PRAKIRAAN HARGA KONTRAK BERJANGKA CPO
TAHUN 2009
Harga minyak Sawit pada tahun 2009 diperkirakan masih akan bergerak dalam range yang lebar dan masih dipengaruhi dua faktor dominan yaitu Harga Minyak Bumi (Crude oil) dan kondisi perekonomian global.
Pada tahun 2009 semua pelaku pasar, tidak hanya pasar keungan tetapi juga komoditi akan fokus pada kinerja perekonomian. Kinerja perekonomian sangat mempengaruhi perkembangan demand, ekspektasi akan kondisi perekonomian juga merupakan ekspektasi akan demand minyak sawit. Ancaman resesi dunia sangat menentukan trend harga di tahun 2009, diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2009 masih sangat rendah.
Harga minyak bumi (crude oil) diperkirakan akan tetap menjadi lead market komoditas termasuk minyak sawit, kendati permintaan minyak sawit untuk substitusi bahan bakar biodisel masih belum signifikan, namun sentimen market antar komoditi masih sangat dominan.
Perkiraan harga Minyak Sawit (CPO BMD) berdasarkan dua faktor diatas:
|
Pertumbuhan Ekonomi Dunia |
Crude Oil (NYMEX) |
Palm Oil (CPO MDEX) |
|
-1 s/d 0% |
US$40 - US$50 per-barrel |
RM 1000 – RM 1200 per-ton |
|
0 s/d 1% |
US$50 - US$60 per-barrel |
RM 1200 – RM 1500 per-ton |
|
1 s/d 1,5% |
US$60 - US$70 per-barrel |
RM 1500 - RM 1700 per-ton |
|
1,5 s/d 2% |
US$70 - US$80 per-barrel |
RM 1700 - RM 2000 per-ton |
|
2% s/d 3% |
US$80 - US$100 per-barrel |
RM 2000 - RM 2500 per-ton |
|
> 3% |
US$100-US$120 per-barrel |
> RM 2500 per-ton |
Secara umum diperkirakan benchmark harga Minyak Sawit (CPO BMD) pada tahun 2009 per-ton, diperkirakan akan berkisar:
RM 1200 - RM 2500
===================== /// =====================
REVIEW MARKET TAHUN 2008
PERTIMBANGAN FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL
HARGA MINYAK BUMI
Gejolak harga minyak bumi mempengaruhi semua sisi aktifitas perekonomian, tidak hanya kegiatan yang berhubungan dengan energi & barang tambang tetapi juga pada komiditi perkebunan dan bahan pangan.
Kenaikkan harga minyak karena meningkatnya demand untuk konsumsi energi, sulit dihindari dimana supply semakin terbatas oleh mulai berkurangnya kapasitas & tambang-tambang minyak baru. Kebijakan diversifikasi energi pada sumber yang bisa terbaharui khususnya minyak nabati, awalnya sangat tepat dan berbagai insentif diberikan untuk mendorong konversi energi tersebut. Namun pengalihan bahan baku minyak nabati menjadi bahan bakar, ternyata berdampak lain dan luas. Semakin besarnya konsumsi minyak nabati untuk bahan bakar membuat supply semakin berkurang dan sebaliknya demand semakin meningkat, sehingga harga bergerak naik dengan cepat. Dampak negatif ini semakin meluas lagi setelah berbagai lahan untuk produksi bahan makanan dikonversi menjadi tanaman yang menghasilkan biodisel & etanol sehingga harga bahan pangan juga meningkat drastis. Demikian hal dengan minyak sawit, sebagaimana minyak nabati lainnya yang dapat digunakan sebagai substitusi minyak bumi, maka kenaikkan harga minyak bumi sangat berkorelasi positif terhadap harga minyak sawit. Minyak bumi menjadi lead market, selain adanya korelasi baik langsung maupun tidak langsung seperti diatas, volatilitas harga minyak bumi (crude oil) juga mempengaruhi harga berbagai komoditi lain yang tidak ada korelasinya.
MINYAK KEDELAI 2008
Sebagai substitusi terdekat minyak sawit, maka harga minyak kedelai (soybean oil) memiliki korelasi yang positif dan signifikan terhadap harga minyak sawit. Perkembangan penggunaan minyak sawit sebagai substitusi minyak kedelai dan harga yang cenderung lebih murah, membuat minyak sawit tidak lagi menjadi follower harga minyak kedelai saat ini, namun harga kedua komoditi ini saling mempengaruhi.
Sebagaimana diuraikan diatas konversi lahan tanaman kedelai menjadi lahan jagung untuk pemenuhan kebijakan diversifikasi energi dan substitusi bahan bakar minyak bumi dengan etanol, menjadi faktor utama yang memicu harga komoditas soy complex ternasuk soy oil didalamnya mengalami kenaikkan signifikan dan membuat hraga minyak kedelai berkorelasi positif terhadap harga minyak bumi (crude oil).
FUNDAMENTAL MINYAK SAWIT MALAYSIA 2008
Bahwa trend harga minyak sawit tahun 2008, lebih banyak dipengaruhi faktor-faktor eksternal dan cenderung tidak sejalan dengan kondisi fundamental minyak sawit itu sendiri.
Produksi
Dari sisi produksi, trend harga tidak sejalan dengan trend produksi tahun 2008, dimana rata-rata produksi bulanan tahun 2008 berada diatas rata-rata produksi bulanan pada tahun sebelumnya. Trend kenaikkan produksi berlangsung sejak bulan Maret hingga Agustus 2008, namun hal ini tidak searah dengan trend kenaikkan harga yang jutsru mengalami trend up pada saat produksi juga mengalami hal yang sama (lihat grafik perkembangan produksi).
