Search the web
Sign In
New User? Sign Up
gudang-ilmu · Gudang Ilmu Belajar Bisnis Online
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Show off your group to the world. Share a photo of your group with us.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
KISAH SEORANG PEMERIKSA PAJAK MELAWAN KORUPSI   Message List  
Reply | Forward Message #653 of 1300 |
Email ini saya copy dari email kiriman seorang teman i_lilakusuma@...
KISAH SEORANG PEMERIKSA PAJAK MELAWAN KORUPSI

Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak
kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim
Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di
kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya
hidup tanpa korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang
melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan.
Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA
di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
(STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan
kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk
generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah
sangat lazim.Waktu itu pertentangan memang sangat keras.
Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai
ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja
yang selalu ada dalam hati saya.

Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil
jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram.
Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga
aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya
sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski
imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak
begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa
korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi. Dari awal saya sudah
berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada
isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat
kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu . Jadi yg penting
usaha dan konsistensi kita.
Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama
menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting
bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup
layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.
Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga
besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum
bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami
membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi
kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti
ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah
mereka baru mengetahui dan melihat
bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bisa
memahami. Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi
lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman
seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara
empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat
Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V.
Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerimauang korupsi
sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan
atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk.Terutama poin ketaatannya,
dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu.
Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha
mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau
apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan.
Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada
orang yang tidak seperti mereka. Pengalaman di kantor yang paling berkesan
ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura
berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun
barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti in seperti
sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka
dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa
seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak
berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya.
Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu
menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia
sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau
bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi
seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan,
kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika
pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada
anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah
saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalu
saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit
saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang
menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa
anak-anak. Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah
perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat
besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada
saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita
ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena
itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan
masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnyakalau
tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan
dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti
perusahaan lain.
Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai
logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan
dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara
untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga
tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunyaanggota tim yang
menolak dan memintaagar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski
saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu
pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu
sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka
ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima.
Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang
di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang,
bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang
direncanakan.
Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah
lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu
mengatakan, "Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik." Saya katakan,
"Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten
untuk tidak melakukan korupsi" Kemudian ia sampaikan terus terang
bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak
saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat
terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat.Karena
terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti
itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak
uang suap. Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu
persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa
pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada
isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri
langsung sujud syukur. Ia lalu mengatakan, "Alhamdulillah. Selama ini
uang itu tidak pernah saya pakai," katanya. Ternyata di luar
pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan
sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi
amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali
tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih
utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka.
Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan
juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan
saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan
kepala seksi. Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di
hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, "Makan
uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai
saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian."
Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak
pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya
langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya
diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa
pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat,
tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin.
Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi
alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan
uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat
sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak.
Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya
membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik
terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan
bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun. Saya mau
bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya
Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga.
Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu
pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di
rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia
dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkandatang
ke rumah sakit. Wallahu a'lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau
bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit,
saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas.
Alhamdulillah. Adalagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata
karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi
karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena
anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah
Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan
sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling
susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata
Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang
membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya
dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar,
dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, "Kenapa tidak
bilang-bilang" Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu
pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya
juga sudah dilunasi oleh teman itu.
Alhamdulillah.Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada
tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman
yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan
keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit,
mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka
terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak
mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya
berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya
juga bekerja sebagai guru. Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya
lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan
serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi
tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim
pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini
kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu
menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa.

Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi.
Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya
mengatakan dengan bercanda, "Uang setan ya dimakan hantu." Dari
percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian
berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan
diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak.
Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah
lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali. Adajuga diantara teman-teman
yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi
secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh
tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu
bertanya uang itu dari mana. Padahal
sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak
akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu. Atasan yang memberikan
itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari
Jum'at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum'atan.
Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga.

Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang
lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar
uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima
uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat,
puasa sunnah dan membaca Al-Qur'an. Tetapi mereka sulit berubah.
Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara
teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang
melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya
selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi
mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN.

Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika
keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan
keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya
uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan
merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan
teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia
ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh.
Sumber: (Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/Jumadal Ula 1426 H/23 Juni 2005





Selalu ada sisi baik dari setiap hal.
Fokuslah pada hal-hal baik itu jika ingin hidup berkelimpahan dengan kebaikan.
Berpikir positif merupakan sumber segala kebaikan.


http://www.montecarlo-group.com/
http://komid.net/forums/index.php?referrerid=56


---------------------------------
Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]




Mon Nov 19, 2007 9:50 am

aldenprap
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #653 of 1300 |
Expand Messages Author Sort by Date

Email ini saya copy dari email kiriman seorang teman i_lilakusuma@... KISAH SEORANG PEMERIKSA PAJAK MELAWAN KORUPSI Sebagai pegawai Departemen Keuangan,...
prap ton
aldenprap
Offline Send Email
Nov 20, 2007
2:32 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help