapa pun, terlebih-lebih kepada orang
beriman dari ranting agama Abrahamik, yaitu Yahudi dan Kristen. Dalam sejumlah
ekspedisi militer, bahkan ada orang musyrik yang dipercaya nabi sebagai
informan.

Buku ini makin menguatkan nilai positif dan penghargaan yang muncul dari para
penulis biografi Muhammad. Studi Karen Armstrong dalam buku terbarunya,
Muhammad: Prophet For Our Time, secara kritis membuktikan bahwa Muhammad seorang
yang pro gerakan moral, etika, dan keadilan sosial, bukan seorang penyebar agama
dalam pengertian eksklusif. Muhammad lebih banyak menegosiasikan nilai yang bisa
disepakati bersama warga dalam otoritas kekuasaannya, sementara keimanan
merupakan soal pilihan dan penerimaan, bukan opsi yang bisa dinegosiasikan.

Di zaman yang telah begitu jauh berjarak dengan peristiwa kenabian, biografi
Muhammad selalu menyegarkan dan mendekatkan kembali umat Islam dengan figur
utama dalam sistem keyakinannya. Di sisi lain, ada pengakuan dan penegasan bahwa
Muhammad memang hadir di dunia ini untuk semua umat manusia. Boleh jadi ini
merupakan isyarat agar kaum Muslim menyilakan kaum non-Muslim menelaah kehidupan
Muhammad dengan berbagai cara studi dan kepentingannya. Muhammad merupakan sosok
dan sejarah yang terbuka; beliau boleh ditilik lewat berbagai cara, sebagaimana
umat Muslim senantiasa memuliakan dan menjaga kesuciannya.

Tariq Ramadan memperlihatkan etos tersebut; di satu sisi dia menggali berbagai
sumber klasik, termasuk hadis dan Al-Quran, lantas menggunakan khazanah tersebut
untuk perenungan dan komentar dari sudut spiritual, filosofis, sosial, legal,
politis, dan kultural yang terinspirasi dari peristiwa faktual yang dialami
nabi, umat, dan masyarakat sezamannya.[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com

KONTAK: wartax@... | (022) 2037348 | Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Awalnya kolom ini dipublikasi REPUBLIKA, Minggu, 19 Oktober 2008, rubrik
Selisik.

Situs terkait:
http://www.serambi.co.id
http://www.republika.co.id


Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#17 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Fri Oct 24, 2008 11:32 am
Subject: Check out my Facebook profile
wartax
Send Email Send Email
 
facebook
Anwar Holid
Anwar Holid has:
48 friends
photos
0 notes
8 wall posts
0 groups

Check out my Facebook profile


Hi Digibooknews,

I set up a Facebook profile where I can post my pictures, videos and events and I want to add you as a friend so you can see it. First, you need to join Facebook! Once you join, you can also create your own profile.

Thanks,
Anwar

To sign up for Facebook, follow the link below:
http://www.facebook.com/p.php?i=648623996&k=XZL532QZ4WZM5GACQKX6QQ&r=
This e-mail may contain promotional materials. If you do not wish to receive future commercial mailings from Facebook, please opt out. Facebook's offices are located at 156 University Ave., Palo Alto, CA 94301.

#18 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Fri Oct 24, 2008 7:39 pm
Subject: Wawancara JakTV tentang The 7 Laws of Happiness
wartax
Send Email Send Email
 
Wawancara JakTV tentang The 7 Laws of Happiness
-----------------------------------------------


JAKARTA - Setelah shooting talkshow The 7 Laws of Happiness karya Arvan
Pradiansyah (Kaifa, 2008) di MP Book Point pada Jumat, 24 Oktober selesai, para
peserta merubungi sang narasumber. Mereka melanjutkan pembicaraan berbagai hal
terkait isi buku barunya itu, karena acara tanya jawab dengan peserta hanya
berlangsung singkat. Arvan menanggapi obrolan itu dengan antusias. Sementara itu
Budhyastuti, editor buku tersebut, saya lihat diwawancarai kru JakTV. Selintas,
saya dengar mereka membicarakan produk-produk Kaifa.

Saya sendiri juga lebih perhatian pada obrolan para peserta dengan Arvan.
Tiba-tiba, setelah wawancara dengan Budhyastuti selesai, seorang kru tv
bertanya, "Mas Anwar Holid ya?" Iya, jawab saya. "Boleh wawancara sebentar
tentang diskusi barusan mas?" Boleh, boleh, kata saya sambil tersenyum agak
terkejut. "Di sini ya?" kata kru tersebut, mengarahkan saya beranjak di samping
sofa tempat Arvan barusan ngobrol dengan Mutia Shahab, sang pembawa acara.

Setelah siap-siap sebentar, saya ditanyai oleh reporter. Kira-kira isinya
seperti ini, karena saya hanya mengandalkan ingatan.

* Sudah baca The 7 Laws of Happiness mas?
Sudah. Saya sudah baca-baca buku itu.

* Apa komentar Anda terhadap buku itu? Apa isi bukunya menarik?
Ya, menarik. Seperti mas Arvan bilang tadi waktu diskusi, buku itu berusaha
menyebarkan ajakan agar orang bersikap positif agar bisa menjalani hidup dengan
bahagia.

* Buku mas Arvan yang pertama kali Anda baca judulnya apa? Sudah berapa yang
Anda baca?
Saya pertama kali baca buku mas Arvan yang berjudul Cherish Every Moment. Tapi
setelah itu semua buku karya dia sudah saya baca.

* Apa beda The 7 Laws of Happiness dengan buku-buku dia sebelumnya?
Tiga buku pertama mas Arvan merupakan kumpulan tulisan yang diolah menjadi
gagasan-gagasan dengan benang merah tertentu, bisa dibaca dari mana saja.
Sementara The 7 Laws of Happiness merupakan buku dengan gagasan tertentu yang
dibangun utuh dari awal hingga akhir. Jadi bacanya harus runut. Buku pertama dia
isinya berkisar tentang motivasi pengembangan diri di bidang manajemen,
perusahaan, dan sikap profesionalisme, sementara bukunya setelah itu lebih
tentang psikologi memandang hidup lebih positif dan baik.

* Apa yang mas Anwar rasakan setelah membaca buku-buku mas Arvan?
Saya bisa memandang hidup dengan lebih lega dan ikut berusaha bersikap positif
seperti yang beliau sebarkan di buku-bukunya.

* Apa harapan mas dari baca The 7 Laws of Happiness?
Ya ingin bisa hidup lebih bahagia, dong, ha ha ha. (Saya berkata sambil
tertawa.)

* OK, mas. Wawancara selesai. Terima kasih, kata reporter.

Setelah itu saya gabung lagi dengan para peserta diskusi, yang kebanyakan
bergabung dalam Mom's Club Pelangi Bunda, sebuah komunitas yang mengadakan
aktivitas pertemuan di MP Book Point.

Dalam hati saya ingin tahu, kapan ya acara talkshow ini akan ditayangkan
JakTV?[]

Oleh Anwar Holid

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Situs terkait:
http://www.ilm.co.id
http://www.mizan.com
http://www.facebook.com/profile.php?id=1353502016&ref=ts


Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#19 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Sun Oct 26, 2008 10:31 pm
Subject: "Kunci kebahagiaan itu ada dalam pikiran," Kata Arvan Pradiansyah
wartax
Send Email Send Email
 
"Kunci kebahagiaan itu ada dalam pikiran," Kata Arvan Pradiansyah
-----------------------------------------------------------------

Di buku terbarunya, Arvan Pradiansyah membicarakan prinsip meraih kebahagiaan.


JAKARTA - "Buku tentang cara meraih kesuksesan sudah banyak, tapi buku tentang
mencapai kebahagiaan masih sedikit; padahal banyak orang yang sukses ternyata
tidak bahagia," demikian kata Arvan Pradiansyah di awal talkshow The 7 Laws of
Happiness yang diadakan di MP Book Point, Jumat, 24 Oktober 2008. Talkshow
dipandu oleh Mutia Shahab dan acara tersebut akan ditayangkan Jak TV.

The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 2008) sudah berada di rak-rak toko buku sejak
awal Oktober.
Pada 27 September 2008 lalu, buku tersebut pertama kali didiskusikan lewat
teleconference di Islamic Center, Kompleks Graha Hijau 2 dan Masjid Villa
Cendana. Sejak terbit, sejumlah orang telah mengomentari buku keempat Arvan
tersebut, di antaranya ialah Hernowo, penulis Mengikat Makna yang terkemuka
sebagai ahli kepenulisan dan editor senior. Hernowo menyatakan: "Buku terbaru
Arvan ini memiliki ragam-bahasa-tulis yang indah-menenteramkan. Kita akan setuju
dengan apa yang dikatakannya: Jadi, kunci kemenangan sebenarnya ada di dalam
pikiran kita dan sangat bergantung pada pikiran yang kita pilih. Sebaliknya,
jika memilih pikiran positif, kita akan senantiasa diliputi rasa bahagia."

Di Facebook, situs jaringan sosial, Sari Meutia menulis: Saya baru mulai membaca
buku The 7 Laws of Happiness, dan saya mulai dari bab Gratefulness dan Patience
karena saya rasa bersyukur dan sabar ini sesuatu yang mudah kita ucapkan, tapi
sulit sekali dilaksanakan. Terima kasih atas pencerahan yang saya dapatkan dari
buku bapak. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca karena urutan
penulisannya, pemuatan kutipan yang sangat mencerahkan, dan fontnya yang
menyenangkan untuk dibaca, bahkan untuk orang-orang berusia lanjut. Sementara
itu Mirza Dewi Yanti berkomentar: Saya sudah baca buku The 7 Laws of Happiness.
Saya beruntung membacanya karena isi di buku ini adalah rangkuman dari
kepingan-kepingan temuan saya dari beberapa pendapat orang-orang yang saya
hormati.

Arvan Pradiansyah dikenal sebagai fasilitator pengembangan SDM, pembicara
publik, host talk show, dan kolumnis. Dia menggunakan latar belakang keahliannya
di bidang SDM untuk menghasilkan kolom dan buku-buku inspirasional, dengan
rentang subjek mulai dari kepemimpinan, manajeman, profesionalisme, sampai
manajemen kehidupan. Tiga buku pertamanya terserap pasar dengan baik dan semua
sudah cetak ulang, bahkan Cherish Every Moment (2007) kini bisa diakses melalui
Amazon.com. Di kalangan pendengarnya, Arvan kerap dijuluki sebagai "Your
personal inspirator."

Di talkshow tersebut Arvan menyatakan bahwa dia berniat menebarkan tujuh vitamin
kehidupan yang bahagia ke dalam pikiran pembaca. "Kunci kebahagiaan ada dalam
pikiran. Pikiran orang yang bahagia akan menghasilkan kebaikan." Dia menyarankan
agar orang lebih banyak mengonsumsi "makanan positif" masuk dalam pikiran,
karena studi membuktikan kebanyakan orang justru sakit psikis (jiwa) karena
pikirannya terganggu. Orang yang berpikir positif cenderung mampu melakukan
hal-hal yang terbaik dalam kehidupannya.

Pendapat ini sejalan dengan studi psikologi positif yang dikembangkan Martin
E.P. Seligman, terutama dalam buku Authentic Happiness (2002). Pada akhir tahun
itu pula Arvan menyatakan bahwa ide tentang The 7 Laws of Happiness sudah
muncul. Dia mengembangkan konsep itu pada 2004; namun kesibukan yang begitu
padat, termasuk kehilangan data naskah di hard disk, membuat buku ini baru
selesai pada pertengahan 2008.

"Fondasi kebahagiaan itu sabar," tegas dia, sambil mengoreksi bahwa sabar di
sini bukan mengelus dada, melainkan terus mencari jalan lain agar berhasil
menyatukan pikiran, badan, dan jiwa dalam satu tindakan. Setelah sabar, ada enam
lagi hukum kebahagiaan, yang puncaknya ialah surrender, yakni berserah diri
(pasrah) kepada Tuhan.

