(Guru Besar Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung,
Juri Lomba Novel DKJ 2006)
PEMBANDING:
Chris Poerba
(Peneliti, Pemerhati Konsep Hegemoni, Penerima Selo Soemardjan Award
2004/ Riset, Juara I National Geographic Indonesia 2007/ Paper)
Sahlul Fuad
(Peneliti, Pemerhati
Konsep Resistensi)
MODERATOR:
Endo Senggono
(Kepala Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin)
Lafalisasi Cuplikan Novel Lanang:
Badri A.Q.T
Senin, 30 Juni 2008
Pk.15.00 – selesai
Pusat Dokumentasi
Sastra H.B. Jassin
Taman
Ismail Marzuki
Jl.Cikini Raya 73 Jakarta
Pusat
Konfirmasi:
Endo Senggono,
08170787724
Alin SP Apriliani
0818819944, 081317969944
CUPLIKAN MAKALAH PARA PEMBICARA
Ignatius Bambang Sugiharto:
…
Tema lain yang sangat
menonjol tentu adalahihwal bisnis dunia
kesehatan dan industri obat. Novel ini mengeksplorasi dengan rinci, dan
seringkali sangat teknis, kait-mengaitberbagai instansi dalam jaringan penipuan yang teramat massif, termasuk
permainan politik dengan pemerintah.Demikian banyak siasat dilematis ditampilkan. Bagaimana misalnyazat-zat transgenik tertentu bisa memacu
produktivitasnamun sekaligus menimbulkan
kemungkinan penyakit. Dan itu justru disengaja, sebab kemudian perusahaanakan menjual obat penangkalnya. Semua hanya
demi mata-rantai pemasaran belaka.
Tak kalah menariknya
adalah perpaduan antara wacana bio-teknologi dengan perspektifspiritual religius nyaris klenik.Zat yang menjadi penyebabwabah misalnya, dilukiskan sebagaisemacam gas dari persilangan antara gen kebodohan
dangen kemalasan. Gas iniperilakunya bagai roh , yang mencari
tubuh-tubuh yang batinnya kosong, sekaligus bisa keluar-masuk tubuh bagai
energi cahaya. Atau sewaktu Lanang membuat percampuran kimiawi demi
menghadirkanburung babi hutan, ternyata
percampuran itu menimbulkan reaksi karena dibarengi ritual doa, dan hasilnya
pun menjadi sembilan ‘biji utama’ berwarna merah muda, yaitu biji ‘kasih’, biji
‘sukacita’, dst.seperti yang termaktub dalam Kitab Suci kristiani. Ini
imajinasi brilian yang teramat ganjil dan tak terduga.Namun salah satu bagian terbaik dari novel
ini adalah saat melukiskan konflik-konflik keagamaan. Di sana segala bentuk kemunafikandan kerapuhan nafsu badani ditelanjangi;baik dalam konteks Lanang, Rajikun, Putri
maupun Dewi.Yang menarik adalah bahwa
segala keyakinan suci dilukiskan berdampingan tanpa beban denganperilaku-perilakubejat. Dan itu memang fenomena-fenomena
menakjubkan yanglazim terjadi di negeri
ini.
... Di tangan
sutradara yang piawai novel ini niscaya dapat diangkatmenjadifilm sci-fi terobosan yang menawan dan berbobot, mengingat belum ada
film sci-fi cukup berarti yang dihasilkan oleh negeri ini.
Chris Poerba
... Keseluruhan substansi Novel Lanang jelas merupakan
sebuah narasi besar mengenai hegemoni
korporasi asing (industri farmasi global) yang telah tertanam dalam keseharian
hidup Dengan bantuan sekumpulan prostitusi intelektual Sebuah upaya dari
korporasi asing dalam membuat sistem dan
mekanisme ketergantungan dengan bantuan prostitusi intelektual
Sahlul Fuad
...
Secara kontekstual dengan kondisi bangsa ini di
bidang kedokteran hewan dan peternakan, setelah membaca Novel Lanang kita dapat
merasakan kaitannya dengan kondisi peneliti atau dokter/dokter hewan, atau
politik kesehatan Indonesia saat ini. Dalam kasus flu burung kita menjumpai penelitian
yang tidak tuntas, banyak yang tidak terdeteksi dan ahli-ahli yang asbun (asal
bunyi/ asal omong), dan pemerintah yang plin-plan.
Bila kita memahami hal ini, akan dapat terasakan, pesan
yang disampaikan penulis betul-betul menggetarkan. Sangat mengerikan bila ternyata
kualitas peneliti dan dokter hewan di Indonesia ada yang seperti Lanang, baik sebagai
ilmuwan atau pribadi, yang membuat hegemoni dari berbagai pihak dapat terjadi
padanya secara menggurita, termasuk dari negeri asing.
Dalam konteks tema ini, bila Novel Lanang adalah
sebuah fiksi, untuk menyandingkan dengan buku non fiksi kita dapat
menyandingkannya dengan Buku “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik
Virus Flu Burung”, tulisan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang bikin
gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Dalam buku ini Fadilah berhasil menguak konspirasi
AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus
flu burung, Avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui
dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke
pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Konspirasi
tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari
kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. Fadilah
mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi
dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata
biologi.
...
Selama ini, semua upaya yang
dilakukan pemerintah untuk mengontrol NAMRU tidak pernah dipublikasikan,
sehingga rakyat Indonesia tidak tahu apa-apa. Barulah setelah Menkes
menggebrak, keberadaan NAMRU terungkap ke masyarakat luas pada awal 2008. Ketika
terbit akhir April 2008 dan diluncurkan Mei 2008, kabarindo.commengatakan, “Novel
ini ditulis dengan gaya thriller, plot cerita novel ini sungguh menegangkan.
Karakter tokoh-tokoh pun rumit dan penuh intrik. Dengan pendekatan konspirasi,
karya ini menjadi bacaan kritis bagi yang tertarik pada isu-isu social,
psikologi, bioteknologi, dan politik kesehatan. Anda tentu masih ingat dengan
polemic Namru 2 dan isu virus Flu Burung khan? Sepertinya penulis novel masih
terperangkap dengan isyu-isyu tersebut.”
Benarkah Novel Lanang terperangkap isu-isu seperti
kata kabarindo.com itu? Untuk kasus flu burung, kelihatannya memang iya, dan
diakui pengarangnya memang terilhami kasus ini. Namun untuk kasus Namru, sudah
tentu Novel Lanang mendahului terbongkarnya kasus Namru. Sebab Novel Lanang
sudah menjadipeserta Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006, dan
diumumkan menjadi pemenang pada awal 2007. Sedangkan tadi sudah jelas,
terbongkarnya kasus Namru adalah pada awal tahun 2008.
...
Tak berlebihan bila saya katakan Lanang itu
semacam buku primbon untuk menguak misteri indonesia. Mungkin ini semacam
ramalan Jayabaya. Lanang itu sastra. Sesastra puisi. Sepuisi indonesia. Seindonesia
yang misteri. Membaca lanang memang beda dengan logika.
Menampilkan karya-karya penata tari dan kelompok tari internasional yang sudah mantap prestasinya dan pendatang baru terpilih yang giat mencari identitas diri dan berbakat. Para koreografer yang akan tampil dalam Pertunjukan Utama :
·Jerome Bel (France) & Pichet Klunchun(Thailand) ; karya kolaborasi
·MK (Italy)
·Cynthia Lee (Taiwan/USA) & Ery Mefri(Padang/Indonesia) ; karya kolaborasi
·Hartati (Jakarta/Indonesia)
·Kadek Yulia (Solo/Indonesia & Ronarong Kampha (Thailand) ; karya kolaborasi
·Retno Sulistyorini (Solo/Indonesia)
·Dek Geh (Denpasar/Indonesia)
·Megumi Kamimura (Japan)
·Natsuko Tezuka (Japan)
·Yukio Suzuki (Japan)
·Rachael Lincoln & Leslie Seiters (USA) ; karya kolaborasi
·KYTV / Kill YourTV (Singapura)
·Penampilan khusus disutradarai oleh: Garin Nugroho, koreografer: MartinusMiroto & Eko Suprianto
Lokakarya Koreografi(Pendidikan & Pelatihan)
14 - 26 Oktober,
di P4TK Seni Budaya, Yogyakarta
Pe l a t i h a n dan p e n d i d i k a n koreografi difokuskan untuk meningkatkan kualitas dan kreativitas (tulisan yang benarnya kreativitas) penata tari muda. Para pengajar adalah dosen-dosen terpilih dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), perguruan tinggi seni
Indonesia lainnya dan dari luar negeri seperti Tang Fu Kuen (Singapura), Daisuke Muto (Jepang) dan Nanette Louise Hassall (Australia). Materi yang akan diajarkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan komposisi dan koreografi tari, antara lain ; body contact, repertoireserta manajemen produksi. Lokakarya Koreografi ini akan berlangsungselama 14 hari.
