"It's pretty bad", ujar Tena, produser berkulit putih dan tomboy yang
bekerja di jaringan televisi lokal di Baltimore, Maryland, Amerika
Serikat. Itulah jawaban Tena, saat saya tanya tentang dampak krisis
ekonomi pada industri Televisi Amerika di kota pelabuhan Baltimore.
Jadi apa yang "pretty bad"? Rupanya, stasiun televisi ini sudah
terkena penyakit akut yang mewabah dunia bisnis Amerika yaitu: " by
reducing the number of employees (kurangi jumlah karyawan)". Strategi
ini terpaksa dilakukan agar roda penyiaran terus berjalan sehingga TV
lokal WBFF Baltimore ini dapat terus On-Air 24 jam non-stop. Semuanya
demi kepentingan peringkat rating program andalan seperti FOX 45 News,
Traffic Edge hingga pertandingan olah raga adu badan Football, yang
menampilkan tim Raven Baltimore. Menurut Tena, sebagian besar karyawan
yang dirumahkan adalah mereka yang bekerja di bagian Sales, Marketing,
Public Relation dan para pegawai kontrak yang tidak diperpanjang lagi
kontraknya. Sementara tim kreatif programming, on-air promotion dan
jurnalis berita FOX 45 News mulai dari Produser, Reporter, Kameraman,
Editor hingga ke Wardrobe tetap dipertahankan karena mereka dianggap
aset penting sebagai detak jantung stasiun televisi lokal yang
berjaringan dengan TV konservatif Fox TV ini.
Dari TV lokal, ternyata dampak krisis ekonomi juga menghantam salah
satu raja media TV amerika yaitu NBC (National Broadcasting
Corporation) . Stasiun TV kelas wahid yang sahamnya dimiliki oleh
General Electric ini, menggelar tayangan2 papan atas seperti Deal Or
No Deal, Saturday Night Life (SNL), The Tonight Show with Jay Leno
serta serial drama kriminal Law & Order. Menurut Majalah Hollywood
Reporter dan website THR.Com, di tahun 2009 ini NBC akan melakukan
restrukturisasi teknologi digital dengan melakukan pengurangan
karyawan hingga 700 jobs yang langsung dapat menghemat biaya sebesar
750 juta dollar AS. Ini sebuah langkah efisiensi terbesar yang pernah
dilakukan NBC untuk menyelamatkan siarannya. Namun demikian, sebagian
pengamat mengatakan bahwa alasan restrukturisasi digital sebenarnya
hanyalah silat lidah belaka mengingat dua program andalan yang
menghabiskan ratusan juta dollar harus terpuruk dipapan bawah
peringkat Nielsen. Salah satunya adalah serial yang dibintangi ratu
berbibir sensual Broke Shield, Lipstick Junggle yang tanpa diduga
jeblok dan tidak disukai publik Amerika. Sementara, raja talk-show
tengah malam Jay Leno yang sudah pamit dari layar televisi untuk
pensiun, justru dikontrak baru lagi oleh NBC. Rupanya Jay dibutuhkan
NBC yang sedang menyiapkan strategi pemrograman acara televisi dengan
model belting system atau stripping system, yaitu jenis program yang
sama yang diputar setiap hari pada jam yang sama. Yang menarik,
program talk-show ini bakal diputar pada jam prime-time, yaitu jam 8
s/d 9 malam atau jam 9 s/d 10 malam. Ini sebuah kejutan didalam pasar
malam siaran TV. Mulai musim Spring nanti, Jay Leno akan tampil
membawakan acara talk-show setiap hari jam 8 malam! Artinya, Jay Leno
akan berhadapan dengan serial kriminal CSI (CBS), cerita drama Grey
Anatomy (ABC) dan American Idol (FOX TV).
Kejutan pemrograman acara TV di negeri Obama tidak berhenti disini.
Aksi pemogokan asosiasi penulis skenario film dan televisi di awal
tahun 2008 mulai berdampak buruk. Ratusan skenario justru menumpuk di
meja para agensi dan produser Hollywood. Skenario2 ini tidak dapat
diproduksi karena jumlah produksi drama televisi mulai menurun dan
sangat terbatas. Disisi lain, hampir semua stasiun TV mengurangi
pembelian serial drama dari production house maupun dari distributor
film2 asing, digantikan dengan serial Rerun dari blockbuster masa
lalu. Jadi wajah saluran2 TV Amerika saat ini dipenuhi oleh sitkom2x
seperti Cosby Show, Family Matters, The Golden Girls hingga Step By
Step. Juga serial2 klasik model Bonanza, Little House In The Praire
dan The Simpson mulai jadi alternatif tontonan bagi publik yang jenuh
dijejali analisa politik ala CNN dan MSNBC. Disisi lain, produksi dan
penayangan program Reality Show di akhir tahun 2008 semakin meningkat
tajam. Puluhan judul2 baru dengan berbagai format Reality Show
membanjiri hampir semua saluran televisi teresterial maupun televisi
kabel. Sebut saja Real Chance Of Love, High School Reunion,The
Bachelor, Survivor, Tina Tequila ratusan lainnya. Reality Shows ini
membesut topik percintaan yang mudah meraih jutaan pemirsa, dan
sebagian besar diproduksi dengan sistem super industrial, unscripted.