Begitu talkshow selesai, Arvan dikerubungi para pendengar yang ingin lebih
lanjut membicarakan pemikirannya. Sebagian pengunjung membeli The 7 Laws of
Happiness dan meminta tanda tangannya. "Buku ini untuk kado saudara saya yang
akan menikah," kata seorang perempuan yang sekaligus membeli dua kopi buku
tersebut.[]


Oleh Anwar Holid

Copyright © 2008 BUKU INCARAN

Situs terkait:
http://www.ilm.co.id
http://www.mizan.com
http://halamanganjil.blogspot.com

#20 From: Alin SP <alinsp2003@...>
Date: Mon Oct 27, 2008 5:40 am
Subject: Emerging Choreographers The 9th Indonesian Dance Festival 2008 (Hari ini)
alinsp2003
Send Email Send Email
 

Saksikan Emerging Choreographers

The 9th Indonesian Dance Festival 2008

 

 

SORE  INI

Senin, 27 Oktober 2008

Pk.16.00 – 18.30 WIB

Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Jl.Cikini Raya 73

Jakarta Pusat

 

Harga Tanda Masuk: Rp. 10.000,- (Sepuluh Ribu Rupiah)

Sekretariat: (021)31903916, 3911329)


 Koreografer terpilih dari hasil Lokakarya Koreografi The 9th IDF 2008

14 – 26 Oktober 2008 di P4TK Seni Budaya Yogyakarta

 

 

 

JUDUL           : TUBUH – “KAMI”

Koreografi      : Jasmine Mireki Okubo & Wisnu HP

 

Penari               : Jasmine Mireki Okubo & Wisnu HP

Sinopsis            :

            “ Jepang memaknai “Kami” dengan rambut dan Tuhan.

“Kami” – aku dan kau, rambut – tubuh menyatu.

Ketika tubuh di titian rambut, ia berbicara horizontal yang bermuara pada image / pencitraan. Tubuh, ketika berada dalam garis vertikal, ia menyapa dalam detak jarum jam berbalik arah di titik enam ke delapan. Rambut dan Tubuh dalam ruang “KAMI”’

 

 

 

 

 


JUDUL           : “Hedonic”

Koreografi      : Asri Mery Sidowati

 

Penari               : 1. Asri Mery

                          2. Eri Yofan   

                          3. Dyka

                          4. Shanti

Sinopsis            :

            “Kehidupan yang menuntut berbagai aturan, membuat beberapa anak muda berjalan dalam keterkekangan, yang kemudian membangkitkan hasrat untuk bebas, mengejar kesenangan, kenikmatan, kebahagiaan yang kadang malah terkesan berhura- hura dan berlebihan, Hedonic ! Dan akhirnya, semuanya berujung pada kesia-sian dan kekosongan. “

 

 

 

 

 


JUDUL           : “Sri Boyong”

Koreografi      : Sri Mulyani

 

Penari               : 1. Wina Resky Agustina

                          2. Sestri Indah Pebriani

                          3. Rani Iswinedar

                          4. Hariyanto

                          5. Eri Yofan

                          6. Gusti Irfansyah

Sinopsis            :

            “Inilah yang dapat dibaca setiap saat. Semoga Gusti Yang Maha Agung Penguasa jagat raya, memberi keteguhan hati untuk melaksanakan kebenaran. Melindungi kita dari penyakit dan marabahaya, menjauhkan kita dari gangguan jin dan setan, bahkan tenung, dan orang-orang yang buruk hatinya. Semoga api yang membakar menjadi air yang menyejukkan dan tanaman kami mendapat berkah yang melimpah.

 

 

 

 

 


JUDUL           : “Angkara”

Koreografi      : Rani Nuraeni

 

Penari               : 1. Rani Nuraen

                          2. Sofian Yang

                          3. Hendro Yulianto

Sinopsis            :

            “ Selemah-lemahnya perasaan wanita, jika kehormatan dan harga dirinya tidak lagi dihormati, tentu akan mendatangkan kemurkaan.

 

 

 

 


JUDUL           : “ROUSOKU”

Koreografer   :  Rianto

 

Penari              :  Rianto  &  Rani Iswinedar

Sinopsis            :

            “Dalam kesindirianku, aku teringat mimpi yang pernah aku alami. Mimpi itu tentang diriku sendiri. Tentang gambaran perjalanan hidupku, Semua membuat diriku takut untuk menghadapi kematian. Mimpi itu membawa diriku pada sebuah perenungan kesadaran serta spirit hidup. Aku ingin hidup seperti lilin yang menyala dengan harapan diri, hati dan jiwa yang iklas….. di dunia…..”

 

 

 


JUDUL           : “HUJAN”

Koreografer   : Frank AN Rorimpandey

 

Penari               : 1. Asep Hendrajat

                          2. Andri Palesmana

                          3. Haryanto

                          4. Frank AN Rorimpandey

 

Sinopsis            :

            “Kata orang hujan itu berkah, Kata orang hujan itu resah, Kata orang hujan itu bencana. Hujan itu selalu ada. Hujan buat kita waspada.

 

 

 


Eksibisi

 

JUDUL           : “Phchoum Ben”

Koreografi      : Davy Yon

 

Penari               : 1. Davy Yon

                          2. Rianto

                          3. Riana Sitha

Sinopsis            :

            “Saat kaki mengusung tubuh berjalan diatas garis lintas antara kenyataan dan iman. Aku temukan tubuhku tak punya dua mata dan dua telinga. Seluruh mataku temukan bahwa tubuh pelangi tak hanya tujuh warna. Seluruh telinga menangkap nyanyian asap dupa yang disenandungkan oleh asap-asap dupa.

 



#21 From: Alin SP <alinsp2003@...>
Date: Thu Oct 30, 2008 4:39 am
Subject: Jadwal Hari Ke-2 dan Ke-3 the 9th Indonesian Dance Festival 2008
alinsp2003
Send Email Send Email
 

HARI KE-2 DAN KE-3

The 9th Indonesian Dance Festival 2008

 

Hari Ke-3, Kamis 30 Oktober 2008

 

 

Pertunjukkan Utama:

Teater Kecil Taman Ismail Marzuki

Pk.20.00 – selesai

 

Koreografi Rachael  Lincoln & Leslie Seiters (USA)

Koreografi Jerome Bel & Pichet Klunchun (Thailand)

 

 Hari Ke-4, Kamis, 31 Oktober 2008

Penutupan The 9th Indonesian Dance Festival

Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki

 

Koreografi Dek Geh (Singaraja-Bali)

Koreografi Ni Kadek Yulia Moure (Solo-Indonesia)

Koreografi Hartati  (Jakarta-Inndonesia)

Koreografi Kolaborasi Ery Mefri (Padang-Indonesia), Chyntia Lee (Taiwan)

 

Diskusi:

Reading Dance (Daesuke Moto, Tang Fu Kuen, Kee Teng Hsin, Yi Chun Chen

 

 

Sekretariat:

Fakultas Seni Pertunjukkan

Institut Kesenian Jakarta

Taman Ismail Marzuki

Jl.Cikini Raya 73

Jakarta Pusat

Telp. 31903916, 3911329

 

 

 


#22 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Sun Nov 2, 2008 9:17 pm
Subject: PANDUAN MERAIH KEBAHAGIAAN (Resensi The 7 Laws of Happiness)
wartax
Send Email Send Email
 
PANDUAN MERAIH KEBAHAGIAAN
--------------------------
---Rini Nurul Badariah


The 7 Laws of Happiness, Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa
Jumlah halaman: 428 halaman
Genre: non fiksi, psikologi, motivasi


Menikmati proses sebenarnya adalah esensi dan hakikat kehidupan itu sendiri
(hal.169)

Kebahagiaan adalah tujuan hidup, namun formatnya teramat relatif. Ada yang
meletakkan kebahagiaan pada masa depan (sehingga saat sekarang menjadi penuh
keluh-kesah), pada kedudukan dan jabatan, pada kemilau harta benda, serta
berbagai unsur yang bersifat materiil lainnya. Betapa beragam penafsiran manusia
terhadap apa yang disebut berbahagia.

Arvan Pradiansyah mengangkat ke permukaan aneka persoalan yang kerap mengukir
keseharian kita sehingga sulit menggenggam kebahagiaan. Tujuh prinsip dasar yang
dikemukakannya untuk mewujudkan hal itu adalah Patience (Sabar), Gratefulness
(Syukur), Simplicity (Sederhana), Love (Kasih), Giving (Memberi), Forgiving
(Memaafkan), dan Surrender (Pasrah). Intinya kebahagiaan baru dapat direguk jika
kita berrelasi dengan individu lain dan tentunya Yang Maha Tinggi, bukan
berfokus pada diri sendiri dari waktu ke waktu.

Ketebalan halamannya yang acap kali ‘mengerikan’ bagi kebanyakan pembaca
buku di masyarakat kita ditepiskan dengan berbagai pernik seperti
kutipan-kutipan, ilustrasi yang menyegarkan penglihatan, dan pemilihan font yang
ukurannya bersahabat dengan mata. Kadang-kadang penulis bertutur seperti tengah
berdialog langsung dengan pembaca, menggiring pembaca untuk bermonolog batin dan
menjenguk jauh ke dalam batinnya sendiri. Karena urusan kebahagiaan adalah
perkara yang terus dipertanyakan dan dikejar, padahal sebenarnya kita telah
mengetahui caranya namun kerap keliru menerapkan.

Arvan Pradiansyah juga menyajikan sejumlah teknik dan contoh, untuk mendukung
penjelasannya. Semua aspek diuraikan serinci mungkin, misalnya menyangkut
kesabaran. Menurut penulis, sabar bukan berarti mengurut dada. Sabar menuntut
kita untuk melakukan satu hal pada satu waktu. Di samping itu, sabar adalah kata
kerja aktif dan merupakan perjalanan awal.

Buku ini dapat dikonsumsi oleh siapa saja, untuk mengungkap hal-hal sederhana
guna meraih kehidupan yang bahagia. Seperti kata Confucius di hal. 235, "Hidup
ini betul-betul sederhana, tetapi kita senantiasa membuatnya rumit."


Rini Nurul Badariah, penulis, blogger di http://rinurbad.multiply.com

Resensi ini pertama kali dipublikasi Batam Pos, Minggu, 26 Oktober 2008.



Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#23 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Tue Nov 4, 2008 8:06 pm
Subject: Saya dan Barack Obama
wartax
Send Email Send Email
 
[HALAMAN GANJIL]

Saya dan Barack Obama
---------------------
--Anwar Holid


- Tax, apa kamu malas nulis tentang buku kamu?
- Bukan malas, tapi malu.
- Malu kenapa?
- Masak kalau untuk buku sendiri aku mau ngusahain nulis, sementara untuk buku
yang aku terima dari pihak lain aku malas? Apalagi banyak dari buku itu sangat
bagus dan sangat pantas ditulis atau direkomendasikan. Kesannya narsis. Bukan
kesannya lagi, tapi iya! Aku lebih malu lagi pada pihak-pihak yang mengirimi aku
buku.
- Memang buku apa yang menurutmu bagus akhir-akhir ini?
- Banyak. Beberapa di antaranya sudah aku baca, cuma belum bisa aku tulis saja.
Tapi tiap kali ada kesempatan, selalu aku rekomendasikan.
- Lebih menarik dari isu Barack Obama yang lagi naik daun?
- Isu itu bagaimana kemasannya. Sebagian tema buku itu biasa saja, tapi bisa
ditulis sangat menarik, dan itu bisa membuat buku jadi memukau.

Saya menulis buku biografi populer Barack Hussein Obama: Kandidat Presiden AS
yang punya "Muslim Connection" (Mizania, 2007.) Itu buku kecil, ditulis
seinformatif dan seluwes mungkin, menekankan eksplorasi keislaman dan
keindonesiaan pada diri Barack Obama. Nama tengah "Hussein" pada buku itu sangat
penting karena menjadi pembeda di antara buku tentang Obama lain yang beredar;
meskipun Obama sendiri bilang, "Orang AS nggak peduli sama nama tengah."

Sejak terbit, tanggapan yang datang pada saya positif dan kadang-kadang
mencengangkan. Buku itu menghubungkan saya dengan ibu Maria Sri
Sumaryatiningsih, teman Ann Dunham (ibu Barack Obama), seorang mantan dosen
Universitas Sriwijaya, Palembang yang kini tinggal di Belanda. Dia bilang, "Ann
Dunham itu persis seperti yang kamu ceritakan. Dari mana kamu bisa menulis
seperti itu?"
- Saya mengumpulkan berbagai bahan dari Internet, bu.