Diskusi & Lecture Demonstration
29 - 31 Oktober 2008
Dialog berbagi pengalaman, pengetahuan dan wawasan dalam seni pertunjukan; Kreativitas,Teknis dan Management. Diskusi kritik tari bersamaTang Fu Kuen (Singapura) dan Daisuke Muto (Jepang). Lecture Demonstrationdan presentasi film tari oleh Min Tanaka (Jepang), koreografer dan penari Butoh terkenal.
Master Classes
28 - 31 Oktober, 2008
Pelatihan singkat teknik tari atau koreografi diberikan oleh koreografer yang tampil dalam pertunjukan utama ataupun yang datang khusus untuk meninjau dan
mengamati pertunjukkan. Master Classes ini diikuti oleh semua penata tari pemula dan
senior, melalui seleksi.
Klas Spesial :“Hip – hop Dance”oleh Jecko Siompo
Festival ini terselenggara bekerjasama dengan Fakultas Seni Pertunjukan - Institut Kesenian Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pusat Kesenian Jakarta -Taman Ismail Marzuki, Dewan KesenianJakarta dan P4TKSeniBudaya Yogyakarta
Berangkat dari kecintaan dan kepedulian terhadap budayaIndonesia, Payon restauran membentuk sebuah wadah belajar bagi anak- anak muda yang tertarik untuk mengenal dan mempelajari kesenian musik tradisional Indonesia, dalam hal ini, perkusi.
Pada dasarnya, Payon ingin memberikan sebuah tempat yang positif, untuk anak-anak muda belajar mengenal, menyukai dan mencintai budayanya sendiri, apapun bentuknya. Dengan harapan klasik yang jujur, agar budaya kita dapat terus bisa bernafas dan hidup.
Berawal dari ide sederhana untuk merayakan 17 Agustus, yang membawa komunitas Payon menjadi ingin lebih banyak tahu, lebih kenal, dan dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan teman-temanseniman , komunitas dan musisi perkusi yang ada di Jakarta, untuk kemudian dapat sama-sama berpartisipasi merayakan dan berkumpul pada sebuah pertemuan perkusi.
Pembicaraan komunitas Payon dengan beberapa komunitas seniman perkusi Jakarta, menghasilkan sebuah ide acara “PESTA PERKUSI”.Pesta Perkusi adalah sebuah acara berkumpulnya seniman-seniman dan musisi berbasis seni musik tabuhan indonesia di Jakarta, tanpa batasan usia, status dan bentuk, yang bergerak dibawah kesamaan semangat, untuk terus berusaha menjaga, mempertahankan, dan melestarikan budaya ini, dengan menampilkan pertunjukan terbaik dari tiap-tiap komunitas seniman perkusi sebagai bentuk apresiasi.
Tema PESTA PERKUSI 2008 adalah “Proyeksi Perkusi : Menggali tradisi, Lintas generasi”. Pesta ini, memberikan gambaran yang lebihbesar, dan lebih jelas, kepada semua lintasan generasi mengenai eksistensi seniman-seniman perkusidi Jakarta, yang mengerti bahwa kesenian musik perkusi adalah salah satu bentuk tradisi dan kebudayaan, yang sudah ada sejak kemarin, masih ada hari ini dan masih harus ada besok.
Visi & Misi Pesta Perkusi 2008adalah menghidupkan “GAUNG” keberadaan komunitas - komunitas seniman perkusi di Jakarta, yang selama ini berusaha menjaga, danmelestarikan budaya musik tradisional Indonesia agar dapatterus diapresiasi, dicintai dan bergerak maju mengikuti perubahan jaman, tanpa kehilangan karakter budaya Indonesia itu sendiri, sehingga dapat terdengar lebih keras melintasi seluruh lapisan generasi serta menjadikan acara Pesta Perkusi sebagai acara rutin
tahunan di Jakarta, yang diharapkan dapat menjadi sebuah wadah berkumpulnya komunitas seniman perkusi Jabodetabek, untuk terus mengangkat dan memajukan eksistensi kebudayaan Indonesia, dan menjadikan acara PestaPerkusi ini sebagai tanda lahirnya “ Komunitas Perkusi Jakarta “.
Pada hari Jumat tanggal 29 Agustus 2008 pukul 14.00 WIB akan diadakan paradeperkusi dengan menggunakan bajaj di seputar wilayah Kemang, Prapanca, Wijaya. Acara Pesta Perkusiini sendiri akan diadakan pada hari Sabtu pada tanggal 30 Agustus 2008 mulai pukul 14.00 – 23.00 WIB di Payon Restoran Jl.Kemang Raya No.17, Jakarta Selatan. Para pengisi acaranya adalah KunoKini, Duo Percussion, Sirkus perkusi, Sanggar Roda, Lampu Percussion, Die J Percussion, Payon Percussion,Tetabuhan Lorong, Sanggar Akar, SLB-C Wimar Asih
Gamelan Grup, Cakranada Ethnic Music Grup.
The 7 Laws of Happiness (Arvan Pradiansyah) Menurut Hernowo
-----------------------------------------------------------
Untuk mencapai kebahagiaan, memilih tindakan saja tidaklah cukup. Agar bisa
bahagia, yang harus kita lakukan adalah memilih pikiran.
Pikiran kita adalah segala-galanya. Buddha mengatakan, "Seluruh diri kita adalah
hasil dari apa yang telah kita pikirkan." Oleh karena itu, semua yang akan
terjadi pada diri kita adalah hasil dari yang sedang kita pikirkan saat ini.
Bukankah tujuan hidup kita adalah mencapai kebahagiaan? Bukankah banyak orang
yang telah mencapai puncak-puncak kesuksesan, tetapi tetap saja tidak merasa
bahagia?
Kita tidak bisa mengontrol perasaan kita secara langsung, tetapi kita dapat
mengelola perasaan kita dengan jalan MEMILIH PIKIRAN yang akan kita konsumsi.
Pilihan pikiran akan menentukan perasaan kita.
-*-
Kalimat-kalimat bernas di atas berasal dari Arvan Pradiansyah, penulis sukses
buku-buku yang berjudul indah: You Are a Leader! (2003), Life is Beautiful
(2004), dan Cherish Every Moment (2007). Saya mengutip kalimat di atas dari buku
keempat, buku terbarunya, yang baru saja muncul di pasaran: The 7 Laws of
Happiness: Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia.
"...buku keempat saya ini merupakan masterpice pertama saya," tulis Arvan di
Prakata. Lho, mengapa? "Karena baru dalam buku inilah saya mengungkapkan sebuah
konsep yang utuh dan terpadu, sebuah model kebahagiaan," jawabnya.
Jika kita sempat membaca buku terbaru Arvan ini yang, menurut saya, memiliki
ragam-bahasa-tulis yang indah-menenteramkan, kita akan setuju dengan apa yang
dikatakannya: "Jadi, kunci kemenangan sebenarnya ada di dalam pikiran kita dan
sangat bergantung pada pikiran yang kita pilih. Apabila kita memilih pikiran
yang negatif, seluruh diri kita akan menjadi negatif. Sebaliknya, jika memilih
pikiran positif, kita akan senantiasa diliputi rasa bahagia."
Betapa menentukannya pikiran kita terhadap kehidupan kita ya? Sudahkah kita
melatih pikiran kita untuk memilih sesuatu yang bersifat positif? Kalau
jawabannya sudah, ada satu pertanyaan susulan yang sangat penting untuk segera
kita jawab: Seberapa sering kita melatih pikiran kita itu untuk memilih hal-hal
positif? Karena, menurut Arvan, bukan "you are what you think" yang menentukan
diri kita seperti apa, tetapi apakah kita sering mengulang-ulang pikiran positif
kita?
Semoga ada manfaatnya.[]
Hernowo
(Penulis bestseller Mengikat Makna)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
I set up a Facebook profile
where I can post my pictures, videos and events and I want to add you as a friend so you can see it. First, you need to join Facebook! Once you join, you can also create your own profile.
This e-mail may contain promotional materials. If you do not wish to receive future commercial mailings from Facebook, please opt out. Facebook's offices are located at 156 University Ave., Palo Alto, CA 94301.
Harga Tanda Masuk: Rp. 10.000,- (Sepuluh Ribu Rupiah)
Sekretariat: (021)31903916, 3911329)
Koreografer terpilih dari hasil Lokakarya
Koreografi The 9th IDF 2008
14
– 26 Oktober 2008 di P4TK Seni Budaya Yogyakarta
JUDUL: TUBUH – “KAMI”
Koreografi: Jasmine Mireki Okubo & Wisnu
HP
Penari:
Jasmine Mireki Okubo & Wisnu HP
Sinopsis:
“
Jepang memaknai “Kami” dengan rambut dan Tuhan.
“Kami” – aku dan kau, rambut – tubuh menyatu.
