How to Lose Belly Fat ?
lose 9 lbs every 11 days,
FOOD is more powerful than any prescription weight loss pills, because the FOOD
that you eat can either make you THIN or FAT. You don't get fat because of a
lack of exercising, that's a myth. You get fat because you don't eat the right
foods at the right intervals each day
Click here: http://bestwwoww.info
Increase Your Height 2-3 Inches
How a New Discovery Made A Short Man 2-3 Inches Taller In 6 Weeks
I Discovered the Secret to Add Several Inches of Solid Height to Anyone,
No Matter What Your Age Is... Even If You Haven't Grown in Years!
Click here : http://easylnk.com/?15376
Berbagi Ilmu Penulisan
---Anwar Holid
Writing is a journey to the unknown.
--Charlie Kaufman
Selama tiga bulan terakhir ini saya menjadi guru workshop penulisan di sebuah
yayasan di Bandung. Workshop tersebut berlangsung tiap Sabtu, akan berakhir pada
Sabtu, 20 November 2009 nanti, ditandai dengan acara nonton bareng film tentang
penulis---kami masih menimbang apa akan nonton tentang Beatrix Potter atau
Harvey Pekar. Sekitar dua bulan sebelumnya saya juga menjadi instruktur kelas
serupa di visikata.com. Namun karena gagal berkomitmen, saya mengundurkan diri
dua minggu sebelum program tersebut akan selesai.
Sebenarnya saya enggan menjadi guru, sebab kemampuan pedagogi saya boleh
dibilang nol. Yang lebih membuat saya suka ialah pengalaman berbagi dengan para
peserta. Momen itu sangat berharga, dari sanalah saya bisa menyerap ilmu dan
pengetahuan milik orang lain. Lepas dari kekurangan sebagai instruktur menulis,
entah kenapa saya bersemangat sekali ingin merenung setelah workshop itu
selesai. Ada apa dengan kemampuan menulis? Ini bisa jadi sangat terkait dengan
kebiasaan baca juga.
Agak mengherankan ada peserta yang ikut pada pertemuan pertama, tapi setelah itu
tak pernah muncul kembali. Atau sebaliknya, awalnya tampak bersemangat,
menunggu-nunggu, bahkan janji akan terus hadir selama masa workshop, tapi begitu
dimulai tak sekali pun batang hidupnya tampak. Ada juga yang persis tahu
workshop sedang berlangsung, tapi ternyata dia memilih aktivitas lain. Kejadian
ini membuktikan ternyata tak semua niat kuat itu akhirnya terlaksana. Ini mirip
dengan sesal sebagian orang yang gagal membaca tumpukan buku, meskipun dia
semangat berniat menghabisinya, tapi waktunya ternyata habis buat kerja dan
merokok, sementara sampul bukunya terus tertutup rapat. Bisa jadi kemampuan
retorika saya buruk dan ilmu saya cetek, jadi gagal menjadi guru menulis dengan
pesona seperti magnet dan mampu memikat banyak peserta. Tapi bagaimana lagi,
justru dengan berbagi ilmu itulah saya pun mendapat pengetahuan baru.
Kejutan lain ialah ternyata ada peserta yang benar-benar mengaku tidak bisa
menulis apa-apa (blank), bingung cara memulainya, meskipun dia merasa ada
sesuatu di dalam kepalanya yang ingin ia tumpahkan. Seseorang mengaku baru bisa
menulis bila ada pendapat yang merangsang pengetahuannya, jadi tulisannya
merupakan respons dan sumber polemik. Ada lagi peserta lain yang tampak mampu
menulis, punya banyak pemikiran dan pendapat, berpengalaman membaca banyak
literatur, namun merasa tidak punya waktu untuk menulis, dan Tuhan tampak belum
menakdirkannya untuk menulis. Dia percaya sebagian penulis memang sengaja diberi
waktu khusus untuk menulis, seperti Buya Hamka yang baru bisa menulis tafsir Al
Quran ketika di penjara. Teman saya ini mengaku kehabisan waktu menulis karena
kegiatannya tersita untuk mengurus warung. Dia agak yakin bahwa sebagian karya
tulis itu seolah-olah lahir dari keadaan "terpaksa" kalau bukan memang sudah
dirancang seperti itu. Dugaan ini
benar. Sejumlah buku atau karya tulis tampaknya tidak lahir dari tangan, tetapi
dari mulut pengarangnya. Contoh terkemuka dari "menulis" model ini ialah ribuan
puisi Jalaluddin Rumi, yang konon lahir begitu saja dari ucapan beliau ketika
dalam keadaan ekstase spiritual. Para muridnya yang mendengar itu langsung
"mengikat puisi itu" dengan mencatatnya. Di Bandung, keprolifikan Jalaluddin
Rakhmat salah satunya berkat rutinitas ceramah mingguan di masjid samping
rumahnya. Koleganya---kalau bukan putranya sendiri---lantas mentranskripsi
sekaligus mengedit hasil ceramah dan tanya jawab itu menjadi sejumlah buku
dengan tema tertentu. The Autobiography of Malcolm X awalnya merupakan penuturan
Malcolm X kepada penulis Alex Haley, dan akhirnya menjadi buku monumental.