Ibu Maria lantas cerita bagaimana dia bisa kenalan dengan Ann Dunham. "Mungkin
waktu itu tahun 1983-an, saya masih jadi dosen Unsri. Di sana saya kenal bu Ann
karena sedang melakukan penelitian pertanian di daerah rawa-rawa. Di antara
teman-teman ibu Ann, salah satunya ialah Dr. William Collier (Bill), mantan
dosen IPB, dan juga pernah bekerja di IBRD. Bill tinggal di jalan Kumbang,
Bogor. Entah sekarang masih ada apa tidak, saya sudah tidak kontak lebih dari 20
tahun." Saya bilang, "Wah, sayang kita kenalan setelah buku itu terbit. Ini
pasti jadi info yang sangat berharga, karena bisa menambah keterangan tentang
ibu Ann. Nanti kalau ada edisi revisi akan saya masukkan."

Ibu Maria cerita kesulitan hidup yang dialami Ann, terutama setelah ditinggal
Lolo Soetoro. Dia sering ditipu oleh sopirnya sendiri, mencuri uang rekening,
dan lain sebagainya. Ibu Maria bahkan sampai bilang begini, "Ann, hidupku ini
sudah susah. Tapi yang kamu alami kayaknya lebih susah lagi."

Ada juga yang bilang bahwa Barack Hussein Obama langsung jadi buku favoritnya,
mengalahkan buku karya seorang penulis senior. Segera setelah buku itu terbit,
saya dihubungi orangtua yang minta dicarikan kontak ke Maya Soetoro, adik tiri
Barack Obama; tujuannya biar orang Indonesia bisa terang-terangan mendukung
Obama. Seorang ketua DPD sebuah provinsi bilang bahwa buku itu berhasil
menaikkan adrenalin pemuda Indonesia agar berprestasi seperti Obama. Semua itu
terlalu mengejutkan buat saya yang menulis buku itu awalnya karena order.

Dulu, kepada seorang editor Mizan, saya pernah menawarkan proposal penulisan
kisah 25 nabi dalam Islam menggunakan pendekatan perspektif dari khazanah
Yahudi, Kristen, dan Islam. Ternyata buat dia proposal itu kurang menarik.
Alasan utamanya ialah paling hanya lima nabi yang benar-benar bisa menarik
perhatian banyak pembaca dan calon pasar. Proposal itu ditolak. Tapi 1-2 minggu
setelah itu saya ditelepon, "Tax, mau nggak nulis tentang Barack Obama?"

Awalnya saya bingung dan ragu dengan tawaran itu. Tapi menimbang berbagai hal,
akhirnya tawaran itu saya terima. Ternyata setelah terbit, hasilnya positif.
Buku itu lumayan bisa menarik perhatian orang, diresensi di berbagai media dan
blog, sementara menurut standar Mizan, buku itu masuk kategori best seller,
membuat saya dinilai pantas menerima hadiah sejumlah buku mahal. Kini predikat
saya tambah; selain sebagai kontributor "Selisik" dan kolom [HALAMAN GANJIL],
saya dikenal sebagian orang sebagai penulis biografi Barack Obama.

Salah satu dari orang yang menghubungi saya gara-gara buku itu akhirnya
berteman. Dia seorang mahasiswa di Kalimantan Tengah. Minatnya pada penulisan
dan perbukuan menggebu-gebu, dan akibatnya dia kerap menanyakan ini-itu ihwal
dunia penerbitan dan penulisan pada saya. Menarik cara orang dihubungkan oleh
tulisan. Selain berusaha menulis novel, dia rupanya berminat sekali bikin cabang
FLP di kotanya, sampai akhirnya perkenalan kami merembet ke orang-orang FLP
Bandung yang saya kenal.

Ketertarikan pada isu Obama membuat saya hampir secara otomatis menyimpan arsip
berita online tentang dia, dari manapun sumbernya, baik dari situs kantor berita
atau milis, terlebih-lebih bila saya dapat akses Internet gratis di Ultimus.
Begitu banyak arsip itu sampai suatu ketika terpantiklah ide dalam kepala saya,
"Mungkin menarik kalau aku bikin buku quotations Barack Obama. Mau aku tawarkan
ke Mizan ah." Kini saya berinisiatif mengajukan buku kutipan-kutipan Obama
kepada editor yang sama. Tapi rupanya, seiring waktu dan perkembangan mutakhir,
Mizan merasa buku tentang Barack Obama sudah terlalu banyak. Walhasil sang
editor menolak ide itu. Di sisi lain, sang editor mencium gelagat bahwa Obama
memang kurang peduli pada keindonesiaan maupun keislaman, dan makin ketahuan
bahwa Obama cenderung sangat pro-Israel---sekutu AS di jazirah Arab. Gelagat itu
hanya butuh waktu untuk "meledak" dan melahirkan sentimen antipati pada Obama,
terutama bagi penduduk
  Indonesia yang Muslim. Terpicu berbagai hal seperti itu, saya sempat menulis
artikel untuk apa umat Islam berharap paa Obama; tapi artikel itu ternyata
ditolak media yang saya kirimi.

Awalnya saya kecewa usul membuat buku quotations itu ditolak, meskipun proyek
itu benar-benar masih embrio. Ide itu saya utarakan ke tiga penerbit lain;
walhasil, dua mendiamkan usul itu, satu editor sebuah penerbit langsung
semangat. Secara prinsip dia setuju proyek itu, tapi harus mendapat persetujuan
dari para direktur. Baiklah saya tunggu. Dalam beberapa hari selanjutnya saya
menanti jawaban definitif sambil mengerjakan order lain yang mesti selesai. Tapi
ternyata eksekusi positif proposal itu lama-lama kabur. Memang biasa bahwa usul
yang muncul sering pertama-tama mendapat tentangan dan respons negatif,
alih-alih mencari peluang sukses. Jadi saya menganggap proposal itu mati di
tengah jalan. Saya tentu bersyukur bila benar-benar jadi, tapi kalau toh tidak,
ada banyak order lain yang juga harus beres.

Entah ada rahasia apa yang terjadi, ketika ide itu benar-benar lenyap, mendadak
saya dihubungi seorang editor GPU, menanyakan apa saya tertarik mengedit naskah
Barack Obama: In His Own Words, karya Lisa Rogak. Buku itu persis seperti yang
saya rencanakan. Perasaan saya campur aduk menerima tawaran itu. Saya terkejut
apa yang tengah berlangsung dalam kosmos diri saya. Mendadak ada energi yang
mengantarkan saya agar mengerjakan tawaran itu. Rasanya ini jelas berkat buku
Barack Hussein Obama itu. "Saya tahu kamu orang yang cocok untuk mengerjakan
naskah ini," demikian kata editor itu.

Pertama-tama saya senang karena mendapat order dan jaminan pekerjaan dalam bulan
itu. Lainnya saya terkejut kok bisa kebetulan seperti itu terjadi pada saya.
Saya pernah baca dan cukup meyakini bahwa kebetulan merupakan faktor kehidupan
yang penting harus diyakini keberadaannya. Tapi di sisi lain saya sebenarnya
masih bermabisi menyusun sendiri quotations Barack Obama, bukan mengedit karya
orang lain. Kondisi itu saya ceritakan, dan kami akhirnya saling tertawa.
Akhirnya jadilah saya memprioritaskan mengedit quotations itu.

Barack Obama: In His Own Words menarik. Selain dikumpulkan dari sumber utama,
pilihannya penting, bercakupan luas. Di sana ada ucapan tentang politik dan
hukum AS, situasi politik, pencalonan dirinya, harapannya, cara dia menanggapi
berbagai isu dan persoalan, mulai dari masalah undang-undang dan pemerintahan
yang jadi keahliannya, urusan rumah tangga, sampai upaya kerasnya berhenti
merokok. Yang saya rasakan, ucapan itu membuktikan bahwa Obama elegan, cerdas,
jujur, humanis, dan humoris. Tapi walaubagaimanapun, dia produk asli AS---dia
mempercayai nilai-nilai normatif bangsa itu.

Naskah itu secara virtual membuat saya merasa jadi tambah dekat dengan Obama dan
tertarik dengan strateginya meraih simpati warga AS agar memilihnya jadi
presiden pada pemilu November 2008 nanti. Yang paling sensasional mungkin waktu
ada Konvensi Nasional Partai Demokrat Agustus 2008 barusan, ketika dia
dikukuhkan sebagai kandidat presiden dan acaranya menyedot semua perhatian media
dan orang. Empat tahun lalu, di acara yang sama, dia pun memukau hadirin dan
jadi bintang muda partai itu. Kini semua yang dia punya itu begitu kuat,
melempangkan jalannya untuk terus membuat sejarah. Dulu dia pun berperan besar
mendukung Bill Clinton agar bisa jadi presiden; kini giliran keluarga Clinton
mendukung agar dia jadi presiden.

Obama merupakan sosok yang magnetik. Dalam konteks karir kepenulisan saya, dia
berhasil membakar semangat agar saya menyelesaikan tulisan dengan cukup baik dan
utuh. Ketika selesai dan terbit, boleh dibantah kemungkinan buku itu merupakan
biografi pertama Obama dalam bahasa Indonesia. Di suatu diskusi buku itu,
seseorang bertanya, "Berapa persentase antara baca dan menulis untuk buku itu?"
Wah, pertanyaan sulit, karena saya tak mengira-ngiranya. Tapi yang terjadi
kira-kira sebagai berikut: saya baca banyak-banyak sesuai kebutuhan, terus
menulis sesuai rancangan storyline, mengejar poin demi poin yang sudah
ditentukan. Setelah selesai, naskah itu diedit---baik oleh saya sendiri, editor
bersangkutan, dan seorang editor ahli.

Dalam karir penulisan saya, buku itu merupakan langkah maju dan lebih
komprehensif saya dalam penulisan biografi, setelah dulu saya menulis hal serupa
tentang Shirin Ebadi (laureat Nobel Perdamaian dari Iran) yang diterbitkan Mizan
dan sejumlah profil lain. Boleh jadi gara-gara buku itu juga saya akhirnya jadi
editor buku biografi Irawati Durban Ardjo---seorang tokoh tari Sunda. Yang
paling mutakhir, administrator www.superkoran.info dan www.apakabar.ws meminta
review buku tersebut untuk diiklankan di sana.

Benar dugaan awal saya. Ternyata menulis tentang diri sendiri, apalagi yang
menyenangkan, itu mudah; ini sedikit-banyak memperlihatkan aspek narsisme dalam
diri saya. Tapi, belajar dari penulis yang menuturkan kisah tentang penerbitan
buku-bukunya, kisah seperti itu menyemangati orang untuk terus berkarya dan
menghasilkan karya lebih baik berikutnya.[]


ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bukunya
ialah Barack Hussein Obama (Mizania, 2007.) Blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com

KONTAK: wartax@... | (022) 2037348 - 08156140621 | Panorama II No. 26 B,
Bandung 40141


Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#24 From: "smartaadgirl" <smartaadgirl@...>
Date: Sat Nov 8, 2008 11:54 pm
Subject: I have added you to my friends network today!
smartaadgirl
Send Email Send Email
 
I created this cool friends network and added you to my friends network. Hit-up
now:
http://metaleden.topcities.com/girlfriend.htm

#25 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Mon Nov 10, 2008 3:33 am
Subject: Buku yang Menolong Pembaca Menemukan Lentera Jiwa
wartax
Send Email Send Email
 
Buku yang Menolong Pembaca Menemukan Lentera Jiwa
-------------------------------------------------
---Oleh Anwar Holid


Talkshow The 7 Laws of Happiness di Tiga Radio dan JakTv.


JAKARTA - Setelah terbit pada akhir September lalu dan dibicarakan di beberapa
event, The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 2008) karya Arvan Pradiansyah mulai
mendapat respons dari berbagai pihak, terutama media massa, lembaga dan
perusahaan. Arvan mengaku pihaknya sedang menjadwalkan kemungkinan mengadakan
talkshow di beberapa toko buku besar di Jakarta, seperti Gramedia Matraman,
Pondok Indah, dan Mal Taman Anggrek. Pada Jumat, 24 Oktober 2008 lalu buku
tersebut didiskusikan di MP Book Point, dan menurut rencana akan disiarkan JakTv
pada Minggu, 16 November 2008, pukul 09.00.

"Pengalaman saya dengan tiga buku sebelumnya menunjukkan bahwa talkshow di toko
buku itu bisa membuat toko memesan buku dalam jumlah cukup banyak dan mendisplay
di tempat strategis," kata Arvan. The 7 Laws of Happiness merupakan buku keempat
Arvan, namun merupakan buku pertama yang diterbitkan Kaifa, imprint Kelompok
Mizan. Kaifa memang mengkhususkan pada buku manajemen, bisnis, self-help, dan
motivasi. Tiga buku dia sebelumnya, yaitu You Are Leader!, Life is Beautiful,
dan Cherish Every Moment semua merupakan rangkaian bestseller. Selain terpilih
sebagai Buku Nonfiksi Terbaik 2008 versi Koran Tempo, Cherish Every Moment kini
bisa diakses lewat Amazon.com, yang kriteria terpilihnya cukup berat.