Ketika tubuh di titian rambut, ia berbicara
horizontal yang bermuara pada image / pencitraan. Tubuh, ketika berada dalam
garis vertikal, ia menyapa dalam detak jarum jam berbalik arah di titik enam ke
delapan. Rambut dan Tubuh dalam ruang “KAMI”’
JUDUL : “Hedonic”
Koreografi
: Asri Mery Sidowati
Penari:
1. Asri Mery
2. Eri Yofan
3. Dyka
4. Shanti
Sinopsis:
“Kehidupan yang menuntut berbagai
aturan, membuat beberapa anak muda berjalan dalam keterkekangan, yang kemudian
membangkitkan hasrat untuk bebas, mengejar kesenangan, kenikmatan, kebahagiaan
yang kadang malah terkesan berhura- hura dan berlebihan, Hedonic ! Dan
akhirnya, semuanya berujung pada kesia-sian dan kekosongan. “
JUDUL: “Sri Boyong”
Koreografi: Sri
Mulyani
Penari:
1. Wina Resky Agustina
2. Sestri Indah Pebriani
3. Rani Iswinedar
4. Hariyanto
5. Eri Yofan
6. Gusti Irfansyah
Sinopsis :
“Inilah yang dapat dibaca setiap
saat. Semoga Gusti Yang Maha Agung Penguasa jagat raya, memberi keteguhan hati
untuk melaksanakan kebenaran. Melindungi kita dari penyakit dan marabahaya,
menjauhkan kita dari gangguan jin dan setan, bahkan tenung, dan orang-orang
yang buruk hatinya. Semoga api yang membakar menjadi air yang menyejukkan dan
tanaman kami mendapat berkah yang melimpah.
JUDUL: “Angkara”
Koreografi: Rani Nuraeni
Penari:
1. Rani Nuraen
2. Sofian Yang
3. Hendro Yulianto
Sinopsis:
“
Selemah-lemahnya perasaan wanita, jika kehormatan dan harga dirinya tidak lagi
dihormati, tentu akan mendatangkan kemurkaan.
JUDUL: “ROUSOKU”
Koreografer: Rianto
Penari: Rianto&Rani Iswinedar
Sinopsis:
“Dalam
kesindirianku, aku teringat mimpi yang pernah aku alami. Mimpi itu tentang
diriku sendiri. Tentang gambaran perjalanan hidupku, Semua membuat diriku takut
untuk menghadapi kematian. Mimpi itu membawa diriku pada sebuah perenungan
kesadaran serta spirit hidup. Aku ingin hidup seperti lilin yang menyala dengan
harapan diri, hati dan jiwa yang iklas….. di dunia…..”
JUDUL: “HUJAN”
Koreografer: Frank AN Rorimpandey
Penari:
1. Asep Hendrajat
2. Andri Palesmana
3. Haryanto
4. Frank AN Rorimpandey
Sinopsis:
“Kata
orang hujan itu berkah, Kata orang hujan itu resah, Kata orang hujan itu
bencana. Hujan itu selalu ada. Hujan buat kita waspada.
Eksibisi
JUDUL : “Phchoum Ben”
Koreografi: Davy Yon
Penari:
1. Davy Yon
2. Rianto
3. Riana Sitha
Sinopsis:
“Saat
kaki mengusung tubuh berjalan diatas garis lintas antara kenyataan dan iman.
Aku temukan tubuhku tak punya dua mata dan dua telinga. Seluruh mataku temukan
bahwa tubuh pelangi tak hanya tujuh warna. Seluruh telinga menangkap nyanyian
asap dupa yang disenandungkan oleh asap-asap dupa.
Lokasi dekat Stasiun Juanda, Masjid Istiqlal, MONAS Telepon 021-344-6703
Suasana diperkuat Maulana Achmad dengan Pembacaan Cuplikan Novel LANANG
Kontak: Alin SP 0818819944 / Joko Saw 085860930362
___________________________________________
HUDAN HIDAYAT
di Milis APREASIASI SASTRA
tentang LANANG
Bukanlah Novel biasa.
maka menghadapinya pun tak bisa secara biasa.
aku menulis panjang tentang Lanang.
ada saat kita memang harus menghajar Sastra Indonesia secara signifikan. Lanang menjadi pintu masuk yang baik.
tak kusangka, Yonathan itu bisa menulis demikian bagusnya
ternyata huih, burung babi hutan itu, bikin gelo hehe
lalu apa artinya hegemoni lagi, kalau misalnya Saman itu terpelanting oleh Lanang misalnya? - Lanang yang merucut dari pembicaraan sastra kelas tinggi kita kini?
hegemoni itu musti dibaca sebagai pseudo nilai yang seolah kuat tertanam. padahal pada saat yang sama bermunculan nilai-nilai lain di tempat lain.
tapi kan pakar bahasa kita yang resmi pemalas, kalah jauh sama sastrawan yang bisa mati beneran kalau tidak ada fiksi atau kalau tidak menulis.
dalam seni memang tidak ada ukuran yang abadi bisa dipegang.
kritikus harus sanggup meliuk kalau novelnya membawa sesuatu yang baru.
memang persoalan ilmu itu: ia ingin membuat apa apa bisa dimengerti. padahal banyak hal dalam dunia yang kita tidak bisa pahami. setidaknya kita pahami secara samar samar.
Hudan Hidayat: Sastrawan, Pendiri CWI (Creative Writing Institute) bersama Ahmadun Yosi Herfanda dan Maman S. Mahayana, Deklarator Memo Indonesia bersama M Fadjroel Rachman, Mariana Amiruddin dan Rocky Gerung,
Novel LANANG karya Yonathan Rahardjo: Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006
Maulana Achmad: Penyair, Antologi Puisinya bersama Inez Dikara dan Dedy Tri Riyadi "SEPASANG SEPATU SENDIRI DALAM HUJAN" Nominator Pemenang KLA (Khatulistiwa Literary Award) 2007
Lokasi dekat Stasiun Juanda, Masjid Istiqlal, MONAS Telepon 021-344-6703
Suasana diperkuat Maulana Achmad dengan Pembacaan Cuplikan Novel LANANG
Kontak: Alin SP 0818819944 / Joko Saw 085860930362
___________________________________________
HUDAN HIDAYAT
di Milis APREASIASI SASTRA
tentang LANANG
Bukanlah Novel biasa.
maka menghadapinya pun tak bisa secara biasa.
aku menulis panjang tentang Lanang.
ada saat kita memang harus menghajar Sastra Indonesia secara signifikan. Lanang menjadi pintu masuk yang baik.
tak kusangka, Yonathan itu bisa menulis demikian bagusnya
ternyata huih, burung babi hutan itu, bikin gelo hehe
lalu apa artinya hegemoni lagi, kalau misalnya Saman itu terpelanting oleh Lanang misalnya? - Lanang yang merucut dari pembicaraan sastra kelas tinggi kita kini?
hegemoni itu musti dibaca sebagai pseudo nilai yang seolah kuat tertanam. padahal pada saat yang sama bermunculan nilai-nilai lain di tempat lain.
tapi kan pakar bahasa kita yang resmi pemalas, kalah jauh sama sastrawan yang bisa mati beneran kalau tidak ada fiksi atau kalau tidak menulis.
dalam seni memang tidak ada ukuran yang abadi bisa dipegang.
kritikus harus sanggup meliuk kalau novelnya membawa sesuatu yang baru.
memang persoalan ilmu itu: ia ingin membuat apa apa bisa dimengerti. padahal banyak hal dalam dunia yang kita tidak bisa pahami. setidaknya kita pahami secara samar samar.
Hudan Hidayat: Sastrawan, Pendiri CWI (Creative Writing Institute) bersama Ahmadun Yosi Herfanda dan Maman S. Mahayana, Deklarator Memo Indonesia bersama M Fadjroel Rachman, Mariana Amiruddin dan Rocky Gerung,
Novel LANANG karya Yonathan Rahardjo: Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006
Maulana Achmad: Penyair, Antologi Puisinya bersama Inez Dikara dan Dedy Tri Riyadi "SEPASANG SEPATU SENDIRI DALAM HUJAN" Nominator Pemenang KLA (Khatulistiwa Literary Award) 2007
Makalah HUDAN MENAFSIR LANANG Percakapan
Kreatif Bersama HUDAN HIDAYAT Berdasar Pembacaan Novel LANANG Karya Yonathan
Rahardjo Penerbit Pustaka Alvabet Kamis/ 13 Nopember 2008 Pukul 19.00- selesai di NEWSEUM CAFE Jl Veteran I/
33 Jakarta Pusat Lokasi dekat Stasiun Juanda, Masjid Istiqlal, MONAS Telepon
021-344-6703 Suasana diperkuat Maulana
Achmad dengan Pembacaan Cuplikan Novel LANANG
lanang[2] -
puncak novel indonesia, kejatuhan dan kebangkitan manusia
lanang dan
puncak puncak novel indonesia
- untuk bla dan gieb
dunia kepastian
kehidupan selalu menarik untuk direnungkan
kembali. Seorang ilmuwan mengamati gejala dalam dunia. Gejala yang berulang,
dalam ruang dan dalam waktu. Ia membuat representasi kenyataan akan dunia,
membentukkannya ke dalam sains. Sains, menjadi bentuk dari dunia yang ditemukan
polanya. Ia menjadi hukum yang berlaku pada kenyataan dunia. Hukum di mana
ilmuwan membuat klaim akan kepastian. Bahwa dunia stabil dalam pola. Tetap
dalam bentuknya.
