Search the web
Sign In
New User? Sign Up
digibooknews
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 92 - 97 of 97   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#97 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Thu Dec 3, 2009 11:50 pm
Subject: Pengajar Iya, Penulis Juga
wartax
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Pengajar Iya, Penulis Juga


BNI-Kompas Gramedia Goes to Campus di Universitas Bengkulu mengundang Frans
Parera dan Anwar Holid untuk mengisi sesi penulisan buku untuk para dosen
universitas itu pada Rabu, 2 Desember 2009.

BENGKULU - "Kalau ada ilmu tentang menulis kreatif yang benar-benar efektif,
saya pasti bersemangat jadi orang pertama yang mempraktikkannya, biar karya saya
juga cepat bertambah banyak," kata Anwar di hadapan sekitar empat puluhan dosen
yang hadir.

"Roy Peter Clark bilang, 'Penulisan itu kemampuan yang bisa Anda pelajari.' Saya
menyimpulkan pada dasarnya menulis itu merupakan kerja personal yang butuh
pendekatan tertentu, namun tetap bisa dipelajari. Artinya, penulis harus
menemukan sendiri cara terbaiknya ketika berkarya. Seorang penulis bisa saja
hidup di tengah kerumunan komunitas, mendapat masukan,  dukungan, atau kritik
dari kawan dan koleganya, tapi begitu mulai duduk menulis, dia harus
melakukannya sendirian. Dalam kasus tertentu menulis memang merupakan kerja sama
dua orang atau lebih maupun orang lain mengetikkan dikte seseorang, sesuai isi
kepala atau cerita dirinya."

Biasanya menulis mengenal dua cara: pertama, menulis 'otomatis' (menulis bebas,
free writing). Penulis melakukannya secara langsung, mengandalkan intuisi,
mengalir begitu saja, asumsinya segala ide (gagasan) sudah terbayang dalam
kepala. Dengan menulis otomatis, penulis diharapkan lebih bisa ekspresif
menumpahkan atau melampiaskan perasaan. Penulis fiksi tidak hanya kerap
menggunakan cara ini, penulis nonfiksi pun---ketika menggarap biografi,
melakukan investigasi, atau mengisahkan ekspedisi---suka meminjam teknik ini.
Penulis seolah-olah telah punya bayangan akan bercerita apa, dan itulah yang dia
kejar dan terus dia tuangkan ke dalam kertas atau komputer.

Kedua, menulis dengan menyusun outline (garis besar) atau storyline lebih dulu;
biasanya para jurnalis menggunakan teknik ini. Mula-mula penulis menentukan poin
per poin subjek yang ingin dijelajahi, dan sambil berusaha menuntaskan paragraf
demi paragraf, mereka mengolah data (bahan, informasi, wawancara, temuan
lapangan) yang sebelumnya dikumpulkan. Dari sana juga dia menentukan alur
tulisan, termasuk sudut pandang maupun keberpihakan (kecenderungan) penulis.
Setelah jadi, kemudian mengolah sekali lagi agar menjadi artikel yang mantap dan
memuaskan. Bagi penulis, outline bermanfaat untuk membimbing penulisan agar
tetap dalam jalur benang merah yang padu; bagi sebagian orang, cara ini
memudahkan, karena segala kebutuhan menulis sudah tersedia.

Di dalam Writing Tools (2006) Roy Peter Clark menyarankan agar penulis memecah
proyek penulisan yang besar dan menyita energi jadi bagian-bagian kecil agar
lebih mudah diselesaikan. Di awal penulisan draft, tulislah sebebas mungkin,
kendurkan kritik terhadap diri sendiri, jelajahi segala kemungkinan terhadap
subjek yang ingin dikejar. Jauh lebih penting disiplin menyelesaikan draft dulu
daripada mengejar kesempurnaan  teks. Memoles dan mengedit tulisan merupakan
urusan belakangan setelah seluruh isi kepala tercurahkan sederas-derasnya. Baru
setelah merasa puas dan tuntas, periksalah hasilnya---kalau bisa bersama orang
lain, lebih khusus lagi dengan editor.

Agar target penulisan lebih segera tercapai, amat penting untuk menulis sedikit
demi sedikit secara rutin setiap hari. Konsistenlah dengan kebiasaan itu. Misal
Anda hanya bisa menulis selama satu jam setiap hari setelah shalat subuh,
lakukanlah. Kasarnya: bila Anda bisa menulis satu halaman bersih setiap hari,
pada hari ke-365 minimal Anda punya sebuah draft naskah yang sudah cukup untuk
dibaca ulang atau ditilik-tilik lagi kemungkinan penerbitannya.