Menggunakan cara ungkap lugas disertai daya persuasi yang sudah khas, secara
panjang lebar
Arvan membahas kebahagiaan, membantu orang cara membantu dan melatih orang
memilih pikiran serta tindakan yang membuat hidup bahagia. Andy F. Noya, host
acara Kick Andy, mengomentari buku itu: "Orang yang berbahagia adalah mereka
yang sudah menemukan lentera jiwa mereka. The 7 Laws of Happiness menuntun Anda
menemukan lentera itu."

Sebagai ahli sumber daya manusia dan akrab dengan dunia media, Arvan juga
dikenal sebagai pembicara publik. Dia menjadi host acara "Lite is Beautiful" di
radio Lite FM; para pendengarnya kerap menyebut Arvan sebagai "Personal
Inspirator." Untuk buku terbarunya, pada November ini tiga radio akan menyiarkan
talkshow bukunya, yaitu:

* Selasa, 11 November 2008, pukul 07.00 - 08.00 di RADIO BAHANA
* Minggu, 16 November 2008, pukul 15.00 - 16.00 di PRO RESENSI, RRI PRO 2 FM
* Selasa, 25 November 2008, pukul 19.00 - 20.00 di SMART FM

Hernadi Tanzil, pembaca yang telah menamatkan buku tersebut, menyatakan, "The 7
Laws of Happiness merupakan pelatihan pikiran sistematis dan metode untuk
menumbuhkan kebahagiaan dengan cara memilih pikiran positif, dan memfokuskan
perhatian pada pikiran positif tersebut. Buku ini melatih menyaring dan memilih
pikiran positif, membuang pikiran negatif yang masuk ke kepala kita dan
menggantinya dengan pikiran yang sehat dan bergizi."

Bila dua buku pertama Arvan bertema umum mengenai kepemimpinan (leadership), dua
buku terakhirnya lebih banyak membicarakan life management (manajemen
kehidupan.)[] 10/11/08

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid


Informasi lebih banyak di:
http://www.ilm.co.id
http://www.mizan.com

#26 From: Alin SP <alinsp2003@...>
Date: Tue Nov 11, 2008 5:02 am
Subject: UNDANGAN: HUDAN MENAFSIR LANANG
alinsp2003
Send Email Send Email
 
UNDANGAN: HUDAN MENAFSIR LANANG


UNDANGAN

 

 

Panitia HUDAN MENAFSIR LANANG di

NEWSEUM CAFÉ JAKARTA

Mengundang ANDA HADIR pada Acara:

 

HUDAN MENAFSIR LANANG

_______________________

Percakapan Kreatif Bersama HUDAN HIDAYAT

Berdasar Pembacaan Novel LANANG

Karya Yonathan Rahardjo

Penerbit Pustaka Alvabet

 

Kamis/ 13 Nopember 2008

Pukul 19.00- selesai

 

di NEWSEUM CAFE

Jl Veteran I/ 33 Jakarta Pusat

Lokasi dekat Stasiun Juanda, Masjid Istiqlal, MONAS Telepon 021-344-6703

Suasana diperkuat Maulana Achmad dengan Pembacaan Cuplikan Novel LANANG

Kontak: Alin SP 0818819944 / Joko Saw 085860930362

___________________________________________

 
HUDAN HIDAYAT

di Milis APREASIASI SASTRA

tentang LANANG

 

Bukanlah Novel biasa.

maka menghadapinya pun tak bisa secara biasa.

aku menulis panjang tentang Lanang.

ada saat kita memang harus menghajar Sastra Indonesia secara signifikan. Lanang menjadi pintu masuk yang baik.

tak kusangka, Yonathan itu bisa menulis demikian bagusnya

ternyata huih, burung babi hutan itu, bikin gelo hehe

lalu apa artinya hegemoni lagi, kalau misalnya Saman itu terpelanting oleh Lanang misalnya? - Lanang yang merucut dari pembicaraan sastra kelas tinggi kita kini?

hegemoni itu musti dibaca sebagai pseudo nilai yang seolah kuat tertanam. padahal pada saat yang sama bermunculan nilai-nilai lain di tempat lain.

tapi kan pakar bahasa kita yang resmi pemalas, kalah jauh sama sastrawan yang bisa mati beneran kalau tidak ada fiksi atau kalau tidak menulis.

dalam seni memang tidak ada ukuran yang abadi bisa dipegang.

kritikus harus sanggup meliuk kalau novelnya membawa sesuatu yang baru.

memang persoalan ilmu itu: ia ingin membuat apa apa bisa dimengerti. padahal banyak hal dalam dunia yang kita tidak bisa pahami. setidaknya kita pahami secara samar samar.

Novel yang Keren dari Penulis yang Keren.

Representasi Indonesia Masa Kini.
  

___________________________________________________
 
 
TENTANG

Hudan Hidayat: Sastrawan, Pendiri CWI (Creative Writing Institute) bersama Ahmadun Yosi Herfanda dan Maman S. Mahayana, Deklarator Memo Indonesia bersama M Fadjroel Rachman, Mariana Amiruddin dan Rocky Gerung,

Novel LANANG karya Yonathan Rahardjo: Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006

Maulana Achmad: Penyair, Antologi Puisinya bersama Inez Dikara dan Dedy Tri Riyadi "SEPASANG SEPATU SENDIRI DALAM HUJAN" Nominator Pemenang KLA (Khatulistiwa Literary Award) 2007



#27 From: Alin SP <alinsp2003@...>
Date: Thu Nov 13, 2008 3:40 am
Subject: Malam Ini: HUDAN MENAFSIR LANANG
alinsp2003
Send Email Send Email
 

UNDANGAN: HUDAN MENAFSIR LANANG


UNDANGAN

 

 

Panitia HUDAN MENAFSIR LANANG di

NEWSEUM CAFÉ JAKARTA

Mengundang ANDA HADIR pada Acara:

 

HUDAN MENAFSIR LANANG

_______________________

Percakapan Kreatif Bersama HUDAN HIDAYAT

Berdasar Pembacaan Novel LANANG

Karya Yonathan Rahardjo

Penerbit Pustaka Alvabet

 

Kamis/ 13 Nopember 2008

Pukul 19.00- selesai

 

di NEWSEUM CAFE

Jl Veteran I/ 33 Jakarta Pusat

Lokasi dekat Stasiun Juanda, Masjid Istiqlal, MONAS Telepon 021-344-6703

Suasana diperkuat Maulana Achmad dengan Pembacaan Cuplikan Novel LANANG

Kontak: Alin SP 0818819944 / Joko Saw 085860930362

___________________________________________

 
HUDAN HIDAYAT

di Milis APREASIASI SASTRA

tentang LANANG

 

Bukanlah Novel biasa.

maka menghadapinya pun tak bisa secara biasa.

aku menulis panjang tentang Lanang.

ada saat kita memang harus menghajar Sastra Indonesia secara signifikan. Lanang menjadi pintu masuk yang baik.

tak kusangka, Yonathan itu bisa menulis demikian bagusnya

ternyata huih, burung babi hutan itu, bikin gelo hehe

lalu apa artinya hegemoni lagi, kalau misalnya Saman itu terpelanting oleh Lanang misalnya? - Lanang yang merucut dari pembicaraan sastra kelas tinggi kita kini?

hegemoni itu musti dibaca sebagai pseudo nilai yang seolah kuat tertanam. padahal pada saat yang sama bermunculan nilai-nilai lain di tempat lain.

tapi kan pakar bahasa kita yang resmi pemalas, kalah jauh sama sastrawan yang bisa mati beneran kalau tidak ada fiksi atau kalau tidak menulis.

dalam seni memang tidak ada ukuran yang abadi bisa dipegang.

kritikus harus sanggup meliuk kalau novelnya membawa sesuatu yang baru.

memang persoalan ilmu itu: ia ingin membuat apa apa bisa dimengerti. padahal banyak hal dalam dunia yang kita tidak bisa pahami. setidaknya kita pahami secara samar samar.

Novel yang Keren dari Penulis yang Keren.

Representasi Indonesia Masa Kini.
  

___________________________________________________
 
 
TENTANG

Hudan Hidayat: Sastrawan, Pendiri CWI (Creative Writing Institute) bersama Ahmadun Yosi Herfanda dan Maman S. Mahayana, Deklarator Memo Indonesia bersama M Fadjroel Rachman, Mariana Amiruddin dan Rocky Gerung,

Novel LANANG karya Yonathan Rahardjo: Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006

Maulana Achmad: Penyair, Antologi Puisinya bersama Inez Dikara dan Dedy Tri Riyadi "SEPASANG SEPATU SENDIRI DALAM HUJAN" Nominator Pemenang KLA (Khatulistiwa Literary Award) 2007




#28 From: Alin SP <alinsp2003@...>
Date: Fri Nov 14, 2008 2:23 am
Subject: Hudan: LANANG - PUNCAK NOVEL INDONESIA, Kejatuhan dan Kebangkitan Manusia
alinsp2003
Send Email Send Email
 


Makalah HUDAN MENAFSIR LANANG Percakapan Kreatif Bersama HUDAN HIDAYAT Berdasar Pembacaan Novel LANANG Karya Yonathan Rahardjo Penerbit Pustaka Alvabet Kamis/ 13 Nopember 2008 Pukul 19.00- selesai di NEWSEUM CAFE Jl Veteran I/ 33 Jakarta Pusat Lokasi dekat Stasiun Juanda, Masjid Istiqlal, MONAS Telepon 021-344-6703 Suasana diperkuat Maulana Achmad dengan Pembacaan Cuplikan Novel LANANG


Hudan Hidayat[1]:

 

lanang[2] - puncak novel indonesia, kejatuhan dan kebangkitan manusia

 

 

 

lanang dan puncak puncak novel indonesia

- untuk bla dan gieb

 

 

dunia kepastian

 

kehidupan selalu menarik untuk direnungkan kembali. Seorang ilmuwan mengamati gejala dalam dunia. Gejala yang berulang, dalam ruang dan dalam waktu. Ia membuat representasi kenyataan akan dunia, membentukkannya ke dalam sains. Sains, menjadi bentuk dari dunia yang ditemukan polanya. Ia menjadi hukum yang berlaku pada kenyataan dunia. Hukum di mana ilmuwan membuat klaim akan kepastian. Bahwa dunia stabil dalam pola. Tetap dalam bentuknya.

 

Dalam bentuk dunia seperti itu, bentuk sains, keindahan juga melekat sebagai sesuatu yang terberi. Keindahan bentuk sains bagi mereka yang mencoba merenungkan kembali. Kita bisa melihat lapisan lapisan yang nampak, atau mengimajinasikan lapisan lapisan terjauh, di mana kita telah kehilangan kontrol indera atasnya. Alat bantu, yang adalah hasil sains, menautkan imajinasi kita akan dunia yang tak terindra itu.

Dunia nampak indah – dunia yang berputar seolah mesin raksasa yang berputar.

 

Seseorang bisa tampil dengan imajinasi: memberantakkan pola yang melekat dalam dunia sebagai hukum, ke dalam kehendak pencampuran, atau pembalikan hukum. Apa jadinya kalau hukum bumi mengitari matahari diputar, ke dalam bumi mengitari galaksi bima sakti? Atau dunia yang mengitari berjuta juta galaksi. Waktu setahun berantakan, terentang tak terhingga. Semua berubah, dengan tingkat kemungkinannya yang tak terduga. Apa jadinya kalau semua itu bisa diangkut sains ke dalam laboratorium, dan kita melihat tahapan tahapannya dalam laboratorium, di mana semua unsur unsur yang dibalik bekerja. Keindahan sains kini ada dalam pandangan mata.

 

Tapi imajinasi seperti ini, mengalami tingkat kesukaran ganda. Pertama, apakah tenaga yang menggerakkan sehingga bumi berputar? Jelas dia adalah bagian dari hukum yang melekat dalam alam – bumi – sebagai sesuatu yang terberi. Tapi bagaimana menangkapnya? Membuatnya terperangkap ke dalam kanal, sehingga bisa diolah untuk kemungkinan lain – semisal menggerakkan bumi mengitari bima sakti, atau seluruh galaksi. Bukan semata mengitari matahari.