Sebaliknya disaat trend produksi mulai memgalami penurunan, harga juga menunjukkan trend penurunan (Agustus-September).
Kendati rata-rata bulanan tahun 2008 berada diatas rata-rata produksi bulanan pada tahun-tahun sebelumnya, produksi bulanan tertinggi masih berada dibawah produksi bulanan tertinggi sepanjang sejarahnya yaitu pada bulan Nopember 2007 yang mencapai 1.650.004 ton.
Rata-rata produksi bulanan pada tahun 2008 (s/d September) yang mencapai 1.437.696 ton berada diatas rata-rata produksi bulanan pada tahun-tahun sebelumnya bahkan dibandingkan tahun 2006 dimana pada tahun 2006 tersebut tercapai produksi bulanan yaitu 1.610.040 ton di bulan September.
Rata-rata produksi tertinggi bulanan pada tahun 2008 (s/d September) mengalami peningkatan 12,5% dibandingkan rata-rata produksi bulanan tahun sebelumnya 2007 yang hanya 1.277.761.
Ekspor
Dari sisi ekspor, trend harga juga tidak konsisten dengan trend volume ekspor tahun 2008, kendati volume ekspor berfluktuasi cukup tajam selama tahun 2008 (lihat chart perkembangan ekspor). Pada saat kinerja ekspor mencapai volume tertinggi (1.467.797 ton) selama tahun 2008 bahkan selama 5 tahun terakhir, pada saat tersebut trend harga justru mengalami penurunan.
Rata-rata ekspor bulanan selama tahun 2008 (s/d September) memang menunjukkan peningkatan 10,7% menjadi 1.232.837 ton dibandingkan rata-rata ekspor bulanan pada tahun sebelumnya 2007 yang hanya 1.114.034 ton, namun peningkatan tersebut tidak cukup signifikan untuk mendorong kenaikkan harga yang begitu tinggi.
Ending Stock
Demikian juga dengan perkembangan stock akhir (ending stock) bulanan, bahwa selama tahun 2008 ending stock bulanan berada diatas ending stock bulanan tahun-tahun sebelumnya (5 tahun terakhir), hal sangat kontra dengan perkembangan harga yang justru mencapai level tertinggi sepanjang masa ditahun 2008.
MINYAK SAWIT INDONESIA
Kendati produk kontrak berjangka CPO Bursa Malaysia masih menjadi benchmark harga minyak sawit global, namun perkembangan harganya sendiri pada tahun 2008 tidak lagi dominan dipengaruhi kondisi fundamental minyak sawit Malaysia. Salah satu faktor yang mempengaruhi harga kontrak CPO Bursa Malaysia adalah perkembangan supply & demand di Indonesia sebagai penghasil terbesar minyak sawit dunia saat ini.
Pengaruh market Minyak sawit Indonesia terhadap harga CPO Malaysia, selain disebabkan karena Indoensia sudah menjadi penghasil dan pengekspor CPO terbesar didunia, juga karena perkembangan supply & demand di Indonesia sangat fluktuatif dibandingkan di pasar Malaysia, hal ini disebabkan diantaranya kebijakan perdagangan pemerintah Indonesia yang cepat berubah khususnya mengenai tarif pajak ekspor, Domestic Market Obligation (DMO)dan subsidi maupun juga fluktuasi kurs nilai tukar mata uang Rupiah (IDR) terhadap US Dollar, dsb.
WORLD MAJOR PRODUCERS OF PALM OIL : 1998 - 2007 ('000 TONNES)
|
Country |
2003 |
2004 |
2005 |
2006 |
2007 |
|
Indonesia |
10,600 |
12,380 |
14,100 |
16,050 |
16,800 |
|
Malaysia |
13,355 |
13,976 |
14,962 |
15,881 |
15,824 |
|
Thailand |
690 |
735 |
700 |
860 |
1,020 |
|
Nigeria |
785 |
790 |
800 |
815 |
835 |
|
Colombia |
527 |
632 |
661 |
713 |
780 |
|
Papua New Guinea |
326 |
345 |
310 |
365 |
395 |
|
Ecuador |
262 |
279 |
319 |
352 |
385 |
|
Cote d'Ivoire |
240 |
270 |
320 |
330 |
320 |
|
Costa Rica |
155 |
180 |
210 |
198 |
215 |
|
Honduras |
158 |
170 |
180 |
195 |
205 |
|
Brazil |
129 |
142 |
160 |
170 |
190 |
|
Guatemala |
85 |
87 |
92 |
125 |
137 |
|
Vanezuela |
41 |
61 |
63 |
65 |
76 |
|
Others |
906 |
940 |
969 |
1,023 |
1,064 |
|
TOTAL |
28,259 |
30,987 |
33,846 |
37,142 |
38,246 |
Source : Oil World Annual (1999 - 2007) Oil World Weekly (14 December, 2007)
MPOB - For data on Malaysia
Produksi total Crude Palm Oil Indonesia pada tahun 2008 diperkirakan mencapai lebih dari 18 juta ton.
Ekspor CPO ke Pasar Dunia Tahun 2006
|
Country |
CPO | |
|
Volume (juta ton) |
% | |
|
Indonesia |
4,84 |
|
(Message over 64k, truncated.)