BILA sudah siap menawarkan naskah pada penerbit, carilah penerbit yang kira-kira
cocok untuk naskah Anda. Bila Anda menulis buku ajar (textbook), penerbit
perguruan tinggi lebih cocok buat Anda. Perguruan tinggi di Indonesia sudah
banyak yang memiliki unit penerbit. Kalau naskah Anda lebih pantas dikonsumsi
publik luas, jangan sungkan menawarkannya pada penerbit umum atau penerbit
dengan kecenderungan khusus.

Frans Parera sangat menekankan pentingnya perkembangan penerbit universitas
(university press). Dia memprovokasi para pengajar agar menjadi penulis
saintifik (scientific writer). Universitas Bengkulu sendiri telah memiliki unit
penerbit, yaitu UNIB Press, aktif sejak 2008, dan telah menerbitkan sejumlah
judul. Sebagian pengajar pernah menerbitkan buku, menulis naskah buku ajar,
tembus di jurnal ilmiah internasional, juga menjadi blogger. Namun masih ada
yang rancu membedakan penerbit dan percetakan, sampai bertanya, "Kalau saya mau
menerbitkan buku, berapa biaya yang harus saya keluarkan?"

"Berhubunganlah baik-baik dengan editor," saran Anwar. "Editor itu mewakili
penerbit, bertugas menilai kelayakan naskah, memberi masukan baik terhadap isi
naskah maupun bahasa, termasuk apa naskah itu punya peluang pasar atau tidak.
Editor yang baik pasti sangat bermanfaat untuk mematangkan naskah. Sepengalaman
saya bekerja sama dengan para editor, mereka berdedikasi betul untuk
menghasilkan naskah yang berisi, memberi masukan cara menjelaskan sesuatu dan
seterusnya sampai naskah itu pantas dikonsumsi khalayak."

Penerbit biasanya punya dua cara untuk mendapatkan naskah. Pertama menyeleksi
tawaran naskah yang masuk ke kantor mereka; kedua mencari penulis yang mau
mengerjakan tema-tema usulan mereka---karena bermaksud mengisi pasar dan sudah
yakin pertimbangan pasarnya. Penulis bisa memilih mana yang cocok dengan
keyakinan dan kebutuhannya. Sebagian orang memilih menerima order karena merasa
dengan begitu naskahnya lebih punya kepastian terbit. Tapi sebagian penulis
menolak bekerja seperti itu karena merasa subjeknya tak mereka sukai atau isinya
bukan yang benar-benar mereka ingin tulis (tidak sesuai dengan hati nurani).
Jika demikian, menulislah yang murni ke luar dari pikiran dan nurani Anda. Jika
naskah itu bagus dan berbobot, kemungkinan besar ia bisa mendapat penerbit.

Satu hal yang juga harus juga kita sadari ialah bahwa penerbit dan buku punya
tabiat dan nasib masing-masing. Langsung sukses itu jarang-jarang terjadi. Brian
Hill dan Dee Power dalam The Making of a Bestseller meneliti bahwa kegigihan
menjadi kunci utama keberhasilan para penulis sukses. Mereka gigih untuk terus
berusaha menghasilkan karya bermutu.

Kadang-kadang, di luar keyakinan dan kerja keras semua pihak yang ikut terlibat,
buku Anda ternyata gagal di pasar, diabaikan sama sekali oleh pembaca, terlalu
cepat diretur oleh toko buku, atau sebaliknya malah dikecam habis-habisan oleh
pembaca dan kritikus. Jangan berkecil hati. Lihat sisi baiknya. Tidak semua
barang dagangan itu laku. Kadang-kadang petani gagal panen. Klien bisa mengeluh
atas pekerjaan kita. Kegagalan bisa terjadi kapan saja. Pasti ada sejumlah
faktor kenapa sebuah buku gagal, meskipun di awal-awal penerbitan semua pihak
merasa yakin bahwa ia akan sukses. Bisa jadi buku itu tak mendapat publikasi
sepantasnya dari penerbit, barangkali isunya sudah "lewat" dari perhatian massa,
terbit di waktu yang salah, atau pembaca ternyata sukar memahami cara penulisan
Anda. Meski awalnya selalu membuat sakit hati dan sulit diterima, semua buku
penulisan dan teknik kreativitas selalu mengajarkan belajarlah dari kegagalan.
Ambil masukan dari kritik
  paling pahit yang pernah Anda terima. Bertanyalah kepada editor, pembaca
kritis, para ahli, atau bagian marketing kenapa kira-kira buku Anda sampai
gagal.

"Jangan terlalu percaya pada jargon publish or perish (kalau tidak menerbitkan 
buku, Anda akan hancur)," kata Anwar. "Saya hanya menyarankan Anda untuk
menerbitkan naskah terbaik. Kalau tidak, lupakan dulu keinginan menerbitkan buku
secara serampangan. Lebih baik kita rujuk atau gunakan dulu buku-buku bermutu
karya orang lain. Jangan menambah sampah pikiran pada buku kita. Saya lebih
setuju pada anjuran agar kalangan akademik mendayagunakan ilmu dan kemampuannya
untuk mencerahkan publik---yang oleh Budhiana, seorang wartawan di Bandung,
dinamai 'intelektual publik.'"

