Search the web
Sign In
New User? Sign Up
keberkahanfinansial · Keberkahan Finansial in Action
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Menetapkan Tujuan Keuangan   Message List  
Reply | Forward Message #4 of 7 |
Pada bulan lalu, kita sudah membahas bagaimana memeriksa 'kesehatan'
keuangan. Kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan bagaimana
menetapkan tujuan keuangan. Mengapa kita perlu menetapkan tujuan -
tujuan keuangan? Jawabannya sangat sederhana. Manusia memiliki
keinginan tidak terbatas, sementara keuangan, kemampuan maupun usia
kita terbatas untuk mewujudkan seluruh keinginan kita. Oleh karena itu
harus ada skala prioritas dalam mewujudkan tujuan keuangan di masa
yang akan datang.
Selain itu, di dalam perencanaan keuangan keluarga sakinah harus
memperhatikan kesimbangan antara kebutuhan keuangan di dunia dan
kebutuhan `keuangan' untuk kehidupan akhirat. Kita tentu sudah tahu
bahwa kebutuhan `keuangan' di akhirat sangat tergantung perencanaan
dan investasi yang dilakukan di dunia. Dan salah satu 'investasi'
akhirat yang bisa dilakukan adalah dengan cara sedekah jariah,
sebagaimana hadits yang berbunyi :

"Apabila anak adam (manusia) telah meninggal, maka terputuslah amalnya
kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariah (yang pahalanya selalu
mengalir), ilmu bermanfaat atau anak shalih yang selalu mendo'akan
orang tuanya"
HR. Muslim

Berdasarkan hadits tersebut, maka hal utama yang harus dipersiapkan
sejak dini untuk 'keuangan' di akhirat adalah perencanaan sedekah
jariah. Bila selama ini kita beramal hanya berdasarkan `suka-suka'
saja, kini saatnya direncanakan dengan baik. Berapa yang menjadi
target amal untuk akhirat dan berapa pula untuk kebutuhan hidup
sehari-hari. Dengan cara ini maka amal kita tidak lagi berdasarkan
`sisa' uang bulanan tetapi sudah menjadi prioritas dan bagian pasti
dari pengeluaran bulanan. Pay yourself first (bayarlah dirimu lebih
dulu) tidak hanya untuk kebutuhan perut saja alias kebutuhan duniawi,
tetapi juga untuk kebutuhan ukhrawi (akhirat) yang lebih abadi.
Lalu bagaimana agar kita dapat memperoleh hasil maksimal dalam meraih
tujuan-tujuan keuangan masa depan, baik untuk keperluan dunia maupun
untuk keperluan akhirat? Dalam perencanaan keuangan biasanya dikenal
sebuah istilah SMART (Specific, Measurable, Antusiasme, Realistic,
Timely) yaitu:

Specific
Kita tentu saja memiliki tujuan keuangan yang sangat banyak dan kita
ingin memiliki keuangan yang lebih baik. Namun sayangnya, seringkali
kita hanya memiliki tujuan keuangan yang sangat umum dan kurang
spesifik. Akibatnya kita sendiri tidak tahu apa sebenarnya tujuan
keuangan yang ingin dicapai.

Tujuan keuangan harus tertentu dan jelas. Sebagai contoh untuk tujuan
keuangan, kita ingin membeli rumah seluas 1000 meter di Pondok Indah
dan membeli mobil baru BMW. Demikian pula untuk tujuan keuangan
akhirat, kita ingin melakukan sedekah atau 'investasi' akhirat minimal
Rp1 juta sebulan, membangun masjid dan lain sebagainya.

images.jpgTujuan yang tidak jelas seperti ingin lebih kaya atau hidup
lebih baik tidak menggambarkan hal yang lebih spesifik. Hal ini akan
berpengaruh pada kegiatan yang akan kita lakukan karena biasanya
menjadi tidak terarah dan tidak fokus. Bila kita hanya mengatakan
ingin lebih kaya, dengan kondisi keuangan saat ini - misalnya kekayaan
kita Rp50 juta, maka bila tahun depan jumlah kakayaan menjadi Rp.50,5
juta itu sudah lebih kaya, padahal tidak ada pertumbuhan yang signifikan.

Demikian juga, bila kita hanya ingin bersedekah lebih banyak,
sementara saat ini kita sudah bersedekah setiap bulannya rata-rata
Rp25 ribu, maka dengan bersedekah Rp31 ribu juga sudah lebih banyak,
sementara tidak ada penambahan sedekah yang lebih baik.

Measurable - Terukur
Tujuan keuangan yang spesifik tersebut juga harus disesuaikan dengan
kemampuan kita dan terukur. Misalnya kita ingin memiliki rumah seharga
Rp500 juta. Tentu saja kita ingin memiliki rumah dengan harga sebesar
itu sudah memperhatikan kemampuan kita seperti penghasilan maupun
pengeluaran setiap bulan. Selain penghasilan, hal lain yang juga
diperhatian adalah tabungan, atau aset-aset lain yang kita miliki.
Bahkan kalau kita harus hutang untuk membeli rumah itu, kita juga
sudah memperhitungkannya dengan baik sesuai kemampuan finansial kita.

Attainable - Dapat dicapai
Tujuan keuangan yang kita buat harus kita yakini bisa dicapai sesuai
dengan target waktu yang kita tetapkan. Jangan membuat tujuan keuangan
yang sebenarnya kita sendiri tidak yakin apakah bisa diraih atau tidak.