Dalam bentuk dunia seperti itu, bentuk sains,
keindahan juga melekat sebagai sesuatu yang terberi. Keindahan bentuk sains
bagi mereka yang mencoba merenungkan kembali. Kita bisa melihat lapisan lapisan
yang nampak, atau mengimajinasikan lapisan lapisan terjauh, di mana kita telah
kehilangan kontrol indera atasnya. Alat bantu, yang adalah hasil sains,
menautkan imajinasi kita akan dunia yang tak terindra itu.
Dunia nampak indah – dunia yang berputar seolah
mesin raksasa yang berputar.
Seseorang bisa tampil dengan imajinasi:
memberantakkan pola yang melekat dalam dunia sebagai hukum, ke dalam kehendak
pencampuran, atau pembalikan hukum. Apa jadinya kalau hukum bumi mengitari
matahari diputar, ke dalam bumi mengitari galaksi bima sakti? Atau dunia yang
mengitari berjuta juta galaksi. Waktu setahun berantakan, terentang tak
terhingga. Semua berubah, dengan tingkat kemungkinannya yang tak terduga. Apa
jadinya kalau semua itu bisa diangkut sains ke dalam laboratorium, dan kita
melihat tahapan tahapannya dalam laboratorium, di mana semua unsur unsur yang
dibalik bekerja. Keindahan sains kini ada dalam pandangan mata.
Tapi imajinasi seperti ini, mengalami tingkat kesukaran
ganda. Pertama, apakah tenaga yang menggerakkan sehingga bumi berputar? Jelas
dia adalah bagian dari hukum yang melekat dalam alam – bumi – sebagai sesuatu
yang terberi. Tapi bagaimana menangkapnya? Membuatnya terperangkap ke dalam
kanal, sehingga bisa diolah untuk kemungkinan lain – semisal menggerakkan bumi
mengitari bima sakti, atau seluruh galaksi. Bukan semata mengitari matahari.
Kesukaran kedua, mungkinkah tenaga yang
menggerakkan bumi bisa ditangkap atau ditatap? Diangkut ke dalam lab, sebagai
sesuatu, untuk diberi fungsi lain? Kita bisa menyaksikan sinar matahari yang
merambat ke bumi. Merasakan getar panasnya. Gabriel bahkan telah membuatnya,
atau membentuknya, ke dalam fiksi. Sebuah kemungkinan dari panas matahari yang
dipantulkan melalui kaca, telah membuat sang pemimpi gila terbakar hampir
seluruh tubuhnya.
Itulah adegan awal dari novel seratus tahun
kesunyian. Di mana hukum dunia dicoba dimainkan ke dalam fiksi. Tapi tenaga
bumi? Sebuah energi yang tak nampak tapi telah dengan pasti membuat bumi kita
berputar, adakah sains yang diangankan mengandung kepastian, bisa menangkapnya?
Adakah kepastian sebagai sesuatu yang telah tertangkap itu, sekali lagi, bisa
kita tatap tahapan tahapannya di dalam laboratorium. sebagai keindahan sains,
yang bisa dikenali orang awan di dalam laboratorium.
Bahwa itu belum terjadi, atau mungkin tidak akan
terjadi, adalah beban yang disandang oleh manusia, kaum ilmuwan yang
mendeklarasikan sains, sebagai dunia kepastian. Sebagai bentuk kerja mental
manusia yang menguakkan misteri dunia, sehingga dunia tak bermisteri lagi.
Dunia yang kehilangan misteri lagi, oleh sebagian ilmuwan, telah membuat mereka
menggeser pandangan tentang tuhan, yang melekatkan kuasanya kepada hukum pada
dunia.
dunia yang diberantakkan
lanang telah memberantakkan keindahan semacam itu
– keindahan alami dari alam alami – keindahan organ organ mahluk hidup
menjalankan fungsinya. Sains, kata ilmuwan, adalah kepastian atas dunia
ciptaannya. Tapi kepastian tuhan tetaplah memiliki peluang untuk daya tawar.
Atau hendak kita katakan: kepastian itu berbeda
pada dua dunia: dunia alam fisik dan dunia alam mahluk hidup? nyaris tak
terbayangkan menggeser hukum tuhan tentang bumi yang mengitari matahari, ke
dalam sebuah pergerakan bumi mengitari galaksi bimasakti, atau berjuta juta
galaksi. Sementara di dalam dunia mahluk hidup, sains telah melakukan
pembalikkan atas hukum alam, seperti yang kita saksikan dalam novel lanang.
Atau hukum pada alam fisik pun sesuatu yang mungkin diubah?
Kalau demikian halnya, maka hanya soal waktu
belaka akan tampilnya seorang dewi lain? - dewi di bidang seni novel antariksa?
Di mana tatanan astronomi menjadi kacau, sebagaimana tatanan genetika manusia
menjadi kacau?
Novel Supernova, belum mencapai taraf imajinasi
fsti esai ini. Baru merangkak pada ketakjuban akan dunia yang dilihat oleh
tokoh tokohnya.
Semacam proses kanibal dalam mesin. sebuah piranti
dicopot, untuk digabung ke dalam tubuh induk. Hasilnya bukan pola induk lagi.
Tapi pola induk yang sudah bercampur dengan kemungkinan fungsi yang berdampak
lain.
inilah yang terjadi dan memenuhi sekujur tubuh
novel lanang. Di sana, sains diangkut ke dalam fiksi – ke dalam seni novel.
Hasilnya adalah burung babi hutan di awal novel, ragam mahluk transgenik
sebagai hasil biotek di ujung novel. Oleh sang novelis yang kehadirannya
menakjubkan itu, seperti yang ditulis oleh prof. bambang sugiharto. Sayang,
statemen bambang ini tak kita lihat elaborasinya. Pernyataan yang membuatnya
setali tiga uang dengan prof. sapardi, yang pernah berkata bahwa sebuah novel
belum pernah dicoba komposisinya di negeri ini, bahkan di dunia lain pun. Tapi hingga saat ini kita
tidak pernah mendapatkan argument pendukungnya.
rekayasa genetika, sebagai bentuk sains mutakhir
terhadap gejala mahluk hidup, sangat mungkin menerobos imajinasi, mendarat ke
dalam bentuk nyatanya. jonathan telah mengantarkan sains itu ke dalam sastra.
Ke dalam bentuk seni novel. Tapi, dapatkah sastra indonesia berkata, bahwa ia
telah memiliki seni yang mengangkut sains ke dalam tubuhnya?
di awal telah saya tegaskan, bahwa keindahan
datang dari pola alam yang terberi, yang melompat ke dalam bentuk barunya,yakni keindahan sains tentang alam fisik yang
bisa kita tatap tahapan tahapannya di dalam kerja laboratorium, maka pertanyaan
yang sama bisa kita ajukan kepada bentuk sains yang lain. Yakni sains tentang
tentang genetika mahluk dalam novel lanang. Adakah keindahan kita temukan juga
di sini? Apakah keindahan yang kita temukan itu telah indah pula dalam
bentuknya yang lain, yakni bentuk sastra. Dengan lain perkataan, berhasilkah
jonathan membentuk sains ke dalam novelnya? berhasilkah penulis gila dan amat
istimewa ini mewujudkan proyek ambisiusnya tentang manusia?
sains dan keindahan dalam lanang
Kalau saya berbicara tentang keindahan, maka saya
berbicara tentang sebuah struktur, tentang nuansa nuansa di dalam struktur,
tentang pembelokannya dan penyatuannya. tentang proses berjalannya unsur unsur
di dalam struktur. Tatanan yang secara persepsi nampak bekerja secara serasi,
itulah struktur. Persepsi yang mendatangkan kenikmatan indera memaknainya. Tapi
sekaligus dengan itu, saya berbicara juga tentang kekacuan sebagai gejala
keindahan. Konon, hukum kedua termodinamika, mengabarkan kekacauan ini, sebagai
hukum yang melekat pada semesta. Di mana semesta bergerak maju melalui dan
menuju kekacauan. Dalam perspektif hukum ini, dunia mahluk hidup sebagai bagian
dari semesta, maka bisalah disebutkan kehendak jonathan untuk memberantakkan
mekanisme organ dalam tubuh, adalah di dalam visi kekacauan hukum kedua
termodinamika. sesuatu yang nampak kacau, nampak indah dalam persepsi saya.
Karena dengan kekacuan itu, terbuka daerah daerah kemungkinan kreatif
yang bisa
dimaknai.