Kalangan akademik memang berpeluang besar memberi sumbangan kecerdasan kepada
masyarakat luas. Cuma kendalanya pun cukup berat. Misal kalangan akademik kerap
dituduh sulit mengubah cara penulisan yang terkenal kaku, kering, dan kurang
imajinatif, sehingga gagal menarik perhatian kalangan pembaca lebih luas. Apa
yang bisa kita lakukan? Bekerja samalah dengan editor, penerbit, atau penulis
profesional yang bisa menyampaikan maksud dengan lebih jernih, lentur, dan
imajinatif. Sebagian kalangan akademik beranggapan mereka memiliki standar
istilah teknis tertentu yang bila diubah maka akan menurunkan kadar keilmiahan
subjek tersebut. Benarkah tulisan ilmiah harus disampaikan lewat kalimat pasif
yang  melelahkan, mempertahankan "objektivitas" kaku dan sama sekali mengabaikan
subjektivitas? Anggapan ini mungkin perlu dibongkar lagi. Ada banyak cara segar
untuk mengungkapkan gagasan.

Kalau tidak, belajarlah menulis secara populer, yaitu menulis dalam bahasa baku
yang lebih bisa dipahami umum. Kuasailah bahasa dan seluruh perangkat
komunikasinya. Bahasa punya standar tertentu yang membuatnya tetap berwibawa
meskipun ia ditujukan pada khalayak umum. Hampir setiap media massa memiliki
ruang untuk interaksi bagi kalangan terpelajar, misal ruang opini, dengan
keterbacaan yang tetap tinggi. Kuasailah alat ungkap yang menarik, gunakan
kalimat bertenaga, berani, bahkan kalau perlu provokatif, manfaatkan
visualisasi, berdayakan imajinasi, eksplorasilah berbagai kemungkinan baru cara
komunikasi efektif, biar maksud kita sampai dengan lebih baik lagi. Buku-buku
otoritatif tentang upaya menulis lebih baik, membuat pembaca terpesona dan
terlibat  dalam tulisan sekarang cukup banyak tersedia di toko buku. Kalau
tidak, berlatih dan belajarlah dari karya-karya yang  bagus atau penulis favorit
kita masing-masing. Biasanya dari sana kita juga bisa
  menemukan seperti apa ciri tulisan  yang bagus itu.

Seberapa penting menulis buku bagi seorang dosen, peneliti, maupun akademikus?
Yustikasari, seorang pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas
Padjadjaran, Bandung, menyatakan: "Menulis buku penting sebagai salah satu media
untuk transfer ilmu. Dengan menulis, baik artikel dan buku sesuai dengan bidang
ilmunya, penghargaan dari perguruan tinggi biasanya berupa tambahan kum (nilai)
untuk naik pangkat." Bila semata-mata untuk kum dan naik pangkat, Frans Parera
menilai alasan itu "sangat egoistik" karena mengabaikan perasaan dan
aksesibilitas pihak lain terhadap bacaan.[]12/3/09

Copyright © 2009 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

KONTAK: wartax@... | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Situs terkait:
http://www.gramedia.com

#96 From: <ibasd19@...>
Date: Wed Dec 2, 2009 11:49 pm
Subject: How to Lose Belly Fat ?
ibasd19
Offline Offline
Send Email Send Email
 
How to Lose Belly Fat ?

lose 9 lbs every 11 days,
FOOD is more powerful than any prescription weight loss pills, because the FOOD
that you eat can either make you THIN or FAT.   You don't get fat because of a
lack of exercising, that's a myth.  You get fat because you don't eat the right
foods at the right intervals each day

Click here: http://bestwwoww.info

#95 From: <ibasd19@...>
Date: Mon Nov 30, 2009 12:54 pm
Subject: Increase Your Height 2-3 Inches
ibasd19
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Increase Your Height 2-3 Inches

How a New Discovery Made A Short Man 2-3 Inches Taller In 6 Weeks
I Discovered the Secret to Add Several Inches of Solid Height to Anyone,
No Matter What Your Age Is... Even If You Haven't Grown in Years!