 

Kesukaran kedua, mungkinkah tenaga yang menggerakkan bumi bisa ditangkap atau ditatap? Diangkut ke dalam lab, sebagai sesuatu, untuk diberi fungsi lain? Kita bisa menyaksikan sinar matahari yang merambat ke bumi. Merasakan getar panasnya. Gabriel bahkan telah membuatnya, atau membentuknya, ke dalam fiksi. Sebuah kemungkinan dari panas matahari yang dipantulkan melalui kaca, telah membuat sang pemimpi gila terbakar hampir seluruh tubuhnya.

 

Itulah adegan awal dari novel seratus tahun kesunyian. Di mana hukum dunia dicoba dimainkan ke dalam fiksi. Tapi tenaga bumi? Sebuah energi yang tak nampak tapi telah dengan pasti membuat bumi kita berputar, adakah sains yang diangankan mengandung kepastian, bisa menangkapnya? Adakah kepastian sebagai sesuatu yang telah tertangkap itu, sekali lagi, bisa kita tatap tahapan tahapannya di dalam laboratorium. sebagai keindahan sains, yang bisa dikenali orang awan di dalam laboratorium.

 

Bahwa itu belum terjadi, atau mungkin tidak akan terjadi, adalah beban yang disandang oleh manusia, kaum ilmuwan yang mendeklarasikan sains, sebagai dunia kepastian. Sebagai bentuk kerja mental manusia yang menguakkan misteri dunia, sehingga dunia tak bermisteri lagi. Dunia yang kehilangan misteri lagi, oleh sebagian ilmuwan, telah membuat mereka menggeser pandangan tentang tuhan, yang melekatkan kuasanya kepada hukum pada dunia.

 

 

dunia yang diberantakkan

 

lanang telah memberantakkan keindahan semacam itu – keindahan alami dari alam alami – keindahan organ organ mahluk hidup menjalankan fungsinya. Sains, kata ilmuwan, adalah kepastian atas dunia ciptaannya. Tapi kepastian tuhan tetaplah memiliki peluang untuk daya tawar.

 

Atau hendak kita katakan: kepastian itu berbeda pada dua dunia: dunia alam fisik dan dunia alam mahluk hidup? nyaris tak terbayangkan menggeser hukum tuhan tentang bumi yang mengitari matahari, ke dalam sebuah pergerakan bumi mengitari galaksi bimasakti, atau berjuta juta galaksi. Sementara di dalam dunia mahluk hidup, sains telah melakukan pembalikkan atas hukum alam, seperti yang kita saksikan dalam novel lanang. Atau hukum pada alam fisik pun sesuatu yang mungkin diubah?

 

Kalau demikian halnya, maka hanya soal waktu belaka akan tampilnya seorang dewi lain? - dewi di bidang seni novel antariksa? Di mana tatanan astronomi menjadi kacau, sebagaimana tatanan genetika manusia menjadi kacau?

 

Novel Supernova, belum mencapai taraf imajinasi fsti esai ini. Baru merangkak pada ketakjuban akan dunia yang dilihat oleh tokoh tokohnya.

 

Semacam proses kanibal dalam mesin. sebuah piranti dicopot, untuk digabung ke dalam tubuh induk. Hasilnya bukan pola induk lagi. Tapi pola induk yang sudah bercampur dengan kemungkinan fungsi yang berdampak lain.

inilah yang terjadi dan memenuhi sekujur tubuh novel lanang. Di sana, sains diangkut ke dalam fiksi – ke dalam seni novel. Hasilnya adalah burung babi hutan di awal novel, ragam mahluk transgenik sebagai hasil biotek di ujung novel. Oleh sang novelis yang kehadirannya menakjubkan itu, seperti yang ditulis oleh prof. bambang sugiharto. Sayang, statemen bambang ini tak kita lihat elaborasinya. Pernyataan yang membuatnya setali tiga uang dengan prof. sapardi, yang pernah berkata bahwa sebuah novel belum pernah dicoba komposisinya di negeri ini, bahkan di dunia lain pun. Tapi hingga saat ini kita tidak pernah mendapatkan argument pendukungnya.

 

rekayasa genetika, sebagai bentuk sains mutakhir terhadap gejala mahluk hidup, sangat mungkin menerobos imajinasi, mendarat ke dalam bentuk nyatanya. jonathan telah mengantarkan sains itu ke dalam sastra. Ke dalam bentuk seni novel. Tapi, dapatkah sastra indonesia berkata, bahwa ia telah memiliki seni yang mengangkut sains ke dalam tubuhnya?

 

di awal telah saya tegaskan, bahwa keindahan datang dari pola alam yang terberi, yang melompat ke dalam bentuk barunya,  yakni keindahan sains tentang alam fisik yang bisa kita tatap tahapan tahapannya di dalam kerja laboratorium, maka pertanyaan yang sama bisa kita ajukan kepada bentuk sains yang lain. Yakni sains tentang tentang genetika mahluk dalam novel lanang. Adakah keindahan kita temukan juga di sini? Apakah keindahan yang kita temukan itu telah indah pula dalam bentuknya yang lain, yakni bentuk sastra. Dengan lain perkataan, berhasilkah jonathan membentuk sains ke dalam novelnya? berhasilkah penulis gila dan amat istimewa ini mewujudkan proyek ambisiusnya tentang manusia?

 

 

sains dan keindahan dalam lanang

 

Kalau saya berbicara tentang keindahan, maka saya berbicara tentang sebuah struktur, tentang nuansa nuansa di dalam struktur, tentang pembelokannya dan penyatuannya. tentang proses berjalannya unsur unsur di dalam struktur. Tatanan yang secara persepsi nampak bekerja secara serasi, itulah struktur. Persepsi yang mendatangkan kenikmatan indera memaknainya. Tapi sekaligus dengan itu, saya berbicara juga tentang kekacuan sebagai gejala keindahan. Konon, hukum kedua termodinamika, mengabarkan kekacauan ini, sebagai hukum yang melekat pada semesta. Di mana semesta bergerak maju melalui dan menuju kekacauan. Dalam perspektif hukum ini, dunia mahluk hidup sebagai bagian dari semesta, maka bisalah disebutkan kehendak jonathan untuk memberantakkan mekanisme organ dalam tubuh, adalah di dalam visi kekacauan hukum kedua termodinamika. sesuatu yang nampak kacau, nampak indah dalam persepsi saya. Karena dengan kekacuan itu, terbuka daerah daerah kemungkinan kreatif

 yang bisa dimaknai.

 

Begitulah sains yang hendak memporandakan struktur alami, akan mendatangkan keindahan di hati. Sebagai sebuah motif, dengan elemen elemen pendukung motif, yang dalam kasus novel sebagai karya seni, seni novel, maka elemen elemen pendukung novel. Sejauh manakah unsur unsur novel di dalam novel lanang mendukung motif sang pengarang, untuk mengubah pola alami dalam tubuh mahluk hidup.

 

Plot dalam alur, alur yang meniti dalam plot, plot kejadian peristiwa atau plot kejadian pikiran, mengisahkan repetisi terhadap kisah genetika. Menjadi plot dan alur yang repetitif. Maka sekujur novel dipenuhi oleh suara suara tentang rekayasa genetika,  dengan akibat awal sapi yang mati karena wabah yang disebar. Warna dasar novel muncul timbul tenggelam ke dalam tokoh dan waktu, yang juga timbul tenggelam. Novel bergerak seolah karikatur sebuah negeri. Di mana hal ihwal tak gampang dikuakkan - semua nampak mengambang. Memendek atau memanjang. Di mana rasio berpadu dengan unrasio. keagungan berbalut dengan kebusukan. Dibayang bayangi kuatnya peran narator dalam novel, narator yang sepintas tak cukup demokratis kepada kebebasan tokoh, elemen elemen novel bergerak maju mendorong novel.

 

Dalam repetisi seperti itu, pembaca mungkin berpikir untuk membuang bagian bagian novel yang tidak penting, bagian bagian yang bisa dihilangkan tanpa mengurangi maksud novel. Atau, mengintensifkan bagian bagian semacam itu, sebagai penguat novel. Tapi saya memperlakukannya sebagai gejala dunia yang saling komplemen. Serupa ranting kecil yang tumbuh di sebuah batang yang rindang. Dengan ranting seperti itu, maka satu satunya ukuran, kalau pun hendak disebutkan ukuran, adalah dengan menyimak kedalamannya – kedalaman makna yang dikandung ranting. Bukan menyibak semata arti kehadirannya, dalam konteks pohon yang besar – novel lanang.

 

Apa yang khas pada lanang adalah, peristiwa sering terjadi tanpa deskripsi. Ide seolah lepas dari tubuh – tubuh novel.

 

Apakah artinya seorang anak peternak sapi yang meratapi sapinya yang mati? Anak yang tak nampak dalam penceritaan, tiba tiba menyeruak sebagai peratap sapi yang mati. Inilah tokoh yang datang mendadak. tekanan material tangis dan kesedihan di sana masih ada, tapi tangis dan ratapan di sana terasa kehilangan timbangan maknanya.

 

Dengan cara yang sama, hal ini bisa kita lihat dalam sebuah momen yang diturunkan jonathan sehalaman penuh, tentang seorang peternak yang meratapi sapinya yang mati. juga  mereka yang ramai bicara tentang sebab sebab bencana, dalam selang seling pendapat yang hanya ide, tanpa deskripsi dan tanpa tahu siapa mereka yang bicara.

 

Semua itu membuat novel menjadi bising ide, tapi kehilangan sentuhan untuk mendiskripsikan manusia ke dalam gerak fisiknya, yang bisa kita maknai manusia yang bergerak dalam realitas sehari-hari. Di mana sebuah kesedihan, adalah kesedihan yang bisa kita ikut rasakan vibrasi rasanya. Di mana sebuah kekalutan, adalah kekalutan yang bisa pula kita rasakan debar paniknya.

 

Tapi harus segera kita katakan, bahwa lanang memuat sekaligus bising ide dan deskripsi peristiwa dan pikiran, yang membuat pembaca terhenyak. Di mana peristiwa yang digambarkan benar benar mendebarkan. Seakan campuran dunia nyata dan dunia mimpi yang tak mungkin terjadi. Tapi ia hadir sebagai pemandangan realis di dalam novel. Lihatlah bagaimana mencengkamnya kejadian burung babi hutan yang kasmaran di depan suami istri yang sedang di puncaknya: bermain burung. Lihatlah bagaimana jonathan menghadirkan ide ini dengan mendadak di tengah permaianan burung yang sedang berlangsung.

 

Kejadian yang dilukiskan jonathan ini, dengan skala kemungkinan rekayasa genetika pada tema utama novel, adalah sebuah tamparan yang keras bagi pendukung uu pornografi. segera terbukti, bahwa deskripsi persetubuhan yang dilarang dalam uu itu, menemukan bentuk, atau sebuah hal yang niscaya, dalam novel lanang. Ia bukanlah tempelan belaka, mengejar sensasi kehadapan publik tentang hubungan terlarang tapi hendak diungkapkan. Tapi adalah bagian utama yang mendukung misteri novel: rekayasa genetika yang berbuntut kehadiran burung babi hutan, dengan sikap sikap misterinya.

 

Pelukisan hadirnya sesuatu yang buas di tengah kekusyukan hubungan suami istri itu pun, adalah teror yang begitu sempurna dihadirkan seorang pengarang sastra, kepada kehidupan manusia. Seolah kejadian itu ingin mengejek kefitrian hubungan suami istri, hubungan yang akan membuahkan kelangsungan kemanusian. Teror bagi isyarat bahwa kemanusiaan, seolah akan berhenti di dalam novel. Maka dua dunia, yang memang selalu hadir di dalam kehidupan manusia, dunia penuh kemanusiaan yang dilambangkan dengan persetubuhan suami istri, dunia alam binatang yang mendapatkan wujudnya melalui burung babi hutan yang kasmaran, tapi dengan sikap seolah manusia yang mengancam. Atau dunia regulasi kaum politik, yang seolah hendak memberikan napas segar bagi kehidupan, tapi pada saat yang sama, hadir pula dunia pemangsa yang disandang oleh sang regulator itu sendiri.