Begitulah sains yang hendak memporandakan struktur
alami, akan mendatangkan keindahan di hati. Sebagai sebuah motif, dengan elemen
elemen pendukung motif, yang dalam kasus novel sebagai karya seni, seni novel,
maka elemen elemen pendukung novel. Sejauh manakah unsur unsur novel di dalam
novel lanang mendukung motif sang pengarang, untuk mengubah pola alami dalam
tubuh mahluk hidup.
Plot dalam alur, alur yang meniti dalam plot, plot
kejadian peristiwa atau plot kejadian pikiran, mengisahkan repetisi terhadap
kisah genetika. Menjadi plot dan alur yang repetitif. Maka sekujur novel
dipenuhi oleh suara suara tentang rekayasa genetika,dengan akibat awal sapi yang mati karena
wabah yang disebar. Warna dasar novel muncul timbul tenggelam ke dalam tokoh
dan waktu, yang juga timbul tenggelam. Novel bergerak seolah karikatur sebuah
negeri. Di mana hal ihwal tak gampang dikuakkan - semua nampak mengambang.
Memendek atau memanjang. Di mana rasio berpadu dengan unrasio. keagungan
berbalut dengan kebusukan. Dibayang bayangi kuatnya peran narator dalam novel,
narator yang sepintas tak cukup demokratis kepada kebebasan tokoh, elemen
elemen novel bergerak maju mendorong novel.
Dalam repetisi seperti itu, pembaca mungkin
berpikir untuk membuang bagian bagian novel yang tidak penting, bagian bagian
yang bisa dihilangkan tanpa mengurangi maksud novel. Atau, mengintensifkan
bagian bagian semacam itu, sebagai penguat novel. Tapi saya memperlakukannya
sebagai gejala dunia yang saling komplemen. Serupa ranting kecil yang tumbuh di
sebuah batang yang rindang. Dengan ranting seperti itu, maka satu satunya
ukuran, kalau pun hendak disebutkan ukuran, adalah dengan menyimak kedalamannya
– kedalaman makna yang dikandung ranting. Bukan menyibak semata arti
kehadirannya, dalam konteks pohon yang besar – novel lanang.
Apa yang khas pada lanang adalah, peristiwa sering
terjadi tanpa deskripsi. Ide seolah lepas dari tubuh – tubuh novel.
Apakah artinya seorang anak peternak sapi yang
meratapi sapinya yang mati? Anak yang tak nampak dalam penceritaan, tiba tiba
menyeruak sebagai peratap sapi yang mati. Inilah tokoh yang datang mendadak.
tekanan material tangis dan kesedihan di sana masih ada, tapi tangis dan
ratapan di sana terasa kehilangan timbangan maknanya.
Dengan cara yang sama, hal ini bisa kita lihat
dalam sebuah momen yang diturunkan jonathan sehalaman penuh, tentang seorang
peternak yang meratapi sapinya yang mati. jugamereka yang ramai bicara tentang sebab sebab bencana, dalam selang
seling pendapat yang hanya ide, tanpa deskripsi dan tanpa tahu siapa mereka
yang bicara.
Semua itu membuat novel menjadi bising ide, tapi
kehilangan sentuhan untuk mendiskripsikan manusia ke dalam gerak fisiknya, yang
bisa kita maknai manusia yang bergerak dalam realitas sehari-hari. Di mana
sebuah kesedihan, adalah kesedihan yang bisa kita ikut rasakan vibrasi rasanya.
Di mana sebuah kekalutan, adalah kekalutan yang bisa pula kita rasakan debar
paniknya.
Tapi harus segera kita katakan, bahwa lanang
memuat sekaligus bising ide dan deskripsi peristiwa dan pikiran, yang membuat
pembaca terhenyak. Di mana peristiwa yang digambarkan benar benar mendebarkan.
Seakan campuran dunia nyata dan dunia mimpi yang tak mungkin terjadi. Tapi ia
hadir sebagai pemandangan realis di dalam novel. Lihatlah bagaimana
mencengkamnya kejadian burung babi hutan yang kasmaran di depan suami istri
yang sedang di puncaknya: bermain burung. Lihatlah bagaimana jonathan
menghadirkan ide ini dengan mendadak di tengah permaianan burung yang sedang
berlangsung.
Kejadian yang dilukiskan jonathan ini, dengan
skala kemungkinan rekayasa genetika pada tema utama novel, adalah sebuah
tamparan yang keras bagi pendukung uu pornografi. segera terbukti, bahwa
deskripsi persetubuhan yang dilarang dalam uu itu, menemukan bentuk, atau
sebuah hal yang niscaya, dalam novel lanang. Ia bukanlah tempelan belaka,
mengejar sensasi kehadapan publik tentang hubungan terlarang tapi hendak
diungkapkan. Tapi adalah bagian utama yang mendukung misteri novel: rekayasa
genetika yang berbuntut kehadiran burung babi hutan, dengan sikap sikap
misterinya.
Pelukisan hadirnya sesuatu yang buas di tengah
kekusyukan hubungan suami istri itu pun, adalah teror yang begitu sempurna
dihadirkan seorang pengarang sastra, kepada kehidupan manusia. Seolah kejadian
itu ingin mengejek kefitrian hubungan suami istri, hubungan yang akan
membuahkan kelangsungan kemanusian. Teror bagi isyarat bahwa kemanusiaan,
seolah akan berhenti di dalam novel. Maka dua dunia, yang memang selalu hadir
di dalam kehidupan manusia, dunia penuh kemanusiaan yang dilambangkan dengan
persetubuhan suami istri, dunia alam binatang yang mendapatkan wujudnya melalui
burung babi hutan yang kasmaran, tapi dengan sikap seolah manusia yang
mengancam. Atau dunia regulasi kaum politik, yang seolah hendak memberikan
napas segar bagi kehidupan, tapi pada saat yang sama, hadir pula dunia pemangsa
yang disandang oleh sang regulator itu sendiri.
Dalam pelukisan ini, sering novel seolah
kehilangan hubungan sebab dan akibat dalam tatanannya. Bersamar dengan
kekaburan atau kecanggihan memainkan bahasa, yang terbaca sebagai bahasa yang
sengaja menutup motif, sehingga motif masuk ke dalam sebuah misteri yang hendak
dijadikan payung oleh novel. Puteri, yang dilukiskan sebagai istri yang
menyayang suami dan lanang pun, sebagai suami yang menyayang istri. Itulah
tangkapan awalnya, sebelum kita diajak masuk ke dalam alur yang berkembang dan
plot novel yang berputar timbul tenggelam – seakan jonathan ingin menyampaikan
kisah novel secara serempak, seakan tenaga penceritaan begitu berlapis saling
menekan sehingga ia mendesak dan menyelinap ke dalam alur ke dalam plot menjadi
peristiwa, menjadi renungan, dan membelokkan novel dari arahnya semula, ke arah
yang tak terduga. Begitulah kita bisa menimbang puteri, yang pada kehadiran
burung babi hutan demikian dicengkam rasa takut, tapi pada kehadirannya yang
lain, kita
sudah dibawa pengarang kepada rasa takut yang dimainkan secara bahasa. Sehingga
kita kehilangan jejak atas tokohnya: bagaimana dari rasa takut menjadi dia yang
mengalami persetubuhan dengan sang “babi”.
Novel menguakkan ini melalui pernyataan dewi,
bahwa sang puteri, atau rajikun, atau dewi sendiri, sebenarnya saling
berkorelasi dengan lanang dalam hubungan dengan rangkaian dendam yang datang
dari masa lalu.
Repetisi itu, menemukan juga bentuk keindahannya
yang lain dalam sains, bukan pada semata hasil yang dipandang sebagai wabah –
burung babi hutan dengan segala efeknya. Tapi pada makna rekayasa genetika
dalam novel. Sehingga novel lanang meraih inti: bahwa ilmu, dengan bumbu
penyadap tahyul, adalah bisa mengubah hakekat manusia yang terberi pada
tempatnya. Dengan kombinasi pengamatan pada materi, sel, kimia, dipandu dengan
kecanggihan ilmu komputer, maka esensi manusia nampaknya bisa diubah – baik
bentuk tubuh, maupun isi kesadarannya.
Sekujur tubuh novel lanang, dipenuhi oleh tema
ini: gen mahluk hidup yang bisa diubah, atau, tepatnya: yang hendak diubah.
Tapi haruslah dikatakan, sains pada novel lanang,
tampil bukan dalam bentuk kerjanya yang nyata, tapi dalam wujud berupa
statemen. Sepanjang pengembaraan novel ini, yang kita saksikan adalah logika
sains tentang berpindahnya gen, bukanlah pengamatan yang mendetilkan tentang
mutasi gen di bawah miksoskop. Dan alangkah mendebarkannya, seandainya proses
gen yang berubah dengan dicangkok, di dalam pengelihatan mikroskop, terlihat
dalam mata kita melalui tahapan tahapan detilnya dalam novel. Kemungkinan
inilah yang bisa meneruskan halaman halaman awal seratus tahun kesunyian, ke
dalam tubuh dan semangat sekujur novel lanang: kehendak untuk mengubah gen
mahluk.