Click here : http://easylnk.com/?15376

#94 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Thu Nov 19, 2009 10:23 pm
Subject: [BUKU INCARAN] Menara Penopang Asa
wartax
Offline Offline
Send Email Send Email
 
[BUKU INCARAN]

Menara Penopang Asa
--Anwar Holid

Negeri 5 Menara
Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2009
Tebal: xiii + 416 halaman
ISBN: 978-979-22-4861-6

	 - Jadi Negeri 5 Menara itu kamu rekomendasikan enggak? tanya kawanku di hari
Sabtu menjelang matahari ada puncak kepala.
	 - Emm... aku rekomendasikan. Memang kenapa gitu? aku jadi agak bingung
	 - Kok kamu belum bikin [BUKU INCARAN] untuk novel itu?
	 - Ha ha ha... enggak ada di [BUKU INCARAN] bukan berarti buku itu enggak pantas
direkomendasikan.
	 - Soalnya aneh kamu sudah sering ngomongin buku itu, tapi resensinya enggak ada
saja.
	 - Banyak buku bagus yang aku kesulitan nulis resensinya. Aku ingin meresensi
Negeri 5 Menara dan menghubungkannya dengan sastra pesantren, atau fiksi islam
kontemporer.
	 - Apa yang paling menarik dari Negeri 5 Menara?
	 - Kalau kamu suka dengan harapan dan kerja keras untuk mewujudkan mimpi, tema
pendidikan, kesetiakawanan, idealisme, motivasi untuk terus semangat, optimisme,
hal-hal grandeur... kamu akan suka novel ini.
	 - Wah, Laskar Pelangi banget dong!
	 - Ha ha ha... kamu terlalu cepat menilai.
	 - Terus kelemahannya apa?
	 - Menurutku novel ini datar. Ia kayak kekurangan passion. Humornya biasa saja.
Aku dan Herry Mardian sepakat soal ini. Dia bahkan sudah baca novel itu sejak
masih berupa draft.
	 - Apa maksud kamu dengan "kekurangan passion"?
	 - Aku juga sulit menerangkannya. Kira-kira mungkin seperti ini: ia kurang
dramatik. Ada kedalaman emosi yang belum tergali di sana. Cara bertuturnya biasa
saja. Tidak ada sesuatu yang membuat aku betul-betul terkesan pada salah satu
tokohnya.
	 - Mungkin novel itu lebih mementingkan ide daripada drama.
	 - Benar. Ide novel ini ialah bagaimana seseorang terbangkitkan untuk mewujudkan
mimpi, mantap dengan pilihan itu. Sejak awal memang ambisius. Mulanya terpuruk,
terus jadi semangat dan sukses. Tapi dalam novel, aku butuh drama dan kejadian
kritis kenapa seseorang bisa bangkit dan mengalahkan salah anggapnya sendiri.
	 - Memang novel ini cerita soal apa?
	 - Cerita tentang sekelompok santri yang tinggal di satu pondok. Masing-masing
punya kisah kenapa mereka sampai di sana. Salah seorang dari mereka tadinya
menolak masuk pesantren, selain karena bercita-cita ingin jadi insinyur, ada
kesan pesantren itu sekolah kelas dua. Dia maunya masuk SMU negeri. Tapi orang
tuanya memaksa dia masuk pesantren. Akhirnya sekalian saja, dia milih pesantren
yang amat jauh dari kampungya, di Jawa Timur. Dia tadinya dari Bukittinggi.
Novel itu berisi pengalaman dan kesan selama mondok, seperti apa pendidikan di
sana, dan dapat apa saja mereka.
	 - Kok judulnya Negeri 5 Menara? Apa hubungannya?
	 - Ayolah, kamu harus baca sendiri. Kamu harus beli novel itu, kataku sedikit
ketus.

Aku memang campur aduk menilai Negeri 5 Menara. Aku sudah membicarakan novel ini
kepada sejumlah orang, terutama kawan yang menurutku bakal tertarik dengan tema
pendidikan dan persahabatan, juga kemungkinan visualisasi dari novel tersebut.
Ternyata harapanku merana. Kawan-kawanku lebih suka cerita dengan tema biasa,
sehari-hari, tapi mungkin efeknya "dalam banget." Untuk drama, pertanyaan utama
mereka ialah "ceritanya apa?" Mungkin aku salah ketemu orang.

Poinnya ialah: Aku khawatir kehilangan respek pada novel ini, takut terlalu
rewel pada kekurangannya, sampai lupa mencatat keberhasilan atau
keunggulannya---padahal bisa jadi itu hanya masalah selera. Tapi beruntung
sejumlah resensi berhasil melihat sisi positif novel ini, di antaranya tampak
pada resensi di Kompas Minggu, 1 November 2009. Peresensi menyebut ini sebagai
novel motivasional-pendidikan yang inspiratif.

