Seniman batik Iwan Tirta mengatakan, meskipun agak terlambat, sudah waktunya Indonesia menjadikan seni batik sebagai ikon budaya nasional.
Pertama-tama harus dilakukan mendefinisikan apa yang dimaksud dengan batik. Definisi yang dapat ditentukan melalui pertemuan atau diskusi di antara mereka yang berkecimpung dalam kain adati dan batik ini selain akan menghilangkan kerancuan arti batik di antara kita sendiri, juga akan berguna bila Indonesia berhadapan dengan pihak luar.
Dasar referensi batik Indonesia haruslah batik Jawa. Alasannya, Jawa-lah yang mengembangkan batik sehingga mencapai bentuknya yang sekarang dan di Jawa batik tidak dapat dilepaskan dari bentuk kesenian lain, seperti gamelan, seni suara, tarian, wayang, bahkan agama. Aspek-aspek itu yang membedakan batik Jawa dari batik daerah lain di Indonesia.
Batik Jawa memiliki empat ciri utama, yaitu memiliki teknik yang khas, seperangkat aturan yang disebut pakem, hubungan dengan bentuk budaya lain, dan bebas dari batasan agama. Batik Jawa memiliki keunikan pada isen-isen atau isi berupa titik, garis halus, atau hiasan lain di dalam bentuk-bentuk ragam hias.
Desainnya memiliki dua aturan dasar, yaitu berdasarkan konstruksi geometri berupa kotak-kotak atau garis diagonal, dan desain nongeometri seperti bentuk tangkai, bunga dan kuncupnya, dan bentuk hewan.
Hubungan batik dengan bentuk budaya lain, seperti bahasa, pertanian, musik, tari, wayang, seni ukir, tampak pada penamaan batik itu sendiri.
Selain itu, batik berhubungan erat dengan agama seperti terlihat pada motifnya yang dipengaruhi Hindu dan Islam, dipengaruhi budaya China serta Eropa, tetapi sekaligus pada saat sama agama tidak membatasi kehadiran berbagai motif.
Batik memiliki kemampuan menjadi benda pakai bernilai ekonomi.
Moderator
info@iwantirta.com
iwantirta.com