Kita ingin tahu apakah benar mutasi gen yang
diprovokasi ke dalam tema utama memang terjadi di alam nyata. Apakah ada
ciptaan serupa itu.
Achmad maulana, meyakini yang dilakukan manusia
bukanlah penciptaan. Sebab fungsi ini hanya dimiliki oleh tuhan. Manusia tidak
bisa mencipta dari sesuatu yang tidak ada. Dia hanya bisa mencipta dari apa
yang sudah ada. Tapi rayni membantahnya. Bahwa membuat dari yang sudah ada juga
adalah mencipta. Dan gen, adalah sesuatu yang sudah tersedia, terberi di setiap
mahluk hidup.
Kita lepaskan polemik tentang arti penciptaan di
milis apresiasi sastra itu, masuk ke dalam rekayasa genetika. Bahwa gen bisa
dimutasi. Kalau demikian halnya, maka terbuka kemungkinan untuk sebuah
perpindahan gen baik secara rekayasa atau secara alami. Ini akan membenarkan,
atau setidaknya memberikan jalan, bagi hidupnya kemungkinan terori Darwin,
tentang asal usul manusia kini, dari species yang amat sederhana – sesuatu
yang, konon, telah ditolak: tak mungkin ada perpindahan gen serupa itu.
Maka dengan dua belahan semacam itu, menjadi sangat
mendebarkan kehadiran jonathan dengan rekayasa genetika dalam seni, seni novel.
Dengan berdebar pembaca ingin mengetahui tiap detilnya perpindahan gen, ke
dalam atau di bawah pengamatan kerja laboratorium yang bisa kita tatap bersama
tahapan tahapannya. Tahapan yang mengandung asumsi, dasar pemikirannya yang
telah terceritakan dalam novel lanang. Sehingga pembaca novel lanang bisa ikut
memasuki alur pemikiran gen dalam tahapan kerjanyanya. Bukan dalam bentuk
statemennya.
Tapi lanang tidak melakukan itu. Dengan begitu
pembaca hanya disuguhi tentang sebuah hal yang seolah telah terjadi, kehilangan
kesempatan untuk mengikuti tahapan tahapan mutasi gen. dengan demikian gagalkah
novel jonathan sebagai seni yang membawa sains ke dalam fiksi? Tidak. Justru jonathan
sangat fenomenal sebagai sastrawan yang mengankut sains ke dalam seni novel.
Tapi pada tahapan pernyataan sains alias statemen sains. Maka, kalau hendak
dirujukkan kepada keindahan, keindahan datang bukan dari diterapkannya sains ke
dalam peristiwa yang bisa diamati tahapan tahapannya, tapi pada telah
dilakukannya statemen sains pada peristiwa peristiwa yang membuat plot dan alur
novel lanang berjalan.
Dengarlah kata dewi sambil menunjuk kepada sosok
sapi yang lucu:
Gensa, kau lahir sebagai rekayasa gen manusia yang
disuntikkan ke dalam sel telur sapi, ditumbuhkan dalam tabung percobaan sampai
menjadi emribo yang selanjutnya dicangkokkan ke dalam rahim indukmu, dibiarkan
berkembang.
Dan kau frida, kau domba betina yang berasal dari
sel ambing atau kelenjar susu domba dewasa berumur enam tahun.
apa yang disuarakan dewi adalah statemen sains,
bukan sains yang bekerja setapak setapak di bawah uji laboratorium, di bawah
mikroskop.
Bahkan lanang sekalipun, yang di akhir novel
nampak menemukan nasibnya yang sangat mengenaskan, adalah juga statemen sains.
Lanang yang ginjal dan hatinya telah ditukar dengan ginjal dan hati burung babi
hutan.
Dengan mengatakan sains sebagai statemen, bukan
sebagai liku yang didetilkan ke dalam sebuah proses, bukanlah maksud saya
hendak mengurangi nilai kedahsyatan novel ini. Saya beranggapan, sekalipun
dalam tingkatan statemen, novel lanang telah sangat berhasil memprovokasi tema
yang dibawanya. Yakni visi tentang esensi manusia bisa diubah, seandainya
hukumnya ditemukan. Rekayasa genetika, sangat mungkin bisa diterobos ke dalam
dunia nyata, bukan fiksi lagi.
Novel pun mengakui bahwa upaya mengubah ini
bukanlah pekerjaan yang mudah. Sekalipun telah terjadi pergerakan genetika,
rekayasa gen itu telah menyisakan efek samping, sementara hasil maksimal
perpaduan belum menampakkan hasil yang maksimal. Banyak ekses mutasi gen ini,
kata dewi. Tapi optimisme tentang esensi manusia yang hendak diangkankan lebih
sempurna, bisa terus diupayakan dengan kemajuan sains biotek.
Pada keberhasilannya memprovokasi tema rekayasa
genetika, adalah letaknya keindahan novel lanang. Bahwa manusia, walau penuh
kontroversi dalam pandangan nilai moral formal, memiliki daya untuk menawar
kehidupan yang seolah tak bisa diubah. sekali hukum ditemukan, maka pola untuk
mengubah esensi manusia, menjadi wilayah yang terbuka.
Menjadi pertanyaan penting di dalam sains: adakah
hukum dalam terbentuknya nyawa itu? apakah dengan menemukan polanya, maka
manusia pun bisa membuat nyawa?
Lanang,
puncak novel indonesia, kejatuhan dan kebangkitan manusia
Apa yang dibawa oleh novel lanang, yakni sains ke
dalam sastra, memang bukanlah langkah pertama dalam pengertian sains. Kalau
dunia computer bisa kita masukkan ke dalam alur sains, burung burung manyar pun
telah melakukannya saat setadewa membongkar jaringan ekonomi global yang
memanipulasi angka angka dalam dan saat berhubungan dengan pihak Indonesia.
Manipulasi yang begitu rumit dan membutuhkan pengetahuan sains tingkat tinggi
di bidang computer.
Tapi benar: tubuh novel burung manyar bukanlah
bernapaskan sains.
Supernova pun telah membawa wawasan sains ke dalam
alur ceritanya. Dengan intensitas yang terpecah kepada tokoh tokoh yang
menyebar, wawasan sains yang dibawa supernova bisa dikatakan cukup intensif.
Tetapi yang membedakan di sana: pada supernova sains tentang alam fisik itu,
tepatnya astronomi, tampil sebagai diskusi yang manis yang tak berdampak apa
pun. Sains di sana adalah sains yang normal. Bukan sains subersiv sebagaimana
dalam dunia novel lanang.
Di lepaskan tema sains di sana, maka yang kita
dapati pada supernova adalah kaum kelas menengah yang mapan dan terjebak dengan
kesunyian hati masing-masing. Tak ada visi tentang kehidupan yang hendak mereka
wujudkan. Dalam semacam tesis untuk tema dan isi novel, yang dipajang sebagai
pintu masuk novel, supernova menegaskan semacam pendirian. Yakni: “hanya ada
satu paradigma di sini: keutuhan. Bergerak untuk satu tujuan: menciptakan hidup
yang lebih baik. Bagi kita. Bagi dunia.”
Tapi penegasan semacam itu tidak membuat novel
bergerak ke suatu tujuan aksi, atau renungan utuh akan dunia yang lebih baik.
Tokoh tokoh novel berakhir dengan ringan, semacam ending dari film film yang
bahagia, di mana persoalan atau lanskap laku hanyalah seolah jalan untuk
melapangkan kebahagiaan semacam itu.
Begitulah tokoh ruben dan dhimas berakhir dengan
manis. Dengan ucapan ucapan lembut kedua lelaki terhadap pasangannya. “Mereka
lalu berpegangan tangan erat. Dua pria yang tak punya nama belakang di dalam
sebuah kamar kerja. Saling mencintai.”
Tentu saja tiap novel bergerak dengan logika dan
kisahnya sendiri. Adalah hak tiap pengarang menggarap wilayah kerjanya. Tapi
kalau kita letakkan novel sebagai upaya memperkaya pengenalan kita kepada
hakekat manusia, maka ideal novel adalah yang bisa menguakkan apa hakekat
manusia itu. Apa manusia dan bagaimana hakekatnya, hanya bisa dilayani dengan
geraknya pada tiap masalahnya. Ini berarti sang novelis harus menyiapkan
semacam medan tempur untuk tiap tokoh novel. Sehingga dari medan tempur semacam
itu sang tokoh, bisa mewujudkan dirinya siapa dia di dalam dunia. Sekaligus
menguakkan apa dunia itu. medan tempur semacam itu hanya menjurus ke satu
jurusan: manusia di tengah “masyarakatnya” dan “situasinya”. Dengan berada di
tengah masyarakat dan situasinya, dia bisa mendudukkan diri sebagai manusia
aksi, atau manusia yang menyiapkan renungan terhadap gerak dan hakekat hidup.