 

Dalam pelukisan ini, sering novel seolah kehilangan hubungan sebab dan akibat dalam tatanannya. Bersamar dengan kekaburan atau kecanggihan memainkan bahasa, yang terbaca sebagai bahasa yang sengaja menutup motif, sehingga motif masuk ke dalam sebuah misteri yang hendak dijadikan payung oleh novel. Puteri, yang dilukiskan sebagai istri yang menyayang suami dan lanang pun, sebagai suami yang menyayang istri. Itulah tangkapan awalnya, sebelum kita diajak masuk ke dalam alur yang berkembang dan plot novel yang berputar timbul tenggelam – seakan jonathan ingin menyampaikan kisah novel secara serempak, seakan tenaga penceritaan begitu berlapis saling menekan sehingga ia mendesak dan menyelinap ke dalam alur ke dalam plot menjadi peristiwa, menjadi renungan, dan membelokkan novel dari arahnya semula, ke arah yang tak terduga. Begitulah kita bisa menimbang puteri, yang pada kehadiran burung babi hutan demikian dicengkam rasa takut, tapi pada kehadirannya yang

 lain, kita sudah dibawa pengarang kepada rasa takut yang dimainkan secara bahasa. Sehingga kita kehilangan jejak atas tokohnya: bagaimana dari rasa takut menjadi dia yang mengalami persetubuhan dengan sang “babi”.

 

Novel menguakkan ini melalui pernyataan dewi, bahwa sang puteri, atau rajikun, atau dewi sendiri, sebenarnya saling berkorelasi dengan lanang dalam hubungan dengan rangkaian dendam yang datang dari masa lalu.

Repetisi itu, menemukan juga bentuk keindahannya yang lain dalam sains, bukan pada semata hasil yang dipandang sebagai wabah – burung babi hutan dengan segala efeknya. Tapi pada makna rekayasa genetika dalam novel. Sehingga novel lanang meraih inti: bahwa ilmu, dengan bumbu penyadap tahyul, adalah bisa mengubah hakekat manusia yang terberi pada tempatnya. Dengan kombinasi pengamatan pada materi, sel, kimia, dipandu dengan kecanggihan ilmu komputer, maka esensi manusia nampaknya bisa diubah – baik bentuk tubuh, maupun isi kesadarannya.

 

Sekujur tubuh novel lanang, dipenuhi oleh tema ini: gen mahluk hidup yang bisa diubah, atau, tepatnya: yang hendak diubah.

 

Tapi haruslah dikatakan, sains pada novel lanang, tampil bukan dalam bentuk kerjanya yang nyata, tapi dalam wujud berupa statemen. Sepanjang pengembaraan novel ini, yang kita saksikan adalah logika sains tentang berpindahnya gen, bukanlah pengamatan yang mendetilkan tentang mutasi gen di bawah miksoskop. Dan alangkah mendebarkannya, seandainya proses gen yang berubah dengan dicangkok, di dalam pengelihatan mikroskop, terlihat dalam mata kita melalui tahapan tahapan detilnya dalam novel. Kemungkinan inilah yang bisa meneruskan halaman halaman awal seratus tahun kesunyian, ke dalam tubuh dan semangat sekujur novel lanang: kehendak untuk mengubah gen mahluk.

 

Kita ingin tahu apakah benar mutasi gen yang diprovokasi ke dalam tema utama memang terjadi di alam nyata. Apakah ada ciptaan serupa itu.

 

Achmad maulana, meyakini yang dilakukan manusia bukanlah penciptaan. Sebab fungsi ini hanya dimiliki oleh tuhan. Manusia tidak bisa mencipta dari sesuatu yang tidak ada. Dia hanya bisa mencipta dari apa yang sudah ada. Tapi rayni membantahnya. Bahwa membuat dari yang sudah ada juga adalah mencipta. Dan gen, adalah sesuatu yang sudah tersedia, terberi di setiap mahluk hidup.

 

Kita lepaskan polemik tentang arti penciptaan di milis apresiasi sastra itu, masuk ke dalam rekayasa genetika. Bahwa gen bisa dimutasi. Kalau demikian halnya, maka terbuka kemungkinan untuk sebuah perpindahan gen baik secara rekayasa atau secara alami. Ini akan membenarkan, atau setidaknya memberikan jalan, bagi hidupnya kemungkinan terori Darwin, tentang asal usul manusia kini, dari species yang amat sederhana – sesuatu yang, konon, telah ditolak: tak mungkin ada perpindahan gen serupa itu.

 

Maka dengan dua belahan semacam itu, menjadi sangat mendebarkan kehadiran jonathan dengan rekayasa genetika dalam seni, seni novel. Dengan berdebar pembaca ingin mengetahui tiap detilnya perpindahan gen, ke dalam atau di bawah pengamatan kerja laboratorium yang bisa kita tatap bersama tahapan tahapannya. Tahapan yang mengandung asumsi, dasar pemikirannya yang telah terceritakan dalam novel lanang. Sehingga pembaca novel lanang bisa ikut memasuki alur pemikiran gen dalam tahapan kerjanyanya. Bukan dalam bentuk statemennya.

 

Tapi lanang tidak melakukan itu. Dengan begitu pembaca hanya disuguhi tentang sebuah hal yang seolah telah terjadi, kehilangan kesempatan untuk mengikuti tahapan tahapan mutasi gen. dengan demikian gagalkah novel jonathan sebagai seni yang membawa sains ke dalam fiksi? Tidak. Justru jonathan sangat fenomenal sebagai sastrawan yang mengankut sains ke dalam seni novel. Tapi pada tahapan pernyataan sains alias statemen sains. Maka, kalau hendak dirujukkan kepada keindahan, keindahan datang bukan dari diterapkannya sains ke dalam peristiwa yang bisa diamati tahapan tahapannya, tapi pada telah dilakukannya statemen sains pada peristiwa peristiwa yang membuat plot dan alur novel lanang berjalan.

 

Dengarlah kata dewi sambil menunjuk kepada sosok sapi yang lucu:

 

Gensa, kau lahir sebagai rekayasa gen manusia yang disuntikkan ke dalam sel telur sapi, ditumbuhkan dalam tabung percobaan sampai menjadi emribo yang selanjutnya dicangkokkan ke dalam rahim indukmu, dibiarkan berkembang.

Dan kau frida, kau domba betina yang berasal dari sel ambing atau kelenjar susu domba dewasa berumur enam tahun.

 

apa yang disuarakan dewi adalah statemen sains, bukan sains yang bekerja setapak setapak di bawah uji laboratorium, di bawah mikroskop.

 

Bahkan lanang sekalipun, yang di akhir novel nampak menemukan nasibnya yang sangat mengenaskan, adalah juga statemen sains. Lanang yang ginjal dan hatinya telah ditukar dengan ginjal dan hati burung babi hutan.

 

Dengan mengatakan sains sebagai statemen, bukan sebagai liku yang didetilkan ke dalam sebuah proses, bukanlah maksud saya hendak mengurangi nilai kedahsyatan novel ini. Saya beranggapan, sekalipun dalam tingkatan statemen, novel lanang telah sangat berhasil memprovokasi tema yang dibawanya. Yakni visi tentang esensi manusia bisa diubah, seandainya hukumnya ditemukan. Rekayasa genetika, sangat mungkin bisa diterobos ke dalam dunia nyata, bukan fiksi lagi.

 

Novel pun mengakui bahwa upaya mengubah ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Sekalipun telah terjadi pergerakan genetika, rekayasa gen itu telah menyisakan efek samping, sementara hasil maksimal perpaduan belum menampakkan hasil yang maksimal. Banyak ekses mutasi gen ini, kata dewi. Tapi optimisme tentang esensi manusia yang hendak diangkankan lebih sempurna, bisa terus diupayakan dengan kemajuan sains biotek.

 

Pada keberhasilannya memprovokasi tema rekayasa genetika, adalah letaknya keindahan novel lanang. Bahwa manusia, walau penuh kontroversi dalam pandangan nilai moral formal, memiliki daya untuk menawar kehidupan yang seolah tak bisa diubah. sekali hukum ditemukan, maka pola untuk mengubah esensi manusia, menjadi wilayah yang terbuka.

 

Menjadi pertanyaan penting di dalam sains: adakah hukum dalam terbentuknya nyawa itu? apakah dengan menemukan polanya, maka manusia pun bisa membuat nyawa?

 

 

Lanang, puncak novel indonesia, kejatuhan dan kebangkitan manusia

 

Apa yang dibawa oleh novel lanang, yakni sains ke dalam sastra, memang bukanlah langkah pertama dalam pengertian sains. Kalau dunia computer bisa kita masukkan ke dalam alur sains, burung burung manyar pun telah melakukannya saat setadewa membongkar jaringan ekonomi global yang memanipulasi angka angka dalam dan saat berhubungan dengan pihak Indonesia. Manipulasi yang begitu rumit dan membutuhkan pengetahuan sains tingkat tinggi di bidang computer.

 

Tapi benar: tubuh novel burung manyar bukanlah bernapaskan sains.

 

Supernova pun telah membawa wawasan sains ke dalam alur ceritanya. Dengan intensitas yang terpecah kepada tokoh tokoh yang menyebar, wawasan sains yang dibawa supernova bisa dikatakan cukup intensif. Tetapi yang membedakan di sana: pada supernova sains tentang alam fisik itu, tepatnya astronomi, tampil sebagai diskusi yang manis yang tak berdampak apa pun. Sains di sana adalah sains yang normal. Bukan sains subersiv sebagaimana dalam dunia novel lanang.

 

Di lepaskan tema sains di sana, maka yang kita dapati pada supernova adalah kaum kelas menengah yang mapan dan terjebak dengan kesunyian hati masing-masing. Tak ada visi tentang kehidupan yang hendak mereka wujudkan. Dalam semacam tesis untuk tema dan isi novel, yang dipajang sebagai pintu masuk novel, supernova menegaskan semacam pendirian. Yakni: “hanya ada satu paradigma di sini: keutuhan. Bergerak untuk satu tujuan: menciptakan hidup yang lebih baik. Bagi kita. Bagi dunia.”

 

Tapi penegasan semacam itu tidak membuat novel bergerak ke suatu tujuan aksi, atau renungan utuh akan dunia yang lebih baik. Tokoh tokoh novel berakhir dengan ringan, semacam ending dari film film yang bahagia, di mana persoalan atau lanskap laku hanyalah seolah jalan untuk melapangkan kebahagiaan semacam itu.

 

Begitulah tokoh ruben dan dhimas berakhir dengan manis. Dengan ucapan ucapan lembut kedua lelaki terhadap pasangannya. “Mereka lalu berpegangan tangan erat. Dua pria yang tak punya nama belakang di dalam sebuah kamar kerja. Saling mencintai.”

 

Tentu saja tiap novel bergerak dengan logika dan kisahnya sendiri. Adalah hak tiap pengarang menggarap wilayah kerjanya. Tapi kalau kita letakkan novel sebagai upaya memperkaya pengenalan kita kepada hakekat manusia, maka ideal novel adalah yang bisa menguakkan apa hakekat manusia itu. Apa manusia dan bagaimana hakekatnya, hanya bisa dilayani dengan geraknya pada tiap masalahnya. Ini berarti sang novelis harus menyiapkan semacam medan tempur untuk tiap tokoh novel. Sehingga dari medan tempur semacam itu sang tokoh, bisa mewujudkan dirinya siapa dia di dalam dunia. Sekaligus menguakkan apa dunia itu. medan tempur semacam itu hanya menjurus ke satu jurusan: manusia di tengah “masyarakatnya” dan “situasinya”. Dengan berada di tengah masyarakat dan situasinya, dia bisa mendudukkan diri sebagai manusia aksi, atau manusia yang menyiapkan renungan terhadap gerak dan hakekat hidup.

 

Sejak layar terkembang, siti nurbaya, belenggu, bumi manusia, Ziarah, telegeram,  burung manyar, olenka, sampai saman, untuk menyebut novel novel yang sering menjadi pembicaraan oleh pengamat pengamat sastra yang resmi itu, novel Indonesia selalu berpola dengan tipologi garis tegas antara tokoh baik dan tokoh buruk. Ada pertarungan dan kadang kadang si buruk memenangkan pertarungan – seperti kita lihat kolonialisme yang mengalahkan nyai ontosoroh dan mingke dalam bumi manusia. Atau bandul bergerak kepada tokoh yang baik serupa setadewa dalam burung manyar, Drummond dalam olenka, mereka yang mewarisi spirit orang baik atau tokoh yang baik yang telah dimulai oleh layar terkembang, akan menang di akhir pertarungan. Begitulah tipologi tokoh dalam sastra Indonesia mutakhir, khususnya novel, adalah pemihakan kepada tokoh baik yang menang di dalam medan laganya.