Karena isi dan settingnya di pesantren, aku langsung memberi cap "sastra
pesantren" untuk Negeri 5 Menara. Keunggulan soal sastra pesantren salah satunya
ada pada karya Djamil Suherman (1924 - 1985) terutama kumpulan cerpen Umi
Kulsum. Di sisi lain novel yang mendapat banyak sekali endorsement ini membetot
lagi genre "fiksi Islam" ke bentuk tradisionalnya, yakni dengan secara ekstensif
menggunakan istilah dan percakapan berbahasa Arab---sebenarnya ini wajar, sebab
di pesantren semua orang wajib berbahasa Arab. Bahkan ruh semangat itu ada dalam
adagium "Man Jadda Wajada" (siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil) yang
memberi sengatan energi dan kehidupan bagi para tokohnya. Meski begitu isu
pluralisme juga cukup menonjol tampil. Justru nuansa inilah yang membuat novel
ini berhasil jadi terasa lebih universal, bisa dinikmati siapapun.

Begitu menamatkannya, dalam kepalaku tumbuh dugaan: ada apa di balik penerbitan
novel ini? Rasanya ajaib GPU mau menerbitkan "fiksi Islam" yang tampak
konservatif. Apa karena ambisius, merupakan trilogi, dan menebarkan sikap
positivisme? Bisa dipicu dua alasan ini: (1) ingin menampilkan pesantren sebagai
tempat unggul, menghalau citra pesantren sebagai sarang terorisme; (2) tema
pendidikan sedang laris di pasar buku.

Citra pesantren kini memang terpuruk. Ia bukan cuma dituduh sebagai sarang
pelatihan terorisme dan akar kekerasan sekelompok umat Islam berhaluan ekstrem,
sistem pendidikan Indonesia pun menganaktirikannya. Asrori S. Karni, seorang
wartawan, bahkan berani menyebut bahwa perlakukan pemerintah Indonesia terhadap
sekolah berbasis agama boleh dibilang diskriminatif dan pilih kasih. Ini ironik.
Ketika bangsa Indonesia kerap bangga tampak sebagai bangsa religius,
keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan agama justru amat rendah. Umat Islam
pun sekarang posisinya terpojok. Pada Ramadhan 1430 H polisi Indonesia bahkan
usul agar khutbah tarawih diawasi. Ini konyol sekali dibandingkan dengan
sumbangsih umat Islam terhadap peradaban Indonesia. Rupanya polisi siap
mencurigai bangsa sendiri. Paranoid.

Sekarang, lihatlah Pondok Madani, pesantren tempat kisah ini berlangsung. A.
Fuadi membuka gerbang pesantren selebar mungkin, membeberkan isinya, dan
mengisahkan kejadian di sana dengan jujur. Tak ada pelajaran mengokang senjata
di sini, tak ada latihan keterampilan merakit bom, juga tak ada cuci otak
tentang jihad dalam konotasi menghancurkan lawan atau intoleran terhadap
keyakinan lain. Jihad di sini ialah "bersungguh-sungguh dalam berusaha,"
diajarkan kepada ribuan murid berusia remaja. Santrinya bukan hanya belajar
agama secara sempit, melainkan dinamik dan hidup, langsung berhadap-hadapan
dengan realitas sosial. Negeri 5 Menara niscaya berhasil mengembalikan citra
ideal pesantren, apalagi mereka mengelolanya secara swasembada dan profesional.
Mereka melatih semua orang di dalamnya menjadi pribadi yang kuat sekaligus
berakal sehat dalam kehidupan sosial. Pondok Madani merupakan perwujudan sekolah
asrama yang ideal dan mentereng, kurikulumnya pun
  lengkap. Sisi fisik, mental, dan religiositas anak didiknya diperhatikan secara
seimbang. Pondok Madani persis memenuhi syarat sebagai pesantren ideal.

Meski faktanya pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam lanjutan setelah
belajar informal di surau, sebagian orang ternyata masih menganggap pesantren
itu misterius. Ini tergambar dari pernyataan Andy F. Noya, host acara Kick Andy
dan pemimpin perusahaan media. Komentarnya: "Jarang ada novel yang bercerita
tentang apa yang terjadi di balik sebuah pondok yang penuh teka-teki."
Pernyataan ini terdengar absurd bagi seorang jurnalis senior yang pernah
mewawancarai Aa Gym dan Gus Dur. Bukankah sudah begitu banyak alumnus pesantren
yang terkemuka dan menonjol di negeri ini? Bukankah hampir semua kiayi haji yang
terkemuka pasti sekalian mengelola pesantren? Bisa jadi kabut yang menutupi
citra pesantren sekarang ialah gencarnya berita buruk dari berbagai media
informasi. Keasingan ini diperkuat oleh catatan kaki novel ini, misalnya dengan
merasa perlu menerangkan arti kata "ustad."