Dengan kata lain, plotting scenes dibangun dilapangan sesuai dengan
content flow yang berjalan. Skenario ditulis pada saat syuting tanpa
perlu riset yang mendalam. Bahkan, beberapa reality show justru muncul
tanpa script dengan hanya mengandalkan nama dan popularitas selebriti
seperti Parish Hilton BFF (Best Friend Forever) dan Hey Paula (Kisah
hidup Paula Abdul). Sementara jaminan "Unscripted TV" yang super
sukses bakal muncul kembali lewat American Idol, Deal Or no Deal, So
You Think You Can Dance dan American Gladiators.
Lalu, bagaimanakah wajah televisi Amerika di tahun 2009 ini? Sami
mawon. Dengan pemangkasan struktur biaya sana-sini plus fokus publik
lebih ke Politik Obama di enam bulan pertama maka dominasi program
akan semakin dipenuhi oleh Unscripted TV. Artinya, para produser
televisi lebih mengutamakan produksi yang industrial, instant dan
script dapat ditulis dalam waktu cepat. Selain berbiaya rendah dan
beresiko rendah, Unscripted TV lebih mempunyai potensi untuk
mendapatkan iklan dan peringkat rating yang lumayan bagus untuk bisa
dijual. Apalagi, kalau content dari Unscripted TV ini menggunakan
metode filosofi produksi Drama Televisi dengan format LSHC (Loves,
Sex, Hates and Crimes) maka dijamin publik bakal tergila2 menonton.
Entah karena daya sensual atau misteri pembunuhan atau pencarian hantu
serta makluk luar angkasa. Sementara program2 Talk Show dan komedi
juga semakin cenderung Unscripted alias membiarkan lawan bicara lebih
bebas beradu argumentasi. Untuk Sitcoms? produksinya bakal terus
menurun. Kecualia sitcoms yang diproduksi oleh In-House seperti serial
Hannah Montana dan Jake & Cody, produksi In-House Disney Channel.
Dan tampaknya, Unscripted TV juga bakal merajai wajah televisi
Indonesia tahun 2009 ini. Sukses reality show Termehek-mehek di Trans
TV dan bertahannya Playboy Kabel di SCTV menunjukkan produksi
Unscripted TV merupakan solusi terbaik untuk pemangkasan biaya
sana-sini akibat resesi ekonomi. Sementara jumlah tayangan Infotainmen
yang mencapai hampir 60 judul setiap minggu bakal bertambah dan terus
bertambah. Format Gossip Magazines ala Indonesia ini dianggap
mampu memenuhi dahaga publik yang menyukai format LSHC. Dan di tahun
2009 ini, juga didominasi oleh tayangan2 Unscripted TV lewat
pertunjukkan Live Show panggung Politik Pemilu dimana para aktor dan
aktris dari Partai2 Mapan dan Gurem bakal unjuk kebolehan bermain
drama ala Reality Show. Walaupun mereka bakal tampil di berbagai layar
News tapi contentnya tetap Unscripted dan mengandung unsur LSHC. Dan
karena semuanya Unscripted TV maka akan selalu ada pembenaran dalam
penayanggannya karena memang tidak ditulis scriptnya.
Jadi apakah ada program selain Unscripted TV yang bakal sukses di
tahun 2009? Tentu saja masih ada Sinetron dan FTV, walau kualitasnya
bisa semakin menurun karena krisis ekonomi. Salah satu prediksi di
tahun ini, akan banyak produksi sinetron yang "Unscripted on
Indonesian", alias diproduksi dengan membeli naskah dari India,
Malaysia dan Korea lalu dialih-bahasakan dan alih-ceritakan dengan
budaya Indonesia. Sementara program2 "Not fully scripted" di layar
Variety Show dan Gag Show juga akan bertahan walaupun harus berjibaku
dengan kreatifitas yang semakin kompetitif.
Jadi,
selamat tahun baru 2009..dan...
selamat menonton "Unscripted TV" di tahun 2009.
Salam
Naratama
Produser/Sutradara Program Televisi