Sejak layar terkembang, siti nurbaya, belenggu,
bumi manusia, Ziarah, telegeram,burung
manyar, olenka, sampai saman, untuk menyebut novel novel yang sering menjadi
pembicaraan oleh pengamat pengamat sastra yang resmi itu, novel Indonesia
selalu berpola dengan tipologi garis tegas antara tokoh baik dan tokoh buruk.
Ada pertarungan dan kadang kadang si buruk memenangkan pertarungan – seperti
kita lihat kolonialisme yang mengalahkan nyai ontosoroh dan mingke dalam bumi
manusia. Atau bandul bergerak kepada tokoh yang baik serupa setadewa dalam
burung manyar, Drummond dalam olenka, mereka yang mewarisi spirit orang baik
atau tokoh yang baik yang telah dimulai oleh layar terkembang, akan menang di
akhir pertarungan. Begitulah tipologi tokoh dalam sastra Indonesia mutakhir,
khususnya novel, adalah pemihakan kepada tokoh baik yang menang di dalam medan
laganya.
Tapi dengan kehadiran lanang, tipologi tokoh
semacam itu seolah runtuh: lanang tak menyisakan tokoh baik dalam dirinya.
Lanang bukan saja menjadi novel pertama yang dengan intensitas kepada sekujur
tubuh novel, mengangkut wawasan sains ke dalam tubuhnya, tapi sekaligus membawa
perubahan pada tipologi tokoh dalam tradisi pernovelan. Yakni hancurnya
anggapan atau pemilahan tokoh baik dan tokoh buruk. Ini adalah filsafat baru
yang sangat berani dalam dunia pemikiran di negeri ini, yang dalam ranah
idealnya menghendaki sebuah etik yang imperatif: bahwa manusia haruslah menjadi
juru selamat masyarakat.
Begitulah anggapan terbenam. Tapi dibongkar oleh
kerja novel lanang: kenyataan memperlihatkan sebagian wajah kita, kalau tidak
seluruhnya. Manusia indonesia sakit, kata muhtar lubis. Tapi harus segera kita
tambahkan: manusia dunia juga sakit. Betapa manusia ditelanjangi, dilucuti,
dari anggapan anggapan baiknya oleh novel lanang. Kebaikana di sana menjadi
sekaligus kebusukan di sana. Bahwa manusia mengandung unsur kejahanaman dan
kejahanaman bisa saja menang melawan hakekat dari keping manusia yang lain –
keagungan.
Dalam arus dunia itu, lanang nampak memilih sisi
apa yang telah dikatakan tuhan itu sendiri: kelak kalian akan berbunuhan satu
sama lain. Kebusukan, lawan dari keagungan, yang diterminologikan oleh kitab
itu sebagai berbunuhan satu sama lain, adalah salah satu wajah dunia yang
dipilih sepenuhnya oleh novel lanang. Maka pada lintasan ini, kita bisa berkata
bahwa lanang telah menyalib novel novel pendahulu mereka.
Sangat mungkin kutipan dari sebuah kitab akan
ditolak oleh pembaca. Tapi kalau diletakkan betapa relatifnya dunia, juga dunia
sains yang kehilangan kepastian kalau ruang dan waktu ditempatkan secara lain,
katakanlah ruang dan waktu di matahari, maka semua bahan yang terbaca bisa
menjadi bahan untuk suatu telaah yang menyeluruh. Anggaplah kitab itu sebagai
sebuah teks sains social, yang kedudukannya sama dengan pemikiri pemikir social
yang sering menjadi kutipan dalam perbincangan di dunia humaniora. Maka dengan
jalan seperti itu, kita mendapatkan suatu justifikasi dari pilihan wajah
kebusukan dalam novel lanang. Novel mendapat sandaran filosofisnya yang,
mungkin, tidak disadari oleh sang penulisnya sendiri.
Novel yang disampaikan dengan pendekatan thriller
ini, menempatkan manusia dalam posisi yang penuh dengan kontradiksi. Dan sikap
atau ideologi yang dipilih serupa itu, membuat lanang tak memiliki jalan keluar
dari krisis kemanusiaan – kalau pun krisis kemanusiaan itu memang ada
(pemanasan global, politik yang terus menampakkan wajah unhumanis). Malahan
membawa kepada krisis kemanusiaan yang baru: hancurnya manusia dan bangkitnya
iblis berupa manusia dengan kehendak merekayasa mahluk. kebangkitan manusia
dengan mengandalkan otaknya, adalah sekaligus kejatuhannya sebagai mahluk yang
ingin membangun peradaban. Pernyataan baik dan buruk yang berselang seling
melalui tokoh lanang dan kepala koperasi misalnya, hanyalah semacam wacana
untuk meledaknya sifat sifat jahat pada manusia. Mewujud sikap baik manusia ke
dalam kehendak untuk melihat perbaikan masyarakat, tapi serentak dengan itu ia
tertelan dengan kejahatan dalam dunia seksual dan kehendak untuk
memasuki
dunia dagang. Dunia penjualan obat obatan.
Pada titik ini, novel sungguh adalah dunia
kejatuhan manusia yang sempurna. Segenap kontradiksi bemain di sini.
Kontradiksi yang dimulai dari dan menghidupi tokoh tokoh novel. Jadi bukan
hanya tuhan telah mati tapi manusia baik pun telah mati. Juga dewi dan “zhang
ziyi” telah mati. Semua tokoh tokoh novel membawa masa lalunya yang kelam, dan
dalam satu arti, gerak novel datang dari motif masa lalu itu. Dengan
penceritaan yang berselang seling realis ke surealis, novel nampak seolah dunia
mimpi yang menyeramkan. Mimpi panjang dari derita hidup pelaku pelakunya, yang
hidup dengan motif membalas dendam. Lihatlah tokoh tokoh novel bergerak dan
menguakkan masa lalu itu, lalu terjerembab ke dalam napsu hendak membalas.
Di sini, bisa kita katakan novel memperlihatkan
keunggulannya. Nampak betapa tokoh tokoh seolah konsisten mengejar kemajuan
dalam versinya sendiri. Tapi kemajuan yang sekaligus kejatuhannya. Dewi hendak
membangun dunia baru tapi dunia baru itu penuh dengan mahluk hidup yang
dikorbankan. Ambisi ini membuatnya menjadi tokoh yang telah kehilangan nurani
sebagai manusia. Lanang adalah dokter hewan yang idealis tapi kemudian
terjerembab ke dalam kejatuhannya sendiri. Rajikun adalah tipologi tokoh yang
bermain dalam wilayah agama dan lalu tersesat, untuk kemudian membalas dengan
cara lain. Juga puteri istri lanang.
Begitulah kita tak menemukan manusia baik di novel
ini. Semua nampak mengerikan. Satu satunya manusia baik adalah peternak sapi
pak sukarya. Tapi toh kita tidak tahu apa yang terjadi pada malam malamnya. Dan
ada yang membuat saya berpikir, bahwa novel penuh dengan misteri ini, diakhir
novel malah menguraikan kejahatannya sendiri. Kejahatan diakui. Bukan dipaksa
untuk diakui oleh varian di luarnya, atau oleh sang narator dalam novel. Tapi
oleh tokohnya sendiri yakni dewi. Tokoh yang maha perkasa. Iblis betina yang menjadi
pemain inti dari segenap kekacauan.
Apa yang menarik adalah: seolah novel adalah
cerminan, atau simulasi, dari dunia pembalasan oleh dunia sana kelak. Di mana anggota tubuh
bicara sendiri tentang lakunya di dunia. Dan itu terjadi ketika dewi menjelaskan segala
misteri dan keanehan novel. Ia menguraikan satu demi satu apa yang telah
dilakukannya, di dalam bayang bayang kehendak untuk meraih kemajuan, sekaligus
kejatuhannya sebagai harga dari kemajuan yang hendak dicapai itu.
Nyaris tokoh bergerak tanpa timbangan kemanusiaan
normal. Kalau pun ada suara semacam hati yang berdosa, dengan cepat dendam masa
lalu serta kemajuan masa depan menutup jalan bagi tokoh tokohnya. Rasa bersalah
dibenamkan oleh kehendak untuk berkuasa, dalam bentuknya yang paling dingin
dengan mencabut hidup normal dari orang orang yang dikasihinya dan pernah
dicintanya. Bahkan masih dicintanya.
Dengan semua ilustrasi itu, maka jelas lanang
telah membawa visi baru tentang manusia yang diangkut ke dalam novel – sebuah
visi yang menampakkan hakekat satu sisi manusia yang secara radikal. Yakni
wilayah setan. pada lanang trace tokoh etik telah diakhiri. Dia bergerak dan
mulai mengibarikan jejak baru pada kenyataan manusia. Apa yang dikerjakan
lanang serupa dengan sebuah novel yang menyorot sisi baik dan sisi buruk ke
dalam alam bintang dari tingkah laku manusia, yang berselang seling pada
dirinya dan pada orang lain. Novel tentang kekosongan. Dari hidup yang kosong
dan dari tuhan yang kosong. Dalam kehadirannya dengan ciptaannya. Kosong dari
ketiadatahuan kita tentang sebuah kepastian yang hanya miliknya semata.