 

Tapi dengan kehadiran lanang, tipologi tokoh semacam itu seolah runtuh: lanang tak menyisakan tokoh baik dalam dirinya. Lanang bukan saja menjadi novel pertama yang dengan intensitas kepada sekujur tubuh novel, mengangkut wawasan sains ke dalam tubuhnya, tapi sekaligus membawa perubahan pada tipologi tokoh dalam tradisi pernovelan. Yakni hancurnya anggapan atau pemilahan tokoh baik dan tokoh buruk. Ini adalah filsafat baru yang sangat berani dalam dunia pemikiran di negeri ini, yang dalam ranah idealnya menghendaki sebuah etik yang imperatif: bahwa manusia haruslah menjadi juru selamat masyarakat.

 

Begitulah anggapan terbenam. Tapi dibongkar oleh kerja novel lanang: kenyataan memperlihatkan sebagian wajah kita, kalau tidak seluruhnya. Manusia indonesia sakit, kata muhtar lubis. Tapi harus segera kita tambahkan: manusia dunia juga sakit. Betapa manusia ditelanjangi, dilucuti, dari anggapan anggapan baiknya oleh novel lanang. Kebaikana di sana menjadi sekaligus kebusukan di sana. Bahwa manusia mengandung unsur kejahanaman dan kejahanaman bisa saja menang melawan hakekat dari keping manusia yang lain – keagungan.

 

Dalam arus dunia itu, lanang nampak memilih sisi apa yang telah dikatakan tuhan itu sendiri: kelak kalian akan berbunuhan satu sama lain. Kebusukan, lawan dari keagungan, yang diterminologikan oleh kitab itu sebagai berbunuhan satu sama lain, adalah salah satu wajah dunia yang dipilih sepenuhnya oleh novel lanang. Maka pada lintasan ini, kita bisa berkata bahwa lanang telah menyalib novel novel pendahulu mereka.

 

Sangat mungkin kutipan dari sebuah kitab akan ditolak oleh pembaca. Tapi kalau diletakkan betapa relatifnya dunia, juga dunia sains yang kehilangan kepastian kalau ruang dan waktu ditempatkan secara lain, katakanlah ruang dan waktu di matahari, maka semua bahan yang terbaca bisa menjadi bahan untuk suatu telaah yang menyeluruh. Anggaplah kitab itu sebagai sebuah teks sains social, yang kedudukannya sama dengan pemikiri pemikir social yang sering menjadi kutipan dalam perbincangan di dunia humaniora. Maka dengan jalan seperti itu, kita mendapatkan suatu justifikasi dari pilihan wajah kebusukan dalam novel lanang. Novel mendapat sandaran filosofisnya yang, mungkin, tidak disadari oleh sang penulisnya sendiri.

 

Novel yang disampaikan dengan pendekatan thriller ini, menempatkan manusia dalam posisi yang penuh dengan kontradiksi. Dan sikap atau ideologi yang dipilih serupa itu, membuat lanang tak memiliki jalan keluar dari krisis kemanusiaan – kalau pun krisis kemanusiaan itu memang ada (pemanasan global, politik yang terus menampakkan wajah unhumanis). Malahan membawa kepada krisis kemanusiaan yang baru: hancurnya manusia dan bangkitnya iblis berupa manusia dengan kehendak merekayasa mahluk. kebangkitan manusia dengan mengandalkan otaknya, adalah sekaligus kejatuhannya sebagai mahluk yang ingin membangun peradaban. Pernyataan baik dan buruk yang berselang seling melalui tokoh lanang dan kepala koperasi misalnya, hanyalah semacam wacana untuk meledaknya sifat sifat jahat pada manusia. Mewujud sikap baik manusia ke dalam kehendak untuk melihat perbaikan masyarakat, tapi serentak dengan itu ia tertelan dengan kejahatan dalam dunia seksual dan kehendak untuk

 memasuki dunia dagang. Dunia penjualan obat obatan.

 

Pada titik ini, novel sungguh adalah dunia kejatuhan manusia yang sempurna. Segenap kontradiksi bemain di sini. Kontradiksi yang dimulai dari dan menghidupi tokoh tokoh novel. Jadi bukan hanya tuhan telah mati tapi manusia baik pun telah mati. Juga dewi dan “zhang ziyi” telah mati. Semua tokoh tokoh novel membawa masa lalunya yang kelam, dan dalam satu arti, gerak novel datang dari motif masa lalu itu. Dengan penceritaan yang berselang seling realis ke surealis, novel nampak seolah dunia mimpi yang menyeramkan. Mimpi panjang dari derita hidup pelaku pelakunya, yang hidup dengan motif membalas dendam. Lihatlah tokoh tokoh novel bergerak dan menguakkan masa lalu itu, lalu terjerembab ke dalam napsu hendak membalas.

 

Di sini, bisa kita katakan novel memperlihatkan keunggulannya. Nampak betapa tokoh tokoh seolah konsisten mengejar kemajuan dalam versinya sendiri. Tapi kemajuan yang sekaligus kejatuhannya. Dewi hendak membangun dunia baru tapi dunia baru itu penuh dengan mahluk hidup yang dikorbankan. Ambisi ini membuatnya menjadi tokoh yang telah kehilangan nurani sebagai manusia. Lanang adalah dokter hewan yang idealis tapi kemudian terjerembab ke dalam kejatuhannya sendiri. Rajikun adalah tipologi tokoh yang bermain dalam wilayah agama dan lalu tersesat, untuk kemudian membalas dengan cara lain. Juga puteri istri lanang.

 

Begitulah kita tak menemukan manusia baik di novel ini. Semua nampak mengerikan. Satu satunya manusia baik adalah peternak sapi pak sukarya. Tapi toh kita tidak tahu apa yang terjadi pada malam malamnya. Dan ada yang membuat saya berpikir, bahwa novel penuh dengan misteri ini, diakhir novel malah menguraikan kejahatannya sendiri. Kejahatan diakui. Bukan dipaksa untuk diakui oleh varian di luarnya, atau oleh sang narator dalam novel. Tapi oleh tokohnya sendiri yakni dewi. Tokoh yang maha perkasa. Iblis betina yang menjadi pemain inti dari segenap kekacauan.

 

Apa yang menarik adalah: seolah novel adalah cerminan, atau simulasi, dari dunia pembalasan oleh dunia sana kelak. Di mana anggota tubuh bicara sendiri tentang lakunya di dunia. Dan itu terjadi ketika dewi menjelaskan segala misteri dan keanehan novel. Ia menguraikan satu demi satu apa yang telah dilakukannya, di dalam bayang bayang kehendak untuk meraih kemajuan, sekaligus kejatuhannya sebagai harga dari kemajuan yang hendak dicapai itu.

Nyaris tokoh bergerak tanpa timbangan kemanusiaan normal. Kalau pun ada suara semacam hati yang berdosa, dengan cepat dendam masa lalu serta kemajuan masa depan menutup jalan bagi tokoh tokohnya. Rasa bersalah dibenamkan oleh kehendak untuk berkuasa, dalam bentuknya yang paling dingin dengan mencabut hidup normal dari orang orang yang dikasihinya dan pernah dicintanya. Bahkan masih dicintanya.

 

Dengan semua ilustrasi itu, maka jelas lanang telah membawa visi baru tentang manusia yang diangkut ke dalam novel – sebuah visi yang menampakkan hakekat satu sisi manusia yang secara radikal. Yakni wilayah setan. pada lanang trace tokoh etik telah diakhiri. Dia bergerak dan mulai mengibarikan jejak baru pada kenyataan manusia. Apa yang dikerjakan lanang serupa dengan sebuah novel yang menyorot sisi baik dan sisi buruk ke dalam alam bintang dari tingkah laku manusia, yang berselang seling pada dirinya dan pada orang lain. Novel tentang kekosongan. Dari hidup yang kosong dan dari tuhan yang kosong. Dalam kehadirannya dengan ciptaannya. Kosong dari ketiadatahuan kita tentang sebuah kepastian yang hanya miliknya semata.

 

Melayari alur filsafat semacam itu, lanang kadang serupa hendak membalik arah lagi melalui naratornya – seakan ada kilas kehendak untuk berbuat baik atau menghujamkan nilai nilai baik kepada manusia, yang hendaklah berlaku terhadap tokoh yang sedang diceritakan oleh narator. Tapi tampaknya narator pun akhirnya menyerah dengan desakan desakan dari sang tokoh sendiri, yang memang meledak ke dalam sifat sifat kebinatangan yang tak tertahankan. Kehendaknya untuk totaliter akhirnya tak berdaya dengan tokoh yang menempuh jalan alam kebinatangannya sendiri.

 

Tapi dengan begitu lanang jadi bercahaya. Novel menampakkan salah satu sifat yang melekat pada manusia tanpa ragu. Tuntas mengelaborasinya ke dalam wilayah kerja yang digelutinya: rekayasa genetika. Kehendak untuk menyambut dan melawan takdir tuhan atas manusia. Ia menjadi tantangan untuk membuka wilayah kemungkinan baru. Mungkin ia menjadi binatang. Tapi siapa tahu suatu saat ia malah berbalik menjadi tuhan.

 

(hudan hidayat)



[1] Hudan Hidayat: Sastrawan, Pendiri CWI (Creative Writing Institute) bersama Ahmadun Yosi Herfanda dan Maman S. Mahayana, Deklarator Memo Indonesia bersama M Fadjroel Rachman, Mariana Amiruddin dan Rocky Gerung,

 

[2] Novel LANANG karya Yonathan Rahardjo: Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006

 

 



#29 From: "smartaadgirl" <smartaadgirl@...>
Date: Sun Nov 23, 2008 5:22 pm
Subject: I have added you to my friends network today!
smartaadgirl
Send Email Send Email
 
I created this cool friends network and added you to my friends network. Hit-up
now:
http://snookums.zoomshare.com/files/girlfriend.htm

#30 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Mon Nov 24, 2008 3:02 am
Subject: Empat Buku Tari Irawati
wartax
Send Email Send Email
 
Empat Buku Tari Irawati
---Anwar Holid


Salah satu keuntungan paling langka menjadi editor ialah ia berkesempatan
mendapat manfaat dari teks yang disianginya. Ia bisa berjumpa dengan khazanah
ilmu yang kadang-kadang awalnya begitu asing dan terasa jauh, sampai akhirnya
dekat dan akrab, karena mendapat ilmu itu langsung dari ahlinya. Boleh jadi
itulah kesempatan istimewa editor dibandingkan profesi lain: ia berkesempatan
menelisik berbagai khazanah ilmu sambil mengurus teks tersebut agar lebih hidup
dan mempesona.

Ranah baru yang saya gumuli baru-baru ini ialah tari klasik Sunda, karena saya
menyunting naskah biografi seorang tokoh tari Sunda, Irawati Durban Ardjo. Dari
mana mengukur bahwa dia benar-benar seorang tokoh? Keseriusan, konsistensi,
loyalitas pengabdian, kiprah, sumbangsih, termasuk reputasi, merupakan alasan
kuat yang membuat sejumlah orang sepakat menyatakan bahwa beliau memang tokoh
tari Sunda. Lebih istimewa lagi, Irawati telah menulis empat buku tentang
dasar-dasar gerakan, sejarah, perkembangan, dan bunga rampai jenis tari di Jawa
Barat.

Kira-kira pada paro terakhir 2007, seorang teman memberi tahu bahwa Irawati
butuh editor untuk naskah biografinya yang ditulis oleh Ahda Imran dan Miftahul
Malik---waktu itu penulisannya belum selesai. Teman saya ingin juga jadi editor
naskah itu, tapi kesibukan dan jarak membuat dia menawari agar saya mengambil
peluang tersebut. Melamarlah saya, dan akhirnya diterima. Sejak itu
perlahan-lahan saya mengetahui reputasi beliau, bukan hanya sebagai penari,
melainkan juga pegiat tari Sunda yang lengkap. Di kalangan pecinta seni, Irawati
terkemuka lantaran menjadi penari Istana Negara sejak 1959 (zaman Presiden
Soekarno) hingga terakhir tampil pada 2006 saat Presiden Amerika Serikat George
Bush, Jr. berkunjung ke Indonesia, dijamu di Istana Bogor, meski kehadirannya
ditentang besar-besaran oleh sebagian kalangan.

