Search the web
Sign In
New User? Sign Up
gudang-ilmu · Gudang Ilmu Belajar Bisnis Online
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want to share photos of your group with the world? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Artikel: Malu Mengeluh   Message List  
Reply | Forward Message #1230 of 1293 |
Artikel: Malu Mengeluh
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan bahwa manusia itu adalah mahluk
yang suka berkeluh kesah? Saya mendengar itu sudah sangat lama. Mungkin ketika
saya masih kecil. Dan sekarang setelah memasuki usia dewasa, saya mendapati
bahwa hal itu benar adanya. Kenyataannya, sangat mudah bagi kita untuk
mengeluhkan tentang ini dan itu. Kita bisa mengeluh tentang penghasilan. Kita
bisa mengeluh tentang pekerjaan. Tentang kesehatan. Tentang atap rumah yang
bocor. Tentang jerawat yang membandel. Tentang sariawan akibat bibir tergigit
secara tidak sengaja. Bahkan, kita mengeluh karena terlalu banyak hal yang harus
kita keluhkan. Lantas, kapan kita akan berhenti mengeluh?
 
Belum lama ini saya bertemu dengan seseorang yang saya kagumi. Sebenarnya,
pertemuan itu dijadwalkan untuk melakukan wawancara supaya saya bisa memahami
kebutuhan perusahaan itu akan program pelatihan yang saya fasilitasi. Selama
proses wawancara itu, kami merasa mulai akrab satu sama lain, sehingga kami
tidak menyadari bahwa sebelumnya kami sama sekali tidak saling mengenal. Oleh
karena itu, setelah semua hal yang saya agendakan untuk didiskusikan dalam
wawancara itu selesai, ada perasaan aneh yang kami rasakan, yaitu; kami seolah
belum ingin berhenti berdiskusi. Walhasil, pembicaraan kami memasuki ’topik’
yang sifatnya lebih personal. Tepatnya, tentang ’konsep diri’ masing-masing.
Lebih tepatnya lagi; saya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan konsep diri
beliau. Sebab, saya lebih banyak mengeksplorasi dan mendengar daripada
mengemukan pandangan saya sendiri.
 
Ada begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan. Namun, satu hal yang bisa saya
paparkan disini adalah tentang pandangan beliau mengenai rasa malu. Rasa malu?
Ya, rasa malu. Tetapi, ini bukan rasa malu kita dihadapan sesama manusia.
Melainkan rasa malu kepada Tuhan. Hebatnya lagi, orang yang saya kagumi ini
mampu menggambarkan pelajaran penting itu dalam sebuah kalimat sederhana. Maaf,
bukan kalimat, melainkan sebuah frase yang dibangun oleh dua kata, yaitu;’Malu
Mengeluh’.
 
Jika kita merasa malu untuk berlari-lari dijalanan dengan tubuh tanpa busana,
maka kita tidak akan melakukannya. Itu pasti. Kecuali jika kita sudah kehilangan
akal sehat; maka apapun tidak akan membuat kita malu. Bayangkan, apa yang
terjadi jika seseorang merasa malu untuk mengeluh. Dia malu kepada Tuhan jika
harus mengeluh. Lho, bukankah orang bijak menyarankan agar kita mengadukan
segala permasalahan yang kita hadapi itu kepada Tuhan? Benar. Namun, mengeluh
bukanlah istilah lain dari frase ’mengadukan setiap permasalahan kepada
Tuhan’.
 
Ketika kita mengadukan persoalan hidup kepada Tuhan, kita mengakui bahwa diri
ini memang lemah. Dan kita berharap agar Tuhan berkenan untuk memberikan
bantuan. Sedangkan mengeluh? Ini beda. Sebab, ketika kita mengeluh kita merasa
ada sesuatu yang salah dengan takdir ini. Sehingga, ketika mengeluh sesungguhnya
kita seperti menyalahkan nasib atas semua hal yang kita alami. Padahal, ada
banyak bukti bahwa keluhan yang kita lontarkan selalu bersumber kepada kurangnya
rasa syukur kita atas semua pencapaian yang sudah kita raih. Itulah sebabnya,
mengapa ’mengeluh’ itu bukan monopoli orang susah. Orang yang sukses pun
sangat terampil mengeluh. Ibaratnya, si A mengeluhkan nasibnya yang tidak sebaik
si B. Sebaliknya, si B mengeluhkan takdirnya yang tidak senyaman si A. Anehnya,
jika saja si A dan si B saling bertukar posisi; belum tentu mereka akan berhenti
mengeluh.
 