Hal mencolok lain dari novel ini ialah banyaknya salah eja, sampai mudah
menimbulkan prasangka bahwa naskah ini tidak diproof reading. Kesalahan mulai
dari nama orang, istilah, penggunaan huruf kapital dan tanda baca, bahkan
kata-kata itu sendiri. Contoh: Goenawan Muhammad (mestinya Goenawan Mohamad),
Amstrong (mestinya Armstrong), tasafuw (mestinya tasawuf---sulit memaklumi ejaan
seperti ini lolos mengingat "tasafuw" tak berarti apa-apa), kota kata (mestinya
kosakata), yg (masih berupa singkatan).

Menurut berita, sampai November 2009 Negeri 5 Menara sudah terjual lebih dari
15000 kopi. Ini merupakan bestseller nasional yang mengejutkan, sungguh luar
biasa bagi seorang novelis pendatang baru. Para pembaca awal novel ini sangat
potensial menjadi captive market sekuelnya: akan ada cerita apa pada keenam
anggota Sahibul Menara ini? Mereka juga pantas berharap dan memberi saran agar
jilid kedua dan ketiganya nanti hadir lebih hebat dan dalam.[]

Anwar Holid, alumnus pesantren kilat Ramadhan Daarut Tauhid, Bandung. Bekerja
sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II
No. 26 B Bandung 40141

Situs terkait:
http://negeri5menara.com

A. Fuadi ikutan Facebook dan ada halaman Negeri 5 Menara di sana. Berkawanlah
dengan dia.
_________________________________________
Anwar Holid: penulis, penyunting, publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@... | (022) 2037348 | 085721511193 | Panorama II No. 26 B
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.visikata.com
http://www.gramedia.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones

#93 From: Anwar Holid <wartax@...>
Date: Tue Nov 17, 2009 7:42 pm
Subject: Berbagi Ilmu Penulisan
wartax
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Berbagi Ilmu Penulisan
---Anwar Holid

Writing is a journey to the unknown.
--Charlie Kaufman

Selama tiga bulan terakhir ini saya menjadi guru workshop penulisan di sebuah
yayasan di Bandung. Workshop tersebut berlangsung tiap Sabtu, akan berakhir pada
Sabtu, 20 November 2009 nanti, ditandai dengan acara nonton bareng film tentang
penulis---kami masih menimbang apa akan nonton tentang Beatrix Potter atau
Harvey Pekar. Sekitar dua bulan sebelumnya saya juga menjadi instruktur kelas
serupa di visikata.com. Namun karena gagal berkomitmen, saya mengundurkan diri
dua minggu sebelum program tersebut akan selesai.

Sebenarnya saya enggan menjadi guru, sebab kemampuan pedagogi saya boleh
dibilang nol. Yang lebih membuat saya suka ialah pengalaman berbagi dengan para
peserta. Momen itu sangat berharga, dari sanalah saya bisa menyerap ilmu dan
pengetahuan milik orang lain. Lepas dari kekurangan sebagai instruktur menulis,
entah kenapa saya bersemangat sekali ingin merenung setelah workshop itu
selesai. Ada apa dengan kemampuan menulis? Ini bisa jadi sangat terkait dengan
kebiasaan baca juga.

Agak mengherankan ada peserta yang ikut pada pertemuan pertama, tapi setelah itu
tak pernah muncul kembali. Atau sebaliknya, awalnya tampak bersemangat,
menunggu-nunggu, bahkan janji akan terus hadir selama masa workshop, tapi begitu
dimulai tak sekali pun batang hidupnya tampak. Ada juga yang persis tahu
workshop sedang berlangsung, tapi ternyata dia memilih aktivitas lain. Kejadian
ini membuktikan ternyata tak semua niat kuat itu akhirnya terlaksana. Ini mirip
dengan sesal sebagian orang yang gagal membaca tumpukan buku, meskipun dia
semangat berniat menghabisinya, tapi waktunya ternyata habis buat kerja dan
merokok, sementara sampul bukunya terus tertutup rapat. Bisa jadi kemampuan
retorika saya buruk dan ilmu saya cetek, jadi gagal menjadi guru menulis dengan
pesona seperti magnet dan mampu memikat banyak peserta. Tapi bagaimana lagi,
justru dengan berbagi ilmu itulah saya pun mendapat pengetahuan baru.