Jelaslah bahwa buku tidak mesti lahir dari tulisan atau ketikan, ia juga bisa
lahir dari rekaman dan ucapan.
Belajar dari pengalaman, saya cukup percaya bahwa menulis berawal dari kebiasaan
yang diteguhkan lewat disiplin. Kebiasaan bisa jadi bermula dari keberanian.
Saya juga yakin bahwa menulis merupakan keahlian (kemampuan) yang bisa
dipelajari. "Kamu hanya butuh alat, bukan aturan," demikian tegas Roy Peter
Clark dalam bukunya Writing Tools. Alat menulis ialah bahasa dan seluruh
unsurnya, alat untuk menyampaikan pesan dan luapan pesan sepenuh perasaan dan
tepat seperti keinginan kita. Saya berpegang bahwa awal menulis bisa dipicu
dengan adagium KEEP YOUR HAND MOVING dari Natalie Goldberg. Meski Alfathri
Adlin, seorang teman saya, bilang yang lebih mendasar ialah KEEP YOUR MIND
THINKING. Itu benar. Menulis maupun membaca merupakan keterampilan yang harus
dipelajari manusia. Ia bukan bawaan orok. Dulu kita semua buta huruf dan buta
menulis. Baru setelah belajar a-b-c, kita jadi bisa menyampaikan pesan lewat
pernyataan.
Jadi lebih dari sekadar bisa menulis dengan baik, orang ingin mewujudkan isi
kepala jadi tulisan persis sesuai keinginannya. Mungkin itu sebabnya sebagian
mahasiswa heran kenapa dia pernah bisa menulis paper atau skripsi, tapi bingung
dengan isinya, atau tulisan itu betul-betul buruk sampai malu bila harus dibaca
kembali. Ini persis kata Joe Elliot, vokalis Def Leppard, yang pernah berseloroh
begini: "Saya harus mabuk dulu kalau mau mendengarkan album pertama kami." Orang
bisa geleng-geleng kenapa dahulu dia bisa menulis secara ajaib---baik bagus
ataupun buruk. Penulis hanya perlu mengakui bahwa itu memang karyanya. Setelah
itu lupakan atau lanjutkan. Kehidupan jalan terus, pikiran lain mendesak, emosi
perlu diluapkan.
Selama workshop, saya menyadari bahwa mayoritas peserta sebenarnya sudah punya
kebiasaan dan kemampuan menulis yang bagus, berani berekspresi dan
bereksperimen, punya kebiasaan menulis yang hebat, bahkan sebagian dari mereka
sudah berprestasi, misalnya memenangi sayembara penulisan. Sebagian orang punya
blog yang rutin dia isi dan ternyata jadi favorit banyak orang. Bila dia
menulis, tanggapan orang bersahut-sahutan. Peserta lain jadi redaktur buletin
internal yayasan. Saya pikir itu tanda bahwa mereka telah jadi penulis. Di sisi
lain ada juga teman yang masih ragu untuk berani mengirimkan tulisan ke media
massa semata-mata dia merasa pemikirannya bertentangan dengan arus utama saat
itu, meskipun argumennya kuat dan jelas. Fenomena ini muncul berbagai kesempatan
workshop penulisan yang pernah saya hadiri. Jadi apa kekurangan mereka? Yang
paling utama ialah mereka buta akan aturan umum (standar) menulis yang berlaku
di media massa atau digunakan oleh
penerbit yang bagus. Ini lebih dari sekadar menguasai EYD (Ejaan Yang
Disempurnakan) dengan baik, melainkan menulis secara efektif, hemat, fokus,
tegas, langsung pada sasaran. Menguasai EYD tentu bisa membuat tulisan kita
rapi, tapi belum menjamin tulisan kita "bernyawa" dan punya "suara" sendiri,
yang kuat, mampu mempesona pembaca dari awal sampai akhir.