Sahabat baru saya itu bercerita tentang berbagai pencapaian yang pernah
diraihnya. Baik pencapaian karir profesionalnya, maupun pencapaian dalam bidang
kehidupan lain. Semua itu cukup untuk membuat saya mengagumi semua pencapaian
beliau. Tidak banyak orang yang bisa seperti dirinya. Tentu saya tidak bermaksud
melebih-lebihkan. Karena kenyataannya manusia memang tidak sempurna. Namun,
diantara ketidaksempurnaan itu; ada orang-orang yang amat diberkati. Lalu dia
berkata; ”Itulah sebabnya, saya merasa malu untuk mengeluh......”
 
Saya tersentak mendengar itu. Sebab, kalimat itu benar-benar menohok jantung
saya. Memang, tidak ada satu manusia pun yang kehidupannya selalu indah. Sebab,
kita percaya bahwa kehidupan itu seperti roda. Kadang diatas, kadang dibawah.
Tetapi, orang-orang yang senantiasa berterimakasih atas semua pengalaman diri
ketika roda kehidupannya tengah berada diatas; adalah mereka yang tidak hendak
menghapus semua keindahan itu dengan kesulitan yang dia hadapi saat roda
kehidupan tengah menekannya dibawah.
 
Ketika kita sungguh-sungguh berterimakasih atas sebuah berkat, maka kita tidak
akan mengeluh ketika tengah diuji dengan sebuah situasi sulit. Sebaliknya, kita
semakin berterimakasih karena ternyata nikmat yang dulu pernah didapat itu
begitu bernilai. Dan ketika kita begitu khusyuknya bersyukur, kita lupa untuk
mengeluh. Bahkan, sekalipun kita ingat; kita tidak jadi mengeluh. Karena, kita
malu untuk mengeluh. Oleh karenanya, yang terucap dan tertindak tiada lain
adalah ungkapan penghargaan atas semua kenikmatan yang telah Tuhan anugerahkan.
Sekalipun Tuhan tengah mengujinya, tetapi kita merasa malu mengeluh. Lalu
kembali berterima kasih. Duh, betapa santunnya seorang hamba ketika terus
berterimakasih, bahkan ketika tengah berada dalam ujian. Pantaslah jika semakin
hari, dia semakin disayang oleh Tuhan.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki:
Tidak ada tindakan yang akan kita lakukan jika kita merasa malu melakukannya.
Sehingga, jika kita merasa malu untuk mengeluh, kita hanya akan bisa menyelam
dalam lautan rasa syukur yang dalam.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@...
 
Kami akan memilih/mengundi 4 perusahaan untuk mendapatkan In-house GRATIS
Workshop 4 jam bertema ”Never Give Up, Never Surrender” untuk para
karyawannya. Perlu diketahui bahwa program ini BUKAN preview untuk menarik minat
peserta mengikuti program lanjutan. Ini adalah program yang dirancang khusus
berdurasi ½ hari. Jika perusahaan Anda ingin mengikuti undian Workshop Gratis
ini, silakan mendaftar/hubungi kami dengan subjek “Workshop Gratis” ke
dkadarusman@....  Penawaran gratis ini hanya untuk pelaksanaan di
Jakarta, dan dijadwalkan pada bulan Agustus 2009. Pengumuman perusahaan
terpilih/hasil undian dilakukan pada  minggu ke-2 bulan July.




[Non-text portions of this message have been removed]




Mon Jun 29, 2009 2:08 am

dkadarusman
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #1230 of 1293 |
Expand Messages Author Sort by Date

Artikel: Malu Mengeluh   Hore, Hari Baru! Teman-teman.   Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan bahwa manusia itu adalah mahluk yang suka berkeluh...
Dadang Kadarusman
dkadarusman
Offline Send Email
Jun 29, 2009
2:08 am
Advanced

Copyright 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help