Realistic - Realistis
Tujuan keuangan yang dibuat harus realistis, sesuai dengan kemampuan.
Ukurannya sangat relatif dibandingkan dengan orang lain. Bila pada
tiga tahun mendatang kita bisa membeli rumah seharga Rp500 juta dari
sumber penghasilan saat ini yang rata-rata Rp.25 juta perbulan, maka
itu sangat realistis. Berbeda bila kita tidak memiliki tabungan cukup
dan hanya berpenghasilan Rp.5 juta, kemudian berkeinginan memiliki
rumah tersebut maka hal itu nampaknya kurang realistik.

Timely - Batasan Waktu
Tujuan keuangan harus memiliki batasan waktu yang jelas, misalnya 1,
2, 5, 10 tahun dan seterusnya. Batasan waktu tergantung dengan kondisi
keuangan saat ini, potensi yang dimiliki dan perhitungan waktu yang
realistis. Kita hanya bisa memperkirakan kapan tujuan keuangan akan
tercapai, selebihnya biarlah Tuhan yang akan menentukan hasilnya.
Penetapan batasan waktu ini untuk memotivasi agar selalu memonitor dan
mengevaluasi sampai dimana perjalanan pencapaian tujuan keuangan yang
sudah kita buat.

Selain memperhatikan kaidah diatas, kita juga harus membuat prioritas
tujuan keuangan yang ingin diraih dalam waktu tertentu di masa depan.
Skala prioritas itu sangat dipengaruhi oleh kondisi keuangan saat ini
seperti kekayaan bersih, jumlah kewajiban (hutang), kemampuan menabung
dan jumlah penghasilan maupun usia. Sebagai contoh, jika saat ini si A
berusia 35 tahun, dan dia tidak memiliki beban hutang yang
memberatkan, sudah ada rumah dengan dua anak berumur 5 dan 8 tahun,
tentu memiliki skala prioritas yang berbeda dibandingkan dengan si B
yang sudah berumur 45 tahun, belum memiliki rumah dan masih memiliki
hutang. Bagi si A mungkin akan fokus dengan tujuan keuangan
mempersiapkan pendidikan anak-anaknya, sementara si B akan fokus pada
pelunasan hutang dan mempersiapkan rumah.
Prioritas kebutuhan bisa ditentukan berdasarkan tujuan keuangan jangka
pendek (saat ini), jangka menengah dan panjang (masa depan). Untuk
tujuan keuangan jangka pendek biasanya menyangkut kebutuhan rutin
rumah tangga, zakat, infaq sedekah. Kebutuhan menengah dan panjang
(masa depan) terdiri dari pendidikan anak, pembelian kendaraan, rumah
tinggal, pensiun dan lainnya.
Adapun hal – hal yang harus diperhatikan dalam menyusun keuangan
jangka panjang adalah :
1. Usia dan lamanya waktu untuk meraih tujuan masa depan. Bila usia
kita relatif muda misalnya 30 tahun, kita memiliki kesempatan lebih
panjang untuk merencanakan masa depan. Sehingga besarnya angsuran
(tabungan) yang diperlukan relatif kecil bila dibandingkan dengan
orang yang sudah berusia 45 tahun. Jadi semakin cepat merencanakan
keuangan masa depan, maka semakin baik.
2. Besarnya dana yang dimiliki saat ini. Besar kecil dana yang ada
saat ini sangat mempengaruhi rencana / tujuan keuangan jangka panjang.
3. Jatuh tempo kebutuhan masa depan. Kebutuhan di masa yang akan
datang ada yang bersifat fleksibel dan ada yang bersifat tetap tidak
bisa di mundurkan atau dimajukan seperti pendidikan anak. Bila anak
Anda saat ini sudah berumur 6 tahun, maka diperkirakan pada tahun 18
tahun anak anda akan masuk universitas. Tentu Anda tidak ingin
kuliahnya tertunda gara-gara tidak ada biaya. Demikian juga tidak
mungkin kuliah anak anda dimajukan umur 15 tahun hanya karena anda
sudah siap dengan uang kuliahnya. Sedangkan jatuh tempo kebutuhan masa
depan yang bersifat fleksibel diantaranya adalah naik haji sebab bila
uang belum cukup, pelaksanaan haji masih bisa di mundurkan. Contoh
lainnya membeli rumah baru, mobil baru dan sebagainya adalah jatuh
tempo kebutuhan masa depan yang fleksibel.

Mumpung masih di awal tahun, mari kita buat tujuan keuangan kita
secara lebih detil dan menantang kita untuk mewujudkannya. Tujuan
keuangan yang SMART tersebut harus kita tulis secara jelas, dan
tulisan tersebut sebaiknya kita letakkan ditempat yang mudah kita baca
sehingga selalu mengingatkan dan memotivasi kita untuk mewujudkannya .

Demikian, semoga bermanfaat.
Tulisan ini juga dimuat di Majalah Nurul Hayat - Surabaya




Sun Feb 10, 2008 7:03 am

mediasukses99
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #4 of 7 |
Expand Messages Author Sort by Date

Pada bulan lalu, kita sudah membahas bagaimana memeriksa 'kesehatan' keuangan. Kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan bagaimana menetapkan tujuan keuangan....
Keberkahan Finansial
mediasukses99
Offline Send Email
Feb 10, 2008
7:03 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help