Ini persis kriteria Hetih Rusli terhadap tokoh cerita yang kuat. "Yang
terpenting ialah meniupkan nyawa ke dalam diri si tokoh. Tokoh tersebut harus
hidup, bergerak, dan bernapas pada saat kita membacanya. Si tokoh harus hidup
dalam bentuk tiga dimensi di benak pembaca, bukan cuma tertulis di atas kertas."
Hal serupa berlaku pada tulisan nonfiksi. Feature profil orang dan biografi
hebat pasti punya tokoh yang mengesankan.
Wajar kalau begitu banyak orang mampu menulis namun dia heran sendiri kenapa
tulisannya diabaikan orang lain atau ditolak media massa. Perhatikan blog, zine,
atau media tertentu lain. Mereka suka menulis suka-suka, sehendak hati, tak
peduli apa orang lain kesulitan dengan cara berbahasanya. Ini membuktikan
sebenarnya menulis sangat personal, khas, sesuai maksud
masing-masing---sementara industri, akal sehat, kesepakatan umum, dan keinginan
menyetarakan cara berpikir memunculkan standardisasi. Sejumlah orang mampu
menulis di luar standar dan ternyata baik-baik saja. Saya pernah bertemu
mahasiswa yang menerbitkan zine tapi buta EYD. Bagi dia yang penting ekspresinya
terlampiaskan dan pikirannya tersampaikan.
Itu sebabnya saya berpendapat bahwa persoalan terbesar menulis ada pada proses
editing (penyuntingan). Saat itu penulis harus berjarak dari karyanya dan
tulisan mulai hendak menyapa pembaca luas. Jernihkah maksudnya? Mau apa dia
dengan tulisannya? Bisakah tulisan itu dibaca? Bagaimana bahasanya? Kepaduan
paragrafnya? Apa persis sesuai keinginan penulis? Adakah emosi mengalir di sana?
Ketika diedit, tulisan dinegosiasikan. Saya pernah menghabiskan empat kali
pertemuan hanya untuk membahas editing satu karya sebelum penulisnya benar-benar
siap mengirimnya ke media massa. Apalagi saya ternyata bukan tipe editor killer
yang tega main babat kalimat kabur tanpa diskusi lebih dulu. Di fase inilah
berkah lain muncul, yaitu saya jadi membuka-buka rujukan baru. Mizan mengirimi
Quantum Writer (Bobbi DePorter), dari Herry Mardian saya memfoto kopi Writing
Tools (Roy Peter Clark) dan On Writing Well (William Zinsser), Ignatius Haryanto
mengirimi The Quotable Book
Lover (Ben Jacobs & Helena Hjalmarsson, eds.) dan Menuju Jurnalisme
Berkualitas. Semua merupakan pustaka berharga.
Persoalan editing juga yang saya kemukakan kepada bang Mula Harahap waktu dia
menelepon saya membicarakan sekolah tulis-menulis yang sedang dia rancang di
kepalanya. "Iseng-iseng aku search tentang sekolah menulis, ternyata muncul nama
kau," katanya. Wah, senangnya ditelepon senior ramah seperti dia. Sudah lama
kami tak kontak.
Setelah workshop penulisan selesai, saya harus segera meneruskan order yang
terbengkalai karena berhari-hari berkutat menyiapkan materi. Rekan kerja saya
sampai penasaran karena saya membiarkan respons editannya. "Apa pembicaraan kita
mengenai teks itu sudah berhenti? Saya harap tak ada salah paham di antara
kita." Ah, tidak, jawab saya. Saya hanya sebentar teralihkan ke subjek yang juga
penting untuk dikaji dengan sungguh-sungguh.
Entah kapan dan di mana lagi saya punya kesempatan berbagi ilmu penulisan.[]
Anwar Holid sehari-hari bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@... | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II
No. 26 B Bandung 40141