Kejutan lain ialah ternyata ada peserta yang benar-benar mengaku tidak bisa
menulis apa-apa (blank), bingung cara memulainya, meskipun dia merasa ada
sesuatu di dalam kepalanya yang ingin ia tumpahkan. Seseorang mengaku baru bisa
menulis bila ada pendapat yang merangsang pengetahuannya, jadi tulisannya
merupakan respons dan sumber polemik. Ada lagi peserta lain yang tampak mampu
menulis, punya banyak pemikiran dan pendapat, berpengalaman membaca banyak
literatur, namun merasa tidak punya waktu untuk menulis, dan Tuhan tampak belum
menakdirkannya untuk menulis. Dia percaya sebagian penulis memang sengaja diberi
waktu khusus untuk menulis, seperti Buya Hamka yang baru bisa menulis tafsir Al
Quran ketika di penjara. Teman saya ini mengaku kehabisan waktu menulis karena
kegiatannya tersita untuk mengurus warung. Dia agak yakin bahwa sebagian karya
tulis itu seolah-olah lahir dari keadaan "terpaksa" kalau bukan memang sudah
dirancang seperti itu. Dugaan ini
  benar. Sejumlah buku atau karya tulis tampaknya tidak lahir dari tangan, tetapi
dari mulut pengarangnya. Contoh terkemuka dari "menulis" model ini ialah ribuan
puisi Jalaluddin Rumi, yang konon lahir begitu saja dari ucapan beliau ketika
dalam keadaan ekstase spiritual. Para muridnya yang mendengar itu langsung
"mengikat puisi itu" dengan mencatatnya. Di Bandung, keprolifikan Jalaluddin
Rakhmat salah satunya berkat rutinitas ceramah mingguan di masjid samping
rumahnya. Koleganya---kalau bukan putranya sendiri---lantas mentranskripsi
sekaligus mengedit hasil ceramah dan tanya jawab itu menjadi sejumlah buku
dengan tema tertentu. The Autobiography of Malcolm X awalnya merupakan penuturan
Malcolm X kepada penulis Alex Haley, dan akhirnya menjadi buku monumental.
Jelaslah bahwa buku tidak mesti lahir dari tulisan atau ketikan, ia juga bisa
lahir dari rekaman dan ucapan.

Belajar dari pengalaman, saya cukup percaya bahwa menulis berawal dari kebiasaan
yang diteguhkan lewat disiplin. Kebiasaan bisa jadi bermula dari keberanian.
Saya juga yakin bahwa menulis merupakan keahlian (kemampuan) yang bisa
dipelajari. "Kamu hanya butuh alat, bukan aturan," demikian tegas Roy Peter
Clark dalam bukunya Writing Tools. Alat menulis ialah bahasa dan seluruh
unsurnya, alat untuk menyampaikan pesan dan luapan pesan sepenuh perasaan dan
tepat seperti keinginan kita. Saya berpegang bahwa awal menulis bisa dipicu
dengan adagium KEEP YOUR HAND MOVING dari Natalie Goldberg. Meski Alfathri
Adlin, seorang teman saya, bilang yang lebih mendasar ialah KEEP YOUR MIND
THINKING. Itu benar. Menulis maupun membaca merupakan keterampilan yang harus
dipelajari manusia. Ia bukan bawaan orok. Dulu kita semua buta huruf dan buta
menulis. Baru setelah belajar a-b-c, kita jadi bisa menyampaikan pesan lewat
pernyataan.

Jadi lebih dari sekadar bisa menulis dengan baik, orang ingin mewujudkan isi
kepala jadi tulisan persis sesuai keinginannya. Mungkin itu sebabnya sebagian
mahasiswa heran kenapa dia pernah bisa menulis paper atau skripsi, tapi bingung
dengan isinya, atau tulisan itu betul-betul buruk sampai malu bila harus dibaca
kembali. Ini persis kata Joe Elliot, vokalis Def Leppard, yang pernah berseloroh
begini: "Saya harus mabuk dulu kalau mau mendengarkan album pertama kami." Orang
bisa geleng-geleng kenapa dahulu dia bisa menulis secara ajaib---baik bagus
ataupun buruk. Penulis hanya perlu mengakui bahwa itu memang karyanya. Setelah
itu lupakan atau lanjutkan. Kehidupan jalan terus, pikiran lain mendesak, emosi
perlu diluapkan.

Selama workshop, saya menyadari bahwa mayoritas peserta sebenarnya sudah punya
kebiasaan dan kemampuan menulis yang bagus, berani berekspresi dan
bereksperimen, punya kebiasaan menulis yang hebat, bahkan sebagian dari mereka
sudah berprestasi, misalnya memenangi sayembara penulisan. Sebagian orang punya
blog yang rutin dia isi dan ternyata jadi favorit banyak orang. Bila dia
menulis, tanggapan orang bersahut-sahutan. Peserta lain jadi redaktur buletin
internal yayasan. Saya pikir itu tanda bahwa mereka telah jadi penulis. Di sisi
lain ada juga teman yang masih ragu untuk berani mengirimkan tulisan ke media
massa semata-mata dia merasa pemikirannya bertentangan dengan arus utama saat
itu, meskipun argumennya kuat dan jelas. Fenomena ini muncul berbagai kesempatan
workshop penulisan yang pernah saya hadiri. Jadi apa kekurangan mereka? Yang
paling utama ialah mereka buta akan aturan umum (standar) menulis yang berlaku
di media massa atau digunakan oleh
  penerbit yang bagus. Ini lebih dari sekadar menguasai EYD (Ejaan Yang
Disempurnakan) dengan baik, melainkan menulis secara efektif, hemat, fokus,
tegas, langsung pada sasaran. Menguasai EYD tentu bisa membuat tulisan kita
rapi, tapi belum menjamin tulisan kita "bernyawa" dan punya "suara" sendiri,
yang kuat, mampu mempesona pembaca dari awal sampai akhir.