Ketika kelas 1 SD, suatu hari Ira memperhatikan kakaknya yang diajari menari
oleh kakak ipar untuk persiapan pesta kenaikan kelas. Setelah sebentar
memperhatikan, segera ia mampu menirukan gerakan mereka. Bakat tari itu diasah
dan ditumbuhkan di BKI (Badan Kesenian Indonesia). Meski mula-mula dilarang
ibunya karena waktu itu citra perempuan penari Sunda ialah ronggeng penghibur
para menak, kemampuan dan kegigihan Ira mendapat perhatian dan dukungan yang
begitu besar dari dua guru utamanya, yaitu Tb. Oemay Martakusuma, Rd. Tjetje
Somantri.

Disiplin BKI mengantarkannya berkali-kali menjadi duta kesenian Indonesia sejak
remaja, memperkenalkan tari dan kesenian Indonesia. Sejak itu Ira tahu bahwa
dirinya menyatu dengan tari Sunda, meski dia pun banyak menguasai tari jenis
lain. Kenyataannya, biar memiliki sejumlah kemampuan dan ketertarikan, misalnya
sebagai desainer interior dan melukis---ia sarjana dari Jurusan Seni Rupa
ITB---Ira kembali lagi dan lagi ke tari Sunda, seni yang sejak kecil
membesarkannya, memungkinkan ia meraih banyak pengalaman berharga. Seiring
kedewasaan, Ira pun terlibat dalam segala urusan tari. Selain menari, dia
menjadi pelatih, memproduksi, mendirikan sanggar, merancang kostum, sampai
mencari sponsor pertunjukan.

Sebagai ahli tari, ia meneliti dan mendokumentasi khazanah literaturnya yang
langka. Muaranya ialah ketika ia menjadi pengajar di Kori, hingga lembaga ini
kini menjadi STSI, sampai ia pensiun.

Menulis buku tari Sunda awalnya pun demi pengabdian dan keperluan pengajaran.
Selama menyusun dan mengumpulkan data, betapa nelangsa ia mendapati fakta bahwa
dokumentasi tentang riwayat guru-gurunya, BKI dan Rinenggasari (lembaga yang
paling awal membentuk etos dirinya sebagai penari), dan yang paling vital
catatan koreografi, tak tersisa satu pun di bekas sekretariat. Semua arsip
lenyap. Terpaksa Ira menuliskan lagi, melacaknya baik dari ingatannya dan para
senior. Yang paling sulit ialah mencatat lagi tari kurang populer yang jarang
dipentaskan. Ingatan dan penafsiran Ira memainkan peran penting untuk
merekonstruksi kembali.

Tangan Ira tak hanya meliuk di antara selendang dan bergerak sesuai musik.
Tangan itu pun cekatan menghasilkan buku. Telah empat buku ia lahirkan, yaitu
Tari Sunda 1880-1990, Melacak Jejak Tb. Oemay Martakusuma dan Rd. Tjetje
Somantri (1998, rev. 2007); Buku Kawit, Teknik Gerak dan Tari Dasar Sunda,
dilengkapi VCD dan kaset tari (2004); Tari Sunda 1940-1965, Rd. Tjetje Somantri
dan Kiprah BKI (2008); dan Album Semarak Tari di Tatar Sunda (2008).

Buku terakhirnya, berisi khazanah tari Jawa Barat, penuh ilustrasi dan warna,
dirancang kronologik dari awal abad ke-20 hingga tahun 2000-an. Ira sedang
mengupayakan buku itu terbit sesuai gagasan dan visinya. Karena berwarna dan
penuh detail desain grafis, ongkos produksinya jelas mahal. "Saya sedang mencari
sponsor untuk buku ini. Kalau tidak ya diterbitkan sendiri," tegasnya. Sebuah
penerbit besar pernah ia dekati, tapi gagal, karena menurut Ira opsinya terlalu
berat, yaitu ia harus menanggung biaya percetakan, sedangkan penerbit mengurus
distribusi.

Untuk mensyukuri kiprah lebih dari lima dasawarsa berkiprah di dunia tari, pada
Desember 2008 ini Irawati sedang menyiapkan acara "Lima Dasawarsa Irawati
Menari." Kalau bisa sekalian dengan peluncuran buku-bukunya. Sementara itu
pengabdian pada tari terus ia lanjutkan; Irawati keliling ke sejumlah kabupaten
di Jawa Barat untuk mengajari guru-guru kesenian SD hingga SMU menari tari Sunda
sebaik mungkin.[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai penulis,
editor, dan publisis freelance. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | (022) 2037348 | Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Pertama kali dipublikasi REPUBLIKA/Selisik, Minggu, 16 November 2008.
Situs terkait:
http://www.republika.co.id

#31 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Sun Nov 30, 2008 11:49 pm
Subject: Maryamah Karpov, Pamungkas Tetralogi Laskar Pelangi
wartax
Send Email Send Email
 
Maryamah Karpov, Pamungkas Tetralogi Laskar Pelangi
---------------------------------------------------
--Oleh Anwar Holid


Bentang Pustaka meluncurkan Maryamah Karpov, buku terakhir dari tetralogi Laskar
Pelangi karya Andrea Hirata dalam suasana amat meriah.

JAKARTA - "Andrea Hirata memang fenomenal ya?" kata Aendra H. Medita keras-keras
di dekat telinga saya, berusaha mengalahkan riuh suara ratusan orang yang
memadati halaman dalam MP Bookpoint. "Kok kamu ada di sini?" tanya saya. "Memang
nggak boleh?" tawa dia. Rupanya dia juga akan bertemu dengan Iman Soleh, aktor
monolog yang malam itu didaulat membawakan puisi legendaris "Jante Arkidam"
secara dramatik dan menukil mozaik dari novel terbaru Andrea Hirata.

Tadi siang saya melihat novel itu sedang dipasang besar-besaran di satu ruang MP
Bookpoint. "Baru datang tadi pagi mas," ujar seorang karyawan sambil
beres-beres. Ruang itu langsung penuh hanya oleh Maryamah Karpov ditambah tiga
novel Andrea yang lain. Buku lain disingkirkan. Hari itu, Jumat, 28/11/08,
adalah hari tetralogi Laskar Pelangi.

Meski hari pertama perjualan Maryamah Karpov belum resmi dilakukan, saya dengar
dari Gangsar Sukrisno, CEO Bentang Pustaka, bahwa di toko buku Gramedia
Citraland, novel itu dalam dua jam sudah terjual lebih dari 500 kopi. Di MP
Bookpoint banyak pengunjung tak tahan menunggu lebih lama lagi untuk membeli.
Sebagian orang telah membeli via toko buku online. Bentang menyediakan 100 ribu
kopi untuk cetakan pertama, boleh jadi itu merupakan rekor untuk cetakan pertama
di Indonesia.

Saya bertemu dengan Andrea Hirata di kantor Bentang, hanya beberapa rumah dari
MP Bookpoint. Dia sudah tiba di Jakarta sehari sebelumnya, sekalian nonton
konser jazz dengan keponakan-keponakannya, ditemani EO dan kuasa hukumnya. Saya
baru saja menerima satu kopi novel itu dari Gangsar, dengan ucapan, "Kamu harus
resensi buku ini ya." Di meja itu sudah menumpuk lebih dari 100 kopi Maryamah
Karpov untuk ditandatangani. Itu buku pesanan. Tangan Andrea terus sibuk menulis
nama satu per satu. Beberapa saat kemudian wartawan Koran Tempo mewawancarai.
Wawancara ini cukup intens karena belum ada media lain yang datang. Andrea
menyatakan tekad untuk sementara berhenti dari dunia perbukuan. "Untuk
sementara, tetralogi ini cukup," katanya. Dia ingin menyepi dan merenungi lagi
perjalanan karirnya sebagai penulis, pertemuan mengesankan dengan John Berendt,
keinginan menggali lebih serius genre yang disebut pihak Bentang sebagai
"cultural literary nonfiction." Juga
  upaya menghasilkan buku sekelas karya Truman Capote atau Amin Maalouf.

"Dalam batas tertentu, menulis butuh perenungan. Saya punya kapasitas nggak sih?
Saya mau menulis dengan benar. Apabila nggak mutu, jangan menulis," ucapnya
tegas. Sang wartawan berkali-kali berusaha meyakinkan apa benar Andrea mau
mundur dari dunia yang telah memberikan hal mengejutkan pada dirinya.

Tetralogi Laskar Pelangi adalah hip. Anak berusia 7 tahun hingga orang berumur
70 tahun membaca novel-novel itu. Ada anak SD yang terobsesi ingin bertemu
dengan Andrea setelah membaca ketiga novelnya kala terbaring sakit. Maryamah
Karpov, buku ke-4 seri itu, sudah ditunggu sejak dua tahun lalu, baru resmi
diumumkan penerbitannya pada September lalu, ketika Mizan mengadakan ulang tahun
ke-25, persis menjelang premiere film Laskar Pelangi. Andrea sendiri terus-terus
menjadi pemberitaan, termasuk muncul kontroversi pernikahannya pada awal
November ini.

Andrea mengaku berdarah-darah menyelesaikan novel ke-4 ini. Meski bila digabung
waktu penulisannya hanya sekitar satu bulan, jeda di antaranya cukup lama.
"Dalam beberapa hal, intensitas penulisan Maryamah Karpov mirip Laskar Pelangi,"
kata dia. "Saya juga ingin novel ini mendapat tanggapan seperti pembaca
menanggapi Laskar Pelangi. Saya seperti menulis Laskar Pelangi jilid dua."

Malam itu, Andrea mendapatkan yang diharapkannya. Ratusan orang hadir di MP
Bookpoint sampai membuat tempat itu sesak buat bergerak sedikitpun. Mereka
menunggu sejak sore, berjubel di setiap pojok. Mereka riang menyambut ajakan
menyanyi "Bunga Seroja" dan "Englishman in New York". Mereka terkesima oleh
penampilan Iman Soleh yang lucu, teatrikal dan menggelegar. Mereka terus
bersorak-sorai sampai akhirnya Andrea Hirata datang dalam kawalan polisi.
Apalagi Giring Nidji dan sejumlah pendukung film Laskar Pelangi ternyata mau
beramai-ramai menyanyikan theme song itu. Massa, terutama wartawan, tambah heboh
begitu ada pernyataan pers tentang status perkawinannya. Sebagian bertanya
dengan teriakan. Untung dia segera diselamatkan oleh acara tanda tangan, yang
berlangsung sangat padat. Baru kira-kira pukul 10 malam acara itu selesai. Saya
melihat display Maryamah Karpov sudah lenyap di ruangan MP Bookpoint, hanya
tersisa yang ada di dinding-dinding kacanya.

Putut Widjanarko, VP Operations Mizan Publika yang saya tahu rakus membaca,
sulit menyembuyikan pujian pada Maryamah Karpov. Dia telah melahap buku itu
sejak awal produksi. "Cara berceritanya luar biasa," kata dia penuh penekanan.
"Detail-detail suasana desanya mengingatkan saya pada novel Ahmad Tohari."

"Kamu pernah melihat peluncuran buku seperti ini?" tanya Gangsar pada saya
ketika hendak pulang. Saya tersenyum, membatin, "Setiap penulis punya hari
keberuntungannya." Ini launching paling heboh yang pernah saya saksikan.

Segera setelah ini akan muncul berbagai komentar atas novel 504 halaman itu,
baik di media massa atau Internet. Ribuan pembaca, terutama book blogger dan
pecandu buku, akan menuliskan kesan masing-masing, termasuk kritik, bahkan dari
kalangan yang mengaku sulit menyelesaikan oleh Laskar Pelangi. Tapi bagi Andrea
Hirata, tugas sudah dituntaskan. Jilid terakhir sudah dipersembahkan. Kini
tinggal dia melaksanakan rencana-rencana selanjutnya, termasuk menghilang
sementara.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid,
http://halamanganjil.blogspot.com

Informasi lebih banyak di:
http://www.mizan.com
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.sastrabelitong.multiply.com
http://www.renjanaorganizer.multiply.com
http://www.blueorangeimages.com (foto Andrea Hirata)

#32 From: "ggolsgs" <ggolsgs@...>
Date: Mon Dec 1, 2008 7:35 am
Subject: I want to meet you. Give me a chance!
ggolsgs
Send Email Send Email
 
I want to meet you. Give me a chance! Click here to chat with me online:
http://sjfxnbh.topcities.com/chat.htm

Messages 3 - 32 of 648   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help