Ibrahimsyah
INILAH.COM, Jakarta – Harapan baru mencuat bagi penggerak industri
kreatif. Institusi perbankan menyatakan siap mendukung pendanaan dengan
mengandalkan alokasi kredit UMKM. Bisa berupa pinjaman langsung maupun
program linkage. Hal itu diungkapkan Direktur UKM PT Bank Negara Indonesia Tbk Achmad
Baiquni, Rabu (26/8). Ia mengatakan, pihaknya telah memberikan
pembiayaan kepada pelaku ekonomi kreatif yang mayoritas kalangan UMKM
dalam upaya mengembangkan inovasi produk.
Menurut Baiquni, daya serap kredit UMKM terhadap perbankan masih
tergolong rendah. Tahun lalu hanya terserap Rp 248,47 triliun atau
hanya 19,56% dari potensi pembiayaan UKM yang mencapai Rp 1.270 triliun.
Industri kreatif mencakup pengembangan industri tertentu seperti
industri kerajinan dan barang seni serta pengembangan industri kecil
dan menengah tertentu seperti batu mulia dan perhiasan, gerabah dan
keramik hias, serta makanan dan minuman ringan.
Cakupan ekonomi kreatif sendiri meliputi bidang periklanan,
arsitektur, barang seni, kerajinan, desain, fotografi dan film, musik,
fesyen, seni pertunjukan, hingga riset dan pengembangan.
Baiquni memaparkan, sejumlah problem dalam pembiayaan UMKM seperti
masalah aspek legalitas usaha dan keterbatasan nilai agunan cukup
menghambat penyaluran kredit bank.
Untuk meningkatkan kredit UKM, menurut Baiquni, pihaknya akan mengintensifkan program lingkage melalui BPR, koperasi, dan perusahaan yang memiliki binaan UMKM. Selain itu, kredit langsung juga tetap dikucurkan.
Hingga Juni 2008, perseroan menyalurkan pembiayaan melalui program linkage
senilai Rp 1,8 triliun terdiri atas koperasi Rp 1,6 trilun dan sisanya
melalui BPR. Rencananya, porsi pembiayaan melalui BPR diperbesar.
Kredit UMKM yang dikucurkan perseroan selama enam bulan pertama
mencapai Rp 45 triliun dan memberikan kontribusi tertinggi, yakni 46%,
terhadap total penyaluran kredit senilai Rp 99,02 triliun.
Direktur UMKM PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Sulaiman Arif Arianto
mengutarakan, pihaknya berkomitmen untuk terus mengembangkan industri
kecil menengah yang jadi basis munculnya ekonomi kreatif.
Menurut Sulaiman, dukungan kredit perseroan terhadap industri
kreatif tidak dilakukan dalam bentuk formal, melainkan komitmen untuk
terus mengembangkan sektor UMKM.
Sulaiman menuturkan, perseroan lebih banyak memberikan kredit UMKM dalam bentuk direct loan dengan mengandalkan layanan di 5.095 outlet. Sementara jumlah pinjaman melalui program linkage masih kecil.
Hingga Juni 2008, portofolio kredit UMKM BRI tercatat Rp 111,49
triliun atau menyumbang 82% dari total kredit yang disalurkan sebesar
Rp 135,95 triliun. [I3]
http://www.inilah.com/berita/2008/08/27/46320/perbankan-rangkul-industri-kreatif/