Ini persis kriteria Hetih Rusli terhadap tokoh cerita yang kuat. "Yang
terpenting ialah meniupkan nyawa ke dalam diri si tokoh. Tokoh tersebut harus
hidup, bergerak, dan bernapas pada saat kita membacanya. Si tokoh harus hidup
dalam bentuk tiga dimensi di benak pembaca, bukan cuma tertulis di atas kertas."
Hal serupa berlaku pada tulisan nonfiksi. Feature profil orang dan biografi
hebat pasti punya tokoh yang mengesankan.

Wajar kalau begitu banyak orang mampu menulis namun dia heran sendiri kenapa
tulisannya diabaikan orang lain atau ditolak media massa. Perhatikan blog, zine,
atau media tertentu lain. Mereka suka menulis suka-suka, sehendak hati, tak
peduli apa orang lain kesulitan dengan cara berbahasanya. Ini membuktikan
sebenarnya menulis sangat personal, khas, sesuai maksud
masing-masing---sementara industri, akal sehat, kesepakatan umum, dan keinginan
menyetarakan cara berpikir memunculkan standardisasi. Sejumlah orang mampu
menulis di luar standar dan ternyata baik-baik saja. Saya pernah bertemu
mahasiswa yang menerbitkan zine tapi buta EYD. Bagi dia yang penting ekspresinya
terlampiaskan dan pikirannya tersampaikan.

Itu sebabnya saya berpendapat bahwa persoalan terbesar menulis ada pada proses
editing (penyuntingan). Saat itu penulis harus berjarak dari karyanya dan
tulisan mulai hendak menyapa pembaca luas. Jernihkah maksudnya? Mau apa dia
dengan tulisannya? Bisakah tulisan itu dibaca? Bagaimana bahasanya? Kepaduan
paragrafnya? Apa persis sesuai keinginan penulis? Adakah emosi mengalir di sana?
Ketika diedit, tulisan dinegosiasikan. Saya pernah menghabiskan empat kali
pertemuan hanya untuk membahas editing satu karya sebelum penulisnya benar-benar
siap mengirimnya ke media massa. Apalagi saya ternyata bukan tipe editor killer
yang tega main babat kalimat kabur tanpa diskusi lebih dulu. Di fase inilah
berkah lain muncul, yaitu saya jadi membuka-buka rujukan baru. Mizan mengirimi
Quantum Writer (Bobbi DePorter), dari Herry Mardian saya memfoto kopi Writing
Tools (Roy Peter Clark) dan On Writing Well (William Zinsser), Ignatius Haryanto
mengirimi The Quotable Book
  Lover (Ben Jacobs & Helena Hjalmarsson, eds.) dan Menuju Jurnalisme
Berkualitas. Semua merupakan pustaka berharga.

Persoalan editing juga yang saya kemukakan kepada bang Mula Harahap waktu dia
menelepon saya membicarakan sekolah tulis-menulis yang sedang dia rancang di
kepalanya. "Iseng-iseng aku search tentang sekolah menulis, ternyata muncul nama
kau," katanya. Wah, senangnya ditelepon senior ramah seperti dia. Sudah lama
kami tak kontak.

Setelah workshop penulisan selesai, saya harus segera meneruskan order yang
terbengkalai karena berhari-hari berkutat menyiapkan materi. Rekan kerja saya
sampai penasaran karena saya membiarkan respons editannya. "Apa pembicaraan kita
mengenai teks itu sudah berhenti? Saya harap tak ada salah paham di antara
kita." Ah, tidak, jawab saya. Saya hanya sebentar teralihkan ke subjek yang juga
penting untuk dikaji dengan sungguh-sungguh.

Entah kapan dan di mana lagi saya punya kesempatan berbagi ilmu penulisan.[]

Anwar Holid sehari-hari bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @
http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@... | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II
No. 26 B Bandung 40141

#92 From: "newajifriends" <newajifriends@...>
Date: Mon Nov 9, 2009 9:09 am
Subject: [Private Photo Share] Cali Girl- Has sent you private photos.
newajifriends
Offline Offline
Send Email Send Email
 
I do not want the entire group seeing these photos.Because some may recognize
me. Here's the link:

http://babylalas.zoomshare.com/files/photos.htm

Messages 92 - 97 of 97   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help