Melayari alur filsafat semacam itu, lanang kadang
serupa hendak membalik arah lagi melalui naratornya – seakan ada kilas kehendak
untuk berbuat baik atau menghujamkan nilai nilai baik kepada manusia, yang
hendaklah berlaku terhadap tokoh yang sedang diceritakan oleh narator. Tapi
tampaknya narator pun akhirnya menyerah dengan desakan desakan dari sang tokoh
sendiri, yang memang meledak ke dalam sifat sifat kebinatangan yang tak tertahankan.
Kehendaknya untuk totaliter akhirnya tak berdaya dengan tokoh yang menempuh
jalan alam kebinatangannya sendiri.
Tapi dengan begitu lanang jadi bercahaya. Novel
menampakkan salah satu sifat yang melekat pada manusia tanpa ragu. Tuntas
mengelaborasinya ke dalam wilayah kerja yang digelutinya: rekayasa genetika.
Kehendak untuk menyambut dan melawan takdir tuhan atas manusia. Ia menjadi
tantangan untuk membuka wilayah kemungkinan baru. Mungkin ia menjadi binatang.
Tapi siapa tahu suatu saat ia malah berbalik menjadi tuhan.
(hudan hidayat)
[1]Hudan Hidayat: Sastrawan,
Pendiri CWI (Creative Writing Institute) bersama Ahmadun Yosi Herfanda dan
Maman S. Mahayana, Deklarator Memo Indonesia bersama M Fadjroel Rachman,
Mariana Amiruddin dan Rocky Gerung,
[2]Novel LANANG karya Yonathan Rahardjo:
Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006
Empat Buku Tari Irawati
---Anwar Holid
Salah satu keuntungan paling langka menjadi editor ialah ia berkesempatan
mendapat manfaat dari teks yang disianginya. Ia bisa berjumpa dengan khazanah
ilmu yang kadang-kadang awalnya begitu asing dan terasa jauh, sampai akhirnya
dekat dan akrab, karena mendapat ilmu itu langsung dari ahlinya. Boleh jadi
itulah kesempatan istimewa editor dibandingkan profesi lain: ia berkesempatan
menelisik berbagai khazanah ilmu sambil mengurus teks tersebut agar lebih hidup
dan mempesona.
Ranah baru yang saya gumuli baru-baru ini ialah tari klasik Sunda, karena saya
menyunting naskah biografi seorang tokoh tari Sunda, Irawati Durban Ardjo. Dari
mana mengukur bahwa dia benar-benar seorang tokoh? Keseriusan, konsistensi,
loyalitas pengabdian, kiprah, sumbangsih, termasuk reputasi, merupakan alasan
kuat yang membuat sejumlah orang sepakat menyatakan bahwa beliau memang tokoh
tari Sunda. Lebih istimewa lagi, Irawati telah menulis empat buku tentang
dasar-dasar gerakan, sejarah, perkembangan, dan bunga rampai jenis tari di Jawa
Barat.
Kira-kira pada paro terakhir 2007, seorang teman memberi tahu bahwa Irawati
butuh editor untuk naskah biografinya yang ditulis oleh Ahda Imran dan Miftahul
Malik---waktu itu penulisannya belum selesai. Teman saya ingin juga jadi editor
naskah itu, tapi kesibukan dan jarak membuat dia menawari agar saya mengambil
peluang tersebut. Melamarlah saya, dan akhirnya diterima. Sejak itu
perlahan-lahan saya mengetahui reputasi beliau, bukan hanya sebagai penari,
melainkan juga pegiat tari Sunda yang lengkap. Di kalangan pecinta seni, Irawati
terkemuka lantaran menjadi penari Istana Negara sejak 1959 (zaman Presiden
Soekarno) hingga terakhir tampil pada 2006 saat Presiden Amerika Serikat George
Bush, Jr. berkunjung ke Indonesia, dijamu di Istana Bogor, meski kehadirannya
ditentang besar-besaran oleh sebagian kalangan.
Ketika kelas 1 SD, suatu hari Ira memperhatikan kakaknya yang diajari menari
oleh kakak ipar untuk persiapan pesta kenaikan kelas. Setelah sebentar
memperhatikan, segera ia mampu menirukan gerakan mereka. Bakat tari itu diasah
dan ditumbuhkan di BKI (Badan Kesenian Indonesia). Meski mula-mula dilarang
ibunya karena waktu itu citra perempuan penari Sunda ialah ronggeng penghibur
para menak, kemampuan dan kegigihan Ira mendapat perhatian dan dukungan yang
begitu besar dari dua guru utamanya, yaitu Tb. Oemay Martakusuma, Rd. Tjetje
Somantri.
Disiplin BKI mengantarkannya berkali-kali menjadi duta kesenian Indonesia sejak
remaja, memperkenalkan tari dan kesenian Indonesia. Sejak itu Ira tahu bahwa
dirinya menyatu dengan tari Sunda, meski dia pun banyak menguasai tari jenis
lain. Kenyataannya, biar memiliki sejumlah kemampuan dan ketertarikan, misalnya
sebagai desainer interior dan melukis---ia sarjana dari Jurusan Seni Rupa
ITB---Ira kembali lagi dan lagi ke tari Sunda, seni yang sejak kecil
membesarkannya, memungkinkan ia meraih banyak pengalaman berharga. Seiring
kedewasaan, Ira pun terlibat dalam segala urusan tari. Selain menari, dia
menjadi pelatih, memproduksi, mendirikan sanggar, merancang kostum, sampai
mencari sponsor pertunjukan.
Sebagai ahli tari, ia meneliti dan mendokumentasi khazanah literaturnya yang
langka. Muaranya ialah ketika ia menjadi pengajar di Kori, hingga lembaga ini
kini menjadi STSI, sampai ia pensiun.
Menulis buku tari Sunda awalnya pun demi pengabdian dan keperluan pengajaran.
Selama menyusun dan mengumpulkan data, betapa nelangsa ia mendapati fakta bahwa
dokumentasi tentang riwayat guru-gurunya, BKI dan Rinenggasari (lembaga yang
paling awal membentuk etos dirinya sebagai penari), dan yang paling vital
catatan koreografi, tak tersisa satu pun di bekas sekretariat. Semua arsip
lenyap. Terpaksa Ira menuliskan lagi, melacaknya baik dari ingatannya dan para
senior. Yang paling sulit ialah mencatat lagi tari kurang populer yang jarang
dipentaskan. Ingatan dan penafsiran Ira memainkan peran penting untuk
merekonstruksi kembali.
Tangan Ira tak hanya meliuk di antara selendang dan bergerak sesuai musik.
Tangan itu pun cekatan menghasilkan buku. Telah empat buku ia lahirkan, yaitu
Tari Sunda 1880-1990, Melacak Jejak Tb. Oemay Martakusuma dan Rd. Tjetje
Somantri (1998, rev. 2007); Buku Kawit, Teknik Gerak dan Tari Dasar Sunda,
dilengkapi VCD dan kaset tari (2004); Tari Sunda 1940-1965, Rd. Tjetje Somantri
dan Kiprah BKI (2008); dan Album Semarak Tari di Tatar Sunda (2008).
Buku terakhirnya, berisi khazanah tari Jawa Barat, penuh ilustrasi dan warna,
dirancang kronologik dari awal abad ke-20 hingga tahun 2000-an. Ira sedang
mengupayakan buku itu terbit sesuai gagasan dan visinya. Karena berwarna dan
penuh detail desain grafis, ongkos produksinya jelas mahal. "Saya sedang mencari
sponsor untuk buku ini. Kalau tidak ya diterbitkan sendiri," tegasnya. Sebuah
penerbit besar pernah ia dekati, tapi gagal, karena menurut Ira opsinya terlalu
berat, yaitu ia harus menanggung biaya percetakan, sedangkan penerbit mengurus
distribusi.
Untuk mensyukuri kiprah lebih dari lima dasawarsa berkiprah di dunia tari, pada
Desember 2008 ini Irawati sedang menyiapkan acara "Lima Dasawarsa Irawati
Menari." Kalau bisa sekalian dengan peluncuran buku-bukunya. Sementara itu
pengabdian pada tari terus ia lanjutkan; Irawati keliling ke sejumlah kabupaten
di Jawa Barat untuk mengajari guru-guru kesenian SD hingga SMU menari tari Sunda
sebaik mungkin.[]
Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai penulis,
editor, dan publisis freelance. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@... | (022) 2037348 | Panorama II No. 26 B, Bandung 40141
Pertama kali dipublikasi REPUBLIKA/Selisik, Minggu, 16 November 2008.
Situs terkait:
http://